Leak – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Leak

Karya: Hanunah Ayesya (Anggota UKIM)

Mentari mulai menampakkan rupanya, suara ayam berkokok menjadi tanda datangnya hari yang baru. Para warga Desa Panglipuran mulai bangun dari tidur, beberapa bahkan sudah ada yang pergi menuju sawah atau mendorong gerobak jualannya. Belum lama kemudian, bisik gosip Ibu-ibu sekitar sudah terdengar jelas ketika mereka membeli bahan makanan di gerobak jualan favorit, bapak penjual yang mendengarnya hanya bisa geleng geleng kepala sambil berusaha melayani sebisa mungkin.

“Itu ceritanya terbalik dengan keluarga Mbok Astika… mereka baru punya bayi setelah papat tahun wiwaha” Ungkit Ibu yang sedang memilih kue untuk anaknya

“Iya tah? Mungkin terkena kutukan, masa baru dapet bayi setelah empat tahun” Ibu lainnya membalas

“Loh tidak bohong saya,”

“Takut sama Leak mungkin ya bu,” tambah Ibu lainnya yang sudah selesai membeli

“Hiyyy, saya juga takut kalau begitu mah, si Mbok Priya kemarin kelihatan satu di sawah bu,” Ibu pertama membalas

“Wah bener? Hiyyy…takut eh Mbok, sekarang juga masih pagi”

“Katanya lidahnya panjang sampai ke dadanya, terus kukunya tajam sekali, matanya juga mbok… merah semerah darah” Jelas Ibu tersebut dengan ketakutan.

Aku lewat sambil menundukkan kepala, berharap mereka tidak menyadari bahwa objek gosip mereka sedang berjalan dibelakang mereka sedari tadi. Aku harus segera pulang, Aji dan suamiku selalu cemas kalau aku yang sedang hamil ini berjalan jalan sendirian. Ku elus perutku dengan penuh kasih, akhirnya setelah empat tahun menikah, Dewa menganugrahi pernikahan kami dengan sebuah janin yang sekarang telah berumur 5 bulan.

“Gek pulang…” ucapku sambil memasuki komplek rumah

“Matur suksma dewa…gimana gek? Tidak apa apa kan? Gek pusing? Butuh minum? Butuh duduk?” Suamiku, I Made Anuraga, langsung memapahku kedalam

“Gek tidak apa apa Bli… hanya butuh minum. Ayo bantu Biang masak”

Suamiku mengangguk dengan senyum sambil terus memastikan aku baik baik saja.

Sejak di awal kehamilan, rumah kami menjadi penuh dengan berbagai macam penolak ilmu hitam: daun kelor digantung di tiap kenop pintu, bawang dan garam terjejer dibawah tempat tidurku, pisang kembar di tiap ruangan, dan Biang selalu mengingatkanku untuk mandi bunga seminggu sekali.

Setelah selesai memasak, aku memanggil Aji untuk sarapan bersama, lalu kami melanjutkan aktivitas masing masing sampai matahari terbenam. Setelah semua pekerjaanku selesai, aku memutuskan untuk pergi ke kamar dan tidur lebih cepat tanpa Bli, dia bilang akan pulang terlambat karena ada urusan tambahan dengan warga desa sebelah. Ibu dan ayah tampaknya juga sedang bersiap siap untuk tidur. Aku mencoba berkeliling kamar sekali lagi untuk memastikan semua penolak bala sudah benar sesuai petunjuknya.

“Aduh…daun kelornya layu…,” kataku sambil memegang kenop pintu, “Biasanya Bli akan keluar dan mengganti daun kelor ini, tapi dia belum pulang…,”

Daun kelor ini digantung di kenop pintu agar orang di dalam ruangan itu tidak diganggu makhluk halus atau ilmu hitam, daun kelor yang digantung harus berjumlah ganjil, tetapi yang ada di tanganku sekarang berjumlah 4 batang. Tidak mau ambil resiko, aku keluar dari kamar dan berjalan menuju gerbang belakang yang mengarah ke kebun sayur, matahari belum lama tenggelam sehingga masih ada sedikit cahaya untuk menemaniku, obor disekitar juga menyala dengan terang.

“Gek ambil tiga sekalian mungkin ya,” kataku sambil mencabut tiga batang kelor

“Awoooooooo” lolongan anjing tiba tiba terdengar, aku menelan ludah

Setelah mendapat yang kubutuhkan, aku cepat cepat berdiri dan mulai berjalan. Namun sebelum aku bisa mencapai gerbang belakang, perutku mulai merasakan sakit.

Aku bersandar pada pohon kelapa, berusaha menenangkan janin didalam. Mataku menangkap sesuatu, enam langkah didepanku, bayangan tanpa kaki, melayang diatas tanah, kukunya panjang menjuntai, ditemani dengan rambut putih dan mata merah. Aku tertegun, menelan ludah dan mempererat peganganku pada perut. Leak, pemuja ilmu hitam yang mengincar janin ataupun bayi baru lahir untuk dimakan agar kekuatan mereka bertambah, Leak itu menatapku sambil tertawa

“Terima kasih sudah keluar dari segala perlindungan rumahmu,” suaranya terdengar cempreng dan mengejek

Aku memutar otak, Biang pernah berkata kalau Leak bisa diserang menggunakan benda tajam, meskipun hanya akan berefek sementara. Dengan bercucuran keringat dingin aku meraih pisau yang tergeletak di tanah, tadi pagi Biang menggunakannya untuk memotong sayuran.

