Oleh: Aisyah Nadya Olivia
14 September 2025 18.11 WIB
[15 Mei 2023]
Sore hari yang seharusnya melihat indahnya senja sesaat, kini pupus karena hujan yang tiba-tiba turun tanpa gerimis kecil. Bersamaan dengan air mata yang turun dari mata yang sayu. Sang puan kali ini merasa resah, karena ia tak bisa pulang dan memeluk guling pink dikamarnya, ditemani musik yang ia dengar di Spotify, bersama serial Netflix kegemarannya.
Meirella. Ia yang saat ini menangis diantara derasnya hujan. Berteduh disebuah warung yang tutup, sambil menenteng tas yang berisikan mie instan, makanan dan minuman lainnya yang ia beli di Supermarket. Gadis kelahiran Mei yang selalu dilanda kegalauan disaat hujan turun. Padahal, ia dulu sangat amat menyukai hujan, hingga ia pikir, hujan adalah obat. Untuk sekarang, ia menganggap hujan adalah bencana yang mengingatkannya kepada seseorang di masa lalu. Seseorang yang sama-sama menyukai hujan, dan selalu ceria dengan senyumannya yang manis disaat hujan mengguyur kepalanya. Begitupun Meirella, yang disaat itu ikut bahagia karena hujan dan seseorang itu.
Bak tisu yang terkena air, meleleh begitu saja. Itulah Meirella sekarang. Hujan turun, air matanya seraya turun membasahi pipinya. Ia biarkan turun sederas hujan yang turun sekarang. Tak ada orang, ia bebas menangis tanpa mengusap air matanya lagi.
Akan diceritakan oleh Meirella, mengapa seseorang di masa lalu membuatnya menangis hingga di masa depan sekalipun.
Lima tahun yang lalu…
Gadis SMA kelas sebelas yang sedang bersantai di koridor sekolah, sambil menikmati bekal sandwichnya dari rumah. Ia yang memakan sandwich dengan tenang, tiba-tiba seseorang dari samping menyenggolnya, hingga ia terkejut dan sandwich milik Meirella jatuh ke lantai. Ia sontak menoleh ke samping, menampakkan lelaki dengan tubuh yang penuh keringat dan bau matahari, begitu pula seragamnya yang sudah kotor.
ADIMAS.
Ia Adimas, mendiang mamanya ialah sahabat mama Meirella. Mereka dekat, dikarenakan sedari kecil sudah berteman, dan Adimas sering berkunjung ke rumah Meirella. Terkadang kedatangan Adimas membuat Meirella kesal, karena lelaki itu selalu membuat Meirella kesal dan marah. Selalu, selalu menjahili perempuan itu, tanpa melewatkan satu hari pun untuk menjahili Meirella.
“Adim! Ganti sandwich gue,” ucap Meirella kesal.
Gadis itu memandangi sandwichnya yang kotor dengan tatapan sendu. Pasalnya ia hanya memegang uang untuk ongkos pulang saja, tanpa membawa uang untuk membeli makanan di kantin.
“Maaf. Beli aja sana di kantin, banyak kok! Isinya juga macam-macam,” jawab Adimas dengan entengnya.
Meirella marah dan gemas sendiri dengan sikap Adimas yang terlampau menyebalkan. Meirella pergi dari tempatnya sekarang, menuju kelasnya. Adimas menyusulnya seperti anak bebek yang mengikuti induknya kemanapun induknya pergi. Meirella sudah tak perduli ada Adimas yang mengikutinya, karena ia hanya ingin meringkuk dan meratapi nasib sandwichnya. Ia lapar dan tak ada uang untuk membelinya lagi. Ingin menangis pun tak akan membuat sandwichnya kembali.
“Rella. Maafin gue! Ayo jangan dikelas aja, diluar hujan. Ayo hujan-hujanan. Kayaknya semua teman-teman kita pada keluar buat hujan-hujanan. Lagian ini mapel terakhir, kenapa engga?” Ajak Adimas.
Meirella beranjak dari duduknya dan keluar kelas terlebih dahulu meninggalkan Adimas.
Banyak murid-murid yang bermain hujan, tak perduli seragamnya basah, karena besok sudah hari libur. Wajah Meirella berseri-seri, hujan adalah favoritnya. Adimas menyusul dan menarik tangan Meirella untuk ikut bermain hujan di lapangan basket bersama teman-teman lainnya.
