
Oleh: Robby Andyka Pratama
7 April 2025 19.16 WIB
Namaku Anastasia Valencia Aurelia biasa dipanggil Anastasia. Sebuah nama yang sering dipuji karena keindahannya, tetapi bagiku nama itu adalah sebuah pengingat akan perjalanan panjang yang telah aku tempuh. Kini, aku berdiri di puncak pencapaian yang dulu hanya berani kubayangkan. Namun, di balik keberhasilanku saat ini ada kenangan pahit yang membentukku menjadi seperti sekarang.
Aku lahir di keluarga kaya. Banyak orang yang beranggapan hidupku pasti menyenangkan tanpa ada kekurangan. Namun, pada kenyataannya berbeda. Dulu, sewaktu di SMA, aku adalah bintang di sekolahku. Aku sering mendapatkan penghargaan dari berbagai kompetisi yang bergengsi. Namun, orang tuaku tidak memperdulikan hal itu.
Di suatu malam, setelah aku memikirkan segalanya dengan matang, aku memberanikan diri untuk berbicara mengenai keinginanku untuk berkuliah pada orang tuaku. “Mama, Papa aku ingin kuliah,” ucapku penuh harap. “Untuk apa kamu kuliah? Kamu lebih baik langsung bekerja setelah lulus SMA. Lanjutkan bisnis Mama, jual kosmetik,” kata Mama dengan nada yang marah seolah tidak memberikanku ruang untuk membantahnya.
Harapanku hancur berkeping-keping setelah mendengar jawaban dari Mamaku. Tanpa sepatah kata lagi, aku berdiri dari sofa, melangkah menuju kamar dengan air mata yang mulai jatuh tanpa bisa kuhentikan.
Pintu kamar aku tutup, aku membenamkan wajahku ke bantal. Tangisanku tak bisa tertahan. Aku cuma ingin belajar, ingin menuntut ilmu, ingin menjadi seorang yang lebih dari sekedar pewaris bisnis keluarga. Apakah itu salah?
Dengan tangan gemetar, aku meraih ponsel dan menelpon teman baikku yang selalu bisa membuatku merasa lebih baik yaitu Bella. Aku menekan tombol panggil, tak lama kemudian Bella mengangkat telponku.
“Halo, Anastasia! Kok kamu nelpon malam-malam gini? Ada apa?” Suara Bella terdengar begitu hangat dan akrab. Aku menarik napas panjang, berusaha untuk mengontrol suaraku agar tidak terdengar terlalu lemah. “Bel…” suaraku serak, nyaris tak terdengar “Hah? Kamu kenapa? Anastasia kamu nangis?” Nada suaranya berubah, penuh kekhawatiran. Aku terdiam beberapa saat, lalu menghembuskan napas.
“Aku… aku baru saja bilang ke Mama Papa kalau aku ingin kuliah.” “Oke terus?” Aku menelan ludah, berusaha untuk menahan air mataku yang masih ingin jatuh. “Mereka nggak setuju, Bel… Mereka maunya aku langsung bekerja dan membantu bisnis mamaku.”
Bella terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Dengar ya, Nas. Aku tahu kamu itu temanku yang paling luar biasa. Kamu bukan cuma pintar, tetapi juga berhati mulia.” “Kamu pernah bilang ke aku, kalau seseorang benar-benar menginginkan sesuatu, dia harus berjuang untuk mewujudkan itu, kan? Jangan biarkan siapapun bahkan orang tuamu sendiri menghentikan impianmu, kamu harus tetap berjuang untuk mewujudkan impianmu, Nas.”
Aku terdiam, lalu mengusap air mata yang masih tersisa di pipiku. “Kamu benar, Bel… Aku nggak boleh nyerah,” kataku, kali ini dengan suara lebih mantap. “Gitu dong! Itu baru temanku, Anastasia! Aku tau kamu bukan tipe orang yang gampang menyerah. Ingat aku selalu di sini buatmu.” Ujar Bella. Senyum kecil akhirnya terbentuk di bibirku. “Makasih, Bel. Aku beruntung punya sahabat kayak kamu.”