Leak itu mendekat dengan cepat, satu kedipan mata dan aku sudah bisa merasakan nafasnya. Dengan cepat aku menusuk organnya yang menjuntai menggunakan pisau, Leak itu berteriak keras, lalu menghilang dengan cepat. Aku mengehela nafas dan berniat kembali ke rumah, tapi disekelilingku malah pepohonan tinggi yang terlihat. Panik, aku berlari sambil berteriak meminta tolong, Leak itu akan kembali, cepat atau lambat.

“Kamu dan bayimu aman untuk sekarang Astika” ada suara lagi, namun kali ini terdengar seperti suara kakek tua

“Siapa itu?Tunjukkan dirimu!” Aku berteriak sambil mengacungkan pisau

Sesosok manusia melompat turun dari pepohonan, aku mengenali wajahnya, “Mpu Baradah?!”

“Ya, ini aku Gek Astika, akan ku antar kamu pulang” Beliau tersenyum tipis dan mulai berjalan

“Matur Suksma Mpu,” Aku berjalan disampingnya, “Bagaimana Mpu bisa tau Gek butuh pertolongan?”

“Lolongan anjing itu, berarti ada Leak yang berkeliaran” Mpu menjawab dengan singkat

Aku merasa bodoh untuk sesaat, harusnya aku tau lolongan anjing berarti ada makhluk halus yang berkeliaran, dan sekarang aku malah merepotkan Mpu.

“Bli, Aji, dan Biang pasti sangat khawatir-“

Belum sempat aku selesai berbicara, Mpu Baradah menahan langkahku. Lalu beliau berkata perlahan, “Astika, ambil keris ini,” kata Mpu sambil mengeluarkan keris dari jubahnya,

“Ucapkan mantra perlindungan, pergi ke setra, cari tubuh asli Leak, lalu tusuk keris ini ke dalam lehernya”

Setelah itu Mpu langsung melompat ke atas pohon, sepertinya akan terjadi pertempuran hebat antara Mpu Baradah dan Leak. Melihat hal itu, aku ikut berlari ke arah setra yang jaraknya cukup jauh.

Leak tidak senang, dia marah. Harusnya malam ini dia bisa menyantap sebuah janin dengan mudah, tapi Mpu datang entah darimana. Leak menyerang Mpu Baradah berulang kali, berusaha mencakarnya dengan kuku setajam silet, Mpu Baradah mengelak, dan balas menyerang dengan kekuatannya. Pertarungan ini hanya pengalih perhatian, Mpu Baradah hanya perlu bertarung sampai Astika berhasil menusuk tubuh asli si Leak.

Aku hampir sampai di setra, tubuhku yang buncit tidak memungkinkan berlari terlalu lama sehingga beberapa kali aku harus berhenti dan mengambil nafas, kuharap Mpu Baradah baik baik saja. Tidak lupa pula sepanjang perjalanan aku berkomat kamit mantra perlindungan, agar dilindungi dari ilmu hitam yang lain, dan, agar keris ini menjadi suci ketika dipakai untuk membunuh Leak.

Gerbang setra sudah terlihat, tapi kemudian teriakan Leak menghentikan langkahku. Aku tertegun, kini Leak ada diantara aku dan setra, memegang tangan kiri Mpu Baradah. Ketakutan, aku berjalan mundur kebelakang sambil mengacungkan keris, Leak mendekatiku dan melempar keris itu jauh jauh. Aku bisa saja lari jika perutku tidak tiba tiba serasa dililit, sekarang Leak sudah memeluk tubuhku dan mengangkatku keatas. Aku mencoba berteriak tapi suaraku tidak keluar, Leak mengunci pergerakanku, lalu sedikit demi sedikit aku kehilangan kesadaran.

“Hihi….hihihihi…hihihihihi, terimalah persembahan ini…dewiku”

Aku terbangun, Bli terduduk menangis di sebelahku, sementara Aji dan Biang memegang tanganku yang lain. Sepertinya setelah kejadian malam kemarin, seorang warga menemukanku dan membawaku pulang, sementara Mpu Baradah ditemukan dengan 100 luka cakar dan tangan kiri yang menghilang, sekarang beliau sedang dirawat di rumah tabib desa.

Hari itu rumah benar benar sunyi senyap, bahkan suara hewan atau hembusan angin tidak dapat terdengar. Berita menyebar dengan cepat dan aku yakin keluarga kami sudah menjadi bahan pembicaraan Ibu-Ibu. Bli duduk di teras belakang bersamaku, memegang erat tanganku tanpa henti sambil mengusapnya perlahan, Bli menangis, kedua orang tuaku menangis, sedang aku hanya termenung, pikiranku kosong, hanya berisi memori kejadian semalam yang terus menerus terulang, semakin jelas ingatanku, semakin aku merasa tidak berdaya.

“Gek masuk dulu Bli,” kataku lirih

Aku berjalan ke ruang tengah, tempat Biang biasanya membuat sesajen. Aku hendak membuat sesajen jenis banten upakara, sesajen yang dibutuhkan dalam kegiatan ngereh. Setelah selesai, aku pergi menuju kuburan desa, sepanjang perjalanan banyak mata dan mulut yang berfokus padaku, baik itu ucapan kasihan atau ketakutan.

