Menyalakan Api Literasi di Desa Pataan: Program “Roh Penulis” Hadirkan Beragam Kegiatan Penuh Makna dalam Pengabdian Masyarakat

Lamongan, 14 Agustus 2025 — Program Pengabdian Masyarakat dengan tema “Mengembangkan Jiwa PELITA (Peduli, Literasi, dan Kreativitas)” sukses dilaksanakan pada 3–7 Agustus 2025. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pengurus beserta anggota UKM UKIM Unesa periode 2025 ini menghadirkan rangkaian agenda edukatif, sosial, dan kolaboratif yang melibatkan perangkat desa, lembaga pendidikan, masyarakat, serta para relawan. Selama lima hari, program ini menjadi ruang pengabdian yang penuh makna, menumbuhkan semangat literasi, kepedulian sosial, dan kebersamaan lintas kalangan.

Hari Pertama: Pembukaan sekaligus Pemotongan Tumpeng

Kegiatan dimulai dengan acara pembukaan di Balai Desa Pataan yang dihadiri oleh Kepala Desa beserta perangkatnya. Suasana hangat terasa sejak awal ketika rangkaian seremoni dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia raya, mars Unesa, dan mars UKIM. Lalu, diakhiri dengan pemotongan pita sebagai simbol pembukaan resmi program, dilanjutkan pemotongan tumpeng sebagai wujud rasa syukur. Seluruh panitia, perangkat desa, dan warga turut serta menikmati tumpeng bersama dalam suasana kekeluargaan yang erat. “Kami berharap, ini menjadi langkah awal terciptanya rasa kekeluargaan bersama masyarakat Desa”, ujar salah satu panitia.

Hari Kedua: Relawan Mengajar Hari Kesatu dan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Seksual

Memasuki hari kedua, kegiatan utama adalah program Relawan Mengajar. Para relawan yang dibagi dari jumlah total panitia kegiatan disebar ke empat sekolah dasar di Desa Pataan, yaitu SD Muhammadiyah 1 Pataan, SDN 1 Pataan, SDN 2 Pataan, dan SDIT Al-Manar. Di masing-masing sekolah, relawan memberikan materi pembelajaran interaktif yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Topik pembelajaran utama di hari pertama mengajar adalah Menulis Puisi yang dirancang untuk menambah wawasan sekaligus meningkatkan motivasi belajar siswa.

Siang harinya, tim pengabdian melaksanakan kegiatan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Seksual. Dikarenakan target peserta dalam kegiatan ini adalah para pemuda di Desa, kami pun melaksanakannya di sebuah sekolah menengah yang terdapat dalam desa tersebut yaitu SMP Muhammadiyah 24. Kegiatan ini menghadirkan pemateri Anggraeni Sovi Maria Septiana, Ketua Umum Forum Genre Lamongan periode 2023–2025. Dalam pemaparannya, beliau memberikan edukasi mengenai bentuk-bentuk kekerasan seksual, upaya pencegahan, serta langkah-langkah melindungi diri. Sesi ini mendapatkan respons positif dari para siswa yang aktif bertanya dan berdiskusi. kegiatan ditutup dengan penyerahan sertifikat penghargaan kepada pemateri dan sesi dokumentasi bersama seluruh peserta sosialisasi.

Sore hari, kegiatan dilanjutkan dengan sesi mengajar di sebuah TPQ yang ada di Desa Pataan. Para relawan memberikan pendampingan belajar Tartil dan cerita-cerita para nabi. terdapat juga panitia yang memberikan hadiah kecil-kecilan kepada santri dan santriwati yang aktif sebagai bentuk apresiasi.

Hari Ketiga: Relawan Mengajar Hari Kedua dan Lomba Anak-Anak Desa

Hari ketiga masih diisi dengan kegiatan mengajar di empat SD yang sama seperti hari sebelumnya. Topik Pembelajaran pada hari kedua ini adalah Menulis Pantun. Antusiasme siswa semakin meningkat karena metode pembelajaran yang digunakan relawan bersifat kreatif dan menyenangkan.

Sore harinya, panitia mengadakan berbagai perlombaan untuk anak-anak SD se-Desa Pataan, seperti permainan corong air dan lomba membawa karet menggunakan sedotan. Suasana desa menjadi meriah, dipenuhi tawa dan semangat anak-anak yang berpartisipasi. Terdapat beberapa orang tua serta warga sekitar turut hadir dan memberikan dukungan.

Hari Keempat: Penghijauan, Kerja Bakti, Penyaluran Donasi, dan Malam Puncak

Hari keempat menjadi hari yang paling padat karena mencakup berbagai kegiatan sosial dan kolaboratif. Pagi hari dibuka dengan kegiatan menanam pohon dan bunga di sebuah taman yang berada di kawasan situs candi Desa Pataan. Kegiatan ini dilakukan bersama mahasiswa KKN dari Universitas Muhammadiyah Lamongan, memperlihatkan kekuatan kolaborasi antar perguruan tinggi dalam menjaga lingkungan dan situs budaya. Di waktu bersamaan, para relawan melaksanakan kerja bakti membersihkan sendang di dusun tempat posko berada. Kegiatan ini dipandu oleh Pak RW dan Kepala Dusun yang turut mendampingi dan memberikan arahan.

Siang harinya, panitia menyalurkan donasi berupa paket sembako kepada sepuluh warga yang membutuhkan di dusun setempat. ditemani oleh beberapa perangkat desa di bawah pimpinan Kepala Dusun Ngadasan (Lokasi Posko) yang membantu kami mengarahkan lokasi rumah warga yang dituju untuk menerima donasi. Kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian sosial yang nyata dan mendapat apresiasi dari masyarakat.

Menjelang sore, para relawan kembali mengadakan kegiatan permainan edukatif di sebuah TPA (Taman Pembelajaran Al-Quran) yang berada di dusun Ngadasan, yang diikuti oleh banyak anak-anak TPA dengan antusias. kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan permintaan dari Pak RW Dusun setempat.

Malam harinya, digelar acara penutupan pengabdian masyarakat. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh pihak yang terlibat selama program berlangsung, termasuk perangkat desa, tokoh masyarakat, perwakilan sekolah, dan seluruh warga Desa Pataan. Acara menampilkan pentas seni dari masing-masing SD tempat relawan mengajar. Selain itu, panitia juga menyediakan sesi undian doorprize yang menambah keseruan malam puncak. Suasana penuh haru dan kegembiraan mengiringi penutupan program. ditutup dengan pemberian sertifikat penghargaan kepada instansi terkait seperti SD Muhammadiyah 1 Pataan, SDN 1 Pataan, SDN 2 Pataan, SDIT Al Manar, TPQ Baitul Muttaqin, SMP Muhammadiyah 24, dan kepada Desa Pataan.