Keesokan paginya, aku pergi ke sekolah dengan semangat yang baru. Saat berjalan menuju ke kelas, seorang guru menghampiriku dengan senyum ramah. “Anastasia, tunggu sebentar ya,” panggilnya. Aku berhenti dan menoleh. “Iya, Bu. Ada apa?”
Beliau mengeluarkan selembar kertas dari mapnya dan menyerahkannya kepadaku. “Ini ada informasi tentang olimpiade yang akan diadakan bulan depan. Kami para guru yakin kamu kandidat yang cocok untuk mewakili sekolah.” Aku melihat lembar informasi di tanganku. Olimpiade ini tidak hanya menawarkan hadiah uang tunai dan piala, tetapi ada sesuatu yang jauh lebih berharga yaitu sebuah golden ticket untuk masuk ke salah satu universitas terbaik di Asia Tenggara.
Hatiku berdebar. Tanpa pikir panjang, aku mengganguk penuh semangat. “Saya bersedia, Bu! Saya akan berusaha sebaik mungkin!” Guru itu tersenyum. “Bagus! Kami percaya bahwa kamu bisa. Tapi ingat persaingannya tidak akan mudah. Kamu harus belajar lebih keras.” Aku mengganguk mantap.
Malamnya, aku mulai belajar untuk persiapan olimpiade. Tiba-tiba, pintu kamarku terbuka dengan keras. BRAK! Aku tersentak kaget. Papa dan mama berdiri di ambang pintu dengan ekspresi marah. “Apa-apaan ini, Anastasia?” suara Papa terdengar tajam. Aku menelan ludah, mencoba tetap tenang. “Aku sedang belajar, Pa.” “Kami dengar dari gurumu kalau kamu ikut olimpiade?” ujar Papa dengan nada marah. Aku mengganguk, meski suara mereka membuat hatiku bergetar. “Iya, Pa. Aku ingin menang, karena kalau aku juara, aku bisa dapat golden ticket masuk universitas…”
Belum selesai aku menjelaskan, tiba-tiba Papa mengambil bukuku dan SREEEK! Malam yang tenang itu berubah menjadi mimpi buruk bagiku. Aku masih terpaku di tempatku, menatap lembaran-lembaran kertas yang berserakan di lantai, hancur dirobek begitu saja oleh Papa.
“Kamu itu terlahir dari keluarga orang kaya, jadi kamu tidak perlu bersusah payah untuk kuliah. Kamu hanya cukup meneruskan bisnis kosmetik yang sudah Mama kembangkan bertahun-tahun,” ujar Mama dengan nada datar, seolah impianku tidak berarti apa-apa.” Aku menatap Mama dengan mata berkaca-kaca. “Tapi, Ma aku ingin kuliah.”
Papa mendengus sebelum menimpali, “Papa dan Mama tidak ingin kamu bekerja keras untuk berkuliah. Kamu hanya cukup bersantai saja setelah lulus SMA dan melanjutkan bisnis Mamamu.” Aku mengepalkan tangan di atas meja, jemariku bergetar hebat. “Aku tahu kalau aku terlahir di keluarga kaya, tapi apakah itu berarti aku harus mengorbankan mimpiku sendiri?” Suaraku lirih, namun penuh luka. Aku mengangkat wajah, menatap mereka dengan mata yang kini dipenuhi oleh air mata.
Tangisku belum juga mereda, Papa menatapku tajam. Dengan suara dingin, ia berkata, “Memang apa impianmu? Biar Papa bantu untuk mewujudkannya. Papa punya banyak kenalan dan Papa bisa menyuruh mereka untuk menerimamu. Kamu bisa mewujudkan impianmu dengan mudah.”
Dalam tatapan penuh air mata, aku menatap Papa. Ada jeda beberapa detik sebelum aku menggeleng. “Aku tidak ingin menggunakan cara seperti itu, Pa,” suaraku bergetar, tetapi penuh ketegasan. “Itu tidak baik, Pa. Lebih baik aku berusaha sekuat tenaga meskipun hasilnya gagal, daripada aku tidak pernah berusaha sama sekali.”