Bli ikut bersamaku dan kami pun tiba di pohon keramat di tengah tengah pemakaman, kami mulai menyiapkan ritual. Ritual yang akan diikuti dengan pantangan, puasa, dan persembahan. Ritual Pengleakan, aku akan menjadi Leak, Leak Putih yang bisa menjaga janin lain dari Leak teramat jahat itu. Setidaknya dengan begitu, aku bisa membayar penyesalan kepada roh anakku yang sudah dipersembahkan.

 

Lika Liku Perjalanan Perkuliahan – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Lika Liku Perjalanan Perkuliahan

Karya: Dian Novita (Anggota UKIM)

Sebuah desa di Jawa Timur, hiduplah seorang remaja bernama Novi. Novi tumbuh di tengah keluarga sederhana. Ayahnya seorang buruh dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Novi adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Novi memiliki mimpi besar untuk menjadi seorang guru yang dapat mengajar generasi muda menjadi lebih baik dan perjalanan perkuliahan adalah jembatan menuju impian tersebut. Walaupun keluarga Novi tergolong keluarga sederhana, ia tetap bertekad untuk meraih cita-citanya meski harus berjuang keras.

Novi belajar dengan giat. Ia juga aktif mengikuti kegiatan, seperti Olimpiade Matematika, Cerdas Cermat dan mengikuti ekstrakulikuler PMR. Karena kerja kerasnya, Novi berhasil lulus SMA dengan nilai yang memuaskan. Novi mendaftarkan diri di Universitas Negeri Surabaya. Ia diterima di jurusan pendidikan. Ia sangat bahagia namun, perjuangan Novi belum berakhir. Ia harus berpisah dengan teman-teman semasa SMA yang banyak kenangan sudah dilakukan bersama, mereka semua juga sudah mempunyai tujuan masing-masing. Tidak hanya itu ia pun harus beradaptasi dengan lingkungan barunya di Surabaya, selain itu Novi juga harus berpisah dengan keluarganya dan tinggal dengan neneknya.

Hari itu tiba, saat Novi harus meninggalkan rumahnya menuju kota besar di mana kampus impian berada. Dalam hati, ia bercampur aduk antara kegembiraan dan kecemasan. Bersama ransel yang dipenuhi harapan, Novi bersiap untuk memulai lika-liku menuju perjalanan perkuliahan. Ia tinggal di Surabaya di rumah yang hanya ada kakek dan neneknya. Di rumah nenek sangat sepi yang biasanya di rumah selalu ada teriakan dan celotehan adiknya sekarang ia hanya sendiri dengan kakek dan neneknya. Novi pun di rumah nenek menjadi lebih mandiri, ia sekarang mulai belajar memasak sendiri dengan bantuan dari nenek, membersihkan rumah neneknya seperti ia biasanya selalu membersihkan dan menata rapi rumahnya.

Hari masuk perkuliahan pun tiba, ia berangkat ke kampus menggunakan sepeda motor dan awalnya masih diiringi dengan tantenya karena belum hafal jalan. Saat tiba di kampus, Novi disambut dengan deretan bangunan indah dan suasana yang penuh semangat. Namun, seperti halnya perjalanan baru, lika-liku pun tak terhindarkan. Pertama-tama, ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru, bertemu teman-teman seangkatan, dan belajar memahami dinamika kehidupan kampus. Awal mulai masuk kampus ia harus melewati kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).

Seminggu sudah berjalan kegiatan belajar mengajar pun sudah aktif, Novi duduk di bangku kuliah dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, Ia merasa senang karena akhirnya bisa meraih cita-cita untuk menjadi seorang sarjana. Namun, di sisi lain, ia juga merasa takut dan khawatir. Novi takut tidak bisa mengikuti pelajaran dan takut tidak bisa lulus. Hari-hari pertama kuliah terasa sangat berat. Novi merasa kesulitan untuk mengikuti pelajaran dan juga merasa kesepian karena tidak memiliki teman. Namun, ia tidak menyerah. Novi harus selalu belajar dan berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Hari berikutnya Novi pun tetap berangkat untuk kuliah, di Sebuah ruang kuliah itu dipenuhi oleh cahaya langit pagi yang masuk melalui jendela tinggi. Bangku-bangku kayu yang diatur membentuk barisan teratur, menantikan kisah-kisah yang akan diukir di sana. Bangku paling depan, ada Putri, seorang gadis penuh antusiasme dengan buku catatan yang penuh warna. Putra pun duduk bersebelahan yang menatap kagum sering tertuju pada Putri. Di tengah-tengah, terdapat trio hebat, Dhira, Fira, dan Dian. Mereka seringkali terdengar tawa mereka memecah keheningan kelas. Mereka membentuk ikatan yang kokoh di bangku kuliah itu, menjadi penyemangat satu sama lain. Di pojok belakang, ada Alvin, seorang mahasiswa pemalu yang selalu memendam mimpi besar dan ada Rifda, mahasiswi yang selalu berbicara tentang keberanian dan petualangan. Dan masih banyak lagi teman-teman yang lainnya.

