Menyalakan Api Literasi di Desa Pataan: Program “Roh Penulis” Hadirkan Beragam Kegiatan Penuh Makna dalam Pengabdian Masyarakat

Lamongan, 14 Agustus 2025 — Program Pengabdian Masyarakat dengan tema “Mengembangkan Jiwa PELITA (Peduli, Literasi, dan Kreativitas)” sukses dilaksanakan pada 3–7 Agustus 2025. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pengurus beserta anggota UKM UKIM Unesa periode 2025 ini menghadirkan rangkaian agenda edukatif, sosial, dan kolaboratif yang melibatkan perangkat desa, lembaga pendidikan, masyarakat, serta para relawan. Selama lima hari, program ini menjadi ruang pengabdian yang penuh makna, menumbuhkan semangat literasi, kepedulian sosial, dan kebersamaan lintas kalangan.

Hari Pertama: Pembukaan sekaligus Pemotongan Tumpeng

Kegiatan dimulai dengan acara pembukaan di Balai Desa Pataan yang dihadiri oleh Kepala Desa beserta perangkatnya. Suasana hangat terasa sejak awal ketika rangkaian seremoni dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia raya, mars Unesa, dan mars UKIM. Lalu, diakhiri dengan pemotongan pita sebagai simbol pembukaan resmi program, dilanjutkan pemotongan tumpeng sebagai wujud rasa syukur. Seluruh panitia, perangkat desa, dan warga turut serta menikmati tumpeng bersama dalam suasana kekeluargaan yang erat. “Kami berharap, ini menjadi langkah awal terciptanya rasa kekeluargaan bersama masyarakat Desa”, ujar salah satu panitia.

Hari Kedua: Relawan Mengajar Hari Kesatu dan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Seksual

Memasuki hari kedua, kegiatan utama adalah program Relawan Mengajar. Para relawan yang dibagi dari jumlah total panitia kegiatan disebar ke empat sekolah dasar di Desa Pataan, yaitu SD Muhammadiyah 1 Pataan, SDN 1 Pataan, SDN 2 Pataan, dan SDIT Al-Manar. Di masing-masing sekolah, relawan memberikan materi pembelajaran interaktif yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Topik pembelajaran utama di hari pertama mengajar adalah Menulis Puisi yang dirancang untuk menambah wawasan sekaligus meningkatkan motivasi belajar siswa.

Siang harinya, tim pengabdian melaksanakan kegiatan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Seksual. Dikarenakan target peserta dalam kegiatan ini adalah para pemuda di Desa, kami pun melaksanakannya di sebuah sekolah menengah yang terdapat dalam desa tersebut yaitu SMP Muhammadiyah 24. Kegiatan ini menghadirkan pemateri Anggraeni Sovi Maria Septiana, Ketua Umum Forum Genre Lamongan periode 2023–2025. Dalam pemaparannya, beliau memberikan edukasi mengenai bentuk-bentuk kekerasan seksual, upaya pencegahan, serta langkah-langkah melindungi diri. Sesi ini mendapatkan respons positif dari para siswa yang aktif bertanya dan berdiskusi. kegiatan ditutup dengan penyerahan sertifikat penghargaan kepada pemateri dan sesi dokumentasi bersama seluruh peserta sosialisasi.

Sore hari, kegiatan dilanjutkan dengan sesi mengajar di sebuah TPQ yang ada di Desa Pataan. Para relawan memberikan pendampingan belajar Tartil dan cerita-cerita para nabi. terdapat juga panitia yang memberikan hadiah kecil-kecilan kepada santri dan santriwati yang aktif sebagai bentuk apresiasi.

Hari Ketiga: Relawan Mengajar Hari Kedua dan Lomba Anak-Anak Desa

Hari ketiga masih diisi dengan kegiatan mengajar di empat SD yang sama seperti hari sebelumnya. Topik Pembelajaran pada hari kedua ini adalah Menulis Pantun. Antusiasme siswa semakin meningkat karena metode pembelajaran yang digunakan relawan bersifat kreatif dan menyenangkan.

Sore harinya, panitia mengadakan berbagai perlombaan untuk anak-anak SD se-Desa Pataan, seperti permainan corong air dan lomba membawa karet menggunakan sedotan. Suasana desa menjadi meriah, dipenuhi tawa dan semangat anak-anak yang berpartisipasi. Terdapat beberapa orang tua serta warga sekitar turut hadir dan memberikan dukungan.

Hari Keempat: Penghijauan, Kerja Bakti, Penyaluran Donasi, dan Malam Puncak

Hari keempat menjadi hari yang paling padat karena mencakup berbagai kegiatan sosial dan kolaboratif. Pagi hari dibuka dengan kegiatan menanam pohon dan bunga di sebuah taman yang berada di kawasan situs candi Desa Pataan. Kegiatan ini dilakukan bersama mahasiswa KKN dari Universitas Muhammadiyah Lamongan, memperlihatkan kekuatan kolaborasi antar perguruan tinggi dalam menjaga lingkungan dan situs budaya. Di waktu bersamaan, para relawan melaksanakan kerja bakti membersihkan sendang di dusun tempat posko berada. Kegiatan ini dipandu oleh Pak RW dan Kepala Dusun yang turut mendampingi dan memberikan arahan.

Siang harinya, panitia menyalurkan donasi berupa paket sembako kepada sepuluh warga yang membutuhkan di dusun setempat. ditemani oleh beberapa perangkat desa di bawah pimpinan Kepala Dusun Ngadasan (Lokasi Posko) yang membantu kami mengarahkan lokasi rumah warga yang dituju untuk menerima donasi. Kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian sosial yang nyata dan mendapat apresiasi dari masyarakat.

Menjelang sore, para relawan kembali mengadakan kegiatan permainan edukatif di sebuah TPA (Taman Pembelajaran Al-Quran) yang berada di dusun Ngadasan, yang diikuti oleh banyak anak-anak TPA dengan antusias. kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan permintaan dari Pak RW Dusun setempat.

Malam harinya, digelar acara penutupan pengabdian masyarakat. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh pihak yang terlibat selama program berlangsung, termasuk perangkat desa, tokoh masyarakat, perwakilan sekolah, dan seluruh warga Desa Pataan. Acara menampilkan pentas seni dari masing-masing SD tempat relawan mengajar. Selain itu, panitia juga menyediakan sesi undian doorprize yang menambah keseruan malam puncak. Suasana penuh haru dan kegembiraan mengiringi penutupan program. ditutup dengan pemberian sertifikat penghargaan kepada instansi terkait seperti SD Muhammadiyah 1 Pataan, SDN 1 Pataan, SDN 2 Pataan, SDIT Al Manar, TPQ Baitul Muttaqin, SMP Muhammadiyah 24, dan kepada Desa Pataan.

Hari Kelima: Kepulangan dan Perpisahan

Hari terakhir diisi dengan momen perpisahan antara relawan dan masyarakat Desa Pataan. Para Panitia Kegiatan berpamitan kepada tetangga sekitar posko, perangkat desa, serta Kepala Desa yang telah banyak membantu dalam kelancaran kegiatan. Suasana penuh kehangatan dan rasa terima kasih menyelimuti hari itu. lelah yang kami dapatkan tentunya amat berarti, sehingga meninggalkan perasaan penuh haru saat akan berpisah dengan lokasi tempat kami mengabdi. segala rangkaian kegiatan telah dilalui, ada sedih dan bahagia, ada canda juga tawa, ada saat ketika harus tidur malam. Namun, buah paling penting yang didapatkan adalah rasa syukur telah melalui semua itu.

Makna Pengabdian: Menyemai Manfaat dan Kebersamaan

Program Pengabdian Masyarakat “Roh Penulis” di Desa Pataan tidak hanya menjadi wadah berbagi ilmu, tetapi juga ruang untuk memperkuat solidaritas, empati, dan kolaborasi. Serangkaian kegiatan yang melibatkan edukasi, lingkungan, sosial, dan seni menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa kepada masyarakat.

Ketua pelaksana, menegaskan bahwa program ini diharapkan mampu meninggalkan dampak jangka panjang, khususnya dalam bidang literasi, pendidikan karakter, dan pemberdayaan masyarakat desa. Ia menyampaikan harapan agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan untuk memperluas kebermanfaatan bagi masyarakat luas.

Program “Pengabdian Masyarakat” ini menjadi bukti bahwa pengabdian bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang belajar, tumbuh, dan membangun hubungan antarmanusia yang penuh makna.

 

Penulis: Muhammad Raihan Ramadhan

Penyunting: Aina Nur Rohmatin

Gambar: Dokumentasi Pengabdian Masyarakat UKIM Unesa 2025

 

Menyalakan Api Riset di Kampus “Para Juara”: UKIM Unesa Sukses Gelar PIMNESA 2025 dengan Strategi Baru menuju PIMNAS 2026

SURABAYA – Atmosfer akademik di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) terasa semakin kental pada awal November ini. Unit Kegiatan Ilmiah Mahasiswa (UKIM) Unesa, sebagai organisasi penalaran yang memegang teguh asas Pancasila dan telah berdiri sejak 14 September 1998, kembali membuktikan konsistensinya dalam mencetak talenta peneliti muda. Melalui perhelatan akbar Pekan Ilmiah Mahasiswa Unesa (PIMNESA) 2025, UKIM berupaya melahirkan proposal-proposal berkualitas demi mempertahankan tradisi juara Unesa di kancah nasional.

Mengusung tema strategis “Mengoptimalkan Potensi Mahasiswa melalui PIMNESA sebagai Langkah Eksistensi Menuju PIMNAS”, kegiatan ini digelar dengan konsep hybrid. Puncak pembukaan dan workshop dilaksanakan secara luring pada Sabtu, 1 November 2025, bertempat di Auditorium Gedung E1 Lantai 3, Fakultas Teknik, Kampus Ketintang, Surabaya. Sementara itu, pendampingan intensif berlanjut secara daring hingga pertengahan bulan.

Antusiasme Tinggi Sejak Tahap Pra-Acara

Gema PIMNESA 2025 sejatinya telah dimulai jauh hari sebelum acara puncak. Panitia mencatat antusiasme mahasiswa Unesa yang luar biasa sejak periode pembukaan pendaftaran dan pengumpulan proposal yang berlangsung pada 11 Oktober hingga 28 Oktober 2025. Tingginya minat mahasiswa bahkan mendorong panitia untuk memfasilitasi masa extended pendaftaran pada 29–30 Oktober 2025 dikarenakan antusiasme dari mahasiswa UNESA yang sangat tinggi dan ingin mendaftar di PIMNESA 2025.

Sebelum memasuki tahap workshop, seluruh proposal yang masuk telah melalui saringan ketat dalam Penilaian Tahap Awal oleh tim reviewer yang kompeten dan berpengalaman pada 31 Oktober hingga 2 November 2025. Hal ini dilakukan untuk memetakan kualitas dasar karya mahasiswa sebelum dipoles lebih lanjut dalam sesi pelatihan.

Transformasi Konsep dan Interaksi Luring

Rangkaian acara puncak pada 1 November dimulai sejak pukul 07.00 WIB dengan registrasi peserta. Suasana khidmat menyelimuti auditorium saat lagu Indonesia Raya, Mars Unesa, dan Mars UKIM dikumandangkan pada pukul 08.15 WIB sebagai tanda dimulainya acara.

Hadir dalam kesempatan tersebut jajaran tokoh kemahasiswaan, antara lain Pembina UKM UKIM Unesa Bapak Muamar Zainul Arif, S.Pd., M.Pd., Ketua Umum UKIM 2025 Bayu Adi Putra Wardana, serta Ahmad Haris Pratama selaku Koordinator Lapangan.

Dalam laporannya, Ketua Pelaksana PIMNESA 2025, Abdur Rahman Jibrin, menegaskan bahwa PIMNESA tahun ini membawa semangat pembaruan. Ia menyoroti perubahan signifikan dalam format acara untuk memaksimalkan transfer ilmu.

“Penyelenggaraan PIMNESA tahun ini berbeda dengan sebelumnya karena berlangsung secara luring, sehingga memungkinkan interaksi yang lebih intensif antara peserta dan pemateri,” ujar Abdur Rahman Jibrin. Ia berharap metode tatap muka ini mampu memecah kebuntuan teknis yang sering dialami mahasiswa saat menyusun proposal.

Sesi 1: Membedah Masalah dengan Empati bersama Psikolog

Memasuki sesi inti pada pukul 08.50 WIB, panitia menghadirkan Pemateri 1, Ibu Qurrota A’yuni Fitriana, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Beliau bukan sekadar akademisi, melainkan praktisi dosen pembimbing yang terbukti sukses mengantarkan tim mahasiswa menembus panggung PIMNAS.

Dalam paparannya, Ibu Qurrota mengajak peserta untuk mengubah pola pikir: riset bukan soal kerumitan, melainkan soal kepekaan sosial.

“Sebagai mahasiswa kita punya suatu gagasan dan itu kita melihat dari sebuah permasalahan ya, permasalahan yang muncul dari sekitar kita. Nah, dari situlah apa yang teman-teman pelajari di kampus, di kelas, itu bisa diaplikasikan ke penyelesaian masalah yang ada,” tutur Ibu Qurrota memberikan pencerahan.

Beliau juga menekankan standar kreativitas yang diharapkan juri nasional. “Dan tentunya penyelesaiannya bukan yang biasa saja, tapi justru yang ditambah dengan karya-karya yang inovatif, yang kreatif, dan juga tidak biasa dan bisa bermanfaat tentunya bagi masyarakat,” tambahnya.

Sesi 2: Strategi “Tembus PIMNAS” dari Mas Karna

Antusiasme peserta semakin memuncak pada pukul 10.15 WIB saat sesi kedua dimulai. Panggung diambil alih oleh Pemateri 2, Karna Abadi, mahasiswa kebanggaan Unesa dengan rekam jejak luar biasa: Juara PIMNAS dua kali berturut-turut (2024 dan 2025) serta peraih Medali Perak pada PIMNAS ke-37.

Karna tidak hanya membedah teknis penulisan proposal yang “lolos pendanaan”, tetapi juga menanamkan mentalitas petarung. Baginya, rasa takut salah adalah musuh utama peneliti muda.

“Yang paling penting mulai dari sekarang jangan takut untuk bertanya dan gali terus ilmunya. Sehingga teman-teman akan mendapatkan kesenangan tersendiri ketika teman-teman benar-benar bisa mendalami, kemudian bisa bertanggung jawab atas apa yang sudah teman-teman pilih. Jangan takut untuk mencoba,” pesan Karna yang disambut tepuk tangan meriah peserta.