Papa terdiam sejenak, matanya menajam. Wajahnya yang semula datar berubah merah karena amarah yang tak terhankan. “Dasar anak tidak tahu terima kasih!” suaranya menggelegar, membuat jantungku berdebar kencang. “Papa sudah memberikanmu jalan yang mudah, tapi kamu masih memilih jalanmu sendiri! Kalau begitu, mulai sekarang semua fasilitas yang kami berikan mulai dari kosmetik, hp, hingga fasilitas sopir pribadi akan kami sita!” Papa melanjutkan dengan nada yang semakin tajam. “Kamu bisa mendapatkan segala fasilitas itu lagi kalau kamu memilih untuk bekerja setelah lulus SMA,” tambahnya, suaranya lebih dingin dari sebelumnya.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Papa berbalik dan keluar dari kamar, diikuti oleh Mama yang hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pintu kamar tertutup dengan keras, meninggalkan suasana keheningan yang menyakitkan
Aku duduk di tempat tidur, air mataku mengalir deras tanpa bisa kuhentikan. Aku menggegam ujung selimut, menutup wajahku yang basah oleh tangis. Rasa lelah perlahan menguasai tubuhku. Tanpa kusadari, dalam isakan tangis yang belum reda, mataku semakin berat hingga akhirnya aku tertidur lelap.
Keesokan paginya, aku terbangun dengan kelopak mataku yang masih sembab akibat tangisan semalam. Dengan enggan, aku bangkit dari tempat tidur, mencoba mengumpulkan tenaga untuk bersiap ke sekolah.
Saat aku hendak menyiapkan buku-buku pelajaran, pandanganku tertuju pada buku materi olimpiadeku yang robek dan tak berbentuk. Aku menggigit bibir bawahku, mencoba menahan air mata yang kembali menggenang. Namun, meskipun terasa begitu sulit, aku harus tetap berangkat ke sekolah.
Saat tiba di sekolah, aku berjalan lesu menuju kelas. Namun, langkahku terhenti ketika seorang guru menghampiriku. “Anastasia, bagaimana progres belajarmu untuk olimpiade?” tanya beliau dengan senyum penuh harap. Aku menundukkan kepala, menggenggam erat tali tas di pundakku. “Buku yang sering saya gunakan untuk belajar sudah disobek oleh Papa tadi malam.”
Guruku terdiam sejenak. Matanya melihat terkejut, tetapi kemudian ia menarik napas panjang dan menatapku dengan penuh keyakinan. “Anastasia, jangan biarkan kejadian ini menghancurkan semangatmu. Kamu anak yang pintar dan punya tekad yang kuat. Buku itu hanya alat, tetapi kemampuan ada dalam dirimu. Kamu pasti bisa memenangkan olimpiade ini dan bisa mendapatkan golden ticket.” Aku menatap guruku dengan mata berkaca-kaca. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan mengganguk. “Terima kasih, Pak. Aku akan berusaha,” kataku dengan suara yang masih bergetar. Aku menarik napas panjang dan perlahan melangkah masuk ke dalam kelas.
Aku duduk di bangkuku, menatap kosong ke papan tulis di depan kelas. Suara guru yang menjelaskan materi seakan hanya menjadi dengungan samar di telingaku. Tanganku menggegam bolpoin, tetapi tidak ada satu pun catatan yang kutulis di buku. Di kejauhan, Bella memperhatikanku. Meskipun kami tidak duduk sebangku, ia bisa melihat bahwa aku sedang sedih.