Novi dan teman-temannya pun saling berkenalan. Kegiatan perkuliahan pun telah selesai mereka semua saling mengobrol dan membicarakan untuk kumpul dahulu sebelum pulang ke rumah atau kos masing-masing.

“Teman-teman gimana kalau kita sebelum pulang ayo kumpul dulu, membahas apa gitu tentang pembahasan mata kuliah ini saja juga boleh?” kata Rifda.
“Ayo… boleh juga itu aku bosan di kos terus” kata Fira. Dibalas juga oleh Dhira dan Dian “Iyaa ayo teman-teman ikut semua apalagi nanti sudah tidak ada mata kuliah lagi”
“Aku juga mau ikut ya” kata Novi. “Iya tentu saja, aku mengajak semuanya” balasan Nadia. “Laki-laki gimana kalian pada ikut tidak?” kata Andhika. “Iya ikut ikut” jawab Alvin dan beberapa teman yang laki-laki.
“Oke kalau gitu ayo kita berangkat” kata Nadia. “Maaf teman-teman aku tidak ikut” Balas Aisyah. “Kenapa Aisyah?” jawab Nadia dan dibalas oleh Andhika “Kenapa tidak ikut Aisyah, kita kumpul ini juga membahas perkuliahan” “Maaf aku masih ada keperluan, pulang duluan ya teman-teman” kata Aisyah. “Iya hati-hati di jalan” kata teman-teman yang lain.

Mereka semua selalu bersama walaupun sekelas pasti ada keinginan untuk selalu menjadi nomor satu dan paling terbaik. Namun, mereka tetap bersaing sebagai layaknya saudara. Mereka saling membantu satu sama lain. Ikut aktif dalam organisasi maupun kegiatan perkuliahan. Semua saling berbagi pembalajaran dan pengalaman. Satu per satu, cerita mereka pun terjalin. Ada tawa dan tangis, kegembiraan dan kegagalan, semua cerita terjalin di bangku kuliah itu. Ada hari-hari di mana kelas terasa begitu sulit, tapi ada juga hari-hari di mana mereka menemukan inspirasi tak terduga. Di setiap sudut ruang, catatan dan buku catatan menjadi saksi bisu perkembangan mereka.

Seiring berjalannya waktu, ia mulai bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Novi juga mulai memiliki teman-teman baru. Ia merasa sangat bahagia karena bisa kuliah. Novi merasa bahwa kuliah adalah pengalaman yang sangat berharga. Suatu hari, Novi mengikuti sebuah lomba karya tulis ilmiah. Karena selama perkuliahan dia juga aktif di kegiatan penulisan ilmiah. Alhasil Novi tidak menyangka bahwa karya tulisnya bisa lolos seleksi dan terpilih menjadi salah satu finalis. Novi sangat senang dan bangga. Ia merasa bahwa karya tulisnya telah diakui oleh banyak orang. Lomba karya tulis ilmiah itu menjadi salah satu momen paling berkesan baginya selama kuliah. Momen itu mengajarkannya bahwa dia bisa melakukan sesuatu yang besar, walaupun dia berasal dari keluarga sederhana. Namun tidak berhenti disitu Novi pun tetap bertekad untuk terus belajar dan berkarya. Novi ingin membahagiakan dan membanggakan kedua orang tuanya serta menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara.

Kisah ini menggambarkan perjalanan seorang mahasiswa dari keluarga sederhana yang berjuang keras untuk meraih cita-citanya. Kisah ini mengajarkan kita bahwa kita harus kuat dan pantang menyerah dalam menghadapi tantangan. Kita juga harus percaya diri bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang besar, bahkan jika kita berasal dari keluarga sederhana

Musim Liburan Penuh Makna – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Musim Liburan Penuh Makna
Karya: Afifah Rahmawati (Anggota UKIM)

Pagi hari di sebuah rumah sederhana terasa berbeda hari ini. Alarm berbunyi lembut di atas meja samping tempat tidur, memecah keheningan pagi yang tenang. Suara detik jam yang berdetak lembut menggantikan mimpi-mimpi malam yang perlahan-lahan memudar. Cahaya matahari mulai menembus tirai jendela, menyebar di kamar dengan sinar lembut yang memancarkan kehangatan.

Dina perlahan membuka mata, terdengar suara burung berkicau dari luar jendela dan aroma kopi yang mulai tercium dari dapur menjadi pengingat bahwa pagi telah tiba. Dengan gerakan perlahan, Dina menggeser selimutnya dan mengangkat tubuhnya. Ia merentangkan tangan dan kakinya dengan penuh rasa syukur, seakan-akan mengisi kembali energi yang hilang selama malam.

Hari ini adalah hari yang paling dia tunggu-tunggu, setelah sekian lama dia bergulat dengan perkuliahan, akhirnya liburan semester telah tiba. Dia dan keempat sahabatnya sudah merencanakan untuk mengisi liburan tahun ini. Setelah banyak berunding dengan para sahabatnya, mereka berlima pada akhirnya setuju untuk mendaki gunung untuk mengisi liburan tahun ini.