Maraton Coaching Clinic: Bedah Tuntas Per Skim

Komitmen UKIM Unesa tidak berhenti di hari pembukaan. Guna memastikan materi terserap sempurna, panitia menggelar sesi Coaching Clinic secara daring (online) yang terjadwal rapi mulai tanggal 3 hingga 7 November 2025.

Jadwal pendampingan disusun secara spesifik agar pembahasan lebih terarah:

  • 3 November: Pembukaan rangkaian sesi daring.
  • 4 November: Bedah proposal Skim PKM-GFT (Gagasan Futuristik Tertulis) dan PKM-VGK (Video Gagasan Konstruktif) pada Sesi 1, dilanjutkan PKM-RE (Riset Eksakta) dan PKM-RSH (Riset Sosial Humaniora) pada Sesi 2.
  • 5 November: Fokus pada PKM-KC (Karsa Cipta) dan PKM-KI (Karya Inovatif).
  • 6 November: Fokus pada PKM-PM (Pengabdian Masyarakat) dan PKM-PI (Penerapan Iptek).
  • 7 November: Ditutup dengan pembahasan PKM-K (Kewirausahaan) dan PKM-AI (Artikel Ilmiah).

Selain pertemuan via Zoom, peserta juga difasilitasi grup WhatsApp eksklusif per skim. Di sana, para mentor berpengalaman siap menjawab pertanyaan peserta kapan saja, menciptakan ekosistem belajar yang interaktif tanpa batasan waktu.

Masa Revisi dan Penganugerahan Best Proposal

Keunggulan PIMNESA 2025 terletak pada proses pembinaannya yang tuntas. Setelah mendapatkan masukan dari mentor, peserta memasuki Masa Revisi dan Pengumpulan Proposal Tahap Akhir pada tanggal 3–10 November 2025. Proposal yang telah disempurnakan tersebut kemudian dinilai kembali pada 11–13 November 2025.

Puncak dari seluruh rangkaian kerja keras ini adalah Pengumuman Proposal Terbaik yang dijadwalkan pada 15 November 2025. Panitia memberikan penghargaan bergengsi berupa predikat Best Proposal 1, 2, dan 3. Pemenang tidak hanya mendapatkan uang pembinaan, tetapi informasi Best Proposal juga akan dipublikasikan melalui media sosial UKIM Unesa sebagai inspirasi bagi mahasiswa lainnya.

Dengan target luaran berupa proposal berkualitas sesuai standar SIMBELMAWA, PIMNESA 2025 menjadi langkah awal yang solid bagi Unesa untuk kembali mendulang emas dan mengharumkan nama almamater di ajang PIMNAS 2026 mendatang.

 

Penulis: Abdur Rahman Jibrin

Penyunting: Muhammad Raihan Ramadhan

Gambar: Dokumentasi PIMNESA 2025

Selamat Datang – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Oleh: Naufal Aswari

15 September 2025 06.50 WIB

 

Hembusan angin yang sangat dingin serta suhu yang sangat rendah ini membuat badanku terasa kaku. Putih… Semanya putih dan dingin… salju, bebatuan, dan beberapa bongkahan es membuat nafasku terasa sesak ditambah dengan beban tas carrier yang ada dipunggungku membuatku harus menghirup tabung gas oksigen berkali-kali. Namun, aku tidak boleh menyerah disini. Aku tidak boleh berhenti di tempat ini.

“Rio, kau harus kuat! Kau sekarang telah berada di garis yang mendekati impianmu selama ini! Bertahanlah… bertahanlah… bertahanlah…” batin Rio dalam hati. Kemudian, lelaki itu-pun kembali menggerakkan badan dan melanjutkan pendakian kembali untuk meraih Puncak Cartenz Pyramid.

Gunung tertinggi di Indonesia yang terletak di pulau New Guniea (Papua) berupa pegunungan batu bersalju dengan hutan belantara di kaki gunungnya yang menyimpan banyak sekali keindahan alam dan keberagaman fauna dan flora yang eksotis dan memiliki ketinggian 4884 MDPL yang masuk kedalam kategori “Seven Summits Dunia” dan menempati urutan ke-7.

Setelah mendaki sejauh 140 meter, Rio pun mulai kelelahan dan memutuskan untuk beristirahat di sebuah Gua yang tak jauh dari tempat ia berdiri, Gua Salju Abadi. Rio pun mulai membuka tas keril dan mengeluarkan beberapa logistik makanan guna memulihkan energi.

Saat Rio sedang beristirahat di Gua Carstensz, ia melihat dari kejauhan sosok pendaki lain. Tubuhnya lebih besar, dengan bendera kecil Australia terikat di ranselnya. Mereka sempat bertukar pandang sebentar, lalu sosok itu melanjutkan langkahnya mendahului.

Rio tidak sempat berbincang, tapi wajah asing itu menempel di ingatannya. Ia tidak tahu, orang itulah yang nanti akan menolongnya di saat genting.

Burma Bridge, jalur ekstrim yang akan Rio lewati sebelum mencapai puncak Cartenz, adalah sebuah jembatan penghubung antar tepi jurang yang dalam dengan hanya menggunakan tali-temali saja sebagai pijakannya dan pegangannya, bukan menggunakan kayu ataupu besi, yang sewaktu waktu bisa bergoyang kencang akibat tiupan angin.

Rio menatap Burma Bridge dari kejauhan yang jaraknya sekitar 50 meter dari Gua Salju Abadi. Ia kurang yakin akan bisa melewati jembatan ekstrim tersebut

Rio pun membuka catatannya..

“Rio.. ingatlah, pendakian ini adalah sebuah ambisimu yang engkau impikan sejak kecil, mendaki Gunung Cartenz Pyramid  dan menginjakkan kaki di Puncak Jaya Wijaya! Pegunungan batu bersalju yang ekstrim dan tidak sembarang orang bisa menginjakkan kakinya di Puncak Jaya Wijaya, -Rio Gurnadi-”.

Setelah menutup kembali catatannya, Akhirnya Rio pun tersadar bahwa inilah yang ia inginkan dan mejadi impiannya sejak kecil.

Rio pun melantunkan syair… “Wahai Jiwaku, Mengapa engkau membenci impianmu sendiri? Bukankah sudah jelas terletak didepan mata?”

Setelah itupun semangat Rio pun kembali membara dan dengan segera ia mengemasi tas kerilnya untuk melanjutkan pendakian, semua barang ia tata dengan rapi dalam tas kerilnya dan ia bawa. Tanpa pikir panjang, ia mengambil tongkat dan berjalan menuju keluar dari Gua Salju Abadi.

Ia pun kembali menghadapi dinginnya salju dan bongkahan es serta kerasnya bebatuan. Hingga setelah 50 meter, ia pun sampai pada Burma Bridge. Ia  pun memasang tali pengaman dan mengaitkan dirinya pada tali tersebut. Dengan segera ia menyebrangi jembatan tersebut dengan hati-hati.

Namun, ia lupa untuk mengurangi beban pada tas kerilnya yang sangat berat ditambah bobot tubuhnya yang mencapai 68 Kg sehingga membuat tali pada Burma Bridge bergoyang hebat.

Sedikit rasa panik pada Rio, namun ia bersikeras dalam pendiriannya untuk melewati jembatan tersebut. Hingga ia teringat bahwa ia belum mengecek kondisi tali tersebut.

KREKK..

Suara tali yang sepertinya ingin putus membuat Rio panik.

KREKK,KREKK..

Makin kencang suara tali tersebut, hingga…

AAARGHHH!!! TOLOOONG…

Rio pun terjatuh ke jurang yang gelap, sepi, dan dingin… hingga terlihat sebuah sosok putih yang menghampirinya.

“Siapa Kau?” Tanya Rio.

“Selamat Datang!” Jawab sosok putih tersebut dengan suara halus.

Rio menatap lekat sosok putih itu. Tubuhnya melayang di ruang hampa, tak ada dasar, tak ada langit, hanya keheningan pekat. Nafasnya berat, jantungnya berdetak kencang.

“Selamat datang,” suara itu kembali terdengar, tenang tapi menusuk relung hati.

“Siapa kau? Apa ini… NERAKA?! SURGA?! ATAU AKU SUDAH MATI?!” Rio berteriak, matanya liar mencari pijakan.

Sosok itu tersenyum samar. Wajahnya tak jelas, seperti asap putih yang terus berubah bentuk. “Kau belum mati, Rio. Kau hanya singgah di batas antara hidup dan menyerah.”

Rio terdiam. Kata-kata itu menusuk telinganya lebih dalam daripada dingin yang membekukan tubuhnya.

“Batas… antara hidup dan menyerah?” gumamnya pelan.

Sosok itu mendekat, semakin nyata. “Sejak awal perjalananmu, aku selalu mengikutimu. Di setiap rasa ragu saat kakimu gemetar menapak batu licin, di setiap helaan napas saat paru-parumu perih oleh dingin. Aku adalah bisikan yang berkata, ‘Berhentilah, kau tak akan sanggup.’

Rio merasakan bulu kuduknya berdiri. “Kau… diriku sendiri?”

“Aku adalah bayanganmu. Ketakutanmu. Keraguanmu.” Sosok itu mengangkat tangan, dan seketika muncul kilasan-kilasan di udara: bayangan Rio kecil yang menatap gunung dengan penuh kagum, lalu Rio remaja yang berjanji pada dirinya sendiri untuk suatu hari berdiri di puncak tertinggi Papua.

Namun, kilasan itu berubah — memperlihatkan Rio yang gagal dalam latihan, Rio yang hampir menyerah karena cedera, dan Rio yang menangis diam-diam karena merasa tak cukup kuat.

“Semua kegagalanmu… adalah aku,” ujar sosok itu datar.

Air mata Rio mengalir, bercampur dengan rasa marah. “TIDAK! Itu bukan alasan untuk menyerah. Aku… aku mendaki bukan hanya untuk diriku sendiri! Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa. BAHWA MIMPI KECILKU BUKAN HANYA MIMPI KOSONG!”

Sosok itu menatapnya lama, kemudian tersenyum tipis. “Kalau begitu, hadapilah aku. Lawan aku, atau tenggelam di sini selamanya.”

Tiba-tiba, ruang hampa itu bergetar. Jurang hitam berubah menjadi pusaran salju dan es, menghantam tubuh Rio dari segala arah. Dingin menusuk tulang, angin berputar liar. Sosok putih itu melayang di tengah badai, menatap Rio dengan mata bercahaya.

Rio berusaha melawan, meraih tali imajiner yang entah dari mana muncul. Tangannya gemetar, tapi hatinya berteriak.

“Aku tidak akan menyerah! Sekalipun harus mati, aku akan mati di puncak, bukan di jurang keraguan!”

Kilatan cahaya menyilaukan. Sosok putih itu tertawa lirih, lalu perlahan memudar. “Kalau begitu… bangunlah, Rio. Pendakianmu belum selesai.”

Rio terperanjat, terbangun dengan tubuh menggantung hanya beberapa meter dari dasar jurang. Nafasnya terengah, peluh bercampur dengan serpihan es di wajahnya. Tali pengamannya masih menahan, meski sudah nyaris putus.

Matanya melebar. “Ya Tuhan… ini nyata…”

Dengan sisa tenaga, ia menggenggam tali itu erat-erat. Setiap tarikan adalah perang melawan rasa sakit dan keputusasaan. Tapi kali ini berbeda — ia sudah menghadapi ketakutannya sendiri.

Setelah perjuangan panjang, Rio akhirnya berhasil meraih tepi jurang. Ia merangkak naik, tubuhnya gemetar, lututnya bergetar, tapi hatinya kokoh. Ia menatap ke langit, menghela napas panjang.

“Terima kasih… sudah menguji aku,” bisiknya.

Di kejauhan, puncak Cartenz Pyramid masih berdiri gagah, menantinya.

Rio masih terengah-engah setelah berhasil merangkak keluar dari jurang. Nafasnya berat, dadanya naik-turun cepat, sementara tangannya gemetar memegang batu es. Ia menatap ke atas, puncak Cartenz Pyramid masih berdiri jauh di atas sana, megah dan tak tergapai.

“Tidak ada jalan lain… aku harus lanjut.” gumamnya pelan, meski tubuhnya nyaris menyerah.

Ia menatap Burma Bridge lagi. Jembatan tali itu tampak jauh lebih mengerikan setelah hampir merenggut nyawanya. Jurang hitam menganga di bawahnya, suara angin yang berdesing membuat jantungnya berdegup kencang.

Rio menarik nafas dalam-dalam, lalu mulai menapak. Baru beberapa langkah, kabut turun begitu cepat seakan menelan seluruh dunia. Udara dingin makin menggigit. Tak ada lagi warna, hanya putih dan abu-abu.

“Fokus, Rio… satu langkah… lalu satu langkah lagi.” batinnya.

Namun, baru di tengah jembatan, badai tiba-tiba datang. Angin mengguncang jembatan begitu keras hingga tali berayun liar. Tubuh Rio ikut terombang-ambing, nyaris terhempas ke jurang.

“ARGHHH!!!” teriaknya panik, berusaha menguatkan pegangan.

Di tengah kekacauan itu, samar terdengar suara.
“Hei! Bertahan! Jangan lepaskan!”

Rio menoleh. Dari seberang jembatan, terlihat sosok pendaki lain. Tubuhnya lebih besar, membawa ransel dengan bendera kecil Australia di belakangnya. Meski wajahnya tertutup masker salju, sorot matanya tajam penuh keyakinan.

“Aku Alex! Ayo, cepat! Aku bantu kau!” teriaknya.

Rio menggertakkan gigi, melangkah lagi, tapi tiba-tiba—
KREEKKKK!!!
Salah satu tali pijakan retak, serabutnya terlepas! Tubuh Rio terguncang hebat, tangannya hampir terpeleset. Jurang hitam di bawah sana seolah menunggu mangsa.

“CEPAT, RIO!!!” Alex berteriak. Ia melemparkan tali tambahan, meluncur melintasi badai.

Dengan sisa tenaga, Rio meraih tali itu. Tangannya berdarah tergores, sarung tangannya sobek, tapi ia berhasil mengikatnya ke pengaman. Langkah demi langkah, tubuhnya hampir merayap di atas jembatan.

Akhirnya, Alex menariknya dengan sekuat tenaga hingga keduanya terjatuh di tepi seberang. Rio terduduk lemas, nafanya tersengal.

