Lintang – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Oleh: Kayla Ghifari Ahmad

24 Juni 2025 20.43 WIB

 

Pagi-pagi ia sudah ada di jalanan. Setiap hari. Kadang-kadang ia keluar dari rumah pukul 04.00. Di kesempatan yang lain, ia muncul di saat yang sama ketika fajar menyingsing. Seperti berlomba, mana yang lebih dulu bangun. Tentu saja fajar selalu jadi pemenang di setiap pagi. Fajar tidak pernah kesiangan. Ia punya durasi yang pas. Tanpa ada korupsi waktu sama sekali. Tapi membicarakan Lintang, bocah itu, jauh lebih menarik daripada fajar yang setia membentangkan karpet kuning bagi pagi.

Hari itu Lintang bangun pukul empat lewat lima menit. Ia tahu persis, tadi malam ada acara kenduri kecil-kecilan di halaman mushola kampung. Lintang yakin, ia bisa dapat uang lebih banyak hari ini. Dugaan bocah itu tidak pernah meleset. Belum ada siapa pun selain dirinya. Seketika senyum mengembang di wajah kecilnya.

Lintang membawa karung berwarna putih dan pengait terbuat dari besi dengan ujung dibengkokkan. Lintang berjalan perlahan. Menyambar semua yang ada di depannya, yang bisa ia jadikan uang. Tidak lama, karung itu sudah terisi sepenuhnya. Lintang berdecak senang. Sebentar lagi, karung itu penuh. Ia buru-buru mengikatnya. Lintang tergesa-gesa meninggalkan mushola.

Sesungguhnya Lintang enggan untuk pergi. Tapi dari kejauhan ia mendengar jejak langkah berat. Ia tahu siapa gerangan yang berjalan dalam gelap. Masih banyak plastik-plastik bekas yang berserakan. Tapi Lintang tidak mau ambil risiko. Berhadapan dengan Si Jangkung sama saja mencari masalah. Ia bisa kencing di celana lagi.

Gamang, Lintang teringat seminggu yang lalu. Si Jangkung menerkamnya dari belakang. Sangat tidak mungkin untuk mengambil langkah seribu dan lari terbirit-birit. Sudah dapat dipastikan bila Lintang nekat melakukannya, ia akan kalah. Lintang punya dua kaki yang tidak sempurna. Tungkai kanannya lebih pendek beberapa senti dari tungkai kiri. Melihat Lintang berjalan, seperti seorang kurcaci dengan kepala turun-naik.

Si Jangkung memegang kerah baju Lintang erat. Hal ini sebenarnya tidak perlu ia lakukan. Lintang tidak akan berpikir untuk lari. Ia ketakutan. Ini bukan pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan Si Jangkung. Tiba-tiba ia tidak bisa menahan kencing.

“Kau mau coba lari bocah berkaki sayut? Ha…ha…ha!’’

Lintang tersinggung sekali. Penuh kebencian ia menantang mata Si Jangkung dan berkata, “Tentu saja tidak.”

Semerta-merta Si Jangkung melepaskan pegangannya. Ia berjalan beberapa langkah dan mengambil karung berwarna putih Lintang yang sudah hampir terisi penuh. Ia tidak berkata apa-apa. Pun Lintang. Ia membiarkan Si Jangkung berlalu. Lintang berbalik, berjalan putus asa. Cuma pengait berujung bengkok saja yang ia bawa.

“Kurang ajar! Pasti si kaki sayut yang telah mengumpulkannya.” Celoteh Si Jangkung kecewa menyaksikan halaman mushola yang nyaris bersih. Dugaannya tidak salah, Lintang bangun lebih dulu. Ia semakin memusuhi Lintang. Gigi-giginya bergeretuk geram seperti harimau mengaum yang kecewa karena mangsanya lepas begitu saja.

Lintang masih bersembunyi. Ia mendengar semua cercaan Si Jangkung dari samping mushola. Sampai punggung Si Jangkung menghilang di ujung jalan, ia belum mau keluar. Lintang khawatir Si Jangkung berubah pikiran dan berbalik.

Bocah itu keluar dan menunggu plastik bekas yang tersisa. Si Jangkung seolah enggan mengumpulkan. Pantang bagiku memakan sisa, begitu akunya tempo hari. Hari masih gelap saat Lintang berjalan pulang. Ia mengambil jalur yang berbeda dengan Si Jangkung. Berharap semua baik-baik saja menjelang ke rumah.

Lintang selalu berkawan fajar. Bocah itu tidak bangun cepat pagi ini. Olo, abangnya yang rada-rada idiot ini demam. Mereka tinggal berdua di gubuk itu. Sejak tadi malam Lintang tidak bisa tidur. Olo mengerang pelan dengan napas berat turun-naik. Lintang bingung. Bagaimana caranya ia dapat membeli obat, sementara Olo tidak mungkin ditinggal. Sudah hampir satu jam ia mematung di sudut gubuk.

Mendadak Lintang ingat emak.

“Kenapa Abah cepat pergi ya, Mak?”

Emak menggangguk. Ia dan Lintang terus berjalan menjelajahi gunung sampah. Sesekali berhenti dan memungut sesuatu yang bisa dijual ke penadah.

“Sejak kapan kaki Lintang seperti ini, Mak?”

Emak memandang Lintang. Menarik napas panjang-panjang. “Dulu kita punya tetangga yang jahat. Ia sering menertawakan kita. Bahkan Mak sering mendengar ia menggunjingkan Olo. Lalu tertawa terbahak-bahak. Apa yang lucu?”

Lintang mendengar cerita emak dengan seksama.

“Kau tahu?” lanjut Emak. “Abahmu marah bukan main. Hampir setiap malam ia memikirkan cara membalas. Ia berdoa supaya tetangga kita itu juga dapat anak seperti abangmu. Tapi Tuhan tidak pernah mengabulkan. Perempuan itu tidak kunjung mengandung. Abahmu tidak bisa menahan hati lagi saat perempuan itu terang-terangan menghina Olo. Mak cepat-cepat menahan Abah, ia berniat membunuh perempuan itu dengan tangannya sendiri.” Emak diam.

“Lalu?”

“Abah tidak pernah melakukannya. Dua bulan kemudian kita pindah. Waktu itu Emak hamil besar.”

“Mengandung Lintang, Mak?”

Mak mengangguk. Tapi Lintang belum mendapat jawaban apa-apa tentang kakinya yang panjang sebelah. Ia masih memandang Emak. Emak mengerti. Lalu melanjutkan ceritanya.

“Pagi-pagi, sebelum kita berangkat, Abah pergi ke kandang ayam perempuan itu”

“Dan mematahkan kaki ayamnya?”

Spontan Emak mengangguk. “Ya. Abah mematahkan kaki kanan ayamnya.”

Lintang manggut-manggut. Persis. Kaki kanan bocah itu lebih pendek dari kaki kiri. Keadaannya yang seperti inilah membuat ia takut bukan main pada Si Jangkung.

Tapi…

“Kau tahu kenapa kakimu panjang sebelah, Lintang?” tanya Abah suatu hari.

“Kata Emak karena Abah mematahkan kaki ayam tetangga kita yang selalu menertawakan Olo.”

“Kamu salah.”

Dahi Lintang berkerut. “Lalu?”

“Emak kau mencibir melihat anak tetangga kita yang baru. Ia persis seperti kau ini.”

Kali ini Lintang merasa keduanyalah yang menjadi penyebab. Dan sejak hari itu, ia tidak pernah bertanya kenapa ia punya dua kaki yang seperti itu. Ia tidak menyalahkan siapa-siapa.

“Ntang aku lapar.” Tiba-tiba Olo bangun. “Kau tak beli nasi?”

Lintang ragu-ragu untuk menjawab. Olo tidak pernah tau dari mana Lintang dapat uang untuk membelikan sebungkus nasi untuknya.

Lintang bangkit. “Kau lapar?”

Olo mengangguk. Lintang sedih melihat tubuh yang terbaring lemah di atas kardus-kardus bekas yang mereka gunakan untuk alas tidur.

“Tunggulah sekejap! Aku akan membelikannya untukmu.” Lintang berjalan meninggalkan Olo sendiri. Walau ia merasa was-was.

Lintang membawa karung berwarna putih dan pengait bengkok di ujung. Ia meninggalkan gubuk semakin jauh. Tapi, ia belum menemukan apa-apa, selain dua buah botol aqua bekas. Lintang putus asa. Ia menyesal. Seandainya ia keluar lebih cepat. Tentu tidak ada yang mendahuluinya.

“Kemana saja kau, Ntang?” Aku tidak melihatmu dari tadi.”

“Olo sakit, Do.”

“Sakit apa?”

“Tak tahulah. Aku tak punya uang untuk membeli nasi. Obat apalagi.”

Keduanya berwajah putus asa. Hari ini mereka bernasib sama. Semakin hari semakin banyak yang mengais makan di jalanan. Ah, seandainya saja masih ada Emak dan Abah, sesal Lintang. Tentu ia tidak harus ada di jalanan. Setiap hari, setiap pagi. Lintang tidak menyadari,  ia menangis. Seingatnya ia sudah lama melupakan air mata. Lintang benci air mata. Air mata membawanya pada kesedihan.

Emak dan Abah pergi pada saat yang sama.

“Jaga Olo ya, Lintang. Sore Mak dan Abah kembali.”

Emak dan Abah ke kota membeli baju baru untuk Olo dan Lintang. Mereka punya sedikit tabungan. Dua hari lagi ada kenduri ulang tahun kampung. Emak dan Abah sudah lama berencana untuk membelikan mereka baju baru. Lintang tersenyum di depan pintu melepas Emak dan Abah. Olo juga. Senyum paling indah dalam hidup mereka. Juga untuk terakhir kali.

“Dadah Mak, Bah.” Olo melambai. Ia sangat bahagia. Sore ini Emak dan Abah akan membawa sepasang baju baru.

Lintang menanti di depan pintu bersama Olo. Harap-harap cemas. Menjelang sore mereka tidak kembali. Olo mulai menangis.

“Mana baju baru? Mana baju baru?” persis seperti anak-anak.

Lama sekali Lintang tidak memikirkan baju baru. Ia lebih mengkhawatirkan Emak dan Abah.

“Lintang….” Olo merengek.

“Diam Olo!” Tiba-tiba Lintang marah.

Kemudian Olo benar-benar berhenti mengeluarkan suara. Tapi air matanya tidak berhenti membasahi pipinya. Membuat Lintang muak dan pergi meninggalkan Olo sendiri. Ia tidak menoleh. Olo berteriak-teriak memanggil. Tidak lama, ia kembali. Kasihan remaja tujuh belas tahun itu tidak mengerti apa-apa. Yang ia tahu sebentar lagi ia akan dapat baju baru.

Ketika tirai malam mulai terkembang Emak dan Abah belum juga datang. Lintang dan Olo masih menunggu di depan pintu. Sementara air Olo masih saja mengalir. Sesekali ia menatap Lintang lama. Seperti menunggu Lintang menjelaskan sesuatu. Ia cuma menusukkan pandangannya ke ilalang yang bergoyang ditiup angin. Lintang merasakan hawa dingin.

Tidak lama sesudah azan ashar, Lintang dan Olo serentak melihat ada bayangan yang semakin dekat.

“Hore….Mak dan Abah pulang.” Olo melompat-lompat kegirangan.

Tapi tidak. Bukan Emak ataupun Abah yang datang.

“Ada apa Mang?”

Olo berhenti menari. Ikut memandang Mang Udin.

“Bus yang ditumpangi Emak dan Abah kau masuk jurang, Ntang.”