Adimas menggenggam kedua tangan Meirella dan berputar-putar bersama hujan. Kedua anak SMA itu sangat bahagia, seperti sedang berada di surga atau berada di hari yang spesial. Namun, ini hanya tentang hujan, yang membuat mereka berdua melompat-lompat kegirangan dibawah derasnya hujan. Senyuman yang akan selalu teringat dan dikenang. Hari-hari menjadi siswa SMA adalah hari-hari yang harus dinikmati meskipun itu hanya sedetik. Masa-masa SMA ialah masa indah terakhir bagi Meirella, apa mungkin karena ada Adimas juga?
Mereka berdua dan siswa-siswi lainnya masih setia menikmati hujan di lapangan sekolah. Sementara para guru hanya pasrah, karena terlanjur para anak didiknya itu sudah basah.
Sepulang Sekolah
Mereka berdua memeluk tubuhnya masing-masing. Sama-sama kedinginan, namun masih bisa tersenyum. Meirella melupakan masalahnya dengan Adimas tadi, hanya karena ia bisa bermain hujan-hujanan. Moodnya membaik hanya dengan bermain hujan-hujanan, menarik sekali.
Kali ini mereka berdua pulang bersama naik angkutan umum, dan berhenti di warung bakso. Adimas yang meneraktir Meirella, yaa sebagai ganti sandwich tadi juga. Makan bakso setelah bermain hujan juga tak akan lupa, karena termasuk kenangan indah juga semasa SMA.
Bakso mang Aji.
Mereka berdua memakan semangkuk bakso dengan lahap. Bakso mang Aji memang langganan anak-anak sekolah. Mang Aji juga sudah sangat hafal siapa saja anak yang satu sekolah dengan Meirella dan Adimas yang sudah mencoba baksonya. Mang Aji juga saksi Meirella dan Adimas yang selalu bersama menghabiskan waktu mereka untuk sekedar bercanda dan memakan bakso mang Aji. Seharusnya momen-momen itu bukan hanya “sekedar”.
“Boleh gak mang Aji ramal?” Tanya mang Aji tiba-tiba.
“boleh!” Ucap Meirella dan Adimas serempak.
Mang Aji tertawa sebentar, dan mulai mengeluarkan suaranya.
“Kayaknya, kalian bakalan pacaran. Atau, sekarang udah pacaran?”
Meirella dan Adimas sontak saling bertatap-tatapan lalu saling tertawa. Mereka berdua menganggap ini hanyalah lelucon mang Aji, karena selalu melihat Meirella dan Adimas yang selalu membeli bakso disini berdua saja.
“Gak akan. Mana mungkin aku sama Adimas sih mang!” Bantah Meirella yang disusul anggukan dari Adimas.
“Betul. Aku mana mau sama upik abu kayak Rella.” Ejek Adimas.
Meirella mencubit lengan Adimas hingga Adimas memekik kesakitan.
Mang Aji hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan. Mana mungkin mereka tidak jatuh cinta satu sama lain, jika kedekatan mereka saja sudah pasti membuat satu sama lain nyaman. Ya meskipun kelihatannya selalu tidak akur, tetapi mereka selalu berdua, seperti sudah merekat karena diberi lem yang kuat.
Bakso Adimas habis terlebih dahulu, ia pura-pura keluar lebih dahulu dan tidak membayar bakso Meirella karena sang gadis itu sangat lama memakan baksonya.
“Jangan gitu deh lo! Pokoknya yang baksonya udah habis duluan, dia yang bayar,” ucap Meirella.
“Iya bayar duluan, tapi bayar punya gue doang,” jawab Adimas dengan nada songong.
Meirella menggerutu sambil memakan baksonya hingga habis tak tersisa, sisa alat makannya saja. Ia berdiri dan menghampiri mang Aji dengan bibir yang ditekuk.
“Mang, aku ngutang dulu ya. Gak bawa uang soalnya, atau aku bantu cuciin mangkuknya mang Aji?” Tanya Meirella.