“Terima kasih…” Rio berbisik lirih, matanya berkaca.

Alex menepuk pundaknya. “Kau kuat, mate. Tak banyak orang bisa bertahan sejauh ini.”

Mereka melanjutkan pendakian bersama. Kabut makin tebal, seolah gunung ingin menelan mereka. Jalanan licin, bongkahan es besar runtuh di beberapa titik, membuat keduanya harus memutar.

Di satu titik, mereka melewati tebing sempit dengan jurang di sampingnya. Angin berdesing keras, memaksa mereka menempel rapat ke dinding batu. Rio nyaris tergelincir ketika pijakan es rapuh hancur di bawah kakinya.

“Tahan, Rio!” Alex mengulurkan tongkat, menariknya kembali.

Jantung Rio berdegup cepat. “Kalau aku sendirian… aku sudah habis.”

Alex tersenyum samar. “Kadang, gunung mempertemukan kita dengan orang yang tepat, di waktu yang tepat.”

Malam menjelang. Mereka memutuskan beristirahat di sebuah cerukan batu. Rio menyalakan lampu kepala, namun cahaya hanya menembus beberapa meter karena kabut pekat.

Saat Alex terlelap, Rio tetap terjaga. Angin berhembus lembut, membawa suara aneh. Seperti… nyanyian. Lembut, berirama, menggunakan bahasa yang tak ia mengerti.

Rio menggigil. Ia menoleh, dan dari kejauhan terlihat kilatan cahaya hijau kebiruan di balik kabut. Bentuknya seperti api, tapi melayang pelan, seakan menari.

Rio berdiri perlahan, terpikat. Api itu melayang semakin dekat, hingga akhirnya membentuk sosok samar seorang lelaki tua berkulit gelap dengan hiasan bulu burung cendrawasih di kepalanya.

Rio terperanjat, kakinya mundur setapak.

Sosok itu berbicara dengan suara berat dan bergema:
“Pendaki dari jauh… gunung ini bukan milikmu. Ia milik leluhur yang menjaganya sejak awal waktu. Kau boleh menginjaknya, tapi jangan pernah menguasainya.”

Rio terdiam, hatinya bergetar. “Aku… aku datang bukan untuk menguasai… hanya untuk mewujudkan mimpiku.”

Sosok itu tersenyum samar, lalu memudar kembali ke kabut. Api hijau padam, dan hening kembali menguasai malam.

Rio kembali duduk, menatap api kecil perapian. Dadanya bergemuruh. Ia bertanya-tanya: apakah itu mimpi, halusinasi karena kelelahan… atau benar-benar pesan dari roh leluhur Papua?

Keesokan harinya, mereka kembali berjalan. Jalur semakin terjal, udara makin tipis. Nafas menjadi berat, setiap langkah seolah menelan tenaga terakhir.

Beberapa kali, batu es runtuh dari atas, hampir menghantam mereka. Sekali, mereka harus merayap di bawah bongkahan es raksasa yang hampir jatuh. Tegangan tak pernah berhenti.

Namun, di balik semua itu, Rio merasakan ada yang berbeda dalam dirinya. Sejak kejadian malam itu, hatinya tak hanya dipenuhi ambisi, tapi juga rasa hormat. Ia merasa seakan gunung ini hidup, mengawasinya.

Dan akhirnya, kabut mulai menipis. Dari balik awan putih, muncullah cahaya keperakan. Puncak Cartenz Pyramid berdiri gagah, seakan menyambut mereka.

Rio tak mampu menahan air matanya. Ia berlutut, menancapkan tongkat, lalu berteriak dengan seluruh sisa tenaga:

“AKU BERHASIL!!!”

Alex tertawa lega, mengibarkan benderanya. Namun, bagi Rio, keberhasilan ini lebih dari sekadar kemenangan pribadi. Ia merasa telah mendengar suara gunung… dan ia tahu, ada pesan yang harus ia jaga.

Udara di ketinggian itu begitu tipis. Setiap tarikan napas Rio terasa seperti menelan pisau dingin yang menusuk paru-paru. Salju berkilauan di bawah cahaya matahari pagi yang mulai menembus kabut. Di depan matanya, puncak Cartenz Pyramid berdiri angkuh, seperti singgasana raksasa yang menantang siapa pun untuk menaklukkannya.

Rio berhenti sejenak. Lututnya bergetar, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena rasa tak percaya. Setelah bertarung dengan jurang, badai, kabut, bahkan suara-suara gaib semalam, kini ia berada di ambang mimpinya.

“Rio, ini waktumu,” Alex menepuk pundaknya dengan senyum lelah.

Dengan langkah berat namun mantap, Rio maju. Ia menancapkan tongkat esnya di salju, menunduk, lalu perlahan meraih batu puncak. Saat tangannya menyentuhnya—sesuatu terjadi.

Angin mendadak berhenti. Dunia seakan membeku. Tak ada suara, tak ada gerakan, hanya keheningan abadi. Rio merasakan tubuhnya ringan, seakan dipisahkan dari raganya.

Kabut di sekeliling bergerak, membentuk pusaran. Dari dalam pusaran itu muncul sosok-sosok bayangan: para leluhur Papua, mengenakan hiasan kepala dari bulu cendrawasih, tombak di tangan, dan wajah penuh wibawa. Mereka berdiri melingkari Rio, memandangnya dengan tatapan tajam namun penuh makna.

Seorang tua melangkah maju, matanya bersinar hijau kebiruan sama seperti cahaya semalam. Suaranya berat, bergema seperti datang dari perut bumi:

“Anak muda dari jauh… kau telah sampai di puncak yang dijaga sejak dunia muda. Gunung ini bukan sekadar batu dan es. Ia adalah roh, ia adalah darah, ia adalah napas leluhur kami.”

Rio tertegun. Dadanya berdegup cepat. Ia ingin bicara, tapi lidahnya kelu.

Sang tua melanjutkan, “Banyak yang datang hanya membawa kesombongan. Mereka ingin menguasai, menaklukkan, menjadikan gunung ini trofi. Tapi engkau berbeda. Kau datang dengan hati yang gelisah, mencari arti lebih dalam.”

Tiba-tiba, cahaya dari langit turun, menyelimuti tubuh Rio. Ia merasakan kehangatan yang tak bisa dijelaskan, meski tubuhnya berada di tengah salju.

“Kami berikan restu, tapi juga pesan,” lanjut sang tua. “Jangan lupakan suara gunung ini. Ia akan menjadi bagian darimu. Bawalah kisah ini, dan sampaikan pada dunia bahwa alam bukan untuk ditaklukkan… melainkan untuk dihormati.”

Air mata Rio mengalir tanpa ia sadari. Ia mengangguk, dada penuh rasa syukur dan hormat. Saat ia berkedip, semua sosok itu menghilang, kabut buyar, dan dunia kembali bergerak.

Alex memandangnya bingung. “Kau baik-baik saja, Rio? Tadi kau… seperti membeku.”

Rio berdiri tegak di puncak Cartenz Pyramid, matanya berkaca, dadanya bergemuruh. Ia menancapkan bendera kecil Indonesia di atas salju, dan pada saat itu angin bertiup lembut, seolah gunung sendiri ikut memberi salam.

Air matanya jatuh, bukan sekadar lega karena berhasil, melainkan karena menyadari arti sebenarnya dari perjalanannya.

“Ini bukan hanya mimpiku yang terwujud…” bisiknya lirih, “ini adalah pesan. Gunung ini hidup, ia bernafas, dan aku adalah saksi kecilnya.”

Bagi Rio, puncak itu bukan garis akhir, melainkan sebuah awal. Awal dari perjalanan baru — untuk menjaga suara gunung, dan menyampaikan pada dunia bahwa alam tidak pernah untuk ditaklukkan… melainkan untuk dihormati.

 

Hey, Kenalin aku Naufal Aswari, datang dari kota metropolitan dengan kesibukannya yang dramatis, Bekasi. Hobiku mendaki gunung, bukan hanya sekedar menghindari hiruk-pikuk kota, tetapi tuk melihat betapa agungnya ciptaan yang maha kuasa. Jauh-jauh aku ke Kota Buaya, bukan hanya membawa nama, tetapi juga tuk melanjutkan langkahku yang kutuju pada takhta sarjana, tempat ilmu bersemayam.

Kontak: 0877-6104-7280

Instagram: @aswarico

 

Penulis: Naufal Aswari

Penyunting: Muhammad Raihan Ramadhan

Penyelaras Bahasa: Muhammad Raihan Ramadhan

Hujan dan Kamu – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Oleh: Aisyah Nadya Olivia

14 September 2025 18.11 WIB

 

[15 Mei 2023]

Sore hari yang seharusnya melihat indahnya senja sesaat, kini pupus karena hujan yang tiba-tiba turun tanpa gerimis kecil. Bersamaan dengan air mata yang turun dari mata yang sayu. Sang puan kali ini merasa resah, karena ia tak bisa pulang dan memeluk guling pink dikamarnya, ditemani musik yang ia dengar di Spotify, bersama serial Netflix kegemarannya.

Meirella. Ia yang saat ini menangis diantara derasnya hujan. Berteduh disebuah warung yang tutup, sambil menenteng tas yang berisikan mie instan, makanan dan minuman lainnya yang ia beli di Supermarket. Gadis kelahiran Mei yang selalu dilanda kegalauan disaat hujan turun. Padahal, ia dulu sangat amat menyukai hujan, hingga ia pikir, hujan adalah obat. Untuk sekarang, ia menganggap hujan adalah bencana yang mengingatkannya kepada seseorang di masa lalu. Seseorang yang sama-sama menyukai hujan, dan selalu ceria dengan senyumannya yang manis disaat hujan mengguyur kepalanya. Begitupun Meirella, yang disaat itu ikut bahagia karena hujan dan seseorang itu.

Bak tisu yang terkena air, meleleh begitu saja. Itulah Meirella sekarang. Hujan turun, air matanya seraya turun membasahi pipinya. Ia biarkan turun sederas hujan yang turun sekarang. Tak ada orang, ia bebas menangis tanpa mengusap air matanya lagi.

Akan diceritakan oleh Meirella, mengapa seseorang di masa lalu membuatnya menangis hingga di masa depan sekalipun.

 

  • • •

Lima tahun yang lalu…

Gadis SMA kelas sebelas yang sedang bersantai di koridor sekolah, sambil menikmati bekal sandwichnya dari rumah. Ia yang memakan sandwich dengan tenang, tiba-tiba seseorang dari samping menyenggolnya, hingga ia terkejut dan sandwich milik Meirella jatuh ke lantai. Ia sontak menoleh ke samping, menampakkan lelaki dengan tubuh yang penuh keringat dan bau matahari, begitu pula seragamnya yang sudah kotor.

ADIMAS.

Ia Adimas, mendiang mamanya ialah sahabat mama Meirella. Mereka dekat, dikarenakan sedari kecil sudah berteman, dan Adimas sering berkunjung ke rumah Meirella. Terkadang kedatangan Adimas membuat Meirella kesal, karena lelaki itu selalu membuat Meirella kesal dan marah. Selalu, selalu menjahili perempuan itu, tanpa melewatkan satu hari pun untuk menjahili Meirella.

“Adim! Ganti sandwich gue,” ucap Meirella kesal.

Gadis itu memandangi sandwichnya yang kotor dengan tatapan sendu. Pasalnya ia hanya memegang uang untuk ongkos pulang saja, tanpa membawa uang untuk membeli makanan di kantin.

“Maaf. Beli aja sana di kantin, banyak kok! Isinya juga macam-macam,” jawab Adimas dengan entengnya.

Meirella marah dan gemas sendiri dengan sikap Adimas yang terlampau menyebalkan. Meirella pergi dari tempatnya sekarang, menuju kelasnya. Adimas menyusulnya seperti anak bebek yang mengikuti induknya kemanapun induknya pergi. Meirella sudah tak perduli ada Adimas yang mengikutinya, karena ia hanya ingin meringkuk dan meratapi nasib sandwichnya. Ia lapar dan tak ada uang untuk membelinya lagi. Ingin menangis pun tak akan membuat sandwichnya kembali.

“Rella. Maafin gue! Ayo jangan dikelas aja, diluar hujan. Ayo hujan-hujanan. Kayaknya semua teman-teman kita pada keluar buat hujan-hujanan. Lagian ini mapel terakhir, kenapa engga?” Ajak Adimas.

Meirella beranjak dari duduknya dan keluar kelas terlebih dahulu meninggalkan Adimas.

Banyak murid-murid yang bermain hujan, tak perduli seragamnya basah, karena besok sudah hari libur. Wajah Meirella berseri-seri, hujan adalah favoritnya. Adimas menyusul dan menarik tangan Meirella untuk ikut bermain hujan di lapangan basket bersama teman-teman lainnya.

Adimas menggenggam kedua tangan Meirella dan berputar-putar bersama hujan. Kedua anak SMA itu sangat bahagia, seperti sedang berada di surga atau berada di hari yang spesial. Namun, ini hanya tentang hujan, yang membuat mereka berdua melompat-lompat kegirangan dibawah derasnya hujan. Senyuman yang akan selalu teringat dan dikenang. Hari-hari menjadi siswa SMA adalah hari-hari yang harus dinikmati meskipun itu hanya sedetik. Masa-masa SMA ialah masa indah terakhir bagi Meirella, apa mungkin karena ada Adimas juga?

Mereka berdua dan siswa-siswi lainnya masih setia menikmati hujan di lapangan sekolah. Sementara para guru hanya pasrah, karena terlanjur para anak didiknya itu sudah basah.

  • • •

Sepulang Sekolah

Mereka berdua memeluk tubuhnya masing-masing. Sama-sama kedinginan, namun masih bisa tersenyum. Meirella melupakan masalahnya dengan Adimas tadi, hanya karena ia bisa bermain hujan-hujanan. Moodnya membaik hanya dengan bermain hujan-hujanan, menarik sekali.

Kali ini mereka berdua pulang bersama naik angkutan umum, dan berhenti di warung bakso. Adimas yang meneraktir Meirella, yaa sebagai ganti sandwich tadi juga. Makan bakso setelah bermain hujan juga tak akan lupa, karena termasuk kenangan indah juga semasa SMA.

Bakso mang Aji.