Sesaat Lintang diam saja. “Ada baju baru, Ntang?” Dengan wajah sungguh-sungguh Olo bertanya.

“Diam!” Lintang mendekati Olo. Ia merasa bersalah. “Tak pernah ada baju baru, Lo.”

Lintang meraung sejadi-jadinya seraya memeluk Olo.

Edo memukul bahu Lintang. “Olo kau tinggalkan sendiri?”

“Aku harus cari uang untuk beli nasi.” Lintang meninggalkan Edo begitu saja. Pikirannya tak menentu. Tapi ia terus berjalan.

Lintang berlari-lari menembus angin. Olo pasti sudah sangat lapar. Ia membuka pintu cepat-cepat.

“Olo, lihatlah apa yang kubawa!”

Olo masih terbaring. Lintang mendekatinya. Menggoyang-goyangkan badan Olo yang jauh lebih besar darinya.

“Ayo kita makan, Lo!”

Tiba-tiba suara muncul dari balik pintu. Si Jangkung? “Olo sudah pergi.”

“Apa maksudmu? Kau apakan abangku?”

“Aku…Aku berniat mengganggunya. Karena kau selalu lebih dulu dariku. Aku ingin balas dendam. Tapi saat aku datang Olo sudah tidak bernyawa lagi.”

“Bohong! Kau telah membunuhnya!” Lintang menyerang membabi-buta.

“Bukan. Bukan aku.”

Si Jangkung berlari meninggalkan gubuk itu. Lintang menoleh. Tapi tidak mengejarnya.

“Kenapa kau tidak menungguku? Aku membawa nasi untukmu, Lo!”

Lintang membeku di sudut gubuk. Malam telah larut. Nasi di tangannya benar-benar telah membeku.

 

 

Kayla Ghifari Ahmad. Lahir di Surabaya. Gemar menulis artikel dan cerpen. Menempuh studi di Universitas Negeri Surabaya. Kini menetap di Kota Surabaya. Bisa berjumpa di nomor 0812-1902-1137. Atau juga dapat disapa melalui Instagram @kg_0zz.

Kontak: 0812-1902-1137

Instagram: @kg_0zz.

 

Penulis: Kayla Ghifari Ahmad

Penyunting: Muhammad Raihan Ramadhan

Penyelaras Bahasa: Muhammad Raihan Ramadhan

Senandung Harpa di Panti Asa – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Oleh: Indah Fajrin Hidayati

12 Mei 2025 17.59 WIB

 

Di sudut kota Annecy, di mana cahaya mentari sore menari di atas atap-atap rumah tua, hiduplah seorang perempuan muda bernama Elara Laurent. Ia bukan orang biasa. Keanggunan terpancar dari geraknya, dan ketenangan dari suaranya. Namun yang paling mengesankan adalah permainan harpa yang selalu menghipnotis siapa pun yang mendengarnya seolah setiap senar yang dipetiknya bisa menyembuhkan luka hati yang paling dalam.

Elara telah memainkan harpa sejak kecil. Musik menjadi pelariannya saat ibunya meninggal, dan sejak saat itu, ia berjanji akan menggunakan musik bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk mengangkat orang lain yang juga tengah terluka. Itu sebabnya, di balik gemerlap panggung dan tepuk tangan yang ia terima, Elara selalu menyisihkan waktunya untuk berkunjung di sebuah panti asuhan kecil bernama Panti Asa.

Di sana, Elara tidak tampil sebagai artis, melainkan sebagai guru, kakak, dan sahabat. Ia membantu anak-anak mengetahui tentang nada, ritme, dan harmonibukan hanya sekadar dalam musik, namun dalam hidup.

Suatu sore, ketika Elara tiba di panti, ia melihat seorang pria muda tengah berlarian mengejar anak-anak kecil yang tertawa geli. Kaosnya kusut, sepatunya penuh lumpur, tapi senyum di wajahnya tulus.

“Maaf, kamu Elara ya?” tanyanya sambil terengah.

“Iya. Dan kamu?”

“Aiden. Aku bantu-bantu di sini, bagian… apa saja,” katanya sambil mengangkat bahu. “Selamat datang di kekacauan kecil kami.”

Elara tersenyum. Dalam hati, ia tahu, lelaki ini mungkin berantakan, tapi ada sesuatu yang hangat dari caranya memperlakukan anak-anak.

Hari-hari berikutnya, mereka mulai terbiasa bekerja bersama. Aiden suka membantu mengatur alat musik dan menemani anak-anak saat Elara bermain musik. Laki-laki itu tak tahu banyak soal musik, tapi antusiasme dan ketulusannya membuat Elara kagum.

Di balik semua tawa dan pelajaran, diam-diam, tumbuh ketertarikan. Elara yang biasa hidup dalam keteraturan menemukan kesegaran dalam spontanitas Aiden. Sementara Aiden merasa tertarik pada cara Elara menyentuh hidup orang lain lewat kelembutan dan kesabarannya.

Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama.

Pada suatu pagi, Kepala Panti, Mrs. Thompson memanggil mereka berdua ke ruangan kerjanya. Wajah tegang terlihat di raut wajah wanita berumur lima puluh lima tahun itu.

“Kita kekurangan dana. Donatur utama kita menghentikan bantuan. Kalau tidak ada solusi dalam waktu dua bulan, kita harus menutup Panti Asa.”

Bagaikan tersambar petir dunia Elara seakan runtuh seketika. Begitu pula Aiden. Mereka memandang anak-anak lewat jendela yang bermain di halaman. Tempat ini bukan hanya gedung tua dengan cat terkelupas ini adalah rumah, harapan, dan masa depan bagi puluhan anak yang ditinggalkan.

Keluar dari ruangan Mrs. Thompson, mereka bertatapan. “Kita tidak bisa diam saja,” ucap Elara tegas.

Elara dan Aiden mulai menyusun rencana sampai terlintas di ide Aiden mengadakan sebuah konser amal. Elara akan tampil, dan anak-anak akan ikut menyanyi. Mereka ingin memperlihatkan kepada masyarakat bahwa tempat ini layak diperjuangkan.

Tapi tak mudah. Di pertengahan rencana mereka kekurangan dana untuk promosi, dan banyak orang meremehkan acara ini. Brosur yang dibagikan tak banyak menarik perhatian dan bahkan ada yang dibuang. Beberapa sponsor menolak dengan alasan “tidak menguntungkan bisnis.”

Tekanan itu memicu ketegangan di antara Elara dan Aiden.

“Kita harus sewa tempat yang lebih besar!” desak Elara.

“Uang dari mana? Kita bahkan kesulitan mendapatkan sponsor!” jawab Aiden keras.

“Kalau kamu terus pikir negatif, kita ga akan berhasil!” balas Elara, kecewa.

Malam itu menjadi panas, Elara memisahkan diri menangis sendirian di ruang musik panti. Ia memandangi harpa tuanya, lalu memetik satu nada terdengar lirih. Tiba-tiba terdengar suara ketokan pintu.

“Aku minta maaf.” Suara dari balik pintu.

Elara menoleh. Ia tak bicara, namun menatap pria di hadapannya lembut.

“Aku cuma takut. Takut kita gagal. Takut anak-anak kehilangan rumah mereka,” ucap Aiden. “Tapi lebih takut kalau harus menghadapinya tanpa kamu.”

Elara tersenyum kecil. “Kita akan hadapi bersama.”

Gadis itu memeluk Aiden memberi dukungan untuk tidak menyerah.

Besoknya dengan bantuan guru-guru, sukarelawan, dan teman-teman Elara dari dunia musik, mereka menyulap halaman belakang panti menjadi panggung sederhana. Aiden membuat undangan digital dan membagikannya di media sosial. Video latihan anak-anak yang diunggah Elara viral dan tiba-tiba dukungan mulai datang.

-Hari konser tiba-

Lampu gantung menyala redup, harpa Elara berdiri anggun di tengah panggung, dan deretan kursi dipenuhi oleh masyarakat yang tersentuh oleh pentunjukan mereka.

Ketika Elara memainkan lagu pertama, langit malam terasa mendukung. Lalu anak-anak menyanyi dengan suara jernih, dan Aiden duduk di kursi penonton depan, menatap bangga.

Suara riuh tepuk tangan membahana. Donasi mulai mengalir.

Berkat konser itu, Panti Asa tidak jadi ditutup. Bahkan direnovasi. Dindingnya dicat ulang, perpustakaan kecil dibuka, dan kamar tidur mulai di bangun ulang.

Elara dan Aiden kini bukan sekadar sukarelawan. Mereka sudah menjadi keluarga inti bagi anak-anak. Mereka menemukan cinta bukan dalam pelukan romantis, tapi dalam kerja sama, pengorbanan, dan semangat yang tak pernah padam.

 

Namaku azrin, bukan nama asli si hanya nama panggung. Udah lama ga nulis cerita pendek mungkin… udah 4 atau 5 tahun pas lagi musim covid-19. Nulis ini berasa nostalgia ke musim wabah corona, di mana semua orang harus berdiam di rumah, sekolah pada online, jalan raya sepi dan dari situ yang awalnya aku suka baca buku cerita jadi buat cerita, semoga cerita ini cocok ya sama kamu. Salam Kenal Aku Azrin!

Instagram: @ndahzrn

 

Penulis: Indah Fajrin Hidayati

Penyunting: Kayla Ghifari Ahmad

Penyelaras Bahasa: Muhammad Raihan Ramadhan

Di Antara Data dan Luka – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Oleh: Nicholas Ferren Arya Wijaya

8 April 2025 12.19 WIB

 

Universitas Pradnyana Dharma, kampus unggulan di Indonesia, adalah tempat mimpi dan tekanan bertabrakan. Di balik gedung-gedung modern, papan pengumuman lomba, dan akun media sosial organisasi mahasiswa yang sibuk memamerkan pencapaian, ada cerita yang tak pernah diumbar—tentang ambisi, kegagalan, dan rasa kehilangan.

Nicholas Wijaya, mahasiswa tingkat akhir Teknik Komputer, adalah tipikal mahasiswa unggulan. Pialanya berderet di ruang himpunan, dan namanya sering muncul dalam jurnal ilmiah. Tapi di balik ketenangan wajahnya, ada luka lama yang terus diam: kakaknya, juga mantan mahasiswa kampus itu, bunuh diri dua tahun lalu karena gagal lulus tepat waktu dan kehilangan beasiswa. Sejak itu, Nicholas menjadikan kesuksesan sebagai pelindung dari rasa bersalah.

Kaela Anindya, dari Fakultas Psikologi, adalah aktivis organisasi yang vokal. Ia ketua BEM fakultas dan tengah menyusun program advokasi kesehatan mental. Di rumah, ia harus menghadapi tuntutan keluarga untuk segera bekerja dan membantu biaya adiknya yang masih sekolah. Ibunya seorang guru, ayahnya pensiunan.

Meski sama-sama cerdas, Nicholas dan Kaela punya sejarah: pernah adu argumen di forum terbuka mengenai sistem orientasi kampus yang dinilai penuh tekanan. Sejak itu, mereka tak pernah berbicara.

Hingga suatu hari, kampus diguncang kabar bahwa sistem informasi akademik diretas. Nilai ratusan mahasiswa berubah, termasuk milik anak pejabat yang langsung melapor ke rektorat. Tak hanya itu, salah satu dosen senior menerima ancaman lewat email terenkripsi, dan beredar video mahasiswa yang menangis karena tiba-tiba “drop out” akibat nilai hilang.

Kampus panik. Rektor membentuk tim investigasi rahasia untuk menelusuri kasus ini. Mereka menunjuk dua nama: Nicholas untuk kemampuan IT-nya, dan Kaela untuk pendekatan psikologis serta relasi organisasinya.