Dina dengan segera menyiapkan diri, membersihkan tubuh dan juga sarapan, tidak lupa juga untuk mengcek barang-barang yang sudah dia siapkan semalam. Dengan perasaan gembira dan semangat, Dina segera berpamitan kepada kedua orang tuanya, juga meminta do’a supaya diberikan kemudahan dan juga keselamatan. Mereka berlima sepakat untuk bertemu di rumah Rio yang kebetulan dekat dengan Stasiun.

Sesampainya di rumah Rio, sudah ada ketiga sahabatnya yang lain. Dengan segera mereka langsung menuju ke stasiun dan menunggu kedatangan kereta yang akan membawa mereka menuju Malang.

“Gak sabar banget!! Udah lama aku pengen Gunung Semeru gara-gara nonton film 5 CM” Ujar Rani kepadanteman-temannya.

“Si Rani setiap rewatch 5 cm langsung pengen ndaki gunung mulu.” Saut Dina sambil tertawa. Rani membalas dengan kekehan karena memang benar begitu.

Tidak lama kemudian, kereta datang, dengan langkah semangat mereka masuk ke dalam kereta. Di dalam kereta, mereka berlima bercanda bersama,sesekali Rio akan menanyakan kondisi perkuliahan sahabat-sahabatnya dan berakhir mendapatkan omelan dari Doni.

“Duh, sekarang waktunya senang-senang! Dilarang dengan keras mebahas perkuliahan!” Jawab Doni dengan kesal. Keempat sahabatnya tertawa terbahak-bahak melihat wajah Doni yang tertekuk masam.

3 jam berlalu dan mereka akhirnya sampai di Malang. Sesuai permintaan Rani mereka berangkat menuju wisata gunung Semeru menggunakan mobil Pick Up.

Mereka setuju untuk memulai pendakaian besok pagi. Malam hari itu mereka bercanda lagi, membahas tentang kisah-kisah saat mereka masih belum sibuk dengan perkuliahan. Hari mulai gelap, Rio selaku yang paling tua memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk segera tidur, karena perjalanan besok akan panjang.

Langit pagi cerah dan segar menyambut lima sahabat – Dina, Rani, Doni, Rio, dan Raka – saat mereka memulai perjalanan mendaki Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa. Suara gemericik air sungai dan kicauan burung menyertai langkah-langkah mereka yang penuh semangat. Jalur pendakian yang akan mereka lalui menantang, tapi itu tidak menyurutkan tekad mereka.

“Petualangan dimulai!!!” Teriak Raka menirukan dialog di film 5 cm.

“Semangat, teman-teman! Kita pati bisa!!” Seru Doni saat mereka memulai pendakian.

Mereka berjalan dalam kelompok, dengan Doni memimpin sebagai navigator dan Dina, Rani, Rio, serta Raka mengikuti di belakang. Perjalanan dimulai dengan trek yang relatif mudah, namun suasana hati mereka tetap penuh energi, diselingi tawa dan obrolan yang hangat.

“Aku dengar, Semeru itu salah satu gunung yang paling menantang di Indonesia. Tapi, kalau kita bisa sampai puncak, pasti rasanya luar biasa banget.” Ujar Dina sambil melewati jalur yang berbatu.

“Iya, Aku udah pernah baca banyak tentang gunung ini. Pemandangannya pasti epik banget.” Jawab Doni sambil membenarkan tas ransel yang mulai terasa berat dibahunya.

“Semoga kita bisa menikmati setiap momennya. Ini pertama kalinya aku mendaki gunung setinggi ini.” Tutur Rani dan diangguki oleh Dina

“Kalau tidak salah, kita sudah mendekati Pos 1. Setelah itu, jalurnya akan mulai menanjak lebih curam.” Doni mulai memeriksa peta yang dia bawa.

Bagus deh, berarti kita bisa mampir istirahat sebentar. Ranselku dah kerasa berat banget,” Keluh Doni sambil menunjuk tas ranselnya.

Tidak lama mereka akhirnya tiba di Pos 1, mereka berhenti sejenak untuk beristirahat. Mereka duduk di batu besar, mengeluarkan botol minum, dan menikmati camilan yang dibawa Rio.

Di Pos 1, mereka menikmati pemandangan hijau hutan yang rimbun dan udara segar yang membangkitkan semangat. Setelah istirahat singkat, mereka melanjutkan perjalanan dengan energi yang baru. Jalur pendakian mulai menanjak lebih curam, dan cuaca berubah menjadi lebih dingin.

Langkah-langkah mereka lebih teratur, saling memberi dorongan saat salah satu dari mereka merasa lelah. Setiap langkah membawa mereka lebih dekat ke tujuan, dan ikatan di antara mereka semakin erat. meskipun tantangan pendakian membuat mereka berkeringat dan kelelahan. Mereka menikmati setiap langkah, sesekali berhenti sejenak untuk beristirahat sambil menikmati

pemandangan yang menakjubkan. Rani dengan cekatan menangkap setiap momen dengan kameranya, mengabadikan pemandangan spektakuler dan ekspresi bahagia mereka. Dia juga mengambil foto-foto dari berbagai sudut, menciptakan galeri yang akan menjadi kenangan berharga bagi mereka.

Setelah beberapa jam pendakian, mereka tiba di puncak gunung. Pemandangan dari atas sungguh memukau—lautan awan yang lembut menyelimuti lembah di bawah mereka, dan matahari terbenam memberikan warna emas yang menakjubkan di cakrawala.