Mereka berdua memakan semangkuk bakso dengan lahap. Bakso mang Aji memang langganan anak-anak sekolah. Mang Aji juga sudah sangat hafal siapa saja anak yang satu sekolah dengan Meirella dan Adimas yang sudah mencoba baksonya. Mang Aji juga saksi Meirella dan Adimas yang selalu bersama menghabiskan waktu mereka untuk sekedar bercanda dan memakan bakso mang Aji. Seharusnya momen-momen itu bukan hanya “sekedar”.

“Boleh gak mang Aji ramal?” Tanya mang Aji tiba-tiba.

“boleh!” Ucap Meirella dan Adimas serempak.

Mang Aji tertawa sebentar, dan mulai mengeluarkan suaranya.

“Kayaknya, kalian bakalan pacaran. Atau, sekarang udah pacaran?”

Meirella dan Adimas sontak saling bertatap-tatapan lalu saling tertawa. Mereka berdua menganggap ini hanyalah lelucon mang Aji, karena selalu melihat Meirella dan Adimas yang selalu membeli bakso disini berdua saja.

“Gak akan. Mana mungkin aku sama Adimas sih mang!” Bantah Meirella yang disusul anggukan dari Adimas.

“Betul. Aku mana mau sama upik abu kayak Rella.” Ejek Adimas.

Meirella mencubit lengan Adimas hingga Adimas memekik kesakitan.

Mang Aji hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan. Mana mungkin mereka tidak jatuh cinta satu sama lain, jika kedekatan mereka saja sudah pasti membuat satu sama lain nyaman. Ya meskipun kelihatannya selalu tidak akur, tetapi mereka selalu berdua, seperti sudah merekat karena diberi lem yang kuat.

Bakso Adimas habis terlebih dahulu, ia pura-pura keluar lebih dahulu dan tidak membayar bakso Meirella karena sang gadis itu sangat lama memakan baksonya.

“Jangan gitu deh lo! Pokoknya yang baksonya udah habis duluan, dia yang bayar,” ucap Meirella.

“Iya bayar duluan, tapi bayar punya gue doang,” jawab Adimas dengan nada songong.

Meirella menggerutu sambil memakan baksonya hingga habis tak tersisa, sisa alat makannya saja. Ia berdiri dan menghampiri mang Aji dengan bibir yang ditekuk.

“Mang, aku ngutang dulu ya. Gak bawa uang soalnya, atau aku bantu cuciin mangkuknya mang Aji?” Tanya Meirella.

Mang Aji tertawa terlebih dahulu, lalu memberi tahu Meirella bahwa baksonya sebenarnya sudah dibayar Adimas, Cuma memang lelaki itu suka sekali iseng kepada Meirella. Meirella pamit kepada mang Aji setelah makan, dan menyusul Adimas yang ternyata lelaki itu menunggu Meirella diluar warung.

Mereka berdua melanjutkan perjalanan pulang, dengan berjalan kaki. Jarak warung mang Aji dan komplek rumah Meirella dan Adimas tidak terlalu jauh, apalagi mereka masih muda, yang mana masih kuat berjalan sedikit jauh. Tetapi kalau disuruh berjalan dari Jakarta ke Bogor mana bisa.

Mereka menikmati udara sehabis hujan, dan sore hari yang mulai menampakkan senjanya yang indah, meski singkat. Mereka berdua bersenda gurau sambil berjalan menyusuri jalan dan hiruk pikuk Jakarta, yang mulai memadatkan suasana ibu kota. Setiap jalanan disini, sudah termasuk kenangan terindah, meski mereka hanya berjalan tanpa ada kata kata istimewa, hanya ocehan dua remaja SMA yang sedang adu mulut di setiap perjalanan pulang mereka. Bagaimana tak terus dikenang, jika Meirella terus berdua dan menghabiskan waktu seharian bersama sang tuan, yang tak kunjung pulang ini.

  • • •

Masa sekarang

Kembali ke tahun ini, sekarang. Iya, kembali di Meirella yang sedang menangis saat terjebak hujan sendirian. Hujan reda, air matanya juga ikut reda. Ia mengusap kasar air mata yang masih menempel di wajahnya, dan melanjutkan perjalanan pulangnya. Ia menghela napas dan menikmati suasana yang tenang setelah hujan.

Tanpa sadar orang-orang yang mulai lewat didepan Meirella memandanginya dengan tatapan penasaran. Meirella sudah bisa menebak, mungkin karena matanya yang sembab. Ia tak perduli dan tetap melanjutkan perjalanannya.

Sudah lima tahun lamanya, aku masih menunggumu kembali dan memakan bakso bersama, bermain hujan bersama, berjalan bersama, bersenda gurau bersama. Aku semakin rindu karena suasana hari ini mengingatkanku padamu. Aku masih mengingat wangi parfum favoritmu, aku masih mengingat senyum manis yang kau lontarkan didepanku. Aku tak masalah bila kau usil kepadaku lagi. Aku tak akan kesal dan lari menghindarimu lagi, namun aku akan tertawa dan tak berhenti memandang wajahmu. Atau jika memang kau tak akan kembali, tolong beri aku kejelasan dimana dan mengapa kau pergi, agar aku sedikit tenang karena aku sudah tau kabarmu.

  • • •

Meirella sudah tiba dirumah. Melempar tas plastik tersebut ke ranjangnya. Badannya lemas seperti tak berdaya. Mamanya menghampiri dan menanyakan, ada apa dengannya? Dengan tatapan sayu Meirella, mamanya sudah tau, mengapa anak gadisnya itu lemas. Mamanya hanya mengelus surai lembut sang gadis, dan sesekali mencium kening anaknya.

“Sampai kapan, nak?” Tanya sang mama.

Air mata Meirella turun lagi, namun kali ini tak ditemani hujan. Hanya ditemani rasa kerinduan yang mendalam, dan luka yang kembali basah.

“Sampai aku tau kenapa dia pergi,” ucap Meirella.

“Sudah lima tahun dia ninggalin kamu, sulit buat cari tau lagi kenapa dia pergi, Meirella,” balas sang mama.

Meirella merenung, dan kepingan-kepingan memori disaat beberapa hari sebelum kepergian Adimas waktu itu terkumpul kembali.

  • • •

Tahun terakhir bersamanya

Hari yang cerah, tak mendung juga tak panas. Meirella memakai baju santai, membawa snacknya dan ia memakannya sambil berjalan. Ia menuju rumah Adimas untuk bermain dan menginterogasi lelaki tersebut, untuk menanyakan Kuliah dimana.

Meirella melihat pintu rumahnya yang terbuka lebar, ia masuk dan memberi salam. Terlihat papa Adimas yang sedikit tersentak karena kedatangan Meirella. Padahal, biasanya beliau santai saja saat Meirella masuk tanpa permisi.

“Om, Adim dimana?” Tanya Meirella, celingak-celinguk.

Cara bicara papa Adimas gelagapan, membuat Meirella sedikit bingung. Ada apa gerangan, seperti sedang menyembunyikan sesuatu kepada gadis tersebut.

“D-di kamarnya nak, ketok aja,”

Meirella bingung sebenarnya, ada apa papa Adimas yang bersikap aneh hari ini.

Gadis itu masuk kedalam rumah, menuju kamar Adimas. Meirella membuka kamar Adimas, terlihat lelaki itu sedang berbaring sambil mendengarkan musik. Juga gadis itu melihat beberapa koper yang berdiri disebelah ranjang Adimas.

“Wih, ngapain koper disini,” tanya Meirella, yang kemudian gadis itu duduk disudut ranjang.

Adimas bangun dari tidurnya, dan duduk, “Ngapain lo kesini? gak bilang,” tanya Adimas.

“Biasanya juga gue gak bilang,” Jawab Meirella sambil melempar tatapan intimidasi kepada Adimas.

“Lo ngapain….sih?” Adimas gelagapan.

“Lo mau kemana?” Tanya Meirella, yang masih dengan tatapan intimidasinya.

“mau nyusul mama,” Jawaban dari Adimas, yang membuat Meirella memukul keras lengan lelaki itu.

Adimas meringis kesakitan, kemudian tertawa sepuas-puasnya melihat wajah kesal Meirella.

Lalu lelaki itu menghela napas, dan mulai membuka suara, untuk menjelaskan apa yang ia sampaikan, “Maaf gue telat ngasih tau lo Rell. Sebenernya gue gak mau lo tau. Cuman kayaknya lo memang harus tau,” Adimas menatap netra Meirella.

“Gue besok pergi ke tempat jauh. Lo boleh kok anterin gue! Gue juga ada sesuatu sih buat lo,” lanjut Adimas.

Meirella terdiam, dan matanya yang mulai memerah. Bahkan saat Adimas beberapa kali memanggil namanya, gadis itu tak berkutik sama sekali. Lalu, air mata keluar dari mata Meirella, membasahi pipinya. Adimas sontak menghapus air mata Meirella yang turun dan membasahi pipi gadis itu.

“Lo bakalan balik lagi kan? Lo kuliah di luar negeri bim? Katanya mau kuliah bareng sama gue, dulu lo bilang waktu masih kelas sepuluh kita bakalan bareng terus sampai tua. Kenapa lo ninggalin gue sekarang? Tiba-tiba pula? Lo udah gak mau temenan sama gue ya?” Meirella memberi pertanyaan bertubi-tubi kepada Adimas, kemudian disusul isak tangis dari gadis itu.

Adimas hanya tersenyum tipis, seraya mengelus surai hitam nan lembut milik sang gadis. Seolah-olah lelaki itu meyakinkan bahwa ia akan kembali dan akan menemui gadis itu. Meski kenyataannya tidak.

“Gue nginep disini,” Meirella membuka suara.

Adimas mengerutkan keningnya, ia ingin sekali menggelengkan kepalanya. Namun melihat tatapan sendu dari gadis itu, ia tak tega untuk menolaknya. Adimas menganggukkan kepalanya.

“Gak usah cengeng Rell. Lo kalau kayak gini makin mirip monyet yang dipinggir gereja itu,” ejek Adimas.

Ejekan Adimas dibalas dengan pukulan Meirella.

“Lo mirip dugong Upin-ipin!” Balas Meirella

“Gue mirip orang Korea favorit lo!” Kata Adimas dengan mimik wajahnya yang membuat Meirella muntah, karena lelaki itu sangat percaya diri.

“Siapa coba namanya?”

“Yoshinori,” Jawab Adimas dengan PDnya.

Meirella tertawa kencang, karena tingkat PD Adimas yang sudah di level tinggi, namun jawabannya salah.

“Dia itu dari Jepang, bego!”

“Kan kata lo dia ada darah koreanya juga,”

Meirella mematung, malu setengah mati karena ia tertawa sangat keras, mengejek Adimas yang salah. Benar juga…

“Gak tau deh! Ayo keliling komplek pakai sepeda, cuacanya bagus,” Ajak Meirella.

Adimas tertawa, lalu menganggukkan kepalanya untuk menyetujui ajakan Meirella untuk bersepeda.

Mereka memutari komplek dengan bersepeda, bersenda gurau sambil menikmati angin yang menyegarkan. Lalu mereka melihat pedagang kaki lima, menjual bakso yang tentu saja membuat kedua remaja itu tergiur. Mereka berhenti dan memakan bakso sambil menikmati cuaca yang bagus hari ini.

“Lo gak bercanda ya waktu bilang mau pergi?” Tanya Meirella untuk memastikan kembali.

Adimas menganggukkan kepalanya dan menatap Meirella sedikit lama, yang dibalas dengan tatapan bingung Meirella.

“Jalanin hari-hari lo seperti biasa ya Rell, meskipun gak ada gue nantinya,” tutur Adimas.

Sudut bibir Meirella tertarik kebawah, Adimas yang tahu itu hanya terkekeh pelan sambil mengelus singkat pundak gadis itu.

“Gue bakal tungguin lo pulang. Pulang ke gue,” ucap Meirella.

Seharian ini mereka menghabiskan waktu berdua, bersepeda, memakan bakso bersama, bermain sepak bola di lapangan yang meskipun Meirella jarang mendapatkan kesempatan untuk memasukkan bola itu ke gawang, lalu mereka menonton film bersama di ruang tamu, sambil bersenda gurau. Tanpa disadari, Papa Adimas memperhatikan mereka berdua, Pria paruh baya itu menatap sendu kedua remaja yang sedang tertawa bersama.

Hingga malam tiba, mereka berdua mulai lelah dan terlelap disofa, dengan TV yang masih menyala.

  • • •

[Bandara, 15 Mei 2018]

Dalam perjalanan menuju bandara hingga sampai tiba di bandara, Meirella tak berhenti menangis. Mata Adimas juga terlihat merah, namun Lelaki itu menahan tangisnya. Masalahnya, Papa Adimas juga ikut pergi dengan Adimas. Benar-benar hanya menyisakan rumah yang sempat mereka tinggali saja.

Adimas mengeluarkan secarik kertas yang telah dilipat rapi dari sakunya.

“Nih. Baca, tapi jangan disini, dirumah aja. Takutnya lo makin nangis, kan gue udah pergi, gak ada yang nenangin lo disini,” Ucap Adimas.

Meirella juga mengeluarkan surat yang covernya berbentuk hati dengan dua manusia lidi berdiri sejajar. Apakah itu menggambarkan Meirella dan Adimas? Mungkin iya.

“Hahaha, apaan nih? Jadi surat-suratan gini,” Adimas terkekeh.

Meirella tak berhenti menatap mata lelaki itu, karena ia ingin wajah lekaki itu tergambar diotaknya. Meirella berniat menunggu Adimas dan tak melupakan lelaki itu.

“Baca juga, nanti di pesawat ya. Jangan lupa kabarin gue kalau udah sampai tempat tujuan lo,”

Adimas hanya tersenyum tipis, lalu merengkuh tubuh gadis itu. Meirella juga membalas pelukan Adimas tak kalah erat. Tangis Meirella semakin pecah, disaat Adimas memeluk tubuhnya dan mengelus pucuk kepalanya.

Pengumuman dari bandara mengharuskan Adimas melepaskan pelukannya. Mereka harus benar-benar berpisah, meskipun dihati tak rela. Apakah selama ini Meirella membuat Adimas sakit hati, hingga lelaki itu meninggalkan Meirella dengan pamit yang tak terlalu baik? Apakah Adimas membenci Meirella?

Meirella berlari keluar dari bandara, orang tua Meirella menunggunya diluar, didalam mobil. Didalam mobil, Meirella yang hendak membaca surat dari Adimas, dibuat panik karena surat itu tak ada didalam sakunya.

“Berhenti dulu, ada yang ketinggalan,” pinta Meirella.