Mang Aji tertawa terlebih dahulu, lalu memberi tahu Meirella bahwa baksonya sebenarnya sudah dibayar Adimas, Cuma memang lelaki itu suka sekali iseng kepada Meirella. Meirella pamit kepada mang Aji setelah makan, dan menyusul Adimas yang ternyata lelaki itu menunggu Meirella diluar warung.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan pulang, dengan berjalan kaki. Jarak warung mang Aji dan komplek rumah Meirella dan Adimas tidak terlalu jauh, apalagi mereka masih muda, yang mana masih kuat berjalan sedikit jauh. Tetapi kalau disuruh berjalan dari Jakarta ke Bogor mana bisa.
Mereka menikmati udara sehabis hujan, dan sore hari yang mulai menampakkan senjanya yang indah, meski singkat. Mereka berdua bersenda gurau sambil berjalan menyusuri jalan dan hiruk pikuk Jakarta, yang mulai memadatkan suasana ibu kota. Setiap jalanan disini, sudah termasuk kenangan terindah, meski mereka hanya berjalan tanpa ada kata kata istimewa, hanya ocehan dua remaja SMA yang sedang adu mulut di setiap perjalanan pulang mereka. Bagaimana tak terus dikenang, jika Meirella terus berdua dan menghabiskan waktu seharian bersama sang tuan, yang tak kunjung pulang ini.
Masa sekarang
Kembali ke tahun ini, sekarang. Iya, kembali di Meirella yang sedang menangis saat terjebak hujan sendirian. Hujan reda, air matanya juga ikut reda. Ia mengusap kasar air mata yang masih menempel di wajahnya, dan melanjutkan perjalanan pulangnya. Ia menghela napas dan menikmati suasana yang tenang setelah hujan.
Tanpa sadar orang-orang yang mulai lewat didepan Meirella memandanginya dengan tatapan penasaran. Meirella sudah bisa menebak, mungkin karena matanya yang sembab. Ia tak perduli dan tetap melanjutkan perjalanannya.
Sudah lima tahun lamanya, aku masih menunggumu kembali dan memakan bakso bersama, bermain hujan bersama, berjalan bersama, bersenda gurau bersama. Aku semakin rindu karena suasana hari ini mengingatkanku padamu. Aku masih mengingat wangi parfum favoritmu, aku masih mengingat senyum manis yang kau lontarkan didepanku. Aku tak masalah bila kau usil kepadaku lagi. Aku tak akan kesal dan lari menghindarimu lagi, namun aku akan tertawa dan tak berhenti memandang wajahmu. Atau jika memang kau tak akan kembali, tolong beri aku kejelasan dimana dan mengapa kau pergi, agar aku sedikit tenang karena aku sudah tau kabarmu.
Meirella sudah tiba dirumah. Melempar tas plastik tersebut ke ranjangnya. Badannya lemas seperti tak berdaya. Mamanya menghampiri dan menanyakan, ada apa dengannya? Dengan tatapan sayu Meirella, mamanya sudah tau, mengapa anak gadisnya itu lemas. Mamanya hanya mengelus surai lembut sang gadis, dan sesekali mencium kening anaknya.
“Sampai kapan, nak?” Tanya sang mama.
Air mata Meirella turun lagi, namun kali ini tak ditemani hujan. Hanya ditemani rasa kerinduan yang mendalam, dan luka yang kembali basah.
“Sampai aku tau kenapa dia pergi,” ucap Meirella.
“Sudah lima tahun dia ninggalin kamu, sulit buat cari tau lagi kenapa dia pergi, Meirella,” balas sang mama.
Meirella merenung, dan kepingan-kepingan memori disaat beberapa hari sebelum kepergian Adimas waktu itu terkumpul kembali.
Tahun terakhir bersamanya
Hari yang cerah, tak mendung juga tak panas. Meirella memakai baju santai, membawa snacknya dan ia memakannya sambil berjalan. Ia menuju rumah Adimas untuk bermain dan menginterogasi lelaki tersebut, untuk menanyakan Kuliah dimana.
Meirella melihat pintu rumahnya yang terbuka lebar, ia masuk dan memberi salam. Terlihat papa Adimas yang sedikit tersentak karena kedatangan Meirella. Padahal, biasanya beliau santai saja saat Meirella masuk tanpa permisi.
“Om, Adim dimana?” Tanya Meirella, celingak-celinguk.