Saat jam istirahat tiba, Bella langsung menghampiriku. “Yuk, ke kantin!” ajaknya dnegan senyum cerah, berusaha menghiburku. Aku menghela napas, lalu mengganguk pelan. Kami berjalan bersama menuju ke kantin, tetapi sebelum sampai, aku tidak bisa menahan diri untuk menceritakan kejadian tadi malam tentang bagaimana buku olimpiadeku dirobek, melarangku menggunakan fasilitas mereka, dan tentang betapa hancurnya perasaanku saat ini. Bella mendengarkan dengan seksama, wajahnya menunjukkan ekspresi prihatin. Namun, sebelum Bella bisa berkata lebih banyak, seorang guru tiba-tiba memanggilku. “Anastasia bisa kesini sebentar. Aku menoleh dan melihat guru yang menawariku untuk mengikuti olimpiade berdiri tidak jauh dari kami. Dengan sedikit penasaran, aku melangkah mendekat. “Ya, Bu ada apa?” tanyaku sopan.
Guru itu tersenyum sebelum akhirnya berkata, “Saya dan para guru lainnya sudah berdiskusi. Kami ingin membantumu. Kami menawarkanmu kesempatan untuk mengikuti kelas bimbingan olimpiade di salah satu bimbel terbaik dekat sekolah. Kelas ini gratis, semua biaya akan ditanggung oleh sekolah.” Aku terkejut. “Benarkah, Bu?” Guru itu mengganguk. “Kami tahu betapa kamu ingin memenangkan olimpiade ini dan kami percaya kamu bisa. Jadi bagaimana? Apakah kamu bersedia?” Tanpa pikir panjang, aku langsung mengganguk dengan penuh semangat. “Tentu saja, Bu! Terima kasih banyak!”
Guru itu mengganguk puas. “Bagus. Kami percaya padamu, Anastasia.” Aku menggegam tangan Bella dengan erat dan menuju ke kantin dengan perasaan yang bahagia.
Waktu berlalu begitu cepat, hari ini adalah hari yang kutunggu-tunggu karena hari ini merupakan hari dimulainya olimpiade. Para guru dan kepala sekolah sudah bersiap mengantarkanku ke lokasi. Aku masuk dalam mobil bersama mereka, hatiku berdebar antara gugup dan antusias.
Begitu tiba di lokasi olimpiade, para guru tersenyum penuh dukungan. Kepala sekolah menepuk pundakku. “Kami percaya padamu, Anastasia. Tidak perlu takut, lakukan yang terbaik.” Aku mengganguk, menelan rasa gugup yang mulai menjalar di dadaku. “Terima kasih, Bapak, Ibu. Saya akan berusaha semaksimal mungkin.”
Lima menit lagi babak penyisihan akan dimulai. Aku menarik napas dalam-dalam dan menuju ke ruangan olimpiade. Tak lama, panitia berdiri di depan dan berbicara melalui mikrofon. “Selamat datang di babak penyisihan. Waktu pengerjaan di babak ini adalah 1 jam. Harap kerjakan dengan jujur dan sebaik mungkin. Hasil penyisihan akan diumumkan 2 jam setelah babak penyisihan selesai. 5 peserta dengan nilai tertinggi akan langsung masuk ke babak final, sedangkan untuk peserta yang lain hanya dipilih 50 peserta yang berhak lanjut ke babak semifinal. Selamat mengerjakan!”
Saat waktu pengerjaan dimulai, aku menarik napas dalam-dalam dan mulai membaca soal dengan teliti. Waktu terus berjalan. Aku mengisi lembar jawaban dengan hati-hati dan memastikan tidak ada yang terlewat. Hingga akhirnya, waktu pengerjaan berakhir. “Waktu habis! Silahkan letakkan alat tulis anda dan berhenti menulis,” suara panitia terdengar melalui mikrofon.
Aku tidak tahu apakah aku berhasil mendapat nilai tertinggi, tetapi setidaknya aku telah melakukan yang terbaik. Kini aku hanya bisa menunggu hasilnya yang akan diumumkan pukul 10.00.
Setelah keluar dari ruang ujian, aku kembali ke tempat para guru menunggu. “Bagaimana, Anastasia? Apakah soalnya sulit?” salah satu guru bertanya dengan nada penasaran. Aku tersenyum, masih dengan napas yang belum sepenuhnya stabil. “Alhamdulilah, aku berhasil menjawab semua soal dengan lancar,” jawabku dengan penuh syukur.