“Ini luar biasa,” kata Dina dengan penuh kekaguman. “Semua usaha kita terbayar lunas dengan pemandangan ini.”

Mereka duduk di puncak, menikmati bekal yang mereka bawa sambil melihat matahari tenggelam, merasakan kedamaian dan kepuasan yang mendalam.

Setelah pendakian, mereka melanjutkan perjalanan ke beberapa warung kuliner. Menyantap makanan khas malang seperti bakwan, dan juga jajanan lainya. Tidak lupa mereka juga membeli oleh-oleh untuk keluarganya di rumah.

Sebelum liburan berakhir, mereka mengadakan pesta kecil di rumah Rio untuk merayakan perjalanan mereka. Mereka berkumpul, menonton video dokumentasi, melihat foto -foto, dan berbagi cerita tentang momen-momen paling berkesan dari perjalanan mereka.

“Aku senang banget, semuanya berjalan sesuai rencana kita. Liburan tahun ini kerasa banget bahagianya, apalagi bareng sama kalian juga,” kata Rani. “Ini benar-benar pengalaman yang luar biasa.”

Dina menambahkan, “Liburan kali ini juga kita nggak cuman mendapatkan petualangan dan belajar banyak, tapi juga mempererat persahabatan kita. Ini adalah liburan terbaik yang pernah aku alami.”

Liburan kali ini menjadi salah satu pengalaman terbaik dalam hidup mereka. Dengan mengisi waktu liburan mereka dengan petualangan, pendakian, dan eksplorasi, mereka tidak hanya memperoleh pengalaman yang menyenangkan tetapi juga membangun kenangan berharga bersama.

Kebahagiaan mereka berasal dari merasakan keindahan alam, belajar hal-hal baru, dan mempererat persahabatan. Mereka menyadari bahwa liburan tidak hanya tentang bersenang-senang, tetapi juga tentang menjelajahi hal-hal baru dan menciptakan kenangan yang akan selalu mereka hargai. Dan dengan setiap langkah, tawa, dan foto, mereka mengisi liburan mereka dengan makna yang mendalam.

Bintang Malam – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Bintang Malam
karya : Alifia Ulya Handari (Anggota UKIM)

Di desa kecil di kaki gunung yang dikelilingi oleh sawah-sawah hijau, hiduplah seorang pemuda tangguh, dengan tubuh yang tidak besar dan kulit sawo matang. Setiap kali setelah pulang dari pekerjaannya di ladang, pemuda yang dipanggil warga desa dengan sebutan Rama, gemar sekali memandang langit malam di tengah hamparan padi yang sunyi.

Suatu malam, setelah mengumpulkan sebagian padi di ladang, Rama duduk sendirian di tepi sawah. Langit malam terbentang luas di atasnya, dipenuhi dengan taburan bintang-bintang yang bersinar dengan indahnya. Suara angin sepoi-sepoi mengayun tanaman padi yang menguning, menciptakan suasana yang tenang dan damai. Rama duduk dengan kaki terjuntai di air yang mengalir perlahan di tepi sawah. Dia memandangi langit malam yang gelap membiarkan pikirannya melesat menuju langit.

Gemerlap bintang menembus cahaya malam yang gelap dan sunyi. Sambil terus memandangi langit yang berbintang, Rama mulai hanyut dalam suasana damai dan menenangkan itu. Dia melepas seluruh keluh kesahnya kepada alam dan langit malam, sambil tetap menghargai keindahan alam dan ketenangan yang diberikannya.

Ketika Rama sedang memandangi langit, tiba-tiba sebuah bintang jatuh dari langit dan mendarat tidak jauh dari tempatnya berada. Rama, yang penuh dengan rasa ingin tahu, segera berlari menuju tempat dimana bintang itu terjatuh. Ternyata, bintang itu tidak berbentuk batu atau benda besar seperti yang ia bayangkan, melainkan seorang wanita muda yang cantik dengan rambut berwarna perak dan mata yang berkilau seperti permata. Wanita itu terbaring lemah di lapangan hijau, tersungkur setelah jatuh dari langit.

Rama mendekat dan mengulurkan tangannya. Wanita itu tersenyum lemah, dan dengan suara lembut ia meraih tangan Rama sembari mengucapkan terima kasih. Rama dan wanita itu berjalan ke tengah sawah, mendekati saung dengan atap daun jerami dan pondasi dari kayu. Rama menuangkan segelas air dari teko dan memberikannya pada wanita itu.

“Kamu berasal dari mana?” Rama memulai pembicaraan.“Aku Aquila, senang bertemu denganmu. Aku tinggal di atas sana.” Wanita itu menunjukkan
jarinya ke langit malam.“Aku tinggal di sepanjang galaksi bima sakti. Sepertinya aku tersesat saat melintasi alam
semesta.” Sambung Aquila menatap wajah Rama.

Rama terkejut dan bingung, tetapi ia mulai tertarik dan terpesona oleh kehadiran wanita tersebut. Mereka pun mulai berbincang, saling bertukar cerita tentang kehidupan mereka masing-masing. Tanpa sadar, gelapnya malam mulai terlihat sedikit menakutkan.