Cara bicara papa Adimas gelagapan, membuat Meirella sedikit bingung. Ada apa gerangan, seperti sedang menyembunyikan sesuatu kepada gadis tersebut.
“D-di kamarnya nak, ketok aja,”
Meirella bingung sebenarnya, ada apa papa Adimas yang bersikap aneh hari ini.
Gadis itu masuk kedalam rumah, menuju kamar Adimas. Meirella membuka kamar Adimas, terlihat lelaki itu sedang berbaring sambil mendengarkan musik. Juga gadis itu melihat beberapa koper yang berdiri disebelah ranjang Adimas.
“Wih, ngapain koper disini,” tanya Meirella, yang kemudian gadis itu duduk disudut ranjang.
Adimas bangun dari tidurnya, dan duduk, “Ngapain lo kesini? gak bilang,” tanya Adimas.
“Biasanya juga gue gak bilang,” Jawab Meirella sambil melempar tatapan intimidasi kepada Adimas.
“Lo ngapain….sih?” Adimas gelagapan.
“Lo mau kemana?” Tanya Meirella, yang masih dengan tatapan intimidasinya.
“mau nyusul mama,” Jawaban dari Adimas, yang membuat Meirella memukul keras lengan lelaki itu.
Adimas meringis kesakitan, kemudian tertawa sepuas-puasnya melihat wajah kesal Meirella.
Lalu lelaki itu menghela napas, dan mulai membuka suara, untuk menjelaskan apa yang ia sampaikan, “Maaf gue telat ngasih tau lo Rell. Sebenernya gue gak mau lo tau. Cuman kayaknya lo memang harus tau,” Adimas menatap netra Meirella.
“Gue besok pergi ke tempat jauh. Lo boleh kok anterin gue! Gue juga ada sesuatu sih buat lo,” lanjut Adimas.
Meirella terdiam, dan matanya yang mulai memerah. Bahkan saat Adimas beberapa kali memanggil namanya, gadis itu tak berkutik sama sekali. Lalu, air mata keluar dari mata Meirella, membasahi pipinya. Adimas sontak menghapus air mata Meirella yang turun dan membasahi pipi gadis itu.
“Lo bakalan balik lagi kan? Lo kuliah di luar negeri bim? Katanya mau kuliah bareng sama gue, dulu lo bilang waktu masih kelas sepuluh kita bakalan bareng terus sampai tua. Kenapa lo ninggalin gue sekarang? Tiba-tiba pula? Lo udah gak mau temenan sama gue ya?” Meirella memberi pertanyaan bertubi-tubi kepada Adimas, kemudian disusul isak tangis dari gadis itu.
Adimas hanya tersenyum tipis, seraya mengelus surai hitam nan lembut milik sang gadis. Seolah-olah lelaki itu meyakinkan bahwa ia akan kembali dan akan menemui gadis itu. Meski kenyataannya tidak.
“Gue nginep disini,” Meirella membuka suara.
Adimas mengerutkan keningnya, ia ingin sekali menggelengkan kepalanya. Namun melihat tatapan sendu dari gadis itu, ia tak tega untuk menolaknya. Adimas menganggukkan kepalanya.
“Gak usah cengeng Rell. Lo kalau kayak gini makin mirip monyet yang dipinggir gereja itu,” ejek Adimas.
Ejekan Adimas dibalas dengan pukulan Meirella.
“Lo mirip dugong Upin-ipin!” Balas Meirella
“Gue mirip orang Korea favorit lo!” Kata Adimas dengan mimik wajahnya yang membuat Meirella muntah, karena lelaki itu sangat percaya diri.
“Siapa coba namanya?”
“Yoshinori,” Jawab Adimas dengan PDnya.
Meirella tertawa kencang, karena tingkat PD Adimas yang sudah di level tinggi, namun jawabannya salah.
“Dia itu dari Jepang, bego!”
“Kan kata lo dia ada darah koreanya juga,”
Meirella mematung, malu setengah mati karena ia tertawa sangat keras, mengejek Adimas yang salah. Benar juga…
“Gak tau deh! Ayo keliling komplek pakai sepeda, cuacanya bagus,” Ajak Meirella.
Adimas tertawa, lalu menganggukkan kepalanya untuk menyetujui ajakan Meirella untuk bersepeda.