Tibalah waktu pengumuman babak penyisihan. Suasana di aula tempat olimpiade mendadak hening. Aku bisa merasakan jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. “Lima peserta dengan nilai tertinggi yang langsung melaju ke babak final adalah…” suara panitia menggema di seluruh ruangan. “Dan peserta dengan nilai tertinggi… Anastasia Valencia Aurelia!”
Aku terpaku di tempat. Aku mendapat nilai tertinggi? Sejenak aku merasa tak percaya, tetapi begitu melihat ekspresi bahagia para guru dan kepala sekolah yang langsung berdiri dan bertepuk tangan, aku sadar bahwa ini bukan mimpi. ”Alhamdulilah!” bisikku pelan, mataku mulai berkaca-kaca karena bahagia
Setelah semua pengumuman telah disampaikan panitia, panitia memberikan informasi tambahan. “Bagi 5 peserta yang langsung masuk ke babak final, kalian diperbolehkan meninggalkan tempat olimpiade untuk beristirahat dan diharapkan kembali sebelum pukul 15.00 untuk babak final.” Mendengar itu, kepala sekolah dan para guru berinisiatif mengajakku keluar untuk merayakan keberhasilanku. “Ayo, Anastasia! Kita makan bersama! Ini pencapaian luar biasa yang harus dirayakan!” ajak salah satu guru dengan antusias. Aku mengganguk dengan penuh semangat.
Setelah puas makan siang bersama dan berbincang, kami pun kembali ke tempat olimpiade. Begitu tiba, kami langsung melihat daftar nama peserta dari semi final yang berhasil lolos ke babak final. Kini menyisakan 10 peserta di babak final dan hanya akan ada 1 pemenang yang berhak mendapat golden ticket. Aku mengepalkan tanganku. “Aku sudah sejauh ini, aku tidak boleh menyerah!”
Pukul 14.45, panitia mengumumkan bahwa babak final akan segera dimulai dan para peserta final diharapkan berkumpul di belakang panggung untuk mendengarkan mekanisme final. Para guru memberikan semangat padaku. “Semangat, Anastasia! Kami selalu mendukungmu!” seru mereka penuh antusias. Aku mengganguk mantap, lalu segera menuju ke belakang panggung.
Panitia mulai menjelaskan kepada para peserta. “Final terdiri dari 2 babak yaitu babak jawab cepat dan studi kasus. Pada babak pertama, kalian akan menjawab 30 soal dengan menekan tombol secara cepat. Kemudian 6 peserta dengan poin terendah tidak bisa melanjutkan ke babak kedua.”
Setelah menjelaskan mekanisme untuk babak pertama, panitia mempersilahkan peserta untuk menuju ke panggung. Aku melangkah dengan penuh keyakinan, berdiri di tempat yang telah ditentukan, dengan tombol untuk menjawab di depanku. Babak pertama dimulai. Soal-soal dibacakan dengan cepat dan aku berusaha tetap fokus menakan tombol dengan cepat setiap kali merasa yakin dengan jawabanku. “Soal terakhir!” seru panitia. Aku menarik napas panjang, lalu menjawab dengan keyakinan penuh.
Sejenak suasana terasa hening sebelum layar besar menampilkan hasil akhir. Ketika hasil perlombaan muncul di layar besar, mataku terpaku. Aku berhasil meraih posisi kedua dan berhak melaju ke babak selanjutnya. Para guru bersorak, memanggil namaku dengan penuh semangat. Aku tersenyum lega, tetapi perjuangan belum selesai.
Panitia mulai membacakan peraturan babak kedua secara singkat. “Di babak ini, akan ada 10 soal studi kasus. Setiap peserta akan diberikan kesempatan menjawab secara bergantian. Jawaban akan dinilai berdasarkan ketepatan dan kedalaman analisis. Skor tertinggi di akhir babak ini akan menjadi pemenang olimpiade ini.”