Hari Kelima: Kepulangan dan Perpisahan

Hari terakhir diisi dengan momen perpisahan antara relawan dan masyarakat Desa Pataan. Para Panitia Kegiatan berpamitan kepada tetangga sekitar posko, perangkat desa, serta Kepala Desa yang telah banyak membantu dalam kelancaran kegiatan. Suasana penuh kehangatan dan rasa terima kasih menyelimuti hari itu. lelah yang kami dapatkan tentunya amat berarti, sehingga meninggalkan perasaan penuh haru saat akan berpisah dengan lokasi tempat kami mengabdi. segala rangkaian kegiatan telah dilalui, ada sedih dan bahagia, ada canda juga tawa, ada saat ketika harus tidur malam. Namun, buah paling penting yang didapatkan adalah rasa syukur telah melalui semua itu.

Makna Pengabdian: Menyemai Manfaat dan Kebersamaan

Program Pengabdian Masyarakat “Roh Penulis” di Desa Pataan tidak hanya menjadi wadah berbagi ilmu, tetapi juga ruang untuk memperkuat solidaritas, empati, dan kolaborasi. Serangkaian kegiatan yang melibatkan edukasi, lingkungan, sosial, dan seni menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa kepada masyarakat.

Ketua pelaksana, menegaskan bahwa program ini diharapkan mampu meninggalkan dampak jangka panjang, khususnya dalam bidang literasi, pendidikan karakter, dan pemberdayaan masyarakat desa. Ia menyampaikan harapan agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan untuk memperluas kebermanfaatan bagi masyarakat luas.

Program “Pengabdian Masyarakat” ini menjadi bukti bahwa pengabdian bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang belajar, tumbuh, dan membangun hubungan antarmanusia yang penuh makna.

 

Penulis: Muhammad Raihan Ramadhan

Penyunting: Aina Nur Rohmatin

Gambar: Dokumentasi Pengabdian Masyarakat UKIM Unesa 2025

 

Menyalakan Api Riset di Kampus “Para Juara”: UKIM Unesa Sukses Gelar PIMNESA 2025 dengan Strategi Baru menuju PIMNAS 2026

SURABAYA – Atmosfer akademik di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) terasa semakin kental pada awal November ini. Unit Kegiatan Ilmiah Mahasiswa (UKIM) Unesa, sebagai organisasi penalaran yang memegang teguh asas Pancasila dan telah berdiri sejak 14 September 1998, kembali membuktikan konsistensinya dalam mencetak talenta peneliti muda. Melalui perhelatan akbar Pekan Ilmiah Mahasiswa Unesa (PIMNESA) 2025, UKIM berupaya melahirkan proposal-proposal berkualitas demi mempertahankan tradisi juara Unesa di kancah nasional.

Mengusung tema strategis “Mengoptimalkan Potensi Mahasiswa melalui PIMNESA sebagai Langkah Eksistensi Menuju PIMNAS”, kegiatan ini digelar dengan konsep hybrid. Puncak pembukaan dan workshop dilaksanakan secara luring pada Sabtu, 1 November 2025, bertempat di Auditorium Gedung E1 Lantai 3, Fakultas Teknik, Kampus Ketintang, Surabaya. Sementara itu, pendampingan intensif berlanjut secara daring hingga pertengahan bulan.

Antusiasme Tinggi Sejak Tahap Pra-Acara

Gema PIMNESA 2025 sejatinya telah dimulai jauh hari sebelum acara puncak. Panitia mencatat antusiasme mahasiswa Unesa yang luar biasa sejak periode pembukaan pendaftaran dan pengumpulan proposal yang berlangsung pada 11 Oktober hingga 28 Oktober 2025. Tingginya minat mahasiswa bahkan mendorong panitia untuk memfasilitasi masa extended pendaftaran pada 29–30 Oktober 2025 dikarenakan antusiasme dari mahasiswa UNESA yang sangat tinggi dan ingin mendaftar di PIMNESA 2025.

Sebelum memasuki tahap workshop, seluruh proposal yang masuk telah melalui saringan ketat dalam Penilaian Tahap Awal oleh tim reviewer yang kompeten dan berpengalaman pada 31 Oktober hingga 2 November 2025. Hal ini dilakukan untuk memetakan kualitas dasar karya mahasiswa sebelum dipoles lebih lanjut dalam sesi pelatihan.

Transformasi Konsep dan Interaksi Luring

Rangkaian acara puncak pada 1 November dimulai sejak pukul 07.00 WIB dengan registrasi peserta. Suasana khidmat menyelimuti auditorium saat lagu Indonesia Raya, Mars Unesa, dan Mars UKIM dikumandangkan pada pukul 08.15 WIB sebagai tanda dimulainya acara.

Hadir dalam kesempatan tersebut jajaran tokoh kemahasiswaan, antara lain Pembina UKM UKIM Unesa Bapak Muamar Zainul Arif, S.Pd., M.Pd., Ketua Umum UKIM 2025 Bayu Adi Putra Wardana, serta Ahmad Haris Pratama selaku Koordinator Lapangan.

Dalam laporannya, Ketua Pelaksana PIMNESA 2025, Abdur Rahman Jibrin, menegaskan bahwa PIMNESA tahun ini membawa semangat pembaruan. Ia menyoroti perubahan signifikan dalam format acara untuk memaksimalkan transfer ilmu.

“Penyelenggaraan PIMNESA tahun ini berbeda dengan sebelumnya karena berlangsung secara luring, sehingga memungkinkan interaksi yang lebih intensif antara peserta dan pemateri,” ujar Abdur Rahman Jibrin. Ia berharap metode tatap muka ini mampu memecah kebuntuan teknis yang sering dialami mahasiswa saat menyusun proposal.

Sesi 1: Membedah Masalah dengan Empati bersama Psikolog

Memasuki sesi inti pada pukul 08.50 WIB, panitia menghadirkan Pemateri 1, Ibu Qurrota A’yuni Fitriana, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Beliau bukan sekadar akademisi, melainkan praktisi dosen pembimbing yang terbukti sukses mengantarkan tim mahasiswa menembus panggung PIMNAS.

Dalam paparannya, Ibu Qurrota mengajak peserta untuk mengubah pola pikir: riset bukan soal kerumitan, melainkan soal kepekaan sosial.

“Sebagai mahasiswa kita punya suatu gagasan dan itu kita melihat dari sebuah permasalahan ya, permasalahan yang muncul dari sekitar kita. Nah, dari situlah apa yang teman-teman pelajari di kampus, di kelas, itu bisa diaplikasikan ke penyelesaian masalah yang ada,” tutur Ibu Qurrota memberikan pencerahan.