Ia sudah mencari suratnya tadi, namun nihil, suratnya benar-benar hilang. Tubuhnya lemas, karena hanya itu satu-satunya pemberian Adimas untuk terakhir kali. Ia menangis didalam mobil, meratapi kepergian Adimas dan juga surat yang hilang. Sampai sekarang pun, Meirella tak akan pernah tahu, apa isi surat dari Adimas.

Sementara isi surat Meirella yang ia berikan kepada Adimas :

Halo ini Meirella. Simpan suratnya ya, jangan sampai dibuang atau hilang. Meskipun bertahun-tahun nanti isi surat ini terdengar garing, namun tetap simpan.

Adimas, kita ketemu waktu kita sama-sama masih disekolah TK. Waktu itu mendiang mama lo main kerumah gue, karena gue baru pindahan deket rumah lo. Waktu itu lo memang udah jahil dari kecil ya, inget gak waktu itu lo dorong gue dikolam renang? Lo bukannya panik malah ketawa, dasar psikopat! Tapi setelah itu gue puas soalnya lo dimarahin sama mama lo.

Waktu kita SD kita semakin deket, lo jadi sering main sama gue, kita juga satu sekolah, bener-bener gak bosen ya. Tapi waktu lo kelas 6 SD, mama lo meninggal. Waktu itu lo nangis dan gak mau ngomong sama gue berhari-hari T__T (ini ceritanya emoji nangis ala korea) Gue juga sedih waktu lo sedih. Tapi gue selalu main kerumah lo biar lo gak kesepian. Dan gue seneng, seiring berjalannya waktu lo udah mulai ceria lagi, ya meskipun gue harus jadi korban kejahilan lo! Kesel gak sih jadi gue? Hahaha.

Tiba di SMA kelas sepuluh, waktu itu ada kakak kelas yang deketin gue, tapi lo marah-marah ke gue gara-gara gue mau aja dideketin sama kakak kelas playboy. Kita juga sering dikira pacaran, padahal mah waktu itu ogah banget pacaran sama lo! Lo juga gak? Tapi Dim, waktu kelas sebelas gue sadar kalo gue naksir sama lo. Sebenernya tuh gue bingung sama takut, kalau kita pacaran takut nanti putus malah jadi asing ya. Jadinya gue diem aja, terus juga lo kayak gak tertarik sama gue gak sih? Lo naksir juga gak?

Hari ini gue sedih banget lo mau pergi ninggalin gue. Lo mau kemana sih? Belum juga gue bilang kalau gue naksir sama lo, lo udah pergi duluan. Ini kenapa tiba-tiba lo pergi sih, Adim? Harusnya lo bilang aja ke gue, kalau ada sikap gue yang bikin lo muak… katanya mau satu kampus bareng!! Dasaaarrr penghianaaaattttt!!! Eh tapi ini gue serius mau nungguin lo balik, karena gue yakin 100% lo bakalan balik, yaa karena apa? Karena gue ngangenin lah!! Hehehe. Tangan gue pegal tau Dim, udah sampai ini aja dulu ya. Ini gue nulisnya nahan nangis biar kertasnya gak basah, stay safe & healthy disana!

Yang paling ngangenin (Meirella).

Meirella selalu menunggu kehadiran Adimas. Bahkan dua hari setelahnya, Meirella menghubungi Adimas via Chat, namun tak ada balasan sama sekali, begitu pula papa Adimas.

Bahkan bulan dan tahun silih berganti, Meirella masih menunggu kedatangan dan kabar Adimas. Mama dan papanya sangat sedih, karena Meirella selalu menangis saat hujan tiba.

Hingga ditahun ketiga, Meirella merasa semuanya sudah usai, Adimas benar-benar tak kembali, dan tak ingin menemui Meirella. Meirella tak menangis lagi saat hujan, namun, disaat tanggal yang sama dengan perpisahannya dengan Adimas di bandara, ia akan menangis dan mengingat semuanya. Kenangannya, senyumannya, dan juga suratnya yang tak akan pernah Meirella temukan lagi.

  • • •

Masa sekarang

Pantas saja Meirella menangis, hari ini tanggal 15 Mei, dimana tanggal itu ia harus berpisah dengan Adimas. Sementara besok, 16 Mei ialah hari ulang tahun Meirella. 5 tahun ia merasakan ulang tahun tanpa Adimas.

Ia harus yakin dan bangkit, untuk menghapus semua tentang Adimas, harus semua. Jika ia masih menyimpan kenangan tentang Adimas, semuanya tak akan selesai, dan akan membuat Meirella selalu terpuruk bertahun-tahun lamanya.

Jika orang bilang Meirella harus berusaha mencari informasi tentang kepergian Adimas, ia sudah berusaha menghubungi keluarga Adimas. Tidak ada yang tahu soal kepergiannya dan papanya. Nomor mereka sama-sama tidak aktif, sehingga tak ada yang dapat dihubungi lagi.

Namun tak selesai sampai disini, hingga seseorang mengirimkan sebuah surat dan sebuah box sedikit besar. Meirella mengira bahwa itu adalah Adimas yang akan kembali. Terdapat secarik kertas berisi surat, dan Meirella membacanya.

[Isi Surat]

(15 Mei 2023)

Halo Meirella, ini saya Andika, papa Adimas sahabatmu. Maaf saya baru memberi kabar sekarang, setelah lima tahun kalian berpisah. Saya masih tidak sanggup untuk menulis surat ini dan memberikannya kepada anda Meirella. Disurat ini saya akan menjelaskan sesingkat-singkatnya dan sejelas-jelasnya kenapa, anak saya Adimas, harus meninggalkan kamu dan Indonesia.

Adimas pergi ke luar negeri karena saya yang sakit dan akan menjalankan operasi jantung. Waktu itu, saya memilih untuk merahasiakan saja penyakit saya kepada anak saya. Namun, surat dari dokter jatuh ditangan Adimas. Adimas marah kepada saya, namun anak itu juga menangis dan memeluk saya. Ia memutuskan untuk saya dibawa keluar negeri dan berobat agar mendapatkan penanganan yang lebih baik. Adimas tidak ingin papanya harus pergi menyusul mamanya. Awalnya, saya kira hanya untuk berobat biasa, namun saat Adimas mengatakan bahwa jantungnya adalah jantung papanya, saya sadar bahwa anak itu akan mendonorkan jantungnya untuk saya.

 Saya sempat menentang, bahwa seharusnya tidak perlu, karena saya sudah tua dan pantas mati, sementara Adimas, ia masih harus melanjutkan hidupnya. Transplantasi jantung berjalan lancar, dan saat itu juga hati saya hancur, bahwa Adimas benar-benar melakukannya. Kini, sudah saatnya saya memberikan barang-barang pemberian Meirella untuk Adimas, kembali kepada Meirella lagi. Karena saya tidak pantas menyimpannya. Disini sudah tidak ada lagi Adimas.

17 Mei ialah hari mengenang kepergian Adimas. Saya harap setelah kabar ini sampai, Meirella benar-benar mengikhlaskan Adimas dengan segenap hati, dan saya mohon untuk menjaga barang-barang itu. Adimas sempat memberi salam juga, bahwa dia juga mencintai Meirella. Terima kasih sudah menemani anak saya (Adimas) semasa hidupnya.

Saya, meminta maaf sebesar-besarnya.

Meirella benar-benar mendapatkan jawabannya sekarang. Ia terkapar lemas dilantai, menangis sejadi-jadinya dengan memeluk box berisikan barang-barang kenangan bersama Adimas. Dadanya sesak, napas Meirella seakan-akan tercekat. Hingga Meirella berada diperasaan denial, haruskah ia melupakan Adimas atau ia harus ikut menyusul Adimas.

Mama Meirella merengkuh tubuh gadis itu, sang mama juga ikut menangis. Setelah kepergian sahabatnya itu, anak semata wayang sahabatnya harus ikut menemani mamanya di surga.

Awalnya Meirella marah, mengapa Adimas harus mengorbankan dirinya untuk papanya yang sudah tua, namun jika Meirella berada diposisi sang lelaki itu, ia akan melakukan hal yang sama.

Kini, Meirella harus benar-benar melepaskan Adimas. Karena sang tuan memang benar-benar tak akan kembali, namun Meirella yakin bahwa lelaki itu saat ini berada di sisinya, melihatnya membuka surat tersebut, dan membayangkan senyuman lelaki itu saat sedang memandangnya.

Terima kasih dan selamat tinggal, Adimas.

The end.

 

Nama saya Aisyah Nadya Olivia, lahir pada 16 Mei 2006 di kota Sidoarjo. Saya sekarang sedang menempuh pendidikan di UNESA dengan jurusan Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Hobi saya membaca dan menulis, terlebih lagi membaca novel sejarah dan politik.

Kontak: 0831-9398-8630

Instagram: @olievsya

 

Penulis: Aisyah Nadya Olivia

Penyunting: Muhammad Raihan Ramadhan

Penyelaras Bahasa: Muhammad Raihan Ramadhan

MENATAP DUNIA KAMPUS: MKBU 2025 Cetak Mahasiswa Kritis, Penulis, dan Aktivis Berjiwa Wirausaha

Surabaya, 10 November 2025 — Rangkaian kegiatan Menuju Kebenaran Bersama UKIM (MKBU) 2025 Unit Kegiatan Ilmiah Mahasiswa (UKIM) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sukses digelar selama tiga hari penuh kegiatan pembelajaran, karya, dan pengukuhan anggota baru. Acara yang mengusung tema Mewujudkan UKIMERS yang Unggul melalui Implementasi Empat Roh UKIM dengan Misi Inspiratif: Menjelajah, Berkarya, dan Berdampak dan jargon Maju bersama, Hebat semua ini berlangsung mulai 24—26 Oktober 2025, mengambil titik kumpul di UKM Center Unesa Ketintang dan dipusatkan di Villa Sastro Putih, Pacet, Mojokerto.

Membangkitkan Empat Pilar “Roh” UKIM

Acara dibuka dengan serangkaian aktivitas orientasi dan malam inagurasi yang berlangsung hangat di antara peserta dan pendamping kelompok. Pada hari kedua, MKBU menghadirkan empat sesi materi inti yang dikemas dengan penyebutan ”roh” diantaranya, roh penulis, roh peneliti, roh kewirausahaan, dan roh aktivis. Dimana dalam empat roh tersebut disampaikan oleh narasumber dari alumni-alumni hebat UKIM. Materi-materi tersebut dirancang untuk memberi bekal mahasiswa, dengan:

  1. Roh Penulis: Dipaparkan oleh Kang Shobirin, materi ini menekankan pentingnya pemahaman penulisan yang baik dan cara mengeluarkan ide untuk berkarya. Peserta ditugaskan membuat “surat untuk diriku di masa depan” sebagai latihan refleksi dan penulisan.
  2. Roh Peneliti: Materi yang dibawakan Mas Iqbal ini berhasil membuat peserta kagum dan terinspirasi untuk meniru torehan prestasinya. Sesi ini memaparkan strategi menemukan ide dan gagasan untuk menciptakan karya ilmiah.
  3. Roh Kewirausahaan: Dibawakan oleh Kang Ruhi, sesi ini membangkitkan jiwa wirausaha dan kemandirian melalui penugasan Business Model Canvas (BMC). Tujuannya agar peserta mampu melihat peluang dan kebutuhan pasar saat ini.
  4. Roh Aktivis: Sebagai materi penutup, Kang Verio membakar semangat mahasiswa untuk menjadi aktivis pembawa perubahan dan penolong kaum lemah. Sesi ini diakhiri dengan penyampaian orasi lantang oleh setiap kelompok, diiringi teriakan “hidup mahasiswa!!!”.

Outbound dan Permainan Kekompakkan lewat Empat Roh

Selain kelas materi, peserta mengikuti serangkaian kegiatan outdoor yang dirancang untuk memperkuat kerja tim. Outbound bertajuk “Paspor & Visa” menghadirkan empat pos permainan sesuai empat roh UKIM. Dimana setiap kelompok harus menyelesaikan misi di tiap pos untuk mendapatkan stempel di buku paspor mereka. Aktivitas ini menjadi pendorong kebersamaan, strategi, dan kreativitas antar-kelompok.

Tradisi Pengukuhan Anggota UKIM

Puncak kegiatan MKBU 2025 adalah prosesi pengukuhan anggota UKIM. Meski hujan rintik menyertai, prosesi tetap berlangsung khidmat: pembacaan ikrar, prosesi penyiraman air bunga, cium bendera, dan nyanyian hymne UKIM menandai resmi bergabungnya peserta sebagai keluarga baru UKIM Unesa. Suasana keharmonisan berlanjut hingga sesi penutupan yang juga mengumumkan peserta serta kelompok terbaik. Juara peserta terbaik diraih oleh Dendi (Juara 1), Daffa (Juara 2), dan Dyah Ayu (Juara 3). Sementara kelompok terbaik diraih oleh Kelompok 2 (Juara 1), Kelompok 6 (Juara 2), dan Kelompok 1 (Juara 3).

Malam Inagurasi dan Penampilan Teatrikal Sejarah UKIM yang Penuh Kenangan

Selain agenda formal, momen kebersamaan juga tercipta lewat malam inagurasi di bawah api unggun ditambah dengan petasan kembang api ke langit malam, penampilan teatrikal sejarah UKIM yang menghibur, kembang api, serta permainan kolam renang yang mempererat keakraban antara peserta dan panitia. Penampilan teatrikal yang dibawakan panitia mendapat apresiasi karena mengemas sejarah UKIM dengan unsur humor dan sentuhan nostalgia para demisioner dan alumni.

Suara peserta menegaskan kesan positif terhadap MKBU 2025. Peserta Dava menyebut rangkaian acara sangat seru dan menjadi kesempatan bertemu teman baru dari berbagai latar belakang. Sofi mengaku persepsinya tentang kehidupan pertemanan berubah. Sofi kini merasa diterima dan termotivasi bergabung dalam aktivitas UKIM. Aiys menambahkan bahwa acara terasa tidak monoton dan penuh pengalaman berkesan.

Ketua pelaksana, dalam sambutannya menegaskan harapan agar MKBU menjadi batu loncatan bagi peserta dalam menyongsong dunia perkuliahan dan pengembangan diri. Sementara Ketua Umum UKIM Unesa, Bayu Adi Putra Wardana, serta para pendamping dan alumni, memberikan dukungan penuh demi terciptanya suasana yang bermakna untuk anggota baru.