Kaela kaget, Nicholas sinis. “Kenapa aku harus kerja sama dengan aktivis?”

Kaela menjawab datar, “Karena ini bukan soal kamu. Ini soal semua orang yang bisa jadi korban berikutnya.”

Penyelidikan mereka menyingkap lapisan demi lapisan. Mereka menemukan log aktivitas sistem yang dimanipulasi dari dalam, kemungkinan kerja sama antara oknum dosen dan mahasiswa, serta pola stress berat di antara mahasiswa yang jadi target manipulasi nilai.

Salah satu temuan penting datang dari Kaela. Ia menemukan beberapa mahasiswa yang nilainya diubah secara negatif justru merupakan anggota organisasi yang pernah mengkritik kebijakan kampus. Sebuah pola tekanan psikologis sedang berlangsung: nilai sebagai alat kontrol.

Di saat bersamaan, Nicholas menemukan fakta bahwa beberapa skripsi mahasiswa hilang dari server. Ia juga menerima pesan anonim yang isinya, “Jangan terlalu dalam, atau kamu akan seperti kakakmu.”

Panik? Ya. Tapi ia tidak sendiri. Untuk pertama kalinya sejak tragedi kakaknya, Nicholas bercerita. Ia membuka diri kepada Kaela. Tentang rasa bersalah, tentang mimpi-mimpi yang mati sebelum sempat tumbuh.

Kaela mendengarkan. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu menjadi kuat sepanjang waktu.

Di tengah penyelidikan, konflik organisasi pun pecah. Beberapa pengurus BEM fakultas Kaela menuding ia terlalu sibuk mengurusi hal di luar kampus, dan mulai menyebarkan rumor bahwa Kaela “dekat dengan anak teknik” demi proyek pribadi. Tekanan dari rumah pun makin berat—ibunya mulai sakit-sakitan, dan adiknya tak bisa melanjutkan bimbel.

Nicholas mendapati dirinya ingin membantu, bukan dengan uang, tapi dengan kehadiran. Ia mulai mengantar Kaela pulang, kadang hanya diam di ruang tunggu rumah sakit sambil membaca kode program. Kaela mulai mengerti: cinta bukan datang dari rayuan, tapi dari kesediaan menemani.

Hari-hari terakhir investigasi, mereka menemukan bahwa pelaku bukan satu orang, melainkan sistem yang cacat. Beberapa dosen terlibat menukar nilai demi balas jasa, dan mahasiswa yang jadi kambing hitam adalah korban tekanan akademik. Salah satu dari mereka kini dirawat karena gangguan bipolar yang makin parah setelah merasa “ditinggalkan” oleh organisasi dan teman-temannya.

Rekomendasi tim investigasi mereka: pembenahan sistem, audit internal, serta pembentukan unit layanan kesehatan mental permanen di kampus. Sebagian ditolak, sebagian diterima. Tapi itu sudah cukup untuk membuka mata banyak orang.

Setelah semua selesai, Nicholas dan Kaela duduk di bangku taman kampus, memandangi papan pengumuman yang kini menampilkan poster bertuliskan: “Kesehatan Mental Bukan Sekadar Masalah Pribadi.”

“Kamu masih merasa bersalah?” tanya Kaela pelan.

Nicholas mengangguk. “Tapi sekarang, aku tahu caranya untuk tidak lari dari itu.”

Kaela tersenyum. “Mungkin kita tidak bisa menyelamatkan semua orang. Tapi kita bisa mulai dari satu… termasuk diri kita sendiri.”

 

Nicholas Ferren Arya Wijaya adalah mahasiswa aktif di Program Studi Teknik Informatika Universitas Negeri Surabaya. Ia memiliki ketertarikan pada dunia literasi, teknologi, dan psikologi, serta gemar menulis cerita fiksi bertema misteri, romansa, dan kehidupan mahasiswa. Menulis baginya adalah cara memahami dunia secara lebih dalam.

Instagram: @ferren_26

 

Penulis: Nicholas Ferren Arya Wijaya

Penyunting: Kayla Ghifari Ahmad

Penyelaras Bahasa: Muhammad Raihan Ramadhan

Mimpi di Balik Tembok Emas – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Oleh: Robby Andyka Pratama
7 April 2025 19.16 WIB

 

Namaku Anastasia Valencia Aurelia biasa dipanggil Anastasia. Sebuah nama yang sering dipuji karena keindahannya, tetapi bagiku nama itu adalah sebuah pengingat akan perjalanan panjang yang telah aku tempuh. Kini, aku berdiri di puncak pencapaian yang dulu hanya berani kubayangkan. Namun, di balik keberhasilanku saat ini ada kenangan pahit yang membentukku menjadi seperti sekarang.

Aku lahir di keluarga kaya. Banyak orang yang beranggapan hidupku pasti menyenangkan tanpa ada kekurangan. Namun, pada kenyataannya berbeda. Dulu, sewaktu di SMA, aku adalah bintang di sekolahku. Aku sering mendapatkan penghargaan dari berbagai kompetisi yang bergengsi. Namun, orang tuaku tidak memperdulikan hal itu.

Di suatu malam, setelah aku memikirkan segalanya dengan matang, aku memberanikan diri untuk berbicara mengenai keinginanku untuk berkuliah pada orang tuaku. “Mama, Papa aku ingin kuliah,” ucapku penuh harap. “Untuk apa kamu kuliah? Kamu lebih baik langsung bekerja setelah lulus SMA. Lanjutkan bisnis Mama, jual kosmetik,” kata Mama dengan nada yang marah seolah tidak memberikanku ruang untuk membantahnya.

Harapanku hancur berkeping-keping setelah mendengar jawaban dari Mamaku.  Tanpa sepatah kata lagi, aku berdiri dari sofa, melangkah menuju kamar dengan air mata yang mulai jatuh tanpa bisa kuhentikan.

Pintu kamar aku tutup, aku membenamkan wajahku ke bantal. Tangisanku tak bisa tertahan. Aku cuma ingin belajar, ingin menuntut ilmu, ingin menjadi seorang yang lebih dari sekedar pewaris bisnis keluarga. Apakah itu salah?

Dengan tangan gemetar, aku meraih ponsel dan menelpon teman baikku yang selalu bisa membuatku merasa lebih baik yaitu Bella. Aku menekan tombol panggil, tak lama kemudian Bella mengangkat telponku.

“Halo, Anastasia! Kok kamu nelpon malam-malam gini? Ada apa?” Suara Bella terdengar begitu hangat dan akrab. Aku menarik napas panjang, berusaha untuk mengontrol suaraku agar tidak terdengar terlalu lemah.  “Bel…” suaraku serak, nyaris tak terdengar “Hah? Kamu kenapa? Anastasia kamu nangis?” Nada suaranya berubah, penuh kekhawatiran. Aku terdiam beberapa saat, lalu menghembuskan napas.

“Aku… aku baru saja bilang ke Mama Papa kalau aku ingin kuliah.” “Oke terus?” Aku menelan ludah, berusaha untuk menahan air mataku yang masih ingin jatuh. “Mereka nggak setuju, Bel… Mereka maunya aku langsung bekerja dan membantu bisnis mamaku.”

Bella terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Dengar ya, Nas. Aku tahu kamu itu temanku yang paling luar biasa. Kamu bukan cuma pintar, tetapi juga berhati mulia.” “Kamu pernah bilang ke aku, kalau seseorang benar-benar menginginkan sesuatu, dia harus berjuang untuk mewujudkan itu, kan? Jangan biarkan siapapun bahkan orang tuamu sendiri menghentikan impianmu, kamu harus tetap berjuang untuk mewujudkan impianmu, Nas.”

Aku terdiam, lalu mengusap air mata yang masih tersisa di pipiku. “Kamu benar, Bel… Aku nggak boleh nyerah,” kataku, kali ini dengan suara lebih mantap. “Gitu dong! Itu baru temanku, Anastasia! Aku tau kamu bukan tipe orang yang gampang menyerah. Ingat aku selalu di sini buatmu.” Ujar Bella. Senyum kecil akhirnya terbentuk di bibirku. “Makasih, Bel. Aku beruntung punya sahabat kayak kamu.”

Keesokan paginya, aku pergi ke sekolah dengan semangat yang baru. Saat berjalan menuju ke kelas, seorang guru menghampiriku dengan senyum ramah. “Anastasia, tunggu sebentar ya,” panggilnya. Aku berhenti dan menoleh. “Iya, Bu. Ada apa?”

Beliau mengeluarkan selembar kertas dari mapnya dan menyerahkannya kepadaku. “Ini ada informasi tentang olimpiade yang akan diadakan bulan depan. Kami para guru yakin kamu kandidat yang cocok untuk mewakili sekolah.” Aku melihat lembar informasi di tanganku. Olimpiade ini tidak hanya menawarkan hadiah uang tunai dan piala, tetapi ada sesuatu yang jauh lebih berharga yaitu sebuah golden ticket untuk masuk ke salah satu universitas terbaik di Asia Tenggara.

Hatiku berdebar. Tanpa pikir panjang, aku mengganguk penuh semangat. “Saya bersedia, Bu! Saya akan berusaha sebaik mungkin!” Guru itu tersenyum. “Bagus! Kami percaya bahwa kamu bisa. Tapi ingat persaingannya tidak akan mudah. Kamu harus belajar lebih keras.” Aku mengganguk mantap.

Malamnya, aku mulai belajar untuk persiapan olimpiade. Tiba-tiba, pintu kamarku terbuka dengan keras. BRAK! Aku tersentak kaget. Papa dan mama berdiri di ambang pintu dengan ekspresi marah. “Apa-apaan ini, Anastasia?” suara Papa terdengar tajam. Aku menelan ludah, mencoba tetap tenang. “Aku sedang belajar, Pa.” “Kami dengar dari gurumu kalau kamu ikut olimpiade?” ujar Papa dengan nada marah. Aku mengganguk, meski suara mereka membuat hatiku bergetar. “Iya, Pa. Aku ingin menang, karena kalau aku juara, aku bisa dapat golden ticket masuk universitas…”

Belum selesai aku menjelaskan, tiba-tiba Papa mengambil bukuku dan SREEEK! Malam yang tenang itu berubah menjadi mimpi buruk bagiku. Aku masih terpaku di tempatku, menatap lembaran-lembaran kertas yang berserakan di lantai, hancur dirobek begitu saja oleh Papa.

“Kamu itu terlahir dari keluarga orang kaya, jadi kamu tidak perlu bersusah payah untuk kuliah. Kamu hanya cukup meneruskan bisnis kosmetik yang sudah Mama kembangkan bertahun-tahun,” ujar Mama dengan nada datar, seolah impianku tidak berarti apa-apa.” Aku menatap Mama dengan mata berkaca-kaca. “Tapi, Ma aku ingin kuliah.”

Papa mendengus sebelum menimpali, “Papa dan Mama tidak ingin kamu bekerja keras untuk berkuliah. Kamu hanya cukup bersantai saja setelah lulus SMA dan melanjutkan bisnis Mamamu.” Aku mengepalkan tangan di atas meja, jemariku bergetar hebat. “Aku tahu kalau aku terlahir di keluarga kaya, tapi apakah itu berarti aku harus mengorbankan mimpiku sendiri?” Suaraku lirih, namun penuh luka. Aku mengangkat wajah, menatap mereka dengan mata yang kini dipenuhi oleh air mata.

Tangisku belum juga mereda, Papa menatapku tajam. Dengan suara dingin, ia berkata, “Memang apa impianmu? Biar Papa bantu untuk mewujudkannya. Papa punya banyak kenalan dan Papa bisa menyuruh mereka untuk menerimamu. Kamu bisa mewujudkan impianmu dengan mudah.”