Beliau juga menekankan standar kreativitas yang diharapkan juri nasional. “Dan tentunya penyelesaiannya bukan yang biasa saja, tapi justru yang ditambah dengan karya-karya yang inovatif, yang kreatif, dan juga tidak biasa dan bisa bermanfaat tentunya bagi masyarakat,” tambahnya.

Sesi 2: Strategi “Tembus PIMNAS” dari Mas Karna

Antusiasme peserta semakin memuncak pada pukul 10.15 WIB saat sesi kedua dimulai. Panggung diambil alih oleh Pemateri 2, Karna Abadi, mahasiswa kebanggaan Unesa dengan rekam jejak luar biasa: Juara PIMNAS dua kali berturut-turut (2024 dan 2025) serta peraih Medali Perak pada PIMNAS ke-37.

Karna tidak hanya membedah teknis penulisan proposal yang “lolos pendanaan”, tetapi juga menanamkan mentalitas petarung. Baginya, rasa takut salah adalah musuh utama peneliti muda.

“Yang paling penting mulai dari sekarang jangan takut untuk bertanya dan gali terus ilmunya. Sehingga teman-teman akan mendapatkan kesenangan tersendiri ketika teman-teman benar-benar bisa mendalami, kemudian bisa bertanggung jawab atas apa yang sudah teman-teman pilih. Jangan takut untuk mencoba,” pesan Karna yang disambut tepuk tangan meriah peserta.

Maraton Coaching Clinic: Bedah Tuntas Per Skim

Komitmen UKIM Unesa tidak berhenti di hari pembukaan. Guna memastikan materi terserap sempurna, panitia menggelar sesi Coaching Clinic secara daring (online) yang terjadwal rapi mulai tanggal 3 hingga 7 November 2025.

Jadwal pendampingan disusun secara spesifik agar pembahasan lebih terarah:

  • 3 November: Pembukaan rangkaian sesi daring.
  • 4 November: Bedah proposal Skim PKM-GFT (Gagasan Futuristik Tertulis) dan PKM-VGK (Video Gagasan Konstruktif) pada Sesi 1, dilanjutkan PKM-RE (Riset Eksakta) dan PKM-RSH (Riset Sosial Humaniora) pada Sesi 2.
  • 5 November: Fokus pada PKM-KC (Karsa Cipta) dan PKM-KI (Karya Inovatif).
  • 6 November: Fokus pada PKM-PM (Pengabdian Masyarakat) dan PKM-PI (Penerapan Iptek).
  • 7 November: Ditutup dengan pembahasan PKM-K (Kewirausahaan) dan PKM-AI (Artikel Ilmiah).

Selain pertemuan via Zoom, peserta juga difasilitasi grup WhatsApp eksklusif per skim. Di sana, para mentor berpengalaman siap menjawab pertanyaan peserta kapan saja, menciptakan ekosistem belajar yang interaktif tanpa batasan waktu.

Masa Revisi dan Penganugerahan Best Proposal

Keunggulan PIMNESA 2025 terletak pada proses pembinaannya yang tuntas. Setelah mendapatkan masukan dari mentor, peserta memasuki Masa Revisi dan Pengumpulan Proposal Tahap Akhir pada tanggal 3–10 November 2025. Proposal yang telah disempurnakan tersebut kemudian dinilai kembali pada 11–13 November 2025.

Puncak dari seluruh rangkaian kerja keras ini adalah Pengumuman Proposal Terbaik yang dijadwalkan pada 15 November 2025. Panitia memberikan penghargaan bergengsi berupa predikat Best Proposal 1, 2, dan 3. Pemenang tidak hanya mendapatkan uang pembinaan, tetapi informasi Best Proposal juga akan dipublikasikan melalui media sosial UKIM Unesa sebagai inspirasi bagi mahasiswa lainnya.

Dengan target luaran berupa proposal berkualitas sesuai standar SIMBELMAWA, PIMNESA 2025 menjadi langkah awal yang solid bagi Unesa untuk kembali mendulang emas dan mengharumkan nama almamater di ajang PIMNAS 2026 mendatang.

 

Penulis: Abdur Rahman Jibrin

Penyunting: Muhammad Raihan Ramadhan

Gambar: Dokumentasi PIMNESA 2025

Selamat Datang – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Oleh: Naufal Aswari

15 September 2025 06.50 WIB

 

Hembusan angin yang sangat dingin serta suhu yang sangat rendah ini membuat badanku terasa kaku. Putih… Semanya putih dan dingin… salju, bebatuan, dan beberapa bongkahan es membuat nafasku terasa sesak ditambah dengan beban tas carrier yang ada dipunggungku membuatku harus menghirup tabung gas oksigen berkali-kali. Namun, aku tidak boleh menyerah disini. Aku tidak boleh berhenti di tempat ini.

“Rio, kau harus kuat! Kau sekarang telah berada di garis yang mendekati impianmu selama ini! Bertahanlah… bertahanlah… bertahanlah…” batin Rio dalam hati. Kemudian, lelaki itu-pun kembali menggerakkan badan dan melanjutkan pendakian kembali untuk meraih Puncak Cartenz Pyramid.

Gunung tertinggi di Indonesia yang terletak di pulau New Guniea (Papua) berupa pegunungan batu bersalju dengan hutan belantara di kaki gunungnya yang menyimpan banyak sekali keindahan alam dan keberagaman fauna dan flora yang eksotis dan memiliki ketinggian 4884 MDPL yang masuk kedalam kategori “Seven Summits Dunia” dan menempati urutan ke-7.

Setelah mendaki sejauh 140 meter, Rio pun mulai kelelahan dan memutuskan untuk beristirahat di sebuah Gua yang tak jauh dari tempat ia berdiri, Gua Salju Abadi. Rio pun mulai membuka tas keril dan mengeluarkan beberapa logistik makanan guna memulihkan energi.

Saat Rio sedang beristirahat di Gua Carstensz, ia melihat dari kejauhan sosok pendaki lain. Tubuhnya lebih besar, dengan bendera kecil Australia terikat di ranselnya. Mereka sempat bertukar pandang sebentar, lalu sosok itu melanjutkan langkahnya mendahului.

Rio tidak sempat berbincang, tapi wajah asing itu menempel di ingatannya. Ia tidak tahu, orang itulah yang nanti akan menolongnya di saat genting.

Burma Bridge, jalur ekstrim yang akan Rio lewati sebelum mencapai puncak Cartenz, adalah sebuah jembatan penghubung antar tepi jurang yang dalam dengan hanya menggunakan tali-temali saja sebagai pijakannya dan pegangannya, bukan menggunakan kayu ataupu besi, yang sewaktu waktu bisa bergoyang kencang akibat tiupan angin.