MKBU 2025 menjadi bukti bahwa kegiatan pengkaderan mahasiswa dapat memadukan aspek edukasi, karakter, dan kebersamaan. Dengan format materi yang aplikatif, tantangan kelompok, serta ritual pengukuhan yang khidmat, acara ini berhasil membentuk pengalaman kolektif yang kuat bagi anggota baru UKIM Unesa. ”Mari tumbuh bersama dengan UKIM Unesa untuk meraih masa depan yang cerah”.

~See You MKBU 2026~

 

Penulis: Muhammad Naufal Taris Subarkah

Penyunting: Aina Nur Rohmatin

Gambar: Dokumentasi MKBU 2025

GALAKSI UNESA 2025: Kompetisi Ilmiah berskala Nasional dan Talkshow Inspiratif bersama CEO Skolakbar.id

SURABAYA – Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui Unit Kegiatan Ilmiah Mahasiswa (UKIM) sukses menyelenggarakan Gebyar Lomba Karya Ilmiah (GALAKSI) 2025, sebuah kompetisi ilmiah berskala nasional yang berlangsung meriah di Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan, Kampus Unesa Lidah Wetan, Kec. Lakarsantri, Surabaya, Jawa Timur pada 19 – 21 September 2025. Seluruh kegiatan berlangsung lancar.

Gebyar Lomba Karya Tulis Ilmiah (GALAKSI) 2025, Merupakan program kerja tahunan yang digagas oleh Departemen Penalaran dan Riset (DPR) UKIM Unesa. Tahun ini, kegiatan mengusung tema “Inovasi Generasi Muda di Era Society 5.0 dalam Mendorong Transformasi Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045”. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai wadah bagi siswa/siswi dan mahasiswa di seluruh Indonesia untuk menyalurkan ide, kreativitas, serta kemampuan berpikir kritis melalui karya ilmiah dan inovasi. Selain menjadi ajang kompetisi ilmiah, GALAKSI juga berperan dalam mendorong semangat penelitian dan kolaborasi antar generasi muda di era transformasi digital menuju pembangunan berkelanjutan.

Kegiatan ini diikuti oleh finalis dari berbagai SMA/SMK/MA dan perguruan tinggi di seluruh Indonesia, bahkan banyak peserta yang berasal dari luar Pulau Jawa seperti NTB dan Bali. Kehadiran finalis dari berbagai daerah menunjukkan jangkauan GALAKSI UNESA yang semakin luas dan diminati kalangan pelajar maupun mahasiswa di tingkat nasional. Adapun kategori lomba mencakup Karya Tulis Ilmiah (KTI) dan Esai dengan subtema Pendidikan, Sosial dan Budaya, Ekonomi Kreatif, Kesehatan, Teknologi, Lingkungan, Hukum dan Politik, serta Ketahanan Pangan.

Pada hari pertama, para finalis GALAKSI UNESA 2025 tiba di penginapan dan disambut hangat oleh beberapa panitia, disertai proses registrasi ulang dan pembagian perlengkapan id card peserta. Memasuki hari kedua, para finalis berangkat menuju Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) UNESA untuk mengikuti pembukaan resmi kegiatan GALAKSI UNESA 2025. Suasana acara berlangsung khidmat dengan sambutan dari Ketua Umum UKIM Unesa dan Ketua Pelaksana GALAKSI 2025.

Setelah rangkaian pembukaan, dilanjut dengan tahap presentasi dan penilaian akhir di hadapan dewan juri dari kalangan akademisi dan praktisi. Pada tahap ini, peserta memaparkan hasil riset, inovasi, dan solusi kreatif sesuai dengan bidang lomba yang diikuti. Kegiatan hari kedua ditutup dengan field trip ke kawasan Kota Lama Surabaya, yang menjadi momen kebersamaan sekaligus sarana memperluas wawasan peserta mengenai sejarah dan kebudayaan kota Surabaya.

Selain kompetisi Karya Tulis Ilmiah (KTI) dan Esai, Pada hari ketiga, rangkaian kegiatan GALAKSI juga diisi dengan Talkshow bertemakan “Lampaui Batas, Raih Prestasi: Membangun Growth Mindset untuk Akselerasi Transformasi Pendidikan yang Inovatif dan Berkelanjutan” Acara ini menghadirkan pembicara inspiratif Muhammad Juliansyah Akbar, selaku CEO Skolakbar.id, sebuah platform edukasi digital yang berfokus pada pengembangan potensi pelajar dan mahasiswa Indonesia. Dalam sesi tersebut, para peserta diajak berdiskusi mengenai cara mencapai Growth Mindset dalam meraih prestasi dan berbagai kesempatan yang akan datang.

Setelah sesi talkshow, kegiatan dilanjutkan dengan Awarding sebagai puncak acara GALAKSI UNESA 2025. Pada kesempatan ini diumumkan para juara dari dua kategori lomba, yaitu Karya Tulis Ilmiah (KTI) dan Esai. Untuk kategori Esai, Juara 1 diraih oleh mahasiswa dari Universitas Jember, sedangkan untuk kategori Karya Tulis Ilmiah (KTI), Juara 1 berhasil diraih oleh SMA Negeri 2 Kuta Utara. Acara puncak ini menjadi momen penuh kebanggaan sekaligus penutup rangkaian kegiatan GALAKSI UNESA 2025. Kemeriahan semakin terasa dengan sesi foto bersama seluruh finalis, panitia, dan tamu undangan sebagai simbol apresiasi atas kerja keras dan semangat kompetitif seluruh peserta.

Ketua pelaksana GALAKSI 2025, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wadah kolaborasi antara mahasiswa dan pelajar dari berbagai daerah. “Kami ingin GALAKSI 2025 ini menjadi tempat bertemunya ide-ide kreatif dan inovatif dari mahasiswa serta siswa-siswi SMA/SMK/MA seluruh Indonesia, sekaligus memperluas jejaring dan wawasan antar generasi muda,” ujarnya.

Kelancaran seluruh kegiatan tidak terlepas dari kerja keras panitia, antusiasme para finalis, serta dukungan penuh dari sponsor dan berbagai pihak yang telah membantu terselenggaranya GALAKSI UNESA 2025 dengan baik. Dengan terselenggaranya GALAKSI UNESA 2025, diharapkan semangat ilmiah dan inovasi dari para pelajar dan mahasiswa terus tumbuh, serta menjadikan UNESA sebagai salah satu kampus pelopor penggerak kegiatan ilmiah nasional.

 

Penulis: Fadhlurrahman Nabil

Penyunting: Aina Nur Rohmatin

Gambar: Dokumentasi GALAKSI 2025

MERAJUT KEBERSAMAAN UKIM: HUT KE-27 & WELCOME PARTY CETAK GENERASI KOLABORATIF, BERKARAKTER, DAN SIAP BERKARYA

Surabaya, 23 November 2025 – Unit Kegiatan Ilmiah Mahasiswa (UKIM) Universitas Negeri Surabaya merayakan moment penting dalam perjalanan organisasinya melalui Program Kerja HUT UKIM Ke-27 yang dirangkaikan dengan Welcome Party Anggota Baru UKIM 2025. Bertempat di Auditorium Lantai 7 Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya, kegiatan yang berlangsung sejak pukul 07.00 WIB ini menjadi ruang penuh kebersamaan, refleksi, serta penyambutan generasi baru UKIM yang siap meneruskan estafet organisasi dan prestasi.

Dengan mengusung tema “Together We Celebrate, Together We Begin”, perayaan tahun ini tidak hanya menjadi ajang perayaan ulang tahun organisasi, melainkan juga menjadi ruang strategis untuk memperkuat integrasi kekeluargaan antara anggota, pengurus, demisioner, dan alumni. Para peserta yang hadir merupakan bagian dari keluarga besar UKIM lintas angkatan, mulai dari demisioner, alumni, pengurus hingga angkatan anggota terbaru tahun 2025.

Sebagai salah satu UKM tertua di lingkungan UNESA, UKIM telah menempuh perjalanan panjang sejak didirikan pada 14 September 1998. Usia 27 tahun bukan hanya simbol ketahanan organisasi, melainkan bukti bahwa UKIM terus berevolusi dan berperan penting dalam mencetak mahasiswa berprestasi dan berkompetensi tinggi melalui empat roh organisasi yakni Peneliti, Penulis, Aktivis, dan Wirausaha. Oleh sebab itu, moment HUT dan Welcome Party kali ini hadir sebagai bentuk syukur atas perjalanan panjang tersebut sekaligus titik awal yang baru bagi lahirnya karya-karya inspiratif generasi berikutnya.

Kemeriahan Dimulai: Dari Open Gate hingga Pembukaan Resmi

Kegiatan diawali dengan briefing panitia pada pukul 06.30 WIB, memastikan seluruh perangkat acara berjalan tertib. Area Auditorium Lantai 7 Fakultas Psikologi telah ditata meriah lengkap dengan dekorasi ulang tahun, rangkaian balon, backdrop bertema HUT UKIM ke-27, serta photo spot yang menarik perhatian peserta.

Pada pukul 07.00 WIB, gate resmi dibuka. Peserta disambut hangat oleh panitia dari divisi Humas yang mengarahkan mereka melakukan presensi. Suasana pagi semakin ramai ketika seluruh peserta, baik anggota baru, pengurus, hingga alumni, mulai memenuhi ruangan.

Tepat pukul 07.30 WIB, acara resmi dimulai. Pembukaan dipandu oleh master of ceremony yang langsung mengundang seluruh peserta untuk berdiri menyanyikan Indonesia Raya, dilanjutkan Mars UNESA dan Mars UKIM Unesa. Sesi ini menghadirkan semangat yang menunjukkan bahwa UKIM adalah organisasi yang menjunjung tinggi profesionalitas dan identitas institusi.

Berlanjut dengan sesi dua sambutan disampaikan secara berurutan, masing-masing membawa nilai dan pesan mendalam tentang perjalanan UKIM. Sambutan Ketua Umum UKIM 2025 oleh Bayu Adi Putra Wardana, menyoroti pentingnya semangat regenerasi. Menurutnya, UKIM tidak mungkin bertahan selama 27 tahun tanpa kekuatan kolaborasi antar generasi. Ia mengajak anggota baru untuk berani bertumbuh, berproses, dan mengambil bagian secara aktif dalam pengembangan program kerja UKIM ke depan.

Bayu juga memberikan apresiasi kepada para alumni yang terus menaruh perhatian dan dukungan bagi UKIM meski telah berkarir di dunia profesional. “Hubungan antara UKIM dan alumninya adalah identitas yang tidak terputus,” ungkapnya.

Menuju Sambutan Pembina UKIM oleh Bapak Muamar Zainul Arif, S.Pd., M.Pd. Beliau menegaskan bahwa UKIM memiliki peran penting sebagai ruang pengembangan soft skills mahasiswa. Ia mengingatkan anggota baru bahwa UKIM adalah tempat untuk belajar berjejaring, berpikir kritis, berkarya, dan mempertajam kemampuan sesuai empat roh UKIM: Penulis, Peneliti, Aktivis, dan Wirausaha.

Beliau juga menekankan agar anggota baru tidak hanya aktif hadir dalam kegiatan, tetapi juga memanfaatkan UKIM sebagai laboratorium untuk mengembangkan diri. “Jadikan UKIM tempat kalian tumbuh, bukan sekadar tempat singgah,” tutur beliau.

Setelah sambutan, peserta disuguhi tayangan video profil UKIM Unesa 2025. Video tersebut memperlihatkan sejarah UKIM, visi dan misi, hingga pencapaian organisasi dari masa ke masa. Tak sedikit peserta baik anggota baru maupun lama yang terbawa suasana haru sekaligus bangga menyaksikan perjalanan organisasi hingga mencapai usia 27 tahun.

Acara dilanjutkan dengan pemutaran video ucapan ulang tahun dari berbagai anggota dan alumni UKIM, disusul pemutaran rekap dokumentasi UKIM dari tahun ke tahun. Tayangan ini membuat suasana semakin emosional, terutama bagi alumni dan demisioner yang mengenang masa pengabdian mereka di UKIM.

“Tanya Yuk”: Sesi Diskusi Hangat Bersama Alumni dan Demisioner

Salah satu sesi yang paling dinantikan adalah “Tanya Yuk” yang berlangsung pukul 08.20–09.00 WIB. Sesi ini menghadirkan alumni dan demisioner UKIM dari berbagai generasi untuk berbagi pengalaman, perjalanan karier, serta tips mengembangkan diri selama menjadi bagian dari UKIM.

Para alumni memberikan pandangan bahwa UKIM bukan hanya organisasi, melainkan tempat untuk menempa kedisiplinan, kreativitas, dan keberanian mengambil kesempatan. Mereka juga membagikan kisah-kisah inspiratif tentang bagaimana keterlibatan mereka dalam kegiatan UKIM berdampak pada kehidupan akademik maupun profesional.

Antusiasme peserta sangat tinggi. Banyak yang mengajukan pertanyaan seputar cara menemukan minat di empat roh UKIM, tips mengikuti lomba karya ilmiah, hingga strategi membangun relasi organisasi.

Memasuki pukul 09.00 WIB, acara dilanjutkan dengan sesi perkenalan pengurus UKIM 2025, pemaparan program kerja, serta penjelasan mengenai empat roh UKIM. Sesi ini menjadi momentum penting bagi anggota baru untuk memahami struktur organisasi serta arah gerak UKIM selama satu periode kepengurusan.

Dalam sesi ini, setiap bidang dan pengurus memaparkan tugas, program, serta kontribusi mereka dalam organisasi. Penjelasan tentang empat roh UKIM yakni Peneliti, Penulis, Aktivis, dan Wirausaha yang menjadi bagian yang menarik perhatian, karena dari sinilah karakter UKIM terbentuk.

Banyak anggota baru yang tampak mencatat informasi penting dan mulai memahami potensi bidang mana yang ingin mereka tekuni selama berorganisasi.

Makna dari Nuansa Kebersamaan yang Mengalir Sepanjang Acara

Perayaan HUT UKIM Ke-27 dan Welcome Party tidak hanya menghadirkan acara formal, tetapi juga rangkaian kegiatan yang mempererat hubungan kekeluargaan antar anggota. Dengan total sasaran 120 peserta, kegiatan ini berjalan meriah dan penuh kehangatan.

Panitia menyiapkan suasana dekorasi yang hangat, makanan ringan, serta momen-momen relaksasi di sela rangkaian acara sehingga peserta dapat berinteraksi, berfoto, dan saling mengenal lebih dekat. Di beberapa titik, terlihat alumni berbagi cerita dengan anggota baru, pengurus berdiskusi tentang program kerja, hingga momen tawa yang tercipta secara natural.