Dalam tatapan penuh air mata, aku menatap Papa. Ada jeda beberapa detik sebelum aku menggeleng. “Aku tidak ingin menggunakan cara seperti itu, Pa,” suaraku bergetar, tetapi penuh ketegasan. “Itu tidak baik, Pa. Lebih baik aku berusaha sekuat tenaga meskipun hasilnya gagal, daripada aku tidak pernah berusaha sama sekali.”

Papa terdiam sejenak, matanya menajam. Wajahnya yang semula datar berubah merah karena amarah yang tak terhankan. “Dasar anak tidak tahu terima kasih!” suaranya menggelegar, membuat jantungku berdebar kencang. “Papa sudah memberikanmu jalan yang mudah, tapi kamu masih memilih jalanmu sendiri! Kalau begitu, mulai sekarang semua fasilitas yang kami berikan mulai dari kosmetik, hp, hingga fasilitas sopir pribadi akan kami sita!” Papa melanjutkan dengan nada yang semakin tajam. “Kamu bisa mendapatkan segala fasilitas itu lagi kalau kamu memilih untuk bekerja setelah lulus SMA,” tambahnya, suaranya lebih dingin dari sebelumnya.

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Papa berbalik dan keluar dari kamar, diikuti oleh Mama yang hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pintu kamar tertutup dengan keras, meninggalkan suasana keheningan yang menyakitkan

Aku duduk di tempat tidur, air mataku mengalir deras tanpa bisa kuhentikan. Aku menggegam ujung selimut, menutup wajahku yang basah oleh tangis. Rasa lelah perlahan menguasai tubuhku. Tanpa kusadari, dalam isakan tangis yang belum reda, mataku semakin berat hingga akhirnya aku tertidur lelap.

Keesokan paginya, aku terbangun dengan kelopak mataku yang masih sembab akibat tangisan semalam. Dengan enggan, aku bangkit dari tempat tidur, mencoba mengumpulkan tenaga untuk bersiap ke sekolah.

Saat aku hendak menyiapkan buku-buku pelajaran, pandanganku tertuju pada buku materi olimpiadeku yang robek dan tak berbentuk. Aku menggigit bibir bawahku, mencoba menahan air mata yang kembali menggenang. Namun, meskipun terasa begitu sulit, aku harus tetap berangkat ke sekolah.

Saat tiba di sekolah, aku berjalan lesu menuju kelas. Namun, langkahku terhenti ketika seorang guru menghampiriku. “Anastasia, bagaimana progres belajarmu untuk olimpiade?” tanya beliau dengan senyum penuh harap. Aku menundukkan kepala, menggenggam erat tali tas di pundakku. “Buku yang sering saya gunakan untuk belajar sudah disobek oleh Papa tadi malam.”

Guruku terdiam sejenak. Matanya melihat terkejut, tetapi kemudian ia menarik napas panjang dan menatapku dengan penuh keyakinan. “Anastasia, jangan biarkan kejadian ini menghancurkan semangatmu. Kamu anak yang pintar dan punya tekad yang kuat. Buku itu hanya alat, tetapi kemampuan ada dalam dirimu. Kamu pasti bisa memenangkan olimpiade ini dan bisa mendapatkan golden ticket.” Aku menatap guruku dengan mata berkaca-kaca. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan mengganguk. “Terima kasih, Pak. Aku akan berusaha,” kataku dengan suara yang masih bergetar. Aku menarik napas panjang dan perlahan melangkah masuk ke dalam kelas.

Aku duduk di bangkuku, menatap kosong ke papan tulis di depan kelas. Suara guru yang menjelaskan materi seakan hanya menjadi dengungan samar di telingaku. Tanganku menggegam bolpoin, tetapi tidak ada satu pun catatan yang kutulis di buku. Di kejauhan, Bella memperhatikanku. Meskipun kami tidak duduk sebangku, ia bisa melihat bahwa aku sedang sedih.

Saat jam istirahat tiba, Bella langsung menghampiriku. “Yuk, ke kantin!” ajaknya dnegan senyum cerah, berusaha menghiburku. Aku menghela napas, lalu mengganguk pelan. Kami berjalan bersama menuju ke kantin, tetapi sebelum sampai, aku tidak bisa menahan diri untuk menceritakan kejadian tadi malam tentang bagaimana buku olimpiadeku dirobek, melarangku menggunakan fasilitas mereka, dan tentang betapa hancurnya perasaanku saat ini. Bella mendengarkan dengan seksama, wajahnya menunjukkan ekspresi prihatin. Namun, sebelum Bella bisa berkata lebih banyak, seorang guru tiba-tiba memanggilku. “Anastasia bisa kesini sebentar. Aku menoleh dan melihat guru yang menawariku untuk mengikuti olimpiade berdiri tidak jauh dari kami. Dengan sedikit penasaran, aku melangkah mendekat. “Ya, Bu ada apa?” tanyaku sopan.

Guru itu tersenyum sebelum akhirnya berkata, “Saya dan para guru lainnya sudah berdiskusi. Kami ingin membantumu. Kami menawarkanmu kesempatan untuk mengikuti kelas bimbingan olimpiade di salah satu bimbel terbaik dekat sekolah. Kelas ini gratis, semua biaya akan ditanggung oleh sekolah.” Aku terkejut. “Benarkah, Bu?” Guru itu mengganguk. “Kami tahu betapa kamu ingin memenangkan olimpiade ini dan kami percaya kamu bisa. Jadi bagaimana? Apakah kamu bersedia?” Tanpa pikir panjang, aku langsung mengganguk dengan penuh semangat. “Tentu saja, Bu! Terima kasih banyak!”

Guru itu mengganguk puas. “Bagus. Kami percaya padamu, Anastasia.” Aku menggegam tangan Bella dengan erat dan menuju ke kantin dengan perasaan yang bahagia.

Waktu berlalu begitu cepat, hari ini adalah hari yang kutunggu-tunggu karena hari ini merupakan hari dimulainya olimpiade. Para guru dan kepala sekolah sudah bersiap mengantarkanku ke lokasi. Aku masuk dalam mobil bersama mereka, hatiku berdebar antara gugup dan antusias.

Begitu tiba di lokasi olimpiade, para guru tersenyum penuh dukungan. Kepala sekolah menepuk pundakku. “Kami percaya padamu, Anastasia. Tidak perlu takut, lakukan yang terbaik.” Aku mengganguk, menelan rasa gugup yang mulai menjalar di dadaku. “Terima kasih, Bapak, Ibu. Saya akan berusaha semaksimal mungkin.”

Lima menit lagi babak penyisihan akan dimulai. Aku menarik napas dalam-dalam dan menuju ke ruangan olimpiade. Tak lama, panitia berdiri di depan dan berbicara melalui mikrofon. “Selamat datang di babak penyisihan. Waktu pengerjaan di babak ini adalah 1 jam. Harap kerjakan dengan jujur dan sebaik mungkin. Hasil penyisihan akan diumumkan 2 jam setelah babak penyisihan selesai. 5 peserta dengan nilai tertinggi akan langsung masuk ke babak final, sedangkan untuk peserta yang lain hanya dipilih 50 peserta yang berhak lanjut ke babak semifinal. Selamat mengerjakan!”

Saat waktu pengerjaan dimulai, aku menarik napas dalam-dalam dan mulai membaca soal dengan teliti. Waktu terus berjalan. Aku mengisi lembar jawaban dengan hati-hati dan memastikan tidak ada yang terlewat. Hingga akhirnya, waktu pengerjaan berakhir. “Waktu habis! Silahkan letakkan alat tulis anda dan berhenti menulis,” suara panitia terdengar melalui  mikrofon.

Aku tidak tahu apakah aku berhasil mendapat nilai tertinggi, tetapi setidaknya aku telah melakukan yang terbaik. Kini aku hanya bisa menunggu hasilnya yang akan diumumkan pukul 10.00.

Setelah keluar dari ruang ujian, aku kembali ke tempat para guru menunggu. “Bagaimana, Anastasia? Apakah soalnya sulit?” salah satu guru bertanya dengan nada penasaran. Aku tersenyum, masih dengan napas yang belum sepenuhnya stabil. “Alhamdulilah, aku berhasil menjawab semua soal dengan lancar,” jawabku dengan penuh syukur.

Tibalah waktu pengumuman babak penyisihan. Suasana di aula tempat olimpiade mendadak hening. Aku bisa merasakan jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. “Lima peserta dengan nilai tertinggi yang langsung melaju ke babak final adalah…” suara panitia menggema di seluruh ruangan. “Dan peserta dengan nilai tertinggi… Anastasia Valencia Aurelia!”

Aku terpaku di tempat. Aku mendapat nilai tertinggi? Sejenak aku merasa tak percaya, tetapi begitu melihat ekspresi bahagia para guru dan kepala sekolah yang langsung berdiri dan bertepuk tangan, aku sadar bahwa ini bukan mimpi. ”Alhamdulilah!” bisikku pelan, mataku mulai berkaca-kaca karena bahagia

Setelah semua pengumuman telah disampaikan panitia, panitia memberikan informasi tambahan. “Bagi 5 peserta yang langsung masuk ke babak final, kalian diperbolehkan meninggalkan tempat olimpiade untuk beristirahat dan diharapkan kembali sebelum pukul 15.00 untuk babak final.” Mendengar itu, kepala sekolah dan para guru berinisiatif mengajakku keluar untuk merayakan keberhasilanku. “Ayo, Anastasia! Kita makan bersama! Ini pencapaian luar biasa yang harus dirayakan!” ajak salah satu guru dengan antusias. Aku mengganguk dengan penuh semangat.

Setelah puas makan siang bersama dan berbincang, kami pun kembali ke tempat olimpiade. Begitu tiba, kami langsung melihat daftar nama peserta dari semi final yang berhasil lolos ke babak final. Kini menyisakan 10 peserta di babak final dan hanya akan ada 1 pemenang yang berhak mendapat golden ticket. Aku mengepalkan tanganku. “Aku sudah sejauh ini, aku tidak boleh menyerah!”

Pukul 14.45, panitia mengumumkan bahwa babak final akan segera dimulai dan para peserta final diharapkan berkumpul di belakang panggung untuk mendengarkan mekanisme final. Para guru memberikan semangat padaku. “Semangat, Anastasia! Kami selalu mendukungmu!” seru mereka penuh antusias. Aku mengganguk mantap, lalu segera menuju ke belakang panggung.

Panitia mulai menjelaskan kepada para peserta. “Final terdiri dari 2 babak yaitu babak jawab cepat dan studi kasus. Pada babak pertama, kalian akan menjawab 30 soal dengan menekan tombol secara cepat. Kemudian 6 peserta dengan poin terendah tidak bisa melanjutkan ke babak kedua.”

Setelah menjelaskan mekanisme untuk babak pertama, panitia mempersilahkan peserta untuk menuju ke panggung. Aku melangkah dengan penuh keyakinan, berdiri di tempat yang telah ditentukan, dengan tombol untuk menjawab di depanku. Babak pertama dimulai. Soal-soal dibacakan dengan cepat dan aku berusaha tetap fokus menakan tombol dengan cepat setiap kali merasa yakin dengan jawabanku. “Soal terakhir!” seru panitia. Aku menarik napas panjang, lalu menjawab dengan keyakinan penuh.

Sejenak suasana terasa hening sebelum layar besar menampilkan hasil akhir. Ketika hasil perlombaan muncul di layar besar, mataku terpaku. Aku berhasil meraih posisi kedua dan berhak melaju ke babak selanjutnya. Para guru bersorak, memanggil namaku dengan penuh semangat. Aku tersenyum lega, tetapi perjuangan belum selesai.