Rio menatap Burma Bridge dari kejauhan yang jaraknya sekitar 50 meter dari Gua Salju Abadi. Ia kurang yakin akan bisa melewati jembatan ekstrim tersebut

Rio pun membuka catatannya..

“Rio.. ingatlah, pendakian ini adalah sebuah ambisimu yang engkau impikan sejak kecil, mendaki Gunung Cartenz Pyramid  dan menginjakkan kaki di Puncak Jaya Wijaya! Pegunungan batu bersalju yang ekstrim dan tidak sembarang orang bisa menginjakkan kakinya di Puncak Jaya Wijaya, -Rio Gurnadi-”.

Setelah menutup kembali catatannya, Akhirnya Rio pun tersadar bahwa inilah yang ia inginkan dan mejadi impiannya sejak kecil.

Rio pun melantunkan syair… “Wahai Jiwaku, Mengapa engkau membenci impianmu sendiri? Bukankah sudah jelas terletak didepan mata?”

Setelah itupun semangat Rio pun kembali membara dan dengan segera ia mengemasi tas kerilnya untuk melanjutkan pendakian, semua barang ia tata dengan rapi dalam tas kerilnya dan ia bawa. Tanpa pikir panjang, ia mengambil tongkat dan berjalan menuju keluar dari Gua Salju Abadi.

Ia pun kembali menghadapi dinginnya salju dan bongkahan es serta kerasnya bebatuan. Hingga setelah 50 meter, ia pun sampai pada Burma Bridge. Ia  pun memasang tali pengaman dan mengaitkan dirinya pada tali tersebut. Dengan segera ia menyebrangi jembatan tersebut dengan hati-hati.

Namun, ia lupa untuk mengurangi beban pada tas kerilnya yang sangat berat ditambah bobot tubuhnya yang mencapai 68 Kg sehingga membuat tali pada Burma Bridge bergoyang hebat.

Sedikit rasa panik pada Rio, namun ia bersikeras dalam pendiriannya untuk melewati jembatan tersebut. Hingga ia teringat bahwa ia belum mengecek kondisi tali tersebut.

KREKK..

Suara tali yang sepertinya ingin putus membuat Rio panik.

KREKK,KREKK..

Makin kencang suara tali tersebut, hingga…

AAARGHHH!!! TOLOOONG…

Rio pun terjatuh ke jurang yang gelap, sepi, dan dingin… hingga terlihat sebuah sosok putih yang menghampirinya.

“Siapa Kau?” Tanya Rio.

“Selamat Datang!” Jawab sosok putih tersebut dengan suara halus.

Rio menatap lekat sosok putih itu. Tubuhnya melayang di ruang hampa, tak ada dasar, tak ada langit, hanya keheningan pekat. Nafasnya berat, jantungnya berdetak kencang.

“Selamat datang,” suara itu kembali terdengar, tenang tapi menusuk relung hati.

“Siapa kau? Apa ini… NERAKA?! SURGA?! ATAU AKU SUDAH MATI?!” Rio berteriak, matanya liar mencari pijakan.

Sosok itu tersenyum samar. Wajahnya tak jelas, seperti asap putih yang terus berubah bentuk. “Kau belum mati, Rio. Kau hanya singgah di batas antara hidup dan menyerah.”

Rio terdiam. Kata-kata itu menusuk telinganya lebih dalam daripada dingin yang membekukan tubuhnya.

“Batas… antara hidup dan menyerah?” gumamnya pelan.

Sosok itu mendekat, semakin nyata. “Sejak awal perjalananmu, aku selalu mengikutimu. Di setiap rasa ragu saat kakimu gemetar menapak batu licin, di setiap helaan napas saat paru-parumu perih oleh dingin. Aku adalah bisikan yang berkata, ‘Berhentilah, kau tak akan sanggup.’

Rio merasakan bulu kuduknya berdiri. “Kau… diriku sendiri?”

“Aku adalah bayanganmu. Ketakutanmu. Keraguanmu.” Sosok itu mengangkat tangan, dan seketika muncul kilasan-kilasan di udara: bayangan Rio kecil yang menatap gunung dengan penuh kagum, lalu Rio remaja yang berjanji pada dirinya sendiri untuk suatu hari berdiri di puncak tertinggi Papua.

Namun, kilasan itu berubah — memperlihatkan Rio yang gagal dalam latihan, Rio yang hampir menyerah karena cedera, dan Rio yang menangis diam-diam karena merasa tak cukup kuat.

“Semua kegagalanmu… adalah aku,” ujar sosok itu datar.

Air mata Rio mengalir, bercampur dengan rasa marah. “TIDAK! Itu bukan alasan untuk menyerah. Aku… aku mendaki bukan hanya untuk diriku sendiri! Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa. BAHWA MIMPI KECILKU BUKAN HANYA MIMPI KOSONG!”

Sosok itu menatapnya lama, kemudian tersenyum tipis. “Kalau begitu, hadapilah aku. Lawan aku, atau tenggelam di sini selamanya.”

Tiba-tiba, ruang hampa itu bergetar. Jurang hitam berubah menjadi pusaran salju dan es, menghantam tubuh Rio dari segala arah. Dingin menusuk tulang, angin berputar liar. Sosok putih itu melayang di tengah badai, menatap Rio dengan mata bercahaya.

Rio berusaha melawan, meraih tali imajiner yang entah dari mana muncul. Tangannya gemetar, tapi hatinya berteriak.

“Aku tidak akan menyerah! Sekalipun harus mati, aku akan mati di puncak, bukan di jurang keraguan!”

Kilatan cahaya menyilaukan. Sosok putih itu tertawa lirih, lalu perlahan memudar. “Kalau begitu… bangunlah, Rio. Pendakianmu belum selesai.”

Rio terperanjat, terbangun dengan tubuh menggantung hanya beberapa meter dari dasar jurang. Nafasnya terengah, peluh bercampur dengan serpihan es di wajahnya. Tali pengamannya masih menahan, meski sudah nyaris putus.

Matanya melebar. “Ya Tuhan… ini nyata…”

Dengan sisa tenaga, ia menggenggam tali itu erat-erat. Setiap tarikan adalah perang melawan rasa sakit dan keputusasaan. Tapi kali ini berbeda — ia sudah menghadapi ketakutannya sendiri.

Setelah perjuangan panjang, Rio akhirnya berhasil meraih tepi jurang. Ia merangkak naik, tubuhnya gemetar, lututnya bergetar, tapi hatinya kokoh. Ia menatap ke langit, menghela napas panjang.

“Terima kasih… sudah menguji aku,” bisiknya.

Di kejauhan, puncak Cartenz Pyramid masih berdiri gagah, menantinya.