Kebersamaan seperti inilah yang menjadi ciri khas UKIM—sebuah keluarga besar yang saling mendukung tanpa memandang angkatan.

Peringatan ulang tahun ke-27 bagi UKIM bukan hanya tentang perayaan, melainkan juga tentang perjalanan panjang sebuah organisasi mahasiswa yang terus bertahan, berkembang, dan berdampak. Selama lebih dari dua dekade, UKIM berhasil mencetak banyak generasi yang menginspirasi melalui karya penelitian, penulisan, aksi sosial, dan pengembangan kewirausahaan.

Tema “Together We Celebrate, Together We Begin” merupakan gambaran bahwa perayaan ini bukan sekadar titik akhir, melainkan titik awal perjalanan baru. Bersama anggota baru, UKIM menatap masa depan dengan visi yang lebih bermakna dan kekuatan kolaboratif yang diperbarui.

Seluruh proses acara dirancang agar peserta memahami nilai historis UKIM sekaligus memiliki gambaran bagaimana mereka dapat berperan di masa mendatang.

Kegiatan HUT UKIM Ke-27 dan Welcome Party 2025 ditutup dengan suasana hangat yang menggambarkan eratnya ikatan keluarga besar UKIM. Perayaan ini menjadi ruang pembentukan komitmen baru untuk terus berkarya, berkolaborasi, dan menghidupkan empat roh UKIM dalam setiap aktivitas.

UKIM berkomitmen untuk terus menjadi organisasi yang relevan dengan perkembangan zaman, menjadi wadah yang aman dan suportif bagi mahasiswa untuk berkembang, serta menjadi jembatan antara teori, praktik, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dengan semangat “Together We Celebrate, Together We Begin”, UKIM Unesa menegaskan bahwa perjalanan mereka tidak berhenti di usia 27 tahun. Justru inilah awal dari langkah-langkah besar berikutnya.

 

Penulis: Lisa’ Saniyyah

Penyunting: Muhammad Raihan Ramadhan & Aina Nur Rohmatin

Gambar: Dokumentasi HUT ke-27 & Welpart UKIM Unesa 2025

JARING 1000 LEBIH ANGGOTA BARU, EXPO UKIM UNESA 2025 SUKSES PERKENALKAN UKM PENALARAN SATU-SATUNYA DI UNESA

 

SURABAYA – UKM Unit Kegiatan Ilmiah Mahasiswa (UKIM) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sukses menyelenggarakan EXPO UKIM 2025 selama empat hari berturut-turut. Acara yang berfungsi sebagai ajang pengenalan UKM dan penjaringan anggota baru ini berlangsung meriah di depan Gedung Rektorat Unesa kampus Lidah Wetan, sejak 26 hingga 29 Agustus 2025. Keberhasilan kegiatan ini ditandai dengan pencapaian gemilang, yakni mampu menjaring hingga 1.000 anggota baru bagi UKIM.

Mewadahi Minat Mahasiswa melalui 4 Roh di UKIM

EXPO UKIM merupakan inisiatif kolaboratif antara UKM Bersama Universitas Negeri Surabaya dan seluruh UKM di lingkungan Unesa. Secara khusus, UKIM menggunakan kesempatan ini untuk memperkenalkan diri kepada para mahasiswa baru dan mahasiswa aktif Unesa. EXPO ini bertujuan mewadahi seluruh mahasiswa Unesa yang memiliki minat di bidang penulisan ilmiah, non-ilmiah, kewirausahaan, dan aktivis untuk bergabung menjadi bagian dari UKIM. Dengan bergabung, anggota baru dapat mengikuti kegiatan-kegiatan rutin yang diadakan oleh UKIM.

Pelaksanaan EXPO UKIM Unesa 2025 menjadi peluang besar bagi UKIM untuk memperkenalkan organisasi tersebut sebagai satu-satunya UKM Penalaran di Unesa yang telah eksis sejak tahun 1998. Hal ini mempermudah UKIM dalam mengajak mahasiswa untuk menjadi bagian dari komunitas yang fokus pada pengembangan nalar, kreativitas, dan inovasi tersebut.

Kegiatan ini diselenggarakan selama empat hari berturut-turut, mulai dari tanggal 26 hingga 29 Agustus 2025. Setiap harinya, stand UKIM dibuka dari pukul 16.00 WIB hingga 21.30 WIB. Sekitar 20 pengurus secara bergantian bertugas menjaga stand untuk menyambut dan memberikan informasi kepada para pengunjung.

Parade Meriah hingga Kunjungan Rektor dan Pelajar Asing

Jalannya kegiatan EXPO UKIM 2025 berlangsung sangat dinamis. Sekitar 2.300 pamflet disebarkan oleh panitia dan pengurus selama EXPO berlangsung.

Pada hari pertama, EXPO UKIM dibuka secara meriah. UKIM mendelegasikan sepuluh orang untuk mengikuti parade yang menjadi rangkaian pembukaan EXPO kampus. Delegasi ini berjalan melewati seluruh stand UKM selingkup Unesa dengan membawa berbagai identitas UKIM, seperti bendera, piala, dan sertifikat, seraya mengenakan Pakaian Dinas Harian (PDH) resmi UKIM. Pada malam harinya, suasana semakin hangat dengan adanya penampilan musikalisasi oleh staf Departemen Hubungan Masyarakat (DHM) UKIM sebagai penampil kedua di panggung utama EXPO, disaksikan langsung oleh ratusan mahasiswa yang berkunjung.

Kunjungan ke stand UKIM semakin meningkat pada hari-hari berikutnya. Di hari kedua, segera setelah pembukaan sore hari, stand langsung ramai dikunjungi oleh mahasiswa, termasuk para demisioner UKIM dari tiap departemen yang hadir memberikan dukungan. Peningkatan jumlah pengunjung makin terlihat signifikan pada malam hari. Para pengurus dan panitia aktif menyebar pamflet secara langsung untuk menjangkau lebih banyak mahasiswa. Kunjungan terus bertambah di hari ketiga, terutama pada malam hari.

Untuk memaksimalkan jangkauan, pada hari kedua dan ketiga, pengurus UKIM memanfaatkan mini stage yang disiapkan oleh panitia UKM Bersama. Letak panggung yang sangat strategis, berada di tengah-tengah stand seluruh UKM Unesa, serta difasilitasi pengeras suara dan sound system yang memadai, membuat sosialisasi mengenai UKIM berjalan efektif.

Puncak kemeriahan terjadi pada hari terakhir (hari keempat). Di sore hari, perwakilan lima orang pengurus dan panitia UKIM berpartisipasi dalam acara fun relay games yang diselenggarakan oleh UKM Bersama. Rangkaian permainan estafet ini berlangsung meriah dan menyenangkan, walaupun belum mendapat juara.

Pada malam hari penutupan, stand UKIM mendapat kehormatan dikunjungi oleh mahasiswa pertukaran pelajar dari Korea Selatan dan Myanmar. Kunjungan ini terjadi karena ketertarikan mereka terhadap stan UKIM yang terlihat mencolok dari kejauhan.

Tidak hanya itu, nama yang sering disebut Cak Hasan, menjabat sebagai Rektor Universitas Negeri Surabaya, juga turut menghampiri stand UKIM. Beliau bahkan meluangkan waktu untuk berswafoto dengan para pengurus dan panitia UKIM, memberikan apresiasi dan dukungan moril secara langsung atas kegiatan tersebut.

Secara keseluruhan, pelaksanaan EXPO UKIM 2025 selama empat hari di lapangan Rektorat Unesa ini berhasil melampaui target, dengan menggait 1.000 lebih anggota baru yang telah resmi bergabung. Keberhasilan ini menegaskan posisi UKIM sebagai wadah utama bagi pengembangan nalar, aktivisme, kreativitas, dan potensi kewirausahaan mahasiswa Unesa.

Penulis: Brilianti Zachra Malika Putri Maharani

Penyunting: Muhammad Raihan Ramadhan

Gambar: Dokumentasi Day 1-4 EXPO UKIM 2025

 

Lintang – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Oleh: Kayla Ghifari Ahmad

24 Juni 2025 20.43 WIB

 

Pagi-pagi ia sudah ada di jalanan. Setiap hari. Kadang-kadang ia keluar dari rumah pukul 04.00. Di kesempatan yang lain, ia muncul di saat yang sama ketika fajar menyingsing. Seperti berlomba, mana yang lebih dulu bangun. Tentu saja fajar selalu jadi pemenang di setiap pagi. Fajar tidak pernah kesiangan. Ia punya durasi yang pas. Tanpa ada korupsi waktu sama sekali. Tapi membicarakan Lintang, bocah itu, jauh lebih menarik daripada fajar yang setia membentangkan karpet kuning bagi pagi.

Hari itu Lintang bangun pukul empat lewat lima menit. Ia tahu persis, tadi malam ada acara kenduri kecil-kecilan di halaman mushola kampung. Lintang yakin, ia bisa dapat uang lebih banyak hari ini. Dugaan bocah itu tidak pernah meleset. Belum ada siapa pun selain dirinya. Seketika senyum mengembang di wajah kecilnya.

Lintang membawa karung berwarna putih dan pengait terbuat dari besi dengan ujung dibengkokkan. Lintang berjalan perlahan. Menyambar semua yang ada di depannya, yang bisa ia jadikan uang. Tidak lama, karung itu sudah terisi sepenuhnya. Lintang berdecak senang. Sebentar lagi, karung itu penuh. Ia buru-buru mengikatnya. Lintang tergesa-gesa meninggalkan mushola.

Sesungguhnya Lintang enggan untuk pergi. Tapi dari kejauhan ia mendengar jejak langkah berat. Ia tahu siapa gerangan yang berjalan dalam gelap. Masih banyak plastik-plastik bekas yang berserakan. Tapi Lintang tidak mau ambil risiko. Berhadapan dengan Si Jangkung sama saja mencari masalah. Ia bisa kencing di celana lagi.

Gamang, Lintang teringat seminggu yang lalu. Si Jangkung menerkamnya dari belakang. Sangat tidak mungkin untuk mengambil langkah seribu dan lari terbirit-birit. Sudah dapat dipastikan bila Lintang nekat melakukannya, ia akan kalah. Lintang punya dua kaki yang tidak sempurna. Tungkai kanannya lebih pendek beberapa senti dari tungkai kiri. Melihat Lintang berjalan, seperti seorang kurcaci dengan kepala turun-naik.

Si Jangkung memegang kerah baju Lintang erat. Hal ini sebenarnya tidak perlu ia lakukan. Lintang tidak akan berpikir untuk lari. Ia ketakutan. Ini bukan pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan Si Jangkung. Tiba-tiba ia tidak bisa menahan kencing.

“Kau mau coba lari bocah berkaki sayut? Ha…ha…ha!’’

Lintang tersinggung sekali. Penuh kebencian ia menantang mata Si Jangkung dan berkata, “Tentu saja tidak.”

Semerta-merta Si Jangkung melepaskan pegangannya. Ia berjalan beberapa langkah dan mengambil karung berwarna putih Lintang yang sudah hampir terisi penuh. Ia tidak berkata apa-apa. Pun Lintang. Ia membiarkan Si Jangkung berlalu. Lintang berbalik, berjalan putus asa. Cuma pengait berujung bengkok saja yang ia bawa.

“Kurang ajar! Pasti si kaki sayut yang telah mengumpulkannya.” Celoteh Si Jangkung kecewa menyaksikan halaman mushola yang nyaris bersih. Dugaannya tidak salah, Lintang bangun lebih dulu. Ia semakin memusuhi Lintang. Gigi-giginya bergeretuk geram seperti harimau mengaum yang kecewa karena mangsanya lepas begitu saja.

Lintang masih bersembunyi. Ia mendengar semua cercaan Si Jangkung dari samping mushola. Sampai punggung Si Jangkung menghilang di ujung jalan, ia belum mau keluar. Lintang khawatir Si Jangkung berubah pikiran dan berbalik.

Bocah itu keluar dan menunggu plastik bekas yang tersisa. Si Jangkung seolah enggan mengumpulkan. Pantang bagiku memakan sisa, begitu akunya tempo hari. Hari masih gelap saat Lintang berjalan pulang. Ia mengambil jalur yang berbeda dengan Si Jangkung. Berharap semua baik-baik saja menjelang ke rumah.

Lintang selalu berkawan fajar. Bocah itu tidak bangun cepat pagi ini. Olo, abangnya yang rada-rada idiot ini demam. Mereka tinggal berdua di gubuk itu. Sejak tadi malam Lintang tidak bisa tidur. Olo mengerang pelan dengan napas berat turun-naik. Lintang bingung. Bagaimana caranya ia dapat membeli obat, sementara Olo tidak mungkin ditinggal. Sudah hampir satu jam ia mematung di sudut gubuk.

Mendadak Lintang ingat emak.

“Kenapa Abah cepat pergi ya, Mak?”

Emak menggangguk. Ia dan Lintang terus berjalan menjelajahi gunung sampah. Sesekali berhenti dan memungut sesuatu yang bisa dijual ke penadah.

“Sejak kapan kaki Lintang seperti ini, Mak?”

Emak memandang Lintang. Menarik napas panjang-panjang. “Dulu kita punya tetangga yang jahat. Ia sering menertawakan kita. Bahkan Mak sering mendengar ia menggunjingkan Olo. Lalu tertawa terbahak-bahak. Apa yang lucu?”

Lintang mendengar cerita emak dengan seksama.

“Kau tahu?” lanjut Emak. “Abahmu marah bukan main. Hampir setiap malam ia memikirkan cara membalas. Ia berdoa supaya tetangga kita itu juga dapat anak seperti abangmu. Tapi Tuhan tidak pernah mengabulkan. Perempuan itu tidak kunjung mengandung. Abahmu tidak bisa menahan hati lagi saat perempuan itu terang-terangan menghina Olo. Mak cepat-cepat menahan Abah, ia berniat membunuh perempuan itu dengan tangannya sendiri.” Emak diam.

“Lalu?”

“Abah tidak pernah melakukannya. Dua bulan kemudian kita pindah. Waktu itu Emak hamil besar.”

“Mengandung Lintang, Mak?”

Mak mengangguk. Tapi Lintang belum mendapat jawaban apa-apa tentang kakinya yang panjang sebelah. Ia masih memandang Emak. Emak mengerti. Lalu melanjutkan ceritanya.