Mereka memutari komplek dengan bersepeda, bersenda gurau sambil menikmati angin yang menyegarkan. Lalu mereka melihat pedagang kaki lima, menjual bakso yang tentu saja membuat kedua remaja itu tergiur. Mereka berhenti dan memakan bakso sambil menikmati cuaca yang bagus hari ini.
“Lo gak bercanda ya waktu bilang mau pergi?” Tanya Meirella untuk memastikan kembali.
Adimas menganggukkan kepalanya dan menatap Meirella sedikit lama, yang dibalas dengan tatapan bingung Meirella.
“Jalanin hari-hari lo seperti biasa ya Rell, meskipun gak ada gue nantinya,” tutur Adimas.
Sudut bibir Meirella tertarik kebawah, Adimas yang tahu itu hanya terkekeh pelan sambil mengelus singkat pundak gadis itu.
“Gue bakal tungguin lo pulang. Pulang ke gue,” ucap Meirella.
Seharian ini mereka menghabiskan waktu berdua, bersepeda, memakan bakso bersama, bermain sepak bola di lapangan yang meskipun Meirella jarang mendapatkan kesempatan untuk memasukkan bola itu ke gawang, lalu mereka menonton film bersama di ruang tamu, sambil bersenda gurau. Tanpa disadari, Papa Adimas memperhatikan mereka berdua, Pria paruh baya itu menatap sendu kedua remaja yang sedang tertawa bersama.
Hingga malam tiba, mereka berdua mulai lelah dan terlelap disofa, dengan TV yang masih menyala.
[Bandara, 15 Mei 2018]
Dalam perjalanan menuju bandara hingga sampai tiba di bandara, Meirella tak berhenti menangis. Mata Adimas juga terlihat merah, namun Lelaki itu menahan tangisnya. Masalahnya, Papa Adimas juga ikut pergi dengan Adimas. Benar-benar hanya menyisakan rumah yang sempat mereka tinggali saja.
Adimas mengeluarkan secarik kertas yang telah dilipat rapi dari sakunya.
“Nih. Baca, tapi jangan disini, dirumah aja. Takutnya lo makin nangis, kan gue udah pergi, gak ada yang nenangin lo disini,” Ucap Adimas.
Meirella juga mengeluarkan surat yang covernya berbentuk hati dengan dua manusia lidi berdiri sejajar. Apakah itu menggambarkan Meirella dan Adimas? Mungkin iya.
“Hahaha, apaan nih? Jadi surat-suratan gini,” Adimas terkekeh.
Meirella tak berhenti menatap mata lelaki itu, karena ia ingin wajah lekaki itu tergambar diotaknya. Meirella berniat menunggu Adimas dan tak melupakan lelaki itu.
“Baca juga, nanti di pesawat ya. Jangan lupa kabarin gue kalau udah sampai tempat tujuan lo,”
Adimas hanya tersenyum tipis, lalu merengkuh tubuh gadis itu. Meirella juga membalas pelukan Adimas tak kalah erat. Tangis Meirella semakin pecah, disaat Adimas memeluk tubuhnya dan mengelus pucuk kepalanya.
Pengumuman dari bandara mengharuskan Adimas melepaskan pelukannya. Mereka harus benar-benar berpisah, meskipun dihati tak rela. Apakah selama ini Meirella membuat Adimas sakit hati, hingga lelaki itu meninggalkan Meirella dengan pamit yang tak terlalu baik? Apakah Adimas membenci Meirella?
Meirella berlari keluar dari bandara, orang tua Meirella menunggunya diluar, didalam mobil. Didalam mobil, Meirella yang hendak membaca surat dari Adimas, dibuat panik karena surat itu tak ada didalam sakunya.
“Berhenti dulu, ada yang ketinggalan,” pinta Meirella.
Ia sudah mencari suratnya tadi, namun nihil, suratnya benar-benar hilang. Tubuhnya lemas, karena hanya itu satu-satunya pemberian Adimas untuk terakhir kali. Ia menangis didalam mobil, meratapi kepergian Adimas dan juga surat yang hilang. Sampai sekarang pun, Meirella tak akan pernah tahu, apa isi surat dari Adimas.
Sementara isi surat Meirella yang ia berikan kepada Adimas :
Halo ini Meirella. Simpan suratnya ya, jangan sampai dibuang atau hilang. Meskipun bertahun-tahun nanti isi surat ini terdengar garing, namun tetap simpan.