“Mengapa disini sangat gelap? Hanya ada cahaya bulan yang bersinar,” tanya Aquila dengan alis mengerut.
“Desa ini sudah lama tidak ada penerangan. Kami hanya mengandalkan cahaya matahari, bulan, dan bintang sebagai penerang sehari-hari,” ucap Rama sembari memandang hamparan sawah yang sebentar lagi akan dipanen.

Rama merasa terpikat oleh kebaikan hati dan keanggunan wanita itu. Dia merasa bahwa ada ikatan yang kuat antara mereka, sesuatu yang lebih dari sekadar pertemuan kebetulan di tengah sawah yang sunyi.

“Hmm, maukah kamu menginap di rumahku? Kebetulan aku sedang memasak hidangan lezat
di dapur.” Rama bangun dari duduknya dan mengulurkan tangan kepada wanita itu.

Suasana gelap malam yang sunyi disambut berbagai suara burung dan serangga. Gubuk berbahan dasar anyaman rotan dan atap jerami berdiri kokoh tepat di tepi sawah tidak jauh dari saung yang berada di tengah sawah. Rama menyiapkan piring dan gelas di atas mejamakan kayu yang sudah rapuh dimakan rayap. Aquila duduk menatap Rama yang sedang menuangkan kuah sup di wadah cekung. Malam itu bagaikan malam yang hangat sambil
menyantap sup kaldu ayam.
****
Matahari baru saja muncul dari balik cakrawala, cahaya kuning keemasan menyinari hamparan sawah yang hijau. Udara segar pagi menyapa wajah dengan lembut, memberikan aroma tanah basah yang menenangkan setelah malam yang sejuk.Langit pagi yang masih dipenuhi warna-warna lembut senja memberikan latar belakang yang indah bagi awal hari yang baru. Di kejauhan, gunung-gunung yang menjulang tampak terhampar di antara awan-awan tipis, menambah keindahan panorama alam yang memukau.

Di sawah-sawah yang luas, petani-petani mulai aktif. Mereka bergerak dengan lincah, membawa peralatan mereka sambil bernyanyi kecil, menyambut pagi dengan semangat yang tinggi. Beberapa burung berkicau riang di atas pohon-pohon, menyambut datangnya pagi dengan lagu-lagu mereka yang merdu.

Rama membawa cangkul di atas pundaknya dengan kaos putih panjang dan celana hitam setinggi lutut yang dipakainya. Rama memulai membajak tanah untuk menghasilkan tanah yang subur dan gembur. Aquila memandang Rama dari kejauhan di bawah pohon rindang, menutupi rambutnya dengan kain coklat agar tidak terlihat aneh dengan rambut peraknya. Sesekali Rama melihat Aquila memberikan senyuman manis kepadanya.

Matahari semakin condong ke arah barat. Cahaya oranye kemerahan melukiskan goresan indah di langit. Burung-burung terbang rendah menuju sarangnya. Petani-petani di sawah menghentikan aktivitasnya dan kembali ke rumah masing-masing. Seluruh desa menjadi sangat gelap, cahaya matahari tidak terlihat lagi. Rama duduk di pinggir sungai memandang jauh di antara hamparan padi. Rama menyentuh segarnya air yang melewati sela-sela jari kakinya. Tiba-tiba pundaknya terasa ada tangan yang sedang menyentuhnya.

“Rama, hari mulai malam. Masihkah kamu memandang langit gelap itu? Sebaiknya pulang saja.” Aquila menyentuh pundak Rama.
“Iya, kau benar. Jika sudah malam, sebaiknya kita kembali kerumah. Namun ini caraku meluapkan keluh kesahku dengan menatap gemerlap bintang di langit. Namun malam tanpa bintang hanyalah sia-sia. Lihatlah, hanya ada cahaya bulan yang disana.” Rama menunjuk jari telunjuknya ke arah langit.
“B..bagaimana bisa? Kemana bintang-bintang itu menghilang?” Aquila menengadahkan wajahnya ke atas.
“Aku juga tidak tahu, mungkin saja tertutup awan gelap dilangit.” Rama menundukkan wajahnya seolah menyembunyikan kesedihannya.

Tanpa pikir panjang, Aquila berlari meninggalkan Rama dan menerobos hutan, menuju puncak gunung Sentawang. Sesampainya disana, Aquila mengangkat tangannya, mencoba meraih langit-langit dari jauh, namun tidak bisa. Rama dengan lamunannya yang berlarut-larut menenangkan diri dengan membasuh wajahnya dengan air mengalir. Tersadar, Aquila telah menghilang dari sisinya. Mungkin saja dia sudah tidur di rumah, pikirnya.

Rama kembali menuju gubuk tapi tidak menjumpai Aquila di sana. Rama berteriak mencari-cari Aquila kesana kemari. Dari puncak gunung terlihat cahaya terang benderang memancar membelah gelapnya malam. Rama dengan wajah terkejut segera berlari menuju puncak. Melewati hutan, melawan arus sungai, dan tibalah di kawah gunung Sentawang. Di dalam kawah yang dalam itu, mendidih air merah menyala dengan panas yang tidak terbayangkan. Rama berkeliling kawah, mencari cahaya yang terang tadi. dan muncullah wanita yang dikenalnya.