Rio masih terengah-engah setelah berhasil merangkak keluar dari jurang. Nafasnya berat, dadanya naik-turun cepat, sementara tangannya gemetar memegang batu es. Ia menatap ke atas, puncak Cartenz Pyramid masih berdiri jauh di atas sana, megah dan tak tergapai.

“Tidak ada jalan lain… aku harus lanjut.” gumamnya pelan, meski tubuhnya nyaris menyerah.

Ia menatap Burma Bridge lagi. Jembatan tali itu tampak jauh lebih mengerikan setelah hampir merenggut nyawanya. Jurang hitam menganga di bawahnya, suara angin yang berdesing membuat jantungnya berdegup kencang.

Rio menarik nafas dalam-dalam, lalu mulai menapak. Baru beberapa langkah, kabut turun begitu cepat seakan menelan seluruh dunia. Udara dingin makin menggigit. Tak ada lagi warna, hanya putih dan abu-abu.

“Fokus, Rio… satu langkah… lalu satu langkah lagi.” batinnya.

Namun, baru di tengah jembatan, badai tiba-tiba datang. Angin mengguncang jembatan begitu keras hingga tali berayun liar. Tubuh Rio ikut terombang-ambing, nyaris terhempas ke jurang.

“ARGHHH!!!” teriaknya panik, berusaha menguatkan pegangan.

Di tengah kekacauan itu, samar terdengar suara.
“Hei! Bertahan! Jangan lepaskan!”

Rio menoleh. Dari seberang jembatan, terlihat sosok pendaki lain. Tubuhnya lebih besar, membawa ransel dengan bendera kecil Australia di belakangnya. Meski wajahnya tertutup masker salju, sorot matanya tajam penuh keyakinan.

“Aku Alex! Ayo, cepat! Aku bantu kau!” teriaknya.

Rio menggertakkan gigi, melangkah lagi, tapi tiba-tiba—
KREEKKKK!!!
Salah satu tali pijakan retak, serabutnya terlepas! Tubuh Rio terguncang hebat, tangannya hampir terpeleset. Jurang hitam di bawah sana seolah menunggu mangsa.

“CEPAT, RIO!!!” Alex berteriak. Ia melemparkan tali tambahan, meluncur melintasi badai.

Dengan sisa tenaga, Rio meraih tali itu. Tangannya berdarah tergores, sarung tangannya sobek, tapi ia berhasil mengikatnya ke pengaman. Langkah demi langkah, tubuhnya hampir merayap di atas jembatan.

Akhirnya, Alex menariknya dengan sekuat tenaga hingga keduanya terjatuh di tepi seberang. Rio terduduk lemas, nafanya tersengal.

“Terima kasih…” Rio berbisik lirih, matanya berkaca.

Alex menepuk pundaknya. “Kau kuat, mate. Tak banyak orang bisa bertahan sejauh ini.”

Mereka melanjutkan pendakian bersama. Kabut makin tebal, seolah gunung ingin menelan mereka. Jalanan licin, bongkahan es besar runtuh di beberapa titik, membuat keduanya harus memutar.

Di satu titik, mereka melewati tebing sempit dengan jurang di sampingnya. Angin berdesing keras, memaksa mereka menempel rapat ke dinding batu. Rio nyaris tergelincir ketika pijakan es rapuh hancur di bawah kakinya.

“Tahan, Rio!” Alex mengulurkan tongkat, menariknya kembali.

Jantung Rio berdegup cepat. “Kalau aku sendirian… aku sudah habis.”

Alex tersenyum samar. “Kadang, gunung mempertemukan kita dengan orang yang tepat, di waktu yang tepat.”

Malam menjelang. Mereka memutuskan beristirahat di sebuah cerukan batu. Rio menyalakan lampu kepala, namun cahaya hanya menembus beberapa meter karena kabut pekat.

Saat Alex terlelap, Rio tetap terjaga. Angin berhembus lembut, membawa suara aneh. Seperti… nyanyian. Lembut, berirama, menggunakan bahasa yang tak ia mengerti.

Rio menggigil. Ia menoleh, dan dari kejauhan terlihat kilatan cahaya hijau kebiruan di balik kabut. Bentuknya seperti api, tapi melayang pelan, seakan menari.

Rio berdiri perlahan, terpikat. Api itu melayang semakin dekat, hingga akhirnya membentuk sosok samar seorang lelaki tua berkulit gelap dengan hiasan bulu burung cendrawasih di kepalanya.

Rio terperanjat, kakinya mundur setapak.

Sosok itu berbicara dengan suara berat dan bergema:
“Pendaki dari jauh… gunung ini bukan milikmu. Ia milik leluhur yang menjaganya sejak awal waktu. Kau boleh menginjaknya, tapi jangan pernah menguasainya.”

Rio terdiam, hatinya bergetar. “Aku… aku datang bukan untuk menguasai… hanya untuk mewujudkan mimpiku.”

Sosok itu tersenyum samar, lalu memudar kembali ke kabut. Api hijau padam, dan hening kembali menguasai malam.

Rio kembali duduk, menatap api kecil perapian. Dadanya bergemuruh. Ia bertanya-tanya: apakah itu mimpi, halusinasi karena kelelahan… atau benar-benar pesan dari roh leluhur Papua?

Keesokan harinya, mereka kembali berjalan. Jalur semakin terjal, udara makin tipis. Nafas menjadi berat, setiap langkah seolah menelan tenaga terakhir.

Beberapa kali, batu es runtuh dari atas, hampir menghantam mereka. Sekali, mereka harus merayap di bawah bongkahan es raksasa yang hampir jatuh. Tegangan tak pernah berhenti.

Namun, di balik semua itu, Rio merasakan ada yang berbeda dalam dirinya. Sejak kejadian malam itu, hatinya tak hanya dipenuhi ambisi, tapi juga rasa hormat. Ia merasa seakan gunung ini hidup, mengawasinya.

Dan akhirnya, kabut mulai menipis. Dari balik awan putih, muncullah cahaya keperakan. Puncak Cartenz Pyramid berdiri gagah, seakan menyambut mereka.

Rio tak mampu menahan air matanya. Ia berlutut, menancapkan tongkat, lalu berteriak dengan seluruh sisa tenaga:

“AKU BERHASIL!!!”

Alex tertawa lega, mengibarkan benderanya. Namun, bagi Rio, keberhasilan ini lebih dari sekadar kemenangan pribadi. Ia merasa telah mendengar suara gunung… dan ia tahu, ada pesan yang harus ia jaga.

Udara di ketinggian itu begitu tipis. Setiap tarikan napas Rio terasa seperti menelan pisau dingin yang menusuk paru-paru. Salju berkilauan di bawah cahaya matahari pagi yang mulai menembus kabut. Di depan matanya, puncak Cartenz Pyramid berdiri angkuh, seperti singgasana raksasa yang menantang siapa pun untuk menaklukkannya.