Panitia mulai membacakan peraturan babak kedua secara singkat. “Di babak ini, akan ada 10 soal studi kasus. Setiap peserta akan diberikan kesempatan menjawab secara bergantian. Jawaban akan dinilai berdasarkan ketepatan dan kedalaman analisis. Skor tertinggi di akhir babak ini akan menjadi pemenang olimpiade ini.”

Babak kedua dimulai. Satu per satu soal dibacakan. Aku fokus, mencoba menyusun argumen yang tepat untuk setiap studi kasus yang diberikan. Kini hanya tersisa 1 soal terakhir. Aku melirik papan skor dan aku berada di posisi ke 2 dengan total poin yang didapat sama dengan peserta lain yang berada di posisi ke 1. Panitia membacakan soal terakhir dan mempersilahkanku menjawab lebih dulu. Aku menarik napas panjang, lalu mengungkapkan jawabanku dengan jelas dan sebaik mungkin.

Setelah semua peserta menjawab, suasana hening sejenak. Juri berdiskusi, lalu mengangkat papan skor. Peserta di peringkat 1, 3, dan 4 memperoleh 50 poin. Aku mendapatkan 100 poin. Aku terpaku sejenak, lalu tersadar aku menang! Dengan total 850 poin, aku resmi menjadi juara olimpiade.

Sorakan menggema di ruangan. Para guru dan kepala sekolah bertepuk tangan dengan penuh kebanggaan. Aku tidak bisa menahan haru, air mata mengalir deras saat aku bersujud syukur. Panitia bersiap memberikan hadiah. Aku maju dengan langkah gemetar, menerima hadiah sejumlah uang, piala, dan yang paling penting golden ticket ke salah satu universitas terbaik di Asia Tenggara. Setelah pengumuman pemenang selesai, aku turun dari panggung dan disambut oleh para guru yang telah mendukungku selama ini. Mereka memelukku dengan bangga dan tanpa bisa kutahan, air mataku kembali mengalir. Namun kali ini bukan karena kesedihan, melainkan kebahagiaan. Setelah momen penuh haru itu, kami bersiap untuk pulang. Aku duduk di dalam mobil bersama para guru, memandangi piala dan golden ticket di pangkuanku.

Waktu berlalu begitu cepat. Semua persiapan untuk berkuliah di luar negeri telah selesai diurus oleh panitia, dan kini tibalah hari kelulusanku. Senyum terukir di wajah para guru yang telah mendukungku selama ini. Aku tahu, mereka lebih sekadar guru mereka adalah keluargaku.

Malam harinya, di hari kelulusanku, saat kedua orang tuaku terlelap, aku diam-diam mulai menyiapkan barang-barang yang akan kubawa. Aku telah mengambil keputusan untuk pergi tanpa berpamitan. Aku tidak ingin pertengkaran atau hal lain yang menghalangiku meraih masa depan.

Setelah memastikan semuanya siap, aku perlahan keluar melalui pintu belakang. Di sana, mobil guruku sudah menunggu. Para guru memberikan senyuman hangat, memberi isyarat agar aku segera masuk. Sesampainya di bandara, para guru memberikan pesan terakhir. Salah satu dari mereka berkata, “jangan pernah takut untuk melangkah, Anastasia. Dunia ini luas dan kamu memiliki tempat di dalamnya. Gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.” Aku mengganguk penuh haru, menahan air mata yang hampir jatuh. Aku memeluk mereka satu per satu sebelum akhirnya melangkah masuk ke pesawat.

Semasa kuliah, hidupku benar-benar berubah. Aku mulai memahami arti pentingnya pendidikan dan bagaimana ilmu mengubah nasib seseorang. Kini aku telah menuangkan seluruh kisah perjalananku dalam buku ini. Buku yang berjudul “Mimpi di Balik Tembok Emas”.

 

Kenalin aku Roby Andyka Pratama biasa dipanggil Roby. Meskipun aku bisa dibilang penulis pemula, tetapi aku ingin membuat cerita yang tidak hanya bagus untuk dibaca tetapi mengandung makna yang berguna bagi para pembaca cerpen. Oleh karena itu, aku siap belajar untuk menjadi penulis cerpen yang lebih baik.

Instagram: @roby.a19_

 

Penulis: Roby Andyka Pratama

Penyunting: Kayla Ghifari Ahmad

Penyelaras Bahasa: Muhammad Raihan Ramadhan

Lewat Lima – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Oleh: Della Nur Khofiah

8 Maret 2025 22.07 WIB

 

Aku selalu percaya bahwa waktu adalah hal yang bisa kita kendalikan. Dalam rutinitas harian, jam adalah teman yang tidak pernah salah. Setiap pagi, aku bangun dengan suara alarm, mereset detik demi detik ke dalam jadwal yang telah tersusun rapi. Pekerjaan, makan, tidur—semua sudah direncanakan.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah bisa kukendalikan, sesuatu yang semakin sering terjadi belakangan ini. Sesuatu yang terasa aneh, tetapi tetap tidak bisa kuhindari.

Lewat lima.

Itu dimulai dengan angka-angka yang kuperhatikan secara kebetulan.

Pukul 07:05, saat aku membuka mata di pagi hari, dan dengan cepat menyelesaikan rutinitasku. 13:05, ketika aku menatap layar ponsel yang hampir selalu aku abaikan. 19:05, saat aku menatap jam di komputer kantor, tepat setelah menyelesaikan pekerjaan. Semua terjadi begitu saja seperti perasaan biasa yang datang tanpa aku sadari.

Tapi kemudian aku mulai menyadari bahwa ini bukanlah sebuah kebetulan.

Kali pertama aku melihatnya, aku masih bisa menganggapnya tidak lebih dari sekadar kebetulan. Namun, ketika setiap kali aku melihat angka itu di layar ponsel, di jam dinding, di monitor komputer, aku merasa ada yang tidak beres. Aku tidak mengerti mengapa, tapi perasaan itu tumbuh perlahan, menambah beban dalam pikiranku.

Aku mencoba untuk tidak peduli.

Lama-kelamaan, aku mulai merasa terjebak dalam lingkaran waktu itu, seperti tak ada jalan keluar. Aku melepas jam tanganku, mengganti pengaturan ponsel agar tidak menampilkan waktu. Aku bahkan mencoba untuk tidak melihat jam sama sekali.

Tapi entah mengapa, waktu itu tetap muncul. Bahkan, di saat yang paling tidak terduga.

Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa ini semua hanya kebetulan.

Namun, semakin hari, semakin banyak hal aneh yang terjadi. Waktu itu, angka 05—tidak hanya muncul di jam-jam biasa. Sekali lagi, saat aku berjalan keluar dari kantor, mataku tertarik pada jadwal keberangkatan bus digital: 11:05.

Aku sudah mulai gelisah. Aku tak tahu mengapa, tapi setiap kali aku melihat angka itu, ada perasaan yang menyelusup dalam diriku. Ada suatu yang kurasa tidak biasa. Ada ketidaknyamanan yang menggantung.

Malam hari, aku mendapat panggilan telepon misterius. Tidak ada suara di ujung lain, hanya desisan yang samar. Aku tidak tahu siapa yang menelepon, tetapi ada pesan yang terdengar jelas dalam desisan itu, seperti sebuah peringatan.

“Waktu kamu semakin dekat.”

Aku terdiam, merasa perasaan itu semakin kuat. Ada yang mengawasi, ada yang mengatur setiap langkahku, dan apakah itu semua berhubungan dengan angka 05? Apa yang terjadi? Apa yang harus kulakukan? Semakin aku mencari tahu, semakin aku merasa terperangkap dalam sebuah misteri yang tidak bisa aku hindari.

***

Saat aku bertemu Damar, aku merasa sedikit lega. Damar adalah teman lama yang sudah terbiasa dengan kegelisahanku. Aku sering meluapkan segala hal yang menggangguku padanya, terutama ketika aku merasa cemas atau khawatir tentang sesuatu yang tidak bisa kutangkap dengan logika.

Hari itu, aku sedang duduk di kedai kopi yang tidak jauh dari kantorku, menatap ponselku yang terus bergetar, lalu menatap jam di dinding. 19:05.

Damar datang, wajahnya tampak lelah setelah seharian bekerja. Tanpa basa-basi, dia duduk di seberangku dan memesan kopi hitam. Biasanya, Damar akan langsung mengajukan pertanyaan tentang keadaan, tapi kali ini, aku yang lebih dulu membuka percakapan.

“Apa menurutmu ini aneh?” tanyaku, sambil menunjuk layar ponselku yang menunjukkan angka 19:05.

Damar menatapku sejenak, lalu mengangkat alis, seperti biasa. “Kau hanya terlalu banyak berpikir,” katanya sambil menyesap kopinya tanpa menatapku.

“Tapi ini terjadi berulang kali,” jawabku, menahan napas. “Setiap kali aku melihat angka itu, 05. Rasanya seperti ada yang mengamatiku, mengendalikan waktu.”

Dia tersenyum tipis, seperti selalu. “Jangan-jangan, ini pertanda jodoh.”

Aku mendengus pelan, tidak tahu apakah harus tertawa atau merasakan kelegaan. Keinginan untuk percaya pada kebetulan itu perlahan memudar. “Aku tidak tahu mana yang lebih buruk,” kataku, “kalau ini kebetulan, atau kalau memang ada sesuatu yang sedang terjadi.”

Damar menoleh, melihatku dengan penuh perhatian. “Coba berpikir tenang,” katanya. “Mungkin kamu sedang overthinking, atau mungkin… ya, ini bisa jadi pertanda. Atau bisa juga karena kamu terlalu memfokuskan perhatian pada angka itu.”

Aku terdiam. Aku ingin percaya bahwa semua ini hanya kebetulan. Namun, setiap kali aku mencoba mengabaikannya, waktu itu tetap datang kembali.

***

Pernahkah kau merasa seolah-olah segala sesuatu yang terjadi di sekitarmu telah diatur, tetapi dengan cara yang tak bisa kau mengerti? Rasanya seperti ada yang mengawasi, ada yang menggerakkan jarum jam itu tanpa kau bisa menghentikannya.

Pada suatu malam, aku terbangun dengan perasaan tak menentu. Aku mencoba untuk tidur lagi, tetapi entah mengapa mataku terbuka tepat pada saat 03:05.

Mimpi itu datang, seolah-olah dia menunggui.

Aku berada di sebuah lorong panjang, dengan lampu-lampu gantung yang hanya menerangi sebagian kecil dari ruangan yang tak berujung. Ada langkah kaki, tapi bukan dari arahku. Aku menoleh, dan lorong itu tetap kosong. Suasana mencekam semakin terasa, seolah-olah ada sesuatu yang mengikuti.

Di ujung lorong, ada sebuah jam besar yang berdetak perlahan, dan aku merasa ada sesuatu yang memanggilku untuk mendekat. Aku tak bisa menahan langkahku, meskipun tubuhku menolak.

Jarum jam itu bergerak lambat, detik demi detik, dan kemudian berhenti di angka 04:59.

Kudengar detikan jam itu. Lebih keras, semakin nyata.

Lalu, tepat saat jarum itu bergerak ke angka 05:00, aku mendengar suara ketukan di belakangku.

Aku terbangun dengan napas terengah, mataku melirik jam di meja.

03:05.

***

Semakin aku mencoba untuk mengabaikan hal ini, semakin aku merasa terperangkap. Ketenangan yang dulu kurasakan, kini terasa rapuh. Setiap detik seakan memburuku, mengejarku tanpa ampun.