“Apa yang sedang kau lakukan disini?” ucap Rama.
“Aku… aku hanya ingin kembali, menjadi cahayamu dilangit. Aku sudah berusaha, tapi semuanya sia-sia.” Aquila mengepalkan kedua tangannya dan meneteskan air dari mata indahnya.
“Selama ini aku bagaikan malam yang gelap, sampai pada akhirnya menemukan seseorang yang menerangi kegelapanku. Tapi sekarang seseorang itu akan pergi, dan aku kembali menjadi malam yang sunyi. Apakah kau akan benar-benar pergi, Aquila?” Rama memegang erat tangan putih Aquila.

“Rama.. kamu bagaikan malam yang gelap tempatku menerangi hidup. Dimana ada kegelapan disitu aku ada. Aku tidak tega melihatmu memandang langit yang gelap tanpa adanya cahaya bintang. Kamu bisa melihatku kapan saja di antara bintang-bintang yang bersinar.” Aquila mengusapkan air mata, menutupi kesedihannya.

“Kau benar, tempatmu bukan disini. Kau harus segera kembali. Cahayamu bukan milikku, tapi milik seluruh kehidupan di alam semesta ini. Kembalilah, aku akan membantumu ke atas sana.” Rama menggendong Aquila di atas kedua tangannya. Dengan penuh keyakinan, Rama melemparkan tubuh Aquila ke atas dengan kuat, sampai menyentuh langit dan hilang dengan sekejap. Aquila terbang melesat menembus langit, melihat Rama dari ketinggian angkasa. Semakin jauh dan semakin tidak terlihat.

Di malam berikutnya, seperti biasa, Rama duduk sendirian di tepi sawah. Aliran air sungai membasahi kakinya. Angin perlahan menghembuskan daun-daun tanaman. Suara serangga membisikkan lembut ke dalam telinga. Langit malam terbentang luas di atas, dipenuhi dengan taburan bintang-bintang yang bersinar dengan indahnya. Rama menatap jauh cahaya yang paling terang tergantung di langit malam. Rama tersenyum melihat cahaya bintang itu. Tidak salah lagi, itu adalah cahaya bintang Aquila.

[KARYA NON-ILMIAH: PUISI]

Senja yang Hanya Sebatas

Karya: Rizqiyah Febryanti Firdausy Nuzula

ini adalah tentang senja yang menangis
saat jingganya tak lagi menyemburat
rona bahagianya direnggut paksa oleh gulitanya malam
hitam, pitam, pekat
gelap, senyap, tak berderap
fajar yang biasanya tegar turut merintih
oleh sebab awan kelabu
yang menjadikannya sendu
embun bahkan tak mampu lagi menemaninya
bercerita, bersukacita, bertitah membagi pelita
senja dan fajar hanyalah halaman usang
yang hanya sebatas sekelebat
yang tak pernah berujung
yang mustahil bertemu
yang tak pantas bersatu
iya… hanya sebatas…
pagi dan petang saja…
tak lebih

NB : TULISAN INI ADALAH BENTUK DARI GERAK MENULIS HARIAN (GMH) YANG DI INISIASI OLEH DHM UKIM UNESA

UKIM UNESA menerima pengumpulan karya kreatif dari anggota, pengurus, demisioner, dan alumni UKIM UNESA dapat berupa cerpen, puisi, atau tulisan lainnya dengan mengirimkannya pada link di bawah ini:

https://bit.ly/GMHUKIM2023

[KARYA NON-ILMIAH: PUISI]

sumber gambar : pixabay.com

Adorasi Senandika ‘tuk Ibunda

Oleh: Mochammad Ja’far Sodiq

Gurat raut ibu yang merenyut hanyut seiring waktu
Memutihlah helai setiap surai menjadi saksi bisu
Tangan merintih lesu menakhlik rindu
Menanti jejak yang selama ini menjadi halu

Nak, bilamana engkau nanti telah naik takhta
Dan berdiri di depan segenap insan duduk di singasana
Tatkala tetaplah rendah hati dalam buaian bentala sementara
Sebab, kita sebagai hamba dari tanah dan kembali ke tanah selamanya

Itulah tutur ibu di depan bibir pintu seraya membelai kasih
Sebelum senandika berpamit mengejar cita dan asa dengan gigih
Izinkan tuk bersinar di kota orang walau penuh rintih
Ibu, akan kuangkat harkatmu pada suatu hari nanti

Terkenang cinta dan kasihmu yang tak terbendung
Tak sedikit resah yang engkau rasakan di halaman kampung
Mengalun doa-doa panjang diatas sajadah bersenandung
Bakti kasih sayangmu kan kukenang saban detak tiap detik jam gelantung

Maka sudah selayaknya senandika mengabdi untukmu
Lantaran engkau telah rimpuh layu berlalu
Baktiku kuperjuangkan dalam rihlah tak bertepi
Lantaran, telapak kakimu termuat telaga surga penghormatan tertinggi

Sidoarjo, 30 Juni 2023

NB : TULISAN INI ADALAH BENTUK DARI GERAK MENULIS HARIAN (GMH) YANG DI INISIASI OLEH DHM UKIM UNESA

UKIM UNESA menerima pengumpulan karya kreatif dari anggota, pengurus, demisioner, dan alumni UKIM UNESA dapat berupa cerpen, puisi, atau tulisan lainnya dengan mengirimkannya pada link di bawah ini:

https://bit.ly/GMHUKIM2023