Rio berhenti sejenak. Lututnya bergetar, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena rasa tak percaya. Setelah bertarung dengan jurang, badai, kabut, bahkan suara-suara gaib semalam, kini ia berada di ambang mimpinya.

“Rio, ini waktumu,” Alex menepuk pundaknya dengan senyum lelah.

Dengan langkah berat namun mantap, Rio maju. Ia menancapkan tongkat esnya di salju, menunduk, lalu perlahan meraih batu puncak. Saat tangannya menyentuhnya—sesuatu terjadi.

Angin mendadak berhenti. Dunia seakan membeku. Tak ada suara, tak ada gerakan, hanya keheningan abadi. Rio merasakan tubuhnya ringan, seakan dipisahkan dari raganya.

Kabut di sekeliling bergerak, membentuk pusaran. Dari dalam pusaran itu muncul sosok-sosok bayangan: para leluhur Papua, mengenakan hiasan kepala dari bulu cendrawasih, tombak di tangan, dan wajah penuh wibawa. Mereka berdiri melingkari Rio, memandangnya dengan tatapan tajam namun penuh makna.

Seorang tua melangkah maju, matanya bersinar hijau kebiruan sama seperti cahaya semalam. Suaranya berat, bergema seperti datang dari perut bumi:

“Anak muda dari jauh… kau telah sampai di puncak yang dijaga sejak dunia muda. Gunung ini bukan sekadar batu dan es. Ia adalah roh, ia adalah darah, ia adalah napas leluhur kami.”

Rio tertegun. Dadanya berdegup cepat. Ia ingin bicara, tapi lidahnya kelu.

Sang tua melanjutkan, “Banyak yang datang hanya membawa kesombongan. Mereka ingin menguasai, menaklukkan, menjadikan gunung ini trofi. Tapi engkau berbeda. Kau datang dengan hati yang gelisah, mencari arti lebih dalam.”

Tiba-tiba, cahaya dari langit turun, menyelimuti tubuh Rio. Ia merasakan kehangatan yang tak bisa dijelaskan, meski tubuhnya berada di tengah salju.

“Kami berikan restu, tapi juga pesan,” lanjut sang tua. “Jangan lupakan suara gunung ini. Ia akan menjadi bagian darimu. Bawalah kisah ini, dan sampaikan pada dunia bahwa alam bukan untuk ditaklukkan… melainkan untuk dihormati.”

Air mata Rio mengalir tanpa ia sadari. Ia mengangguk, dada penuh rasa syukur dan hormat. Saat ia berkedip, semua sosok itu menghilang, kabut buyar, dan dunia kembali bergerak.

Alex memandangnya bingung. “Kau baik-baik saja, Rio? Tadi kau… seperti membeku.”

Rio berdiri tegak di puncak Cartenz Pyramid, matanya berkaca, dadanya bergemuruh. Ia menancapkan bendera kecil Indonesia di atas salju, dan pada saat itu angin bertiup lembut, seolah gunung sendiri ikut memberi salam.

Air matanya jatuh, bukan sekadar lega karena berhasil, melainkan karena menyadari arti sebenarnya dari perjalanannya.

“Ini bukan hanya mimpiku yang terwujud…” bisiknya lirih, “ini adalah pesan. Gunung ini hidup, ia bernafas, dan aku adalah saksi kecilnya.”

Bagi Rio, puncak itu bukan garis akhir, melainkan sebuah awal. Awal dari perjalanan baru — untuk menjaga suara gunung, dan menyampaikan pada dunia bahwa alam tidak pernah untuk ditaklukkan… melainkan untuk dihormati.

 

Hey, Kenalin aku Naufal Aswari, datang dari kota metropolitan dengan kesibukannya yang dramatis, Bekasi. Hobiku mendaki gunung, bukan hanya sekedar menghindari hiruk-pikuk kota, tetapi tuk melihat betapa agungnya ciptaan yang maha kuasa. Jauh-jauh aku ke Kota Buaya, bukan hanya membawa nama, tetapi juga tuk melanjutkan langkahku yang kutuju pada takhta sarjana, tempat ilmu bersemayam.

Kontak: 0877-6104-7280

Instagram: @aswarico

 

Penulis: Naufal Aswari

Penyunting: Muhammad Raihan Ramadhan

Penyelaras Bahasa: Muhammad Raihan Ramadhan

Hujan dan Kamu – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Oleh: Aisyah Nadya Olivia

14 September 2025 18.11 WIB

 

[15 Mei 2023]

Sore hari yang seharusnya melihat indahnya senja sesaat, kini pupus karena hujan yang tiba-tiba turun tanpa gerimis kecil. Bersamaan dengan air mata yang turun dari mata yang sayu. Sang puan kali ini merasa resah, karena ia tak bisa pulang dan memeluk guling pink dikamarnya, ditemani musik yang ia dengar di Spotify, bersama serial Netflix kegemarannya.

Meirella. Ia yang saat ini menangis diantara derasnya hujan. Berteduh disebuah warung yang tutup, sambil menenteng tas yang berisikan mie instan, makanan dan minuman lainnya yang ia beli di Supermarket. Gadis kelahiran Mei yang selalu dilanda kegalauan disaat hujan turun. Padahal, ia dulu sangat amat menyukai hujan, hingga ia pikir, hujan adalah obat. Untuk sekarang, ia menganggap hujan adalah bencana yang mengingatkannya kepada seseorang di masa lalu. Seseorang yang sama-sama menyukai hujan, dan selalu ceria dengan senyumannya yang manis disaat hujan mengguyur kepalanya. Begitupun Meirella, yang disaat itu ikut bahagia karena hujan dan seseorang itu.

Bak tisu yang terkena air, meleleh begitu saja. Itulah Meirella sekarang. Hujan turun, air matanya seraya turun membasahi pipinya. Ia biarkan turun sederas hujan yang turun sekarang. Tak ada orang, ia bebas menangis tanpa mengusap air matanya lagi.

Akan diceritakan oleh Meirella, mengapa seseorang di masa lalu membuatnya menangis hingga di masa depan sekalipun.

 

  • • •

Lima tahun yang lalu…

Gadis SMA kelas sebelas yang sedang bersantai di koridor sekolah, sambil menikmati bekal sandwichnya dari rumah. Ia yang memakan sandwich dengan tenang, tiba-tiba seseorang dari samping menyenggolnya, hingga ia terkejut dan sandwich milik Meirella jatuh ke lantai. Ia sontak menoleh ke samping, menampakkan lelaki dengan tubuh yang penuh keringat dan bau matahari, begitu pula seragamnya yang sudah kotor.