Adimas, kita ketemu waktu kita sama-sama masih disekolah TK. Waktu itu mendiang mama lo main kerumah gue, karena gue baru pindahan deket rumah lo. Waktu itu lo memang udah jahil dari kecil ya, inget gak waktu itu lo dorong gue dikolam renang? Lo bukannya panik malah ketawa, dasar psikopat! Tapi setelah itu gue puas soalnya lo dimarahin sama mama lo.
Waktu kita SD kita semakin deket, lo jadi sering main sama gue, kita juga satu sekolah, bener-bener gak bosen ya. Tapi waktu lo kelas 6 SD, mama lo meninggal. Waktu itu lo nangis dan gak mau ngomong sama gue berhari-hari T__T (ini ceritanya emoji nangis ala korea) Gue juga sedih waktu lo sedih. Tapi gue selalu main kerumah lo biar lo gak kesepian. Dan gue seneng, seiring berjalannya waktu lo udah mulai ceria lagi, ya meskipun gue harus jadi korban kejahilan lo! Kesel gak sih jadi gue? Hahaha.
Tiba di SMA kelas sepuluh, waktu itu ada kakak kelas yang deketin gue, tapi lo marah-marah ke gue gara-gara gue mau aja dideketin sama kakak kelas playboy. Kita juga sering dikira pacaran, padahal mah waktu itu ogah banget pacaran sama lo! Lo juga gak? Tapi Dim, waktu kelas sebelas gue sadar kalo gue naksir sama lo. Sebenernya tuh gue bingung sama takut, kalau kita pacaran takut nanti putus malah jadi asing ya. Jadinya gue diem aja, terus juga lo kayak gak tertarik sama gue gak sih? Lo naksir juga gak?
Hari ini gue sedih banget lo mau pergi ninggalin gue. Lo mau kemana sih? Belum juga gue bilang kalau gue naksir sama lo, lo udah pergi duluan. Ini kenapa tiba-tiba lo pergi sih, Adim? Harusnya lo bilang aja ke gue, kalau ada sikap gue yang bikin lo muak… katanya mau satu kampus bareng!! Dasaaarrr penghianaaaattttt!!! Eh tapi ini gue serius mau nungguin lo balik, karena gue yakin 100% lo bakalan balik, yaa karena apa? Karena gue ngangenin lah!! Hehehe. Tangan gue pegal tau Dim, udah sampai ini aja dulu ya. Ini gue nulisnya nahan nangis biar kertasnya gak basah, stay safe & healthy disana!
Yang paling ngangenin (Meirella).
Meirella selalu menunggu kehadiran Adimas. Bahkan dua hari setelahnya, Meirella menghubungi Adimas via Chat, namun tak ada balasan sama sekali, begitu pula papa Adimas.
Bahkan bulan dan tahun silih berganti, Meirella masih menunggu kedatangan dan kabar Adimas. Mama dan papanya sangat sedih, karena Meirella selalu menangis saat hujan tiba.
Hingga ditahun ketiga, Meirella merasa semuanya sudah usai, Adimas benar-benar tak kembali, dan tak ingin menemui Meirella. Meirella tak menangis lagi saat hujan, namun, disaat tanggal yang sama dengan perpisahannya dengan Adimas di bandara, ia akan menangis dan mengingat semuanya. Kenangannya, senyumannya, dan juga suratnya yang tak akan pernah Meirella temukan lagi.
Masa sekarang
Pantas saja Meirella menangis, hari ini tanggal 15 Mei, dimana tanggal itu ia harus berpisah dengan Adimas. Sementara besok, 16 Mei ialah hari ulang tahun Meirella. 5 tahun ia merasakan ulang tahun tanpa Adimas.
Ia harus yakin dan bangkit, untuk menghapus semua tentang Adimas, harus semua. Jika ia masih menyimpan kenangan tentang Adimas, semuanya tak akan selesai, dan akan membuat Meirella selalu terpuruk bertahun-tahun lamanya.
Jika orang bilang Meirella harus berusaha mencari informasi tentang kepergian Adimas, ia sudah berusaha menghubungi keluarga Adimas. Tidak ada yang tahu soal kepergiannya dan papanya. Nomor mereka sama-sama tidak aktif, sehingga tak ada yang dapat dihubungi lagi.