Aku memutuskan untuk mencari tahu lebih jauh tentang angka itu. Berbagai pencarian di internet tidak membantuku. Aku tidak menemukan apa pun yang menjelaskan apa yang sedang terjadi. Tapi entah mengapa, aku merasa seolah-olah ini bukan sekadar angka biasa. Ini adalah pesan yang lebih besar—pesan yang datang dari luar kemampuan manusia untuk mengerti.

Aku berusaha tidur malam itu dengan lampu menyala. Namun, pukul 23:05, suara ketukan itu datang lagi. Tidak keras, tetapi cukup jelas untuk membuatku terjaga. Aku menahan napas, berusaha mendengar lebih jelas.

Ketukan itu berhenti, dan aku mendengar getaran ponselku. Sebuah pesan dari nomor yang tidak ku kenal:

“Kau melihat jam lagi, bukan?”

Aku hanya menatap pesan itu. Tidak ada yang bisa kukatakan.

Aku menoleh ke arah jam di dinding. 23:05.

Waktu itu semakin terasa lebih dekat, lebih kuat, seperti sesuatu yang sedang mengikatku dengan ketat. Aku tahu seharusnya aku tidak membuka pintu, tetapi rasanya, ada yang menuntutku untuk melakukannya. Keingintahuan itu lebih kuat dari segalanya.

Aku membuka pintu dengan tangan gemetar.

Dan apa yang kulihat di depan mataku membuat tubuhku kaku—di lantai, ada sebuah jam saku.

Jarumnya berhenti di angka 05.

Aku terdiam, tak bisa bergerak. Lampu apartemenku padam.

Ponselku bergetar lagi. Pesan baru dari nomor yang sama.

“Waktunya habis.”

***

Keesokan harinya, Damar mengetuk pintu apartemenku, tapi tidak ada jawaban.

Ia menelepon, mengirim pesan, bahkan meminta bantuan satpam untuk membuka pintu. Namun, ketika mereka masuk, tidak ada jejak keberadaan diriku. Ponselku tergeletak di depan pintu, layar menyala. Sedangkan semua barangku yang lain tetap ada di tempatnya.

Pak satpam mengernyit. “Di mana temanmu?”

Damar tidak menjawab. Tenggorokannya terasa kering. Ada sesuatu yang janggal, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Kemudian, tiba-tiba, Pak satpam menepuk bahunya. “Nak, saya rasa saya harus pergi. Ada tugas lain. Temanmu mungkin sedang keluar dan lupa membawa ponsel. Kalau terjadi apa-apa, lapor saja ya, Nak.”

Damar menoleh, tetapi dalam sekejap, Pak satpam sudah melangkah pergi dengan tergesa. Langkahnya semakin cepat, hampir seperti berlari. Pintu apartemen tertutup pelan di belakangnya, menyisakan Damar sendirian dalam keheningan yang dingin.

Damar merasakan keringat dingin merayap di tengkuknya.

Ponselnya bergetar, sebuah pesan baru dari nomor yang tak dikenal.

“Kau melihat jam lagi, bukan?”

Ia tidak berani menatap layar, tetapi matanya, tak sengaja, melirik ke arah jam di dinding.

19:03.

Lalu, ketukan terdengar dari pintu depan.

Pelan.

Teratur.

Damar menelan ludah. Jari-jarinya gemetar. Tanpa sadar, matanya melirik lagi ke arah jam di dinding.

19:05.

Ketukan itu terdengar lagi, semakin keras.

Damar mundur selangkah, lalu dua langkah. Napasnya tersengal saat suara gedoran semakin beringas, seolah-olah sesuatu di balik pintu ingin menerobos masuk dengan paksa.

Ketukan itu terus menggema, mengguncang dinding-dinding apartemen.

Lalu, di sela kepanikan, Damar mendengar sesuatu.

“Buka pintunya! Apa kau ada di dalam? Ini aku!”

Suaranya sendiri.

 

Della Nur Khofiah, mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2023 di Universitas Negeri Surabaya, selalu menemukan cerita dari pengalaman, mimpi, atau bahkan pemikiran yang tiba-tiba muncul. Menyukai genre romance, namun suka menulis genre thriller psikologis. Lahir dan dibesarkan di Jombang, terus belajar dan mencari cara terbaik untuk menuangkan ide-ide dalam tulisan.

Instagram: @everyyd_

 

Penulis: Della Nur Khofiah

Penyunting: Kayla Ghifari Ahmad

Penyelaras Bahasa: Muhammad Raihan Ramadhan

Taburan Bunga – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Taburan Bunga

Karya: Nymas Meylanie (Anggota UKIM)

“Memang sudah menjadi kebiasaan bagi manusia untuk datang, dan pergi walaupun hanya sebentar atau selamatanya”.

Germelap awan putih dengan paduan langit biru muda, yang menggambarkan suasana hatiku pada hari ini. Hari terpenting untukku yang merupakan seorang mahasiswa bahkan untuk mahasiswa lainnya, apalagi kalau bukan wisuda. Aku sudah berjuang sangat keras untuk mendapatkan gelar sarjana ku dan untuk mendapatkan hati seorang pria yang sangat ku cintai. Cukup panjang untukku ceritakan tentang perjuanganku, tapi saat ini aku sedang menunggunya.

“Zira, apa kau tidak ingin berfoto bersama sahabatmu ini” ucap Bella yang merupakan sahabatku.

“Boleh, tapi aku ingin berfoto dengannya terlebih dahulu” balasku. “Apa Zidane datang kemari?” tanya sara yang baru datang.

“Tentu, dia sudah berjanji untuk datang kesini”. Ucapku yang langsung disambut ejekan oleh mereka untuk menggodaku. Tak lama aku mendapat pesan dari Zidane. Bahwa aku harus nemuinya didepan gerbang kampus. Segera aku berpamitan kepada sahabatku dan berjalan menuju depan gerbang kampus. Tak lama aku melihat seorang pria yang berdiri disebrang sana sambil membawa sebuah buket bunga matahari dan melambaikan tangannya ke arahku, siapa lagi jika bukan Zidane. Aku tersenyum ke arahnya, aku sangat bahagia sampai aku berlari ke arahnya tanpa melihat keadaan jalan raya yang cukup ramai. Tanpa kusadari saat aku berlari ke arahnya, ada sebuah sepeda motor dengan kecepatan kencang menuju ke arahku.

BRAK….

“ZIRA” teriak Zidane yang melihat ku ditabrak oleh kendaraan. Kendaraan itu saat kencang hingga membuat tubuhku melayang cukup jauh dari arahku berdiri, kepala ku sempat terbentuk trotoar bahkan kepala ku mengeluarkan darah. Namun padangan ku masih mencari Zidane.

Disisi lain, Zidane sangat khawatir akan keadaan ku. Dia berlari ke arahku dengan masih menggenggam buketnya, namun dari arah berlawanan ada sebuah sepeda motor yang cukup

kencang akan menabraknya. Tapi dia bisa menghindarinya, namun dibelakangnya ada sebuah mobil yang melaju dengan cepat.

BRAK…..

mobil itu menabrak seorang pria. Sehingga membuatnya melayang dengan sangat jauh, buket yang dibawanya melayang bersama nya, yang membuat seluruh jalan itu penuh dengan taburan bunga. Mataku masih setengah sadar saat melihatnya, dan ada bunga yang jatuh ditelapak tangan ku, lalu aku menggenggam bunga itu, dengan air mataku yang turun, seketika semua menjadi gelap dan suara ambulans pun terdengar samar ditelinga ku. Dan kami berdua dilarikan ke rumah sakit.

Sedari tadi air mataku tak pernah berhenti untuk mengalir dari kedua kelopak mataku. Kedua bola mataku memandangnya, seolah aku bisa melihat wajahnya yang membuat hatiku selalu merasakan ketenangan, senyumnya bagaikan rembulan, matanya yang menenangkan. Namun kali ini berbeda, semua yang selalu kulihat tertutupi oleh sebuah gundukan tanah, bahkan aku hanya bisa melihat namanya yang terukir di atas batu. Aku tersenyum melihatnya yang sudah merasakan ketenangan, namun hatiku sangat merindukannya.

“Bolehkah sekali saja aku melihat senyum itu, wajah itu, bahkan kedua bola matanya yang menenangkan”. Ucapku didepan makamnya dengan Isak tangisku. Aku menatap batu nisan yang terukir sebuah nama ZIDANE RAHARDIKA. Tak kuat menahan tangisku aku memeluk makam itu dengan menangis sejadi jadinya. Dan dalam tangisku Aku teringat kembali kejadian 10 tahun yang lalu. Dimana pria yang tertabrak itu adalah Zidane. Kami berdua bisa selamat, tapi Zidane mengalami benturan yang cukup keras sehingga membuatnya untuk melakukan operasi. Sedangkan aku mengalami koma selama 2 Minggu. Saat aku terbangun hanya Zidane yang kucari, namunaku tidak menemukannya. Dan aku bertemu dengan Rafi yang merupakan dokter yang merawat ku. Aku bertanya kepada semua orang tentang Zidane, tapi mereka semua hanya diam saja. Aku mulai curiga, dan aku bertanya kepada dokter Rafi. Dan apa yang diceritakan membuatku terkejut, bahwa Zidane meninggal dunia karena operasinya gagal, bahkan sebelum operasi Zidane memberikan ginjalnya kepada ku agar aku bisa selamat, karena sudah lama aku hidup dengan satu ginjal. Mengingat nya membuat ku tak kuasa untuk menghentikan tangisku. Hingga seseorang membangunkan dan menenangkan ku dengan memelukku.

“Sayang”. Ucap seseorang yang membangunkan ku dan memelukku “jangan bersedih, Zidane sudah tenang disana” ucap dokter Rafi yang merupakan suamiku, iya aku menikah dengan nya.

“Tapi jika kejadian itu tidak terjadi mungkin dibatu itu bukan nama ZIDANE yang terukir tapi namaku”. Ucapku dengan menangis dipeluknya.

“Tidak, ini sudah menjadi takdir” ucap Rafi yang merupakan suamiku.

“Ayah, ayah. Kenapa bunda menangis, dan kenapa bunda selalu datang kesini” tanya gadis kecil yang berusia 5 tahun.

“Apakah kamu tidak ingin menceritakan kepada putri kecilmu sayang”. Ucap pria itu yang merupakan suamiku. Aku langsung menatap putriku dan memeluknya.

“Zahra sayang, dia adalah seseorang yang sangat bunda cinta i sebelum ayahmu, dia cinta pertama bunda”. Ucapku dengan menatap makamnya. Putriku hanya mengangguk saja, dan aku tidak tahu apa dia mengerti ucapan ku atau tidak, tapi dia berdiri dan memberikan Bunga Matahari disebelah batu nisan Zidane. Lalu kamie bertiga pergi dari pemakaman.