ADIMAS.

Ia Adimas, mendiang mamanya ialah sahabat mama Meirella. Mereka dekat, dikarenakan sedari kecil sudah berteman, dan Adimas sering berkunjung ke rumah Meirella. Terkadang kedatangan Adimas membuat Meirella kesal, karena lelaki itu selalu membuat Meirella kesal dan marah. Selalu, selalu menjahili perempuan itu, tanpa melewatkan satu hari pun untuk menjahili Meirella.

“Adim! Ganti sandwich gue,” ucap Meirella kesal.

Gadis itu memandangi sandwichnya yang kotor dengan tatapan sendu. Pasalnya ia hanya memegang uang untuk ongkos pulang saja, tanpa membawa uang untuk membeli makanan di kantin.

“Maaf. Beli aja sana di kantin, banyak kok! Isinya juga macam-macam,” jawab Adimas dengan entengnya.

Meirella marah dan gemas sendiri dengan sikap Adimas yang terlampau menyebalkan. Meirella pergi dari tempatnya sekarang, menuju kelasnya. Adimas menyusulnya seperti anak bebek yang mengikuti induknya kemanapun induknya pergi. Meirella sudah tak perduli ada Adimas yang mengikutinya, karena ia hanya ingin meringkuk dan meratapi nasib sandwichnya. Ia lapar dan tak ada uang untuk membelinya lagi. Ingin menangis pun tak akan membuat sandwichnya kembali.

“Rella. Maafin gue! Ayo jangan dikelas aja, diluar hujan. Ayo hujan-hujanan. Kayaknya semua teman-teman kita pada keluar buat hujan-hujanan. Lagian ini mapel terakhir, kenapa engga?” Ajak Adimas.

Meirella beranjak dari duduknya dan keluar kelas terlebih dahulu meninggalkan Adimas.

Banyak murid-murid yang bermain hujan, tak perduli seragamnya basah, karena besok sudah hari libur. Wajah Meirella berseri-seri, hujan adalah favoritnya. Adimas menyusul dan menarik tangan Meirella untuk ikut bermain hujan di lapangan basket bersama teman-teman lainnya.

Adimas menggenggam kedua tangan Meirella dan berputar-putar bersama hujan. Kedua anak SMA itu sangat bahagia, seperti sedang berada di surga atau berada di hari yang spesial. Namun, ini hanya tentang hujan, yang membuat mereka berdua melompat-lompat kegirangan dibawah derasnya hujan. Senyuman yang akan selalu teringat dan dikenang. Hari-hari menjadi siswa SMA adalah hari-hari yang harus dinikmati meskipun itu hanya sedetik. Masa-masa SMA ialah masa indah terakhir bagi Meirella, apa mungkin karena ada Adimas juga?

Mereka berdua dan siswa-siswi lainnya masih setia menikmati hujan di lapangan sekolah. Sementara para guru hanya pasrah, karena terlanjur para anak didiknya itu sudah basah.

  • • •

Sepulang Sekolah

Mereka berdua memeluk tubuhnya masing-masing. Sama-sama kedinginan, namun masih bisa tersenyum. Meirella melupakan masalahnya dengan Adimas tadi, hanya karena ia bisa bermain hujan-hujanan. Moodnya membaik hanya dengan bermain hujan-hujanan, menarik sekali.

Kali ini mereka berdua pulang bersama naik angkutan umum, dan berhenti di warung bakso. Adimas yang meneraktir Meirella, yaa sebagai ganti sandwich tadi juga. Makan bakso setelah bermain hujan juga tak akan lupa, karena termasuk kenangan indah juga semasa SMA.

Bakso mang Aji.

Mereka berdua memakan semangkuk bakso dengan lahap. Bakso mang Aji memang langganan anak-anak sekolah. Mang Aji juga sudah sangat hafal siapa saja anak yang satu sekolah dengan Meirella dan Adimas yang sudah mencoba baksonya. Mang Aji juga saksi Meirella dan Adimas yang selalu bersama menghabiskan waktu mereka untuk sekedar bercanda dan memakan bakso mang Aji. Seharusnya momen-momen itu bukan hanya “sekedar”.

“Boleh gak mang Aji ramal?” Tanya mang Aji tiba-tiba.

“boleh!” Ucap Meirella dan Adimas serempak.

Mang Aji tertawa sebentar, dan mulai mengeluarkan suaranya.

“Kayaknya, kalian bakalan pacaran. Atau, sekarang udah pacaran?”

Meirella dan Adimas sontak saling bertatap-tatapan lalu saling tertawa. Mereka berdua menganggap ini hanyalah lelucon mang Aji, karena selalu melihat Meirella dan Adimas yang selalu membeli bakso disini berdua saja.

“Gak akan. Mana mungkin aku sama Adimas sih mang!” Bantah Meirella yang disusul anggukan dari Adimas.

“Betul. Aku mana mau sama upik abu kayak Rella.” Ejek Adimas.

Meirella mencubit lengan Adimas hingga Adimas memekik kesakitan.

Mang Aji hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan. Mana mungkin mereka tidak jatuh cinta satu sama lain, jika kedekatan mereka saja sudah pasti membuat satu sama lain nyaman. Ya meskipun kelihatannya selalu tidak akur, tetapi mereka selalu berdua, seperti sudah merekat karena diberi lem yang kuat.

Bakso Adimas habis terlebih dahulu, ia pura-pura keluar lebih dahulu dan tidak membayar bakso Meirella karena sang gadis itu sangat lama memakan baksonya.

“Jangan gitu deh lo! Pokoknya yang baksonya udah habis duluan, dia yang bayar,” ucap Meirella.

“Iya bayar duluan, tapi bayar punya gue doang,” jawab Adimas dengan nada songong.

Meirella menggerutu sambil memakan baksonya hingga habis tak tersisa, sisa alat makannya saja. Ia berdiri dan menghampiri mang Aji dengan bibir yang ditekuk.

“Mang, aku ngutang dulu ya. Gak bawa uang soalnya, atau aku bantu cuciin mangkuknya mang Aji?” Tanya Meirella.

Mang Aji tertawa terlebih dahulu, lalu memberi tahu Meirella bahwa baksonya sebenarnya sudah dibayar Adimas, Cuma memang lelaki itu suka sekali iseng kepada Meirella. Meirella pamit kepada mang Aji setelah makan, dan menyusul Adimas yang ternyata lelaki itu menunggu Meirella diluar warung.

Mereka berdua melanjutkan perjalanan pulang, dengan berjalan kaki. Jarak warung mang Aji dan komplek rumah Meirella dan Adimas tidak terlalu jauh, apalagi mereka masih muda, yang mana masih kuat berjalan sedikit jauh. Tetapi kalau disuruh berjalan dari Jakarta ke Bogor mana bisa.