Namun tak selesai sampai disini, hingga seseorang mengirimkan sebuah surat dan sebuah box sedikit besar. Meirella mengira bahwa itu adalah Adimas yang akan kembali. Terdapat secarik kertas berisi surat, dan Meirella membacanya.
[Isi Surat]
(15 Mei 2023)
Halo Meirella, ini saya Andika, papa Adimas sahabatmu. Maaf saya baru memberi kabar sekarang, setelah lima tahun kalian berpisah. Saya masih tidak sanggup untuk menulis surat ini dan memberikannya kepada anda Meirella. Disurat ini saya akan menjelaskan sesingkat-singkatnya dan sejelas-jelasnya kenapa, anak saya Adimas, harus meninggalkan kamu dan Indonesia.
Adimas pergi ke luar negeri karena saya yang sakit dan akan menjalankan operasi jantung. Waktu itu, saya memilih untuk merahasiakan saja penyakit saya kepada anak saya. Namun, surat dari dokter jatuh ditangan Adimas. Adimas marah kepada saya, namun anak itu juga menangis dan memeluk saya. Ia memutuskan untuk saya dibawa keluar negeri dan berobat agar mendapatkan penanganan yang lebih baik. Adimas tidak ingin papanya harus pergi menyusul mamanya. Awalnya, saya kira hanya untuk berobat biasa, namun saat Adimas mengatakan bahwa jantungnya adalah jantung papanya, saya sadar bahwa anak itu akan mendonorkan jantungnya untuk saya.
Saya sempat menentang, bahwa seharusnya tidak perlu, karena saya sudah tua dan pantas mati, sementara Adimas, ia masih harus melanjutkan hidupnya. Transplantasi jantung berjalan lancar, dan saat itu juga hati saya hancur, bahwa Adimas benar-benar melakukannya. Kini, sudah saatnya saya memberikan barang-barang pemberian Meirella untuk Adimas, kembali kepada Meirella lagi. Karena saya tidak pantas menyimpannya. Disini sudah tidak ada lagi Adimas.
17 Mei ialah hari mengenang kepergian Adimas. Saya harap setelah kabar ini sampai, Meirella benar-benar mengikhlaskan Adimas dengan segenap hati, dan saya mohon untuk menjaga barang-barang itu. Adimas sempat memberi salam juga, bahwa dia juga mencintai Meirella. Terima kasih sudah menemani anak saya (Adimas) semasa hidupnya.
Saya, meminta maaf sebesar-besarnya.
Meirella benar-benar mendapatkan jawabannya sekarang. Ia terkapar lemas dilantai, menangis sejadi-jadinya dengan memeluk box berisikan barang-barang kenangan bersama Adimas. Dadanya sesak, napas Meirella seakan-akan tercekat. Hingga Meirella berada diperasaan denial, haruskah ia melupakan Adimas atau ia harus ikut menyusul Adimas.
Mama Meirella merengkuh tubuh gadis itu, sang mama juga ikut menangis. Setelah kepergian sahabatnya itu, anak semata wayang sahabatnya harus ikut menemani mamanya di surga.
Awalnya Meirella marah, mengapa Adimas harus mengorbankan dirinya untuk papanya yang sudah tua, namun jika Meirella berada diposisi sang lelaki itu, ia akan melakukan hal yang sama.
Kini, Meirella harus benar-benar melepaskan Adimas. Karena sang tuan memang benar-benar tak akan kembali, namun Meirella yakin bahwa lelaki itu saat ini berada di sisinya, melihatnya membuka surat tersebut, dan membayangkan senyuman lelaki itu saat sedang memandangnya.
Terima kasih dan selamat tinggal, Adimas.
The end.
Nama saya Aisyah Nadya Olivia, lahir pada 16 Mei 2006 di kota Sidoarjo. Saya sekarang sedang menempuh pendidikan di UNESA dengan jurusan Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Hobi saya membaca dan menulis, terlebih lagi membaca novel sejarah dan politik.
Kontak: 0831-9398-8630
Instagram: @olievsya
Penulis: Aisyah Nadya Olivia
Penyunting: Muhammad Raihan Ramadhan
Penyelaras Bahasa: Muhammad Raihan Ramadhan