Babak kedua dimulai. Satu per satu soal dibacakan. Aku fokus, mencoba menyusun argumen yang tepat untuk setiap studi kasus yang diberikan. Kini hanya tersisa 1 soal terakhir. Aku melirik papan skor dan aku berada di posisi ke 2 dengan total poin yang didapat sama dengan peserta lain yang berada di posisi ke 1. Panitia membacakan soal terakhir dan mempersilahkanku menjawab lebih dulu. Aku menarik napas panjang, lalu mengungkapkan jawabanku dengan jelas dan sebaik mungkin.
Setelah semua peserta menjawab, suasana hening sejenak. Juri berdiskusi, lalu mengangkat papan skor. Peserta di peringkat 1, 3, dan 4 memperoleh 50 poin. Aku mendapatkan 100 poin. Aku terpaku sejenak, lalu tersadar aku menang! Dengan total 850 poin, aku resmi menjadi juara olimpiade.
Sorakan menggema di ruangan. Para guru dan kepala sekolah bertepuk tangan dengan penuh kebanggaan. Aku tidak bisa menahan haru, air mata mengalir deras saat aku bersujud syukur. Panitia bersiap memberikan hadiah. Aku maju dengan langkah gemetar, menerima hadiah sejumlah uang, piala, dan yang paling penting golden ticket ke salah satu universitas terbaik di Asia Tenggara. Setelah pengumuman pemenang selesai, aku turun dari panggung dan disambut oleh para guru yang telah mendukungku selama ini. Mereka memelukku dengan bangga dan tanpa bisa kutahan, air mataku kembali mengalir. Namun kali ini bukan karena kesedihan, melainkan kebahagiaan. Setelah momen penuh haru itu, kami bersiap untuk pulang. Aku duduk di dalam mobil bersama para guru, memandangi piala dan golden ticket di pangkuanku.
Waktu berlalu begitu cepat. Semua persiapan untuk berkuliah di luar negeri telah selesai diurus oleh panitia, dan kini tibalah hari kelulusanku. Senyum terukir di wajah para guru yang telah mendukungku selama ini. Aku tahu, mereka lebih sekadar guru mereka adalah keluargaku.
Malam harinya, di hari kelulusanku, saat kedua orang tuaku terlelap, aku diam-diam mulai menyiapkan barang-barang yang akan kubawa. Aku telah mengambil keputusan untuk pergi tanpa berpamitan. Aku tidak ingin pertengkaran atau hal lain yang menghalangiku meraih masa depan.
Setelah memastikan semuanya siap, aku perlahan keluar melalui pintu belakang. Di sana, mobil guruku sudah menunggu. Para guru memberikan senyuman hangat, memberi isyarat agar aku segera masuk. Sesampainya di bandara, para guru memberikan pesan terakhir. Salah satu dari mereka berkata, “jangan pernah takut untuk melangkah, Anastasia. Dunia ini luas dan kamu memiliki tempat di dalamnya. Gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.” Aku mengganguk penuh haru, menahan air mata yang hampir jatuh. Aku memeluk mereka satu per satu sebelum akhirnya melangkah masuk ke pesawat.
Semasa kuliah, hidupku benar-benar berubah. Aku mulai memahami arti pentingnya pendidikan dan bagaimana ilmu mengubah nasib seseorang. Kini aku telah menuangkan seluruh kisah perjalananku dalam buku ini. Buku yang berjudul “Mimpi di Balik Tembok Emas”.
Kenalin aku Roby Andyka Pratama biasa dipanggil Roby. Meskipun aku bisa dibilang penulis pemula, tetapi aku ingin membuat cerita yang tidak hanya bagus untuk dibaca tetapi mengandung makna yang berguna bagi para pembaca cerpen. Oleh karena itu, aku siap belajar untuk menjadi penulis cerpen yang lebih baik.
Instagram: @roby.a19_
Penulis: Roby Andyka Pratama
Penyunting: Kayla Ghifari Ahmad
Penyelaras Bahasa: Muhammad Raihan Ramadhan