Mereka menikmati udara sehabis hujan, dan sore hari yang mulai menampakkan senjanya yang indah, meski singkat. Mereka berdua bersenda gurau sambil berjalan menyusuri jalan dan hiruk pikuk Jakarta, yang mulai memadatkan suasana ibu kota. Setiap jalanan disini, sudah termasuk kenangan terindah, meski mereka hanya berjalan tanpa ada kata kata istimewa, hanya ocehan dua remaja SMA yang sedang adu mulut di setiap perjalanan pulang mereka. Bagaimana tak terus dikenang, jika Meirella terus berdua dan menghabiskan waktu seharian bersama sang tuan, yang tak kunjung pulang ini.

  • • •

Masa sekarang

Kembali ke tahun ini, sekarang. Iya, kembali di Meirella yang sedang menangis saat terjebak hujan sendirian. Hujan reda, air matanya juga ikut reda. Ia mengusap kasar air mata yang masih menempel di wajahnya, dan melanjutkan perjalanan pulangnya. Ia menghela napas dan menikmati suasana yang tenang setelah hujan.

Tanpa sadar orang-orang yang mulai lewat didepan Meirella memandanginya dengan tatapan penasaran. Meirella sudah bisa menebak, mungkin karena matanya yang sembab. Ia tak perduli dan tetap melanjutkan perjalanannya.

Sudah lima tahun lamanya, aku masih menunggumu kembali dan memakan bakso bersama, bermain hujan bersama, berjalan bersama, bersenda gurau bersama. Aku semakin rindu karena suasana hari ini mengingatkanku padamu. Aku masih mengingat wangi parfum favoritmu, aku masih mengingat senyum manis yang kau lontarkan didepanku. Aku tak masalah bila kau usil kepadaku lagi. Aku tak akan kesal dan lari menghindarimu lagi, namun aku akan tertawa dan tak berhenti memandang wajahmu. Atau jika memang kau tak akan kembali, tolong beri aku kejelasan dimana dan mengapa kau pergi, agar aku sedikit tenang karena aku sudah tau kabarmu.

  • • •

Meirella sudah tiba dirumah. Melempar tas plastik tersebut ke ranjangnya. Badannya lemas seperti tak berdaya. Mamanya menghampiri dan menanyakan, ada apa dengannya? Dengan tatapan sayu Meirella, mamanya sudah tau, mengapa anak gadisnya itu lemas. Mamanya hanya mengelus surai lembut sang gadis, dan sesekali mencium kening anaknya.

“Sampai kapan, nak?” Tanya sang mama.

Air mata Meirella turun lagi, namun kali ini tak ditemani hujan. Hanya ditemani rasa kerinduan yang mendalam, dan luka yang kembali basah.

“Sampai aku tau kenapa dia pergi,” ucap Meirella.

“Sudah lima tahun dia ninggalin kamu, sulit buat cari tau lagi kenapa dia pergi, Meirella,” balas sang mama.

Meirella merenung, dan kepingan-kepingan memori disaat beberapa hari sebelum kepergian Adimas waktu itu terkumpul kembali.

  • • •

Tahun terakhir bersamanya

Hari yang cerah, tak mendung juga tak panas. Meirella memakai baju santai, membawa snacknya dan ia memakannya sambil berjalan. Ia menuju rumah Adimas untuk bermain dan menginterogasi lelaki tersebut, untuk menanyakan Kuliah dimana.

Meirella melihat pintu rumahnya yang terbuka lebar, ia masuk dan memberi salam. Terlihat papa Adimas yang sedikit tersentak karena kedatangan Meirella. Padahal, biasanya beliau santai saja saat Meirella masuk tanpa permisi.

“Om, Adim dimana?” Tanya Meirella, celingak-celinguk.

Cara bicara papa Adimas gelagapan, membuat Meirella sedikit bingung. Ada apa gerangan, seperti sedang menyembunyikan sesuatu kepada gadis tersebut.

“D-di kamarnya nak, ketok aja,”

Meirella bingung sebenarnya, ada apa papa Adimas yang bersikap aneh hari ini.

Gadis itu masuk kedalam rumah, menuju kamar Adimas. Meirella membuka kamar Adimas, terlihat lelaki itu sedang berbaring sambil mendengarkan musik. Juga gadis itu melihat beberapa koper yang berdiri disebelah ranjang Adimas.

“Wih, ngapain koper disini,” tanya Meirella, yang kemudian gadis itu duduk disudut ranjang.

Adimas bangun dari tidurnya, dan duduk, “Ngapain lo kesini? gak bilang,” tanya Adimas.

“Biasanya juga gue gak bilang,” Jawab Meirella sambil melempar tatapan intimidasi kepada Adimas.

“Lo ngapain….sih?” Adimas gelagapan.

“Lo mau kemana?” Tanya Meirella, yang masih dengan tatapan intimidasinya.

“mau nyusul mama,” Jawaban dari Adimas, yang membuat Meirella memukul keras lengan lelaki itu.

Adimas meringis kesakitan, kemudian tertawa sepuas-puasnya melihat wajah kesal Meirella.

Lalu lelaki itu menghela napas, dan mulai membuka suara, untuk menjelaskan apa yang ia sampaikan, “Maaf gue telat ngasih tau lo Rell. Sebenernya gue gak mau lo tau. Cuman kayaknya lo memang harus tau,” Adimas menatap netra Meirella.

“Gue besok pergi ke tempat jauh. Lo boleh kok anterin gue! Gue juga ada sesuatu sih buat lo,” lanjut Adimas.

Meirella terdiam, dan matanya yang mulai memerah. Bahkan saat Adimas beberapa kali memanggil namanya, gadis itu tak berkutik sama sekali. Lalu, air mata keluar dari mata Meirella, membasahi pipinya. Adimas sontak menghapus air mata Meirella yang turun dan membasahi pipi gadis itu.

“Lo bakalan balik lagi kan? Lo kuliah di luar negeri bim? Katanya mau kuliah bareng sama gue, dulu lo bilang waktu masih kelas sepuluh kita bakalan bareng terus sampai tua. Kenapa lo ninggalin gue sekarang? Tiba-tiba pula? Lo udah gak mau temenan sama gue ya?” Meirella memberi pertanyaan bertubi-tubi kepada Adimas, kemudian disusul isak tangis dari gadis itu.

Adimas hanya tersenyum tipis, seraya mengelus surai hitam nan lembut milik sang gadis. Seolah-olah lelaki itu meyakinkan bahwa ia akan kembali dan akan menemui gadis itu. Meski kenyataannya tidak.

“Gue nginep disini,” Meirella membuka suara.

Adimas mengerutkan keningnya, ia ingin sