Selamat Datang – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Oleh: Naufal Aswari

15 September 2025 06.50 WIB

 

Hembusan angin yang sangat dingin serta suhu yang sangat rendah ini membuat badanku terasa kaku. Putih… Semanya putih dan dingin… salju, bebatuan, dan beberapa bongkahan es membuat nafasku terasa sesak ditambah dengan beban tas carrier yang ada dipunggungku membuatku harus menghirup tabung gas oksigen berkali-kali. Namun, aku tidak boleh menyerah disini. Aku tidak boleh berhenti di tempat ini.

“Rio, kau harus kuat! Kau sekarang telah berada di garis yang mendekati impianmu selama ini! Bertahanlah… bertahanlah… bertahanlah…” batin Rio dalam hati. Kemudian, lelaki itu-pun kembali menggerakkan badan dan melanjutkan pendakian kembali untuk meraih Puncak Cartenz Pyramid.

Gunung tertinggi di Indonesia yang terletak di pulau New Guniea (Papua) berupa pegunungan batu bersalju dengan hutan belantara di kaki gunungnya yang menyimpan banyak sekali keindahan alam dan keberagaman fauna dan flora yang eksotis dan memiliki ketinggian 4884 MDPL yang masuk kedalam kategori “Seven Summits Dunia” dan menempati urutan ke-7.

Setelah mendaki sejauh 140 meter, Rio pun mulai kelelahan dan memutuskan untuk beristirahat di sebuah Gua yang tak jauh dari tempat ia berdiri, Gua Salju Abadi. Rio pun mulai membuka tas keril dan mengeluarkan beberapa logistik makanan guna memulihkan energi.

Saat Rio sedang beristirahat di Gua Carstensz, ia melihat dari kejauhan sosok pendaki lain. Tubuhnya lebih besar, dengan bendera kecil Australia terikat di ranselnya. Mereka sempat bertukar pandang sebentar, lalu sosok itu melanjutkan langkahnya mendahului.

Rio tidak sempat berbincang, tapi wajah asing itu menempel di ingatannya. Ia tidak tahu, orang itulah yang nanti akan menolongnya di saat genting.

Burma Bridge, jalur ekstrim yang akan Rio lewati sebelum mencapai puncak Cartenz, adalah sebuah jembatan penghubung antar tepi jurang yang dalam dengan hanya menggunakan tali-temali saja sebagai pijakannya dan pegangannya, bukan menggunakan kayu ataupu besi, yang sewaktu waktu bisa bergoyang kencang akibat tiupan angin.

Rio menatap Burma Bridge dari kejauhan yang jaraknya sekitar 50 meter dari Gua Salju Abadi. Ia kurang yakin akan bisa melewati jembatan ekstrim tersebut

Rio pun membuka catatannya..

“Rio.. ingatlah, pendakian ini adalah sebuah ambisimu yang engkau impikan sejak kecil, mendaki Gunung Cartenz Pyramid  dan menginjakkan kaki di Puncak Jaya Wijaya! Pegunungan batu bersalju yang ekstrim dan tidak sembarang orang bisa menginjakkan kakinya di Puncak Jaya Wijaya, -Rio Gurnadi-”.

Setelah menutup kembali catatannya, Akhirnya Rio pun tersadar bahwa inilah yang ia inginkan dan mejadi impiannya sejak kecil.

Rio pun melantunkan syair… “Wahai Jiwaku, Mengapa engkau membenci impianmu sendiri? Bukankah sudah jelas terletak didepan mata?”

Setelah itupun semangat Rio pun kembali membara dan dengan segera ia mengemasi tas kerilnya untuk melanjutkan pendakian, semua barang ia tata dengan rapi dalam tas kerilnya dan ia bawa. Tanpa pikir panjang, ia mengambil tongkat dan berjalan menuju keluar dari Gua Salju Abadi.

Ia pun kembali menghadapi dinginnya salju dan bongkahan es serta kerasnya bebatuan. Hingga setelah 50 meter, ia pun sampai pada Burma Bridge. Ia  pun memasang tali pengaman dan mengaitkan dirinya pada tali tersebut. Dengan segera ia menyebrangi jembatan tersebut dengan hati-hati.