“Pagi-pagi, sebelum kita berangkat, Abah pergi ke kandang ayam perempuan itu”

“Dan mematahkan kaki ayamnya?”

Spontan Emak mengangguk. “Ya. Abah mematahkan kaki kanan ayamnya.”

Lintang manggut-manggut. Persis. Kaki kanan bocah itu lebih pendek dari kaki kiri. Keadaannya yang seperti inilah membuat ia takut bukan main pada Si Jangkung.

Tapi…

“Kau tahu kenapa kakimu panjang sebelah, Lintang?” tanya Abah suatu hari.

“Kata Emak karena Abah mematahkan kaki ayam tetangga kita yang selalu menertawakan Olo.”

“Kamu salah.”

Dahi Lintang berkerut. “Lalu?”

“Emak kau mencibir melihat anak tetangga kita yang baru. Ia persis seperti kau ini.”

Kali ini Lintang merasa keduanyalah yang menjadi penyebab. Dan sejak hari itu, ia tidak pernah bertanya kenapa ia punya dua kaki yang seperti itu. Ia tidak menyalahkan siapa-siapa.

“Ntang aku lapar.” Tiba-tiba Olo bangun. “Kau tak beli nasi?”

Lintang ragu-ragu untuk menjawab. Olo tidak pernah tau dari mana Lintang dapat uang untuk membelikan sebungkus nasi untuknya.

Lintang bangkit. “Kau lapar?”

Olo mengangguk. Lintang sedih melihat tubuh yang terbaring lemah di atas kardus-kardus bekas yang mereka gunakan untuk alas tidur.

“Tunggulah sekejap! Aku akan membelikannya untukmu.” Lintang berjalan meninggalkan Olo sendiri. Walau ia merasa was-was.

Lintang membawa karung berwarna putih dan pengait bengkok di ujung. Ia meninggalkan gubuk semakin jauh. Tapi, ia belum menemukan apa-apa, selain dua buah botol aqua bekas. Lintang putus asa. Ia menyesal. Seandainya ia keluar lebih cepat. Tentu tidak ada yang mendahuluinya.

“Kemana saja kau, Ntang?” Aku tidak melihatmu dari tadi.”

“Olo sakit, Do.”

“Sakit apa?”

“Tak tahulah. Aku tak punya uang untuk membeli nasi. Obat apalagi.”

Keduanya berwajah putus asa. Hari ini mereka bernasib sama. Semakin hari semakin banyak yang mengais makan di jalanan. Ah, seandainya saja masih ada Emak dan Abah, sesal Lintang. Tentu ia tidak harus ada di jalanan. Setiap hari, setiap pagi. Lintang tidak menyadari,  ia menangis. Seingatnya ia sudah lama melupakan air mata. Lintang benci air mata. Air mata membawanya pada kesedihan.

Emak dan Abah pergi pada saat yang sama.

“Jaga Olo ya, Lintang. Sore Mak dan Abah kembali.”

Emak dan Abah ke kota membeli baju baru untuk Olo dan Lintang. Mereka punya sedikit tabungan. Dua hari lagi ada kenduri ulang tahun kampung. Emak dan Abah sudah lama berencana untuk membelikan mereka baju baru. Lintang tersenyum di depan pintu melepas Emak dan Abah. Olo juga. Senyum paling indah dalam hidup mereka. Juga untuk terakhir kali.

“Dadah Mak, Bah.” Olo melambai. Ia sangat bahagia. Sore ini Emak dan Abah akan membawa sepasang baju baru.

Lintang menanti di depan pintu bersama Olo. Harap-harap cemas. Menjelang sore mereka tidak kembali. Olo mulai menangis.

“Mana baju baru? Mana baju baru?” persis seperti anak-anak.

Lama sekali Lintang tidak memikirkan baju baru. Ia lebih mengkhawatirkan Emak dan Abah.

“Lintang….” Olo merengek.

“Diam Olo!” Tiba-tiba Lintang marah.

Kemudian Olo benar-benar berhenti mengeluarkan suara. Tapi air matanya tidak berhenti membasahi pipinya. Membuat Lintang muak dan pergi meninggalkan Olo sendiri. Ia tidak menoleh. Olo berteriak-teriak memanggil. Tidak lama, ia kembali. Kasihan remaja tujuh belas tahun itu tidak mengerti apa-apa. Yang ia tahu sebentar lagi ia akan dapat baju baru.

Ketika tirai malam mulai terkembang Emak dan Abah belum juga datang. Lintang dan Olo masih menunggu di depan pintu. Sementara air Olo masih saja mengalir. Sesekali ia menatap Lintang lama. Seperti menunggu Lintang menjelaskan sesuatu. Ia cuma menusukkan pandangannya ke ilalang yang bergoyang ditiup angin. Lintang merasakan hawa dingin.

Tidak lama sesudah azan ashar, Lintang dan Olo serentak melihat ada bayangan yang semakin dekat.

“Hore….Mak dan Abah pulang.” Olo melompat-lompat kegirangan.

Tapi tidak. Bukan Emak ataupun Abah yang datang.

“Ada apa Mang?”

Olo berhenti menari. Ikut memandang Mang Udin.

“Bus yang ditumpangi Emak dan Abah kau masuk jurang, Ntang.”

Sesaat Lintang diam saja. “Ada baju baru, Ntang?” Dengan wajah sungguh-sungguh Olo bertanya.

“Diam!” Lintang mendekati Olo. Ia merasa bersalah. “Tak pernah ada baju baru, Lo.”

Lintang meraung sejadi-jadinya seraya memeluk Olo.

Edo memukul bahu Lintang. “Olo kau tinggalkan sendiri?”

“Aku harus cari uang untuk beli nasi.” Lintang meninggalkan Edo begitu saja. Pikirannya tak menentu. Tapi ia terus berjalan.

Lintang berlari-lari menembus angin. Olo pasti sudah sangat lapar. Ia membuka pintu cepat-cepat.

“Olo, lihatlah apa yang kubawa!”

Olo masih terbaring. Lintang mendekatinya. Menggoyang-goyangkan badan Olo yang jauh lebih besar darinya.

“Ayo kita makan, Lo!”

Tiba-tiba suara muncul dari balik pintu. Si Jangkung? “Olo sudah pergi.”

“Apa maksudmu? Kau apakan abangku?”

“Aku…Aku berniat mengganggunya. Karena kau selalu lebih dulu dariku. Aku ingin balas dendam. Tapi saat aku datang Olo sudah tidak bernyawa lagi.”

“Bohong! Kau telah membunuhnya!” Lintang menyerang membabi-buta.

“Bukan. Bukan aku.”

Si Jangkung berlari meninggalkan gubuk itu. Lintang menoleh. Tapi tidak mengejarnya.

“Kenapa kau tidak menungguku? Aku membawa nasi untukmu, Lo!”

Lintang membeku di sudut gubuk. Malam telah larut. Nasi di tangannya benar-benar telah membeku.

 

 

Kayla Ghifari Ahmad. Lahir di Surabaya. Gemar menulis artikel dan cerpen. Menempuh studi di Universitas Negeri Surabaya. Kini menetap di Kota Surabaya. Bisa berjumpa di nomor 0812-1902-1137. Atau juga dapat disapa melalui Instagram @kg_0zz.

Kontak: 0812-1902-1137

Instagram: @kg_0zz.

 

Penulis: Kayla Ghifari Ahmad

Penyunting: Muhammad Raihan Ramadhan

Penyelaras Bahasa: Muhammad Raihan Ramadhan

Senandung Harpa di Panti Asa – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Oleh: Indah Fajrin Hidayati

12 Mei 2025 17.59 WIB

 

Di sudut kota Annecy, di mana cahaya mentari sore menari di atas atap-atap rumah tua, hiduplah seorang perempuan muda bernama Elara Laurent. Ia bukan orang biasa. Keanggunan terpancar dari geraknya, dan ketenangan dari suaranya. Namun yang paling mengesankan adalah permainan harpa yang selalu menghipnotis siapa pun yang mendengarnya seolah setiap senar yang dipetiknya bisa menyembuhkan luka hati yang paling dalam.

Elara telah memainkan harpa sejak kecil. Musik menjadi pelariannya saat ibunya meninggal, dan sejak saat itu, ia berjanji akan menggunakan musik bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk mengangkat orang lain yang juga tengah terluka. Itu sebabnya, di balik gemerlap panggung dan tepuk tangan yang ia terima, Elara selalu menyisihkan waktunya untuk berkunjung di sebuah panti asuhan kecil bernama Panti Asa.

Di sana, Elara tidak tampil sebagai artis, melainkan sebagai guru, kakak, dan sahabat. Ia membantu anak-anak mengetahui tentang nada, ritme, dan harmonibukan hanya sekadar dalam musik, namun dalam hidup.

Suatu sore, ketika Elara tiba di panti, ia melihat seorang pria muda tengah berlarian mengejar anak-anak kecil yang tertawa geli. Kaosnya kusut, sepatunya penuh lumpur, tapi senyum di wajahnya tulus.

“Maaf, kamu Elara ya?” tanyanya sambil terengah.

“Iya. Dan kamu?”

“Aiden. Aku bantu-bantu di sini, bagian… apa saja,” katanya sambil mengangkat bahu. “Selamat datang di kekacauan kecil kami.”

Elara tersenyum. Dalam hati, ia tahu, lelaki ini mungkin berantakan, tapi ada sesuatu yang hangat dari caranya memperlakukan anak-anak.

Hari-hari berikutnya, mereka mulai terbiasa bekerja bersama. Aiden suka membantu mengatur alat musik dan menemani anak-anak saat Elara bermain musik. Laki-laki itu tak tahu banyak soal musik, tapi antusiasme dan ketulusannya membuat Elara kagum.

Di balik semua tawa dan pelajaran, diam-diam, tumbuh ketertarikan. Elara yang biasa hidup dalam keteraturan menemukan kesegaran dalam spontanitas Aiden. Sementara Aiden merasa tertarik pada cara Elara menyentuh hidup orang lain lewat kelembutan dan kesabarannya.

Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama.

Pada suatu pagi, Kepala Panti, Mrs. Thompson memanggil mereka berdua ke ruangan kerjanya. Wajah tegang terlihat di raut wajah wanita berumur lima puluh lima tahun itu.

“Kita kekurangan dana. Donatur utama kita menghentikan bantuan. Kalau tidak ada solusi dalam waktu dua bulan, kita harus menutup Panti Asa.”

Bagaikan tersambar petir dunia Elara seakan runtuh seketika. Begitu pula Aiden. Mereka memandang anak-anak lewat jendela yang bermain di halaman. Tempat ini bukan hanya gedung tua dengan cat terkelupas ini adalah rumah, harapan, dan masa depan bagi puluhan anak yang ditinggalkan.

Keluar dari ruangan Mrs. Thompson, mereka bertatapan. “Kita tidak bisa diam saja,” ucap Elara tegas.

Elara dan Aiden mulai menyusun rencana sampai terlintas di ide Aiden mengadakan sebuah konser amal. Elara akan tampil, dan anak-anak akan ikut menyanyi. Mereka ingin memperlihatkan kepada masyarakat bahwa tempat ini layak diperjuangkan.

Tapi tak mudah. Di pertengahan rencana mereka kekurangan dana untuk promosi, dan banyak orang meremehkan acara ini. Brosur yang dibagikan tak banyak menarik perhatian dan bahkan ada yang dibuang. Beberapa sponsor menolak dengan alasan “tidak menguntungkan bisnis.”

Tekanan itu memicu ketegangan di antara Elara dan Aiden.

“Kita harus sewa tempat yang lebih besar!” desak Elara.

“Uang dari mana? Kita bahkan kesulitan mendapatkan sponsor!” jawab Aiden keras.

“Kalau kamu terus pikir negatif, kita ga akan berhasil!” balas Elara, kecewa.

Malam itu menjadi panas, Elara memisahkan diri menangis sendirian di ruang musik panti. Ia memandangi harpa tuanya, lalu memetik satu nada terdengar lirih. Tiba-tiba terdengar suara ketokan pintu.

“Aku minta maaf.” Suara dari balik pintu.

Elara menoleh. Ia tak bicara, namun menatap pria di hadapannya lembut.

“Aku cuma takut. Takut kita gagal. Takut anak-anak kehilangan rumah mereka,” ucap Aiden. “Tapi lebih takut kalau harus menghadapinya tanpa kamu.”

Elara tersenyum kecil. “Kita akan hadapi bersama.”

Gadis itu memeluk Aiden memberi dukungan untuk tidak menyerah.

Besoknya dengan bantuan guru-guru, sukarelawan, dan teman-teman Elara dari dunia musik, mereka menyulap halaman belakang panti menjadi panggung sederhana. Aiden membuat undangan digital dan membagikannya di media sosial. Video latihan anak-anak yang diunggah Elara viral dan tiba-tiba dukungan mulai datang.

-Hari konser tiba-

Lampu gantung menyala redup, harpa Elara berdiri anggun di tengah panggung, dan deretan kursi dipenuhi oleh masyarakat yang tersentuh oleh pentunjukan mereka.

Ketika Elara memainkan lagu pertama, langit malam terasa mendukung. Lalu anak-anak menyanyi dengan suara jernih, dan Aiden duduk di kursi penonton depan, menatap bangga.

Suara riuh tepuk tangan membahana. Donasi mulai mengalir.

Berkat konser itu, Panti Asa tidak jadi ditutup. Bahkan direnovasi. Dindingnya dicat ulang, perpustakaan kecil dibuka, dan kamar tidur mulai di bangun ulang.

Elara dan Aiden kini bukan sekadar sukarelawan. Mereka sudah menjadi keluarga inti bagi anak-anak. Mereka menemukan cinta bukan dalam pelukan romantis, tapi dalam kerja sama, pengorbanan, dan semangat yang tak pernah padam.

 

Namaku azrin, bukan nama asli si hanya nama panggung. Udah lama ga nulis cerita pendek mungkin… udah 4 atau 5 tahun pas lagi musim covid-19. Nulis ini berasa nostalgia ke musim wabah corona, di mana semua orang harus berdiam di rumah, sekolah pada online, jalan raya sepi dan dari situ yang awalnya aku suka baca buku cerita jadi buat cerita, semoga cerita ini cocok ya sama kamu. Salam Kenal Aku Azrin!

Instagram: @ndahzrn

 

Penulis: Indah Fajrin Hidayati

Penyunting: Kayla Ghifari Ahmad

Penyelaras Bahasa: Muhammad Raihan Ramadhan