Dia Yang Hilang – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Dia Yang Hilang

Karya: Adinda Miranda (Anggota UKIM)

“Lagi dan lagi aku terjebak oleh perasaanku sendiri, perasaan serba salahku terhadap dirinya. Coba saja pada hari itu aku tidak menerima kehadirannya di hidupku, mungkin aku tidak akan sepatah hati ini. Dia lelaki yang memenuhi isi pikiranku selama 6 tahun ini,” renungku. Aku tersentak ketika sebuah tangan melingkar dengan lembut di pinggangku, aku pun menoleh dengan senyuman manisku kepadanya. “Ihh…kamu ini ya kebiasaan banget bikin aku kaget tau,” protesku kepadanya. Dia yang mendengarkan keluhanku hanya menampilkan cengerin khaass nya agar aku luluh. Dia pun menggenggam erat tanganku seakan aku bisa kapan saja pergi meninggalkannya. Kami berdua pun berjalan beriringan, langkah demi langkah menelusuri jalanan sepi, hanya tampak beberapa kendaraan saja yang berlalu lalang.

tess…teess…tess…

Rintik hujan pun mulai berjatuhan membasahi bumi, kini orang orang berhamburan mencari tempat untuk berteduh. Malam yang sepi kini ditemani oleh rintihan hujan. Aku tersenyum merasakan rambutku kini mulai basah, ku genggam erat tangannya karena aku tahu dia membenci hujan. Akhirnya kita memilih berteduh disebuah toko kecil dipenuhi barang barang antik. Tanpa kusadari genggaman tanganku terlepas dari dia, ku telusuri tiap sudut toko ini dan aku terpana oleh satu barang yang menurut sangat indah dan seakan mengingatkan ku akan sosok dia. Aku pun tersadar jika kini tangan ku tlah melepaskan genggamannya segera aku membalikkan badan menghadap dirinya, tampak kulihat dengan jelas tampang datarnya menatap lurus tajam kearahku. Aku berjalan perlahan kearahnya dengan cengiran karena aku tahu dia sangat kesall saat ini. “hehe….sayang maaff ya tadi aku gak sengaja, kamu sihh diem mulu kan jadinya ketinggalan,” bela diriku. Dia semakin menatap tajam kearahku dan dengan santainya mencubit pipiku hingga merah. Aku meringis akibat cubitannya untung saja pipiku ini gembul jadi sakitnya tidak seberapa, lalu akupun memeluk dirinya sangat erat, karena aku tahu dia tidak akan pernah bisa marah kepadaku. Suara gemericik air pun sudah tak terdengar, kami berdua pun melangkahkan kaki meninggalkan toko antik tersebut. Dia yang senantiasa menggenggam erat tangan ku, menemani setiap langkahku.

Lagi dan lagi senyuman terpatri diwajahku, mungkin orang orang yang melihatku saat ini beranggapan aku gila. Aku tertawa sendiri dan yeaahh aku memang gila, gila karena dia membawa separuh jiwa ku pergi ntah kemana. Aku tentu saja mengikutinya kemana pun, akan tetapi malam ini aku merasakan dirinya sedikit aneh. Tidak biasanya ia mengajak ku keluar hanya sekedar jalan jalan saja, karena aku tahu ia lebih menyukai diam dirumah memeluk diriku seharian. “aaahhh….membayangkan itu membuatku ingin kembali kerumah dan mendekapnya untuk diriku,” batinku. Aku pun tersadar dari anganku dan menghentikan langkahku tak lupa menahan tangannya, “sayanggg kamu aneh banget tapi aku suka hehe happy sekali” ucapku sambil bergelayutan manja kepadanya. Kulihat ia tertawa pelan melihat tingkahku yang lucu. Ia mencium pipi serta keningku tak lupa dengan tatapan lembutnya kepadaku. “Jangan pergi….” lirihku. Tatapanku semakin sendu, aku usap pipinya merasakan jemariku yang hangat bersentuhan dengan pipinya. Aku menggelengkan kepala berusaha membuang pikiran buruk yang selalu hinggap dikepalaku. Ia menatapku dengan tatapan penuh akan cinta, tatapan yang lembut, tatapan yang beribu – ribu kali membuatku semakin jatuh dan jatuh semakin dalam akan pesonanya serta senyuman yang tak pernah pudar dari wajahnya. Aku meremat dadaku merasakan nyeri, “kamu jahat….kamu pergi, aku mohon kembali” ucapku didalam hati. Mataku berkaca-kaca kini lambat laun penglihatanku semakin buram, tanganku seakan meraba sekitarku sampai pada akhirnya akupun tersadar dia tak ada lagi dihadapanku. Air mataku jatuh membasahi pipiku, isakan penuh pilu tak dapat ku hindari, aku meraung sungguh betapa sakit hati ini.

Aku merasa badanku bergoyang seakan ada yang mengguncang, samar-samar aku mendengar teriakan seseorang,”kak….kak….kak…..sadar!!!” ucap seseorang. Akupun menoleh kearahnya dengan perasaan tak karuan, aku takut ia akan marah jika aku terus-menerus mengingat sosok itu. Aku menatapnya sekilas, “maafff…..” lirihku. Ia datang memberi sandaran untuk, “tidak apa-apa kak, tapi aku mohon lupakan abang ya. Aku capek lihat kakak seperti ini setiap hari berharap abang akan pulang kepelukan kakak” bisiknya. Aku menggelengkan kepala, “bagaimana bisa aku melupakannya, dia rumahku, dia separuh jiwaku, dia separuh pikiranku, semua tentang dia berada dalam ragaku.” Batinku berkeceramuk. Aku menghela nafas, aku merutuki kebodohan ku ini. Aku masih saja terbayang-bayang tentangnya, ternyata kepergianmu menbuat hidupku semakin berantakan. Aku tertawa mengingat semua ucapanmu sayang, kamu yang berjanji, kamu yang memohon agar aku tetap bersamamu, akan tetapi kamu yang melanggarnya, kamu pergi meninggalkanku hahaha. Aku menatap langit yang kelam, ku pejamkan mata dan aku memohon kepada Tuhan, “Tuhan tolong bawa kembali ia kepadaku dengan rasa sayang dan cinta yang takkan pernah pudar untukku.” Aku pergi dari tempat itu dan berkata, “Aku menunggumu disini.

Perjalanan Pulang Menuju Ingatan – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Perjalanan Pulang Menuju Ingatan

Karya: Afifah Rahmawati (Anggota UKIM)

Aku berjalan dengan langkah sedikit gontai, menuju salah satu kamar inap di Rumah Sakit Jiwa Cinta Kasih yang sudah sering aku kunjungi. Langkahku berhenti di depan pintu kamar, tanganku meremat plastik berisi buah yang aku bawa. Wajahku yang awalnya sedikit lelah berangsur kuganti senyum lebar. Tanganku terangkat untuk membuka pintu kamar, mataku langsung tertuju pada pria paruh baya yang tengah diam sambil menatap jendela. Aku kembali berjalan, mendekati ayahku yang masih diam tidak berkutik.

“Selamat siang, Ayah!” Sapaku sambil menaruh buah di atas nakas meja samping tempat tidur.

Ayah melirik dengan wajah penuh tanya, tubuhnya berbalik dan menatapku dalam. “Kamu lagi cari ayahmu, ya?” Tanyanya. Sudah sering aku mendengar pertanyaan ini, namun entah mengapa rasanya hatiku masih mencelos mendengarnya.

“Aah… Iya, nih. Saya lagi cari ayah saya. Udah kangen berat soalnya, pengen cepat-cepat ketemu, hehehe.” Jawabku sambil tersenyum lebar. Ayah ikut tersenyum mendengar perkataanku, hingga jawaban selanjutnya membuatku terdiam.

“Beruntung ya Ayahmu punya anak cantik, manis, dan penyayang kayak kamu. Saya udah lama gak ketemu putri saya, jadi kangen juga.” Ujarnya.

Aku masih terdiam sambil menatap buah apel yang sedang aku kupas, hingga tanganku digenggam Ayah. “Saya boleh minta tolong? Kalau ketemu putri saya, tolong bilangin, Ayahnya kangen, suruh dia jenguk saya di sini. Saya mau minta maaf karena gak bisa jaga ibu dia, saya merasa bersalah sekali.” Ujarnya lagi.

Mataku terasa ingin segera mengeluarkan air mata, tatapanku tertuju pada wajah Ayah yang terlihat memelas. Wajah keriputnya, mata sayunya, dan bibir pucatnya, membuatku semakin ingin menangis detik itu juga. Sudah 3 bulan lamanya Ayah masuk Rumah Sakit Jiwa karena penyakit Demensia Alzheimer yang beliau derita. Selama berada di Rumah Sakit ini pula, Ayah sama sekali tidak mengenalku sebagai putrinya. Dan tidak pernah juga membahas aku, Ayah hanya akan membahas ibu yang sudah 10 tahun lalu meninggal dunia.

Kala itu, duniaku terasa semakin runtuh saat tetanggaku menghubungiku mengenai kondisi ayahku yang nekat minum racun tikus. Aku yang tengah merantau di kota yang jauh dengan segera memesan tiket pulang. Penyesalan terbesarku, rasa sakit hati mengenai kepulangan ibu karena kecelakaan saat naik ojek online. Aku marah kepada Ayah saat mengetahui bahwa Ayah menolak menjemput Ibu saat itu. Hidupku diselimuti kekecewaan kala itu membuatku memutuskan untuk merantau jauh, untuk menghindari Ayah.

Setelah 4 tahun lamanya aku meninggalkan kampung halaman, akhirnya aku kembali dan menemui Ayah yang terlihat berantakan kala itu. Setelah ditangani oleh dokter dan rawat inap

selama 1 Minggu, dokter menyarankan untuk membawa Ayah ke Rumah Sakit Jiwa. Saat itu aku marah, aku merasa bahwa dokter tengah mengejek ayahku, seolah mengatakan bahwa Ayah sudah gila. Hingga sesaat aku terdiam saat dokter mengatakan bahwa ini sudah ketiga kali Ayahku masuk UGD karena memakan dan meminum yang seharusnya tidak dimakan dan diminum. Lantas, aku setuju dan mencoba membawa Ayah ke Rumah Sakit Jiwa.

Duniaku benar-benar hancur saat mengetahui tentang penyakit Ayah, terlebih saat Ayah mulai tidak mengenali siapa aku, selalu menganggapku sebagai orang asing, sesekali mengamuk dan mengataiku karena Ayah menganggap bahwa aku hanya mengaku-ngaku sebagai putrinya. Selebihnya, aku terkadang melihat Ayah berbicara sendiri, seolah-olah tengah berbicara dengan Ibu.

Percakapanku dengan ayah berhenti saat perawat memanggil Ayah untuk melakukan terapi. Perawat tersenyum kepadaku sebelum membawa Ayah pergi ke ruangan terapi. Aku mengikuti dari belakang dan melihat Ayah dari kejauhan. 15 menit berlalu aku melihat proses terapi Ayah guna meningkatkan daya ingat Ayah akhirnya selesai. Beruntungnya, meskipun terkadang mengamuk, Ayah selalu patuh dan menurut saat jadwal terapi dan minum obat. Melihat perilaku Ayah, aku teringat dulu saat Ibuku merawat Ayah yang sedang sakit, aku bisa melihat Ayah selalu berusaha untuk segera sembuh, katanya agar bisa cepat-cepat kerja.

Setelah menyelesaikan terapi, Ayah diantar menuju ruang kumpul bersama para pasien lain.

Aku mengekor di belakang, sampai Ayah berhenti dan menoleh kepadaku

“Sus, tolong bantu dia, katanya lagi cari Ayahnya, kangen katanya. Kasihan dia, siapa tahu Ayahnya juga kangen.” Ujar Ayahku. Aku terdiam mendengar perkataan Ayah, dan melihat perawat yang tersenyum manis kepadaku.

“Loh, bapak kan Ayahnya dia…. Masak putri secantik dia dilupain, sih? Coba diingat-ingat,” Ujar Perawat itu.

Ayah diam, menatapku dari atas sampai bawah yang berakhir membuatku kikuk. Ayah menggeleng pelan dan menatap perawat lagi. “Putri saya lagi marah sama saya, gak mungkin dia datang, maaf saya kan belum tersampaikan. Tolong bantuin dia ya, Sus.” Ucap Ayahku lagi lalu meninggalkan kami berdua.