Namun, ia lupa untuk mengurangi beban pada tas kerilnya yang sangat berat ditambah bobot tubuhnya yang mencapai 68 Kg sehingga membuat tali pada Burma Bridge bergoyang hebat.

Sedikit rasa panik pada Rio, namun ia bersikeras dalam pendiriannya untuk melewati jembatan tersebut. Hingga ia teringat bahwa ia belum mengecek kondisi tali tersebut.

KREKK..

Suara tali yang sepertinya ingin putus membuat Rio panik.

KREKK,KREKK..

Makin kencang suara tali tersebut, hingga…

AAARGHHH!!! TOLOOONG…

Rio pun terjatuh ke jurang yang gelap, sepi, dan dingin… hingga terlihat sebuah sosok putih yang menghampirinya.

“Siapa Kau?” Tanya Rio.

“Selamat Datang!” Jawab sosok putih tersebut dengan suara halus.

Rio menatap lekat sosok putih itu. Tubuhnya melayang di ruang hampa, tak ada dasar, tak ada langit, hanya keheningan pekat. Nafasnya berat, jantungnya berdetak kencang.

“Selamat datang,” suara itu kembali terdengar, tenang tapi menusuk relung hati.

“Siapa kau? Apa ini… NERAKA?! SURGA?! ATAU AKU SUDAH MATI?!” Rio berteriak, matanya liar mencari pijakan.

Sosok itu tersenyum samar. Wajahnya tak jelas, seperti asap putih yang terus berubah bentuk. “Kau belum mati, Rio. Kau hanya singgah di batas antara hidup dan menyerah.”

Rio terdiam. Kata-kata itu menusuk telinganya lebih dalam daripada dingin yang membekukan tubuhnya.

“Batas… antara hidup dan menyerah?” gumamnya pelan.

Sosok itu mendekat, semakin nyata. “Sejak awal perjalananmu, aku selalu mengikutimu. Di setiap rasa ragu saat kakimu gemetar menapak batu licin, di setiap helaan napas saat paru-parumu perih oleh dingin. Aku adalah bisikan yang berkata, ‘Berhentilah, kau tak akan sanggup.’

Rio merasakan bulu kuduknya berdiri. “Kau… diriku sendiri?”

“Aku adalah bayanganmu. Ketakutanmu. Keraguanmu.” Sosok itu mengangkat tangan, dan seketika muncul kilasan-kilasan di udara: bayangan Rio kecil yang menatap gunung dengan penuh kagum, lalu Rio remaja yang berjanji pada dirinya sendiri untuk suatu hari berdiri di puncak tertinggi Papua.

Namun, kilasan itu berubah — memperlihatkan Rio yang gagal dalam latihan, Rio yang hampir menyerah karena cedera, dan Rio yang menangis diam-diam karena merasa tak cukup kuat.

“Semua kegagalanmu… adalah aku,” ujar sosok itu datar.

Air mata Rio mengalir, bercampur dengan rasa marah. “TIDAK! Itu bukan alasan untuk menyerah. Aku… aku mendaki bukan hanya untuk diriku sendiri! Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa. BAHWA MIMPI KECILKU BUKAN HANYA MIMPI KOSONG!”

Sosok itu menatapnya lama, kemudian tersenyum tipis. “Kalau begitu, hadapilah aku. Lawan aku, atau tenggelam di sini selamanya.”

Tiba-tiba, ruang hampa itu bergetar. Jurang hitam berubah menjadi pusaran salju dan es, menghantam tubuh Rio dari segala arah. Dingin menusuk tulang, angin berputar liar. Sosok putih itu melayang di tengah badai, menatap Rio dengan mata bercahaya.

Rio berusaha melawan, meraih tali imajiner yang entah dari mana muncul. Tangannya gemetar, tapi hatinya berteriak.

“Aku tidak akan menyerah! Sekalipun harus mati, aku akan mati di puncak, bukan di jurang keraguan!”

Kilatan cahaya menyilaukan. Sosok putih itu tertawa lirih, lalu perlahan memudar. “Kalau begitu… bangunlah, Rio. Pendakianmu belum selesai.”

Rio terperanjat, terbangun dengan tubuh menggantung hanya beberapa meter dari dasar jurang. Nafasnya terengah, peluh bercampur dengan serpihan es di wajahnya. Tali pengamannya masih menahan, meski sudah nyaris putus.

Matanya melebar. “Ya Tuhan… ini nyata…”

Dengan sisa tenaga, ia menggenggam tali itu erat-erat. Setiap tarikan adalah perang melawan rasa sakit dan keputusasaan. Tapi kali ini berbeda — ia sudah menghadapi ketakutannya sendiri.

Setelah perjuangan panjang, Rio akhirnya berhasil meraih tepi jurang. Ia merangkak naik, tubuhnya gemetar, lututnya bergetar, tapi hatinya kokoh. Ia menatap ke langit, menghela napas panjang.

“Terima kasih… sudah menguji aku,” bisiknya.

Di kejauhan, puncak Cartenz Pyramid masih berdiri gagah, menantinya.

Rio masih terengah-engah setelah berhasil merangkak keluar dari jurang. Nafasnya berat, dadanya naik-turun cepat, sementara tangannya gemetar memegang batu es. Ia menatap ke atas, puncak Cartenz Pyramid masih berdiri jauh di atas sana, megah dan tak tergapai.

“Tidak ada jalan lain… aku harus lanjut.” gumamnya pelan, meski tubuhnya nyaris menyerah.

Ia menatap Burma Bridge lagi. Jembatan tali itu tampak jauh lebih mengerikan setelah hampir merenggut nyawanya. Jurang hitam menganga di bawahnya, suara angin yang berdesing membuat jantungnya berdegup kencang.

Rio menarik nafas dalam-dalam, lalu mulai menapak. Baru beberapa langkah, kabut turun begitu cepat seakan menelan seluruh dunia. Udara dingin makin menggigit. Tak ada lagi warna, hanya putih dan abu-abu.

“Fokus, Rio… satu langkah… lalu satu langkah lagi.” batinnya.

Namun, baru di tengah jembatan, badai tiba-tiba datang. Angin mengguncang jembatan begitu keras hingga tali berayun liar. Tubuh Rio ikut terombang-ambing, nyaris terhempas ke jurang.

“ARGHHH!!!” teriaknya panik, berusaha menguatkan pegangan.

Di tengah kekacauan itu, samar terdengar suara.
“Hei! Bertahan! Jangan lepaskan!”

Rio menoleh. Dari seberang jembatan, terlihat sosok pendaki lain. Tubuhnya lebih besar, membawa ransel dengan bendera kecil Australia di belakangnya. Meski wajahnya tertutup masker salju, sorot matanya tajam penuh keyakinan.

“Aku Alex! Ayo, cepat! Aku bantu kau!” teriaknya.

Rio menggertakkan gigi, melangkah lagi, tapi tiba-tiba—
KREEKKKK!!!
Salah satu tali pijakan retak, serabutnya terlepas! Tubuh Rio terguncang hebat, tangannya hampir terpeleset. Jurang hitam di bawah sana seolah menunggu mangsa.

“CEPAT, RIO!!!” Alex berteriak. Ia melemparkan tali tambahan, meluncur melintasi badai.

Dengan sisa tenaga, Rio meraih tali itu. Tangannya berdarah tergores, sarung tangannya sobek, tapi ia berhasil mengikatnya ke pengaman. Langkah demi langkah, tubuhnya hampir merayap di atas jembatan.

Akhirnya, Alex menariknya dengan sekuat tenaga hingga keduanya terjatuh di tepi seberang. Rio terduduk lemas, nafanya tersengal.

“Terima kasih…” Rio berbisik lirih, matanya berkaca.

Alex menepuk pundaknya. “Kau kuat, mate. Tak banyak orang bisa bertahan sejauh ini.”

Mereka melanjutkan pendakian bersama. Kabut makin tebal, seolah gunung ingin menelan mereka. Jalanan licin, bongkahan es besar runtuh di beberapa titik, membuat keduanya harus memutar.

Di satu titik, mereka melewati tebing sempit dengan jurang di sampingnya. Angin berdesing keras, memaksa mereka menempel rapat ke dinding batu. Rio nyaris tergelincir ketika pijakan es rapuh hancur di bawah kakinya.

“Tahan, Rio!” Alex mengulurkan tongkat, menariknya kembali.

Jantung Rio berdegup cepat. “Kalau aku sendirian… aku sudah habis.”

Alex tersenyum samar. “Kadang, gunung mempertemukan kita dengan orang yang tepat, di waktu yang tepat.”

Malam menjelang. Mereka memutuskan beristirahat di sebuah cerukan batu. Rio menyalakan lampu kepala, namun cahaya hanya menembus beberapa meter karena kabut pekat.

Saat Alex terlelap, Rio tetap terjaga. Angin berhembus lembut, membawa suara aneh. Seperti… nyanyian. Lembut, berirama, menggunakan bahasa yang tak ia mengerti.

Rio menggigil. Ia menoleh, dan dari kejauhan terlihat kilatan cahaya hijau kebiruan di balik kabut. Bentuknya seperti api, tapi melayang pelan, seakan menari.

Rio berdiri perlahan, terpikat. Api itu melayang semakin dekat, hingga akhirnya membentuk sosok samar seorang lelaki tua berkulit gelap dengan hiasan bulu burung cendrawasih di kepalanya.

Rio terperanjat, kakinya mundur setapak.

Sosok itu berbicara dengan suara berat dan bergema:
“Pendaki dari jauh… gunung ini bukan milikmu. Ia milik leluhur yang menjaganya sejak awal waktu. Kau boleh menginjaknya, tapi jangan pernah menguasainya.”

Rio terdiam, hatinya bergetar. “Aku… aku datang bukan untuk menguasai… hanya untuk mewujudkan mimpiku.”

Sosok itu tersenyum samar, lalu memudar kembali ke kabut. Api hijau padam, dan hening kembali menguasai malam.

Rio kembali duduk, menatap api kecil perapian. Dadanya bergemuruh. Ia bertanya-tanya: apakah itu mimpi, halusinasi karena kelelahan… atau benar-benar pesan dari roh leluhur Papua?

Keesokan harinya, mereka kembali berjalan. Jalur semakin terjal, udara makin tipis. Nafas menjadi berat, setiap langkah seolah menelan tenaga terakhir.

Beberapa kali, batu es runtuh dari atas, hampir menghantam mereka. Sekali, mereka harus merayap di bawah bongkahan es raksasa yang hampir jatuh. Tegangan tak pernah berhenti.

Namun, di balik semua itu, Rio merasakan ada yang berbeda dalam dirinya. Sejak kejadian malam itu, hatinya tak hanya dipenuhi ambisi, tapi juga rasa hormat. Ia merasa seakan gunung ini hidup, mengawasinya.

Dan akhirnya, kabut mulai menipis. Dari balik awan putih, muncullah cahaya keperakan. Puncak Cartenz Pyramid berdiri gagah, seakan menyambut mereka.

Rio tak mampu menahan air matanya. Ia berlutut, menancapkan tongkat, lalu berteriak dengan seluruh sisa tenaga:

“AKU BERHASIL!!!”

Alex tertawa lega, mengibarkan benderanya. Namun, bagi Rio, keberhasilan ini lebih dari sekadar kemenangan pribadi. Ia merasa telah mendengar suara gunung… dan ia tahu, ada pesan yang harus ia jaga.

Udara di ketinggian itu begitu tipis. Setiap tarikan napas Rio terasa seperti menelan pisau dingin yang menusuk paru-paru. Salju berkilauan di bawah cahaya matahari pagi yang mulai menembus kabut. Di depan matanya, puncak Cartenz Pyramid berdiri angkuh, seperti singgasana raksasa yang menantang siapa pun untuk menaklukkannya.

Rio berhenti sejenak. Lututnya bergetar, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena rasa tak percaya. Setelah bertarung dengan jurang, badai, kabut, bahkan suara-suara gaib semalam, kini ia berada di ambang mimpinya.

“Rio, ini waktumu,” Alex menepuk pundaknya dengan senyum lelah.

Dengan langkah berat namun mantap, Rio maju. Ia menancapkan tongkat esnya di salju, menunduk, lalu perlahan meraih batu puncak. Saat tangannya menyentuhnya—sesuatu terjadi.

Angin mendadak berhenti. Dunia seakan membeku. Tak ada suara, tak ada gerakan, hanya keheningan abadi. Rio merasakan tubuhnya ringan, seakan dipisahkan dari raganya.

Kabut di sekeliling bergerak, membentuk pusaran. Dari dalam pusaran itu muncul sosok-sosok bayangan: para leluhur Papua, mengenakan hiasan kepala dari bulu cendrawasih, tombak di tangan, dan wajah penuh wibawa. Mereka berdiri melingkari Rio, memandangnya dengan tatapan tajam namun penuh makna.

Seorang tua melangkah maju, matanya bersinar hijau kebiruan sama seperti cahaya semalam. Suaranya berat, bergema seperti datang dari perut bumi:

“Anak muda dari jauh… kau telah sampai di puncak yang dijaga sejak dunia muda. Gunung ini bukan sekadar batu dan es. Ia adalah roh, ia adalah darah, ia adalah napas leluhur kami.”

Rio tertegun. Dadanya berdegup cepat. Ia ingin bicara, tapi lidahnya kelu.

Sang tua melanjutkan, “Banyak yang datang hanya membawa kesombongan. Mereka ingin menguasai, menaklukkan, menjadikan gunung ini trofi. Tapi engkau berbeda. Kau datang dengan hati yang gelisah, mencari arti lebih dalam.”

Tiba-tiba, cahaya dari langit turun, menyelimuti tubuh Rio. Ia merasakan kehangatan yang tak bisa dijelaskan, meski tubuhnya berada di tengah salju.

“Kami berikan restu, tapi juga pesan,” lanjut sang tua. “Jangan lupakan suara gunung ini. Ia akan menjadi bagian darimu. Bawalah kisah ini, dan sampaikan pada dunia bahwa alam bukan untuk ditaklukkan… melainkan untuk dihormati.”

Air mata Rio mengalir tanpa ia sadari. Ia mengangguk, dada penuh rasa syukur dan hormat. Saat ia berkedip, semua sosok itu menghilang, kabut buyar, dan dunia kembali bergerak.

Alex memandangnya bingung. “Kau baik-baik saja, Rio? Tadi kau… seperti membeku.”

Rio berdiri tegak di puncak Cartenz Pyramid, matanya berkaca, dadanya bergemuruh. Ia menancapkan bendera kecil Indonesia di atas salju, dan pada saat itu angin bertiup lembut, seolah gunung sendiri ikut memberi salam.

Air matanya jatuh, bukan sekadar lega karena berhasil, melainkan karena menyadari arti sebenarnya dari perjalanannya.

“Ini bukan hanya mimpiku yang terwujud…” bisiknya lirih, “ini adalah pesan. Gunung ini hidup, ia bernafas, dan aku adalah saksi kecilnya.”

Bagi Rio, puncak itu bukan garis akhir, melainkan sebuah awal. Awal dari perjalanan baru — untuk menjaga suara gunung, dan menyampaikan pada dunia bahwa alam tidak pernah untuk ditaklukkan… melainkan untuk dihormati.

 

Hey, Kenalin aku Naufal Aswari, datang dari kota metropolitan dengan kesibukannya yang dramatis, Bekasi. Hobiku mendaki gunung, bukan hanya sekedar menghindari hiruk-pikuk kota, tetapi tuk melihat betapa agungnya ciptaan yang maha kuasa. Jauh-jauh aku ke Kota Buaya, bukan hanya membawa nama, tetapi juga tuk melanjutkan langkahku yang kutuju pada takhta sarjana, tempat ilmu bersemayam.

Kontak: 0877-6104-7280

Instagram: @aswarico

 

Penulis: Naufal Aswari

Penyunting: Muhammad Raihan Ramadhan

Penyelaras Bahasa: Muhammad Raihan Ramadhan