Aku berdiri kaku sambil meremas rokku, perawat menatapku yang tengah menahan tangis. Dia menghampiriku lalu mengelus punggungku, “Sabar, ya… Pak Suryo sedang masa pemulihan. Trauma dan rasa bersalahnya masih besar, jadi mohon dimaklumi, ya? Terima kasih juga kamu udah mau sabar merawat Ayah kamu. Kamu putri yang baik, terus berjuang, ya? Semoga harapan kamu segera terpenuhi.”

Harapanku kini hanya semoga Ayah cepat sembuh dan kembali mengingatku.

Hari itu aku kembali ke rumah dengan perasaan kacau. Aku melihat suasana rumah yang kini terasa sepi dan dingin, tidak ada lagi suara cerewet dan suara nyanyian Ayah setiap sore di teras

rumah. Sesak yang aku tahan sejak tadi, kini keluar begitu saja, tangisku terdengar kencang dan menggema di dalam rumah. Aku sendirian, tidak pernah terbayang bahwa hidupku akan kesepian seperti ini. Tidak pernah terbayang bahwa aku akan berjuang sendirian, merawat Ayahku yang bahkan sekarang tidak mengenali siapa aku.

ditengah suara tangisku yang kencang, suara ponselku berdering, tertera nomor kontak dari Rumah Sakit Ayahku. Segera aku mengangkat telepon tersebut, suarapanik terdengar dari sana dan detak jantungku kembali berpacu dua kali lipat saat mendengar bahwa Ayah minum super pel dan sekarang berada di UGD. Dengan segera aku melajukan motor, menuju UGD tempat ayahku ditangani. Sesampainya di sana, dapat aku lihat Ayah tengah terbaring diatas bangsal dengan selang oksigen yang tertempel di hidungnya. Aku menangis sambil menggenggam tangan Ayah, rasa takutku kembali terulang, badanku terasa lemas melihat Ayah yang terbujur lemas di atas bangsal. Mulutku berkali-kali mengucapkan kata maaf dan permohonan supaya Ayah bisa selamat.

Tangan Ayah terangkat membalas genggamanku, aku menatap wajahnya yang terlihat pucat itu. Wajahku yang penuh air mata, membuat Ayah ikut menangis. Tangannya kembali terangkat, menghapus jejak air mataku. Tangisku semakin kencang, berkali-kali aku mencium tangan Ayah, mengucapkan terima kasih karena sudah sadar.

“Maafin Ayah, ya….” Ucapnya dengan nada lemah. Aku menggelengkan kepala dengan kuat

“Enggak… Ayu yang minta maaf, maaf Ayu udah ninggalin Ayah, Maaf Ayu biarin ayah sendirian, Maafin ayu udah bikin ayah sakit, maafin Ayu, ya?” Kataku dengan nafas tersenggal.

Ayah kembali menghapus air mataku, terlihat Ayah juga ikut menangis, air matanya mengalir deras hingga membasahi bantal.

“Jangan tinggalin Ayah lagi, ya? Ayah bingung kalau sendirian… Ayah mau berjuang buat lawan sakitnya Ayah, tapi Ayu tolong temenin Ayah, ya?” Ujar Ayah lagi. Aku mengangguk, lalu memeluk Ayah erat.

Setelah hari itu, seperti biasa aku menjenguk Ayah dan membelikan buah kesukaan Ayah, menemani Ayah terapi dan belajar bersama. Hingga Kondisi Ayah mulai membaik dan mulai bisa mengenali aku dan teman-teman pasien yang lain. Ayah juga kembali belajar membaca dan menulis, juga hal-hal yang lain untuk melatih daya ingatnya. Beberapa kali aku merasa kewalahan dengan sikap Ayah yang terkadang berontak, namun untungnya aku bisa mengatasi, aku cukup melakukan apa yang Ibu dan Ayah lakukan saat aku berontak waktu kecil dulu.

Sampai hari itu tiba, Ayah sudah boleh pulang dan melakukan pengobatan rawat jalan saja, sesekali perlu kontrol mengenai kondisi Ayah. Sore itu, Ayah kembali duduk di teras rumah dan kembali bernyanyi seperti dulu. Hatiku merasa hangat mendengar suara merdu Ayah, aku berjalan menuju teras dengan camilan dan juga teh hangat. Sore itu sangat indah, ditemani

langit senja dan juga suara nyanyian Ayah, andai Ibu disini juga, mungkin sore hari terasa lebih hangat lagi.

“Ayu, Ayah mau bilang, makasih ya Ayu udah maafin Ayah dan sabar ngerawat Ayah. Makasih Ayu udah mau berjuang untuk kesembuhan Ayah, dan terima kasih juga doa-doa dari Ayu yang bikin Ayah bisa sembuh. “ Tutur Ayah sore itu. Air mataku seolah ingin keluar, namun aku tahan sebisa mungkin dan balas tersenyum.

“Ayu juga makasih, karena Ayah sudah jadi Ayah Ayu. “ Jawabku sambil menatap wajah Ayah yang masih sedikit pucat. Sore itu berlanjut dengan cerita-cerita Ayah, dan candaan bapak- bapak yang sukses membuatku tertawa kencang. Aku harap, hari hari selanjutnya tetap begini, selalu bahagia, bersama Ayah.

Labyrinth of Hearts – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Labyrinth of Hearts

Karya: Ferdi Fadlillah (Pengurus UKIM)

Willy adalah mahasiswa yang tampan dan cerdas di sebuah kampus ternama di Surabaya. Dia memiliki segalanya kecerdasan, penampilan, dan kepribadian yang menawan. Namun, di balik senyumnya yang manis, terdapat rahasia yang selama ini ia sembunyikan.

Laura adalah kekasih Willy, seorang gadis yang ceria dan penuh semangat. Mereka berdua telah menjalin hubungan selama dua tahun dan di mata banyak orang, mereka adalah pasangan yang sempurna. Namun, kebahagiaan mereka ternyata hanya permukaan belaka.

Di balik hubungannya dengan Laura, Willy menyimpan perasaan yang lebih dalam untuk seorang gadis lain, seorang teman dekatnya yang bernama Sarah. Sarah adalah gadis pendiam dan pemalu yang sering menghabiskan waktu bersama Willy, membantu dia dalam pelajaran dan memberikan dukungan moral.

Konflik cinta segitiga pun mulai memanas ketika Laura mulai curiga dengan kedekatan antara Willy dan Sarah. Meskipun Willy berusaha menyangkal, rasa cemburu Laura semakin membesar setiap harinya. Sementara itu, Willy semakin terjebak dalam perasaannya terhadap Sarah, yang ternyata juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya.

Suatu hari, ketegangan mencapai puncaknya saat Laura menemukan sebuah pesan dari Sarah di ponsel Willy. Laura merasa dikhianati dan marah besar. Willy berusaha menjelaskan bahwa perasaannya terhadap Sarah hanya sebagai teman, tetapi Laura tidak lagi percaya padanya.

Sementara itu, Sarah juga merasa bersalah karena merusak hubungan antara Willy dan Laura. Dia memutuskan untuk menghindar dari Willy demi kebaikan mereka berdua. Namun, Willy menyadari bahwa perasaannya terhadap Sarah tidak bisa diabaikan begitu saja.

Dalam keputusasaan dan kebingungannya, Willy akhirnya mengungkapkan segalanya kepada Laura. Dia meminta maaf atas semua kesalahpahaman dan berjanji untuk mengubah dirinya. Laura, meskipun terluka, masih mencintai Willy dan akhirnya memberinya kesempatan kedua.

Namun, ketika semuanya tampak mulai membaik, Willy mengetahui bahwa Laura sebenarnya memiliki rahasia sendiri. Laura mengungkapkan bahwa dia memiliki penyakit yang serius dan tak lama lagi akan menjalani perawatan intensif di luar negeri.

Willy merasa hancur dan bersalah karena tidak mengetahui tentang kondisi Laura sebelumnya. Namun, dia bersumpah untuk tetap bersamanya dan mendukungnya sepenuhnya dalam menghadapi segala rintangan yang ada.

Kisah cinta segitiga mereka pun menjadi lebih rumit dan penuh tantangan, tetapi Willy, Laura, dan Sarah akhirnya menyadari bahwa cinta sejati adalah tentang pengorbanan, dukungan, dan kejujuran. Meskipun banyak hal tersembunyi di balik tirai, mereka bersatu dalam cinta yang tulus dan menguatkan satu sama lain dalam setiap likue kehidupan.

 

Mimpi Buruk di Rumah Peninggalan – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Mimpi Buruk di Rumah Peninggalan

Karya: Ferdi Fadlillah (Pengurus UKIM)

Di sebuah desa kecil yang terpencil, terdapat sebuah rumah tua yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Rumah itu dikelilingi oleh pepohonan tua yang merimbun, menambah kesan angker pada bangunan yang sudah lama tak terawat itu. Legenda mengatakan bahwa rumah itu terkutuk oleh roh-roh jahat yang pernah tinggal di dalamnya.

Tak seorang pun berani mendekati rumah itu, kecuali seorang gadis muda bernama Maya. Maya adalah seorang peneliti paranormal yang selalu mencari tempat-tempat angker untuk diselidiki. Dia percaya bahwa ada penjelasan ilmiah di balik setiap kejadian supranatural.

Suatu hari, Maya memutuskan untuk menyelidiki rumah tua itu. Dengan peralatan lengkapnya, dia memasuki rumah tersebut dengan hati-hati. Ruangan-ruangan gelap dan berdebu membuatnya merinding, tetapi dia tidak menyerah.

Saat menjelajahi rumah, Maya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Suara-suara aneh dan bayangan-bayangan misterius mulai menghantuinya. Namun, sebagai seorang peneliti yang rasional, Maya berusaha mengabaikan ketakutannya.

Ketika malam tiba, Maya memutuskan untuk tidur di salah satu ruangan kosong. Namun, tidurnya terganggu oleh mimpi buruk yang sangat nyata. Dia bermimpi tentang seorang anak kecil yang menangis di sudut ruangan, sambil berbisik kata-kata tak terdengar.

Maya terbangun dengan keringat dingin, hanya untuk menemukan bahwa bayangan anak kecil itu masih ada di ruangan tersebut. Kali ini, anak itu tidak lagi menangis, tetapi tersenyum dengan gigi-gigi yang tajam. Dia berkata dengan suara serak, “Kau tidak akan pernah keluar dari sini.”

Maya berusaha berdiri dan berlari keluar, tetapi pintu-pintu rumah itu seperti terkunci dengan sendirinya. Dia menyadari bahwa dia terjebak di dalam mimpi buruk yang sebenarnya.

Namun, Maya tidak menyerah begitu saja. Dia mulai memeriksa setiap sudut rumah, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di tempat itu. Di salah satu ruangan bawah tanah, dia menemukan bukti bahwa rumah itu dulunya merupakan tempat persembunyian seorang psikopat yang melakukan pembunuhan berantai.

Saat dia menelusuri lebih dalam, dia menemukan mayat-mayat terkubur di bawah lantai, bersama dengan catatan-catatan yang menjelaskan ritual-ritual yang dilakukan oleh si psikopat. Ternyata, roh-roh jahat yang menghantui rumah itu adalah hasil dari eksperimen-eksperimen keji yang dilakukan di masa lalu.

Maya berhasil menemukan cara untuk mengusir roh-roh jahat itu dari rumah itu, dan akhirnya berhasil melarikan diri. Namun, pengalaman yang mengerikan itu meninggalkan bekas yang dalam pada dirinya. Dia menyadari bahwa terkadang kebenaran bisa jauh lebih menakutkan daripada mimpi buruk di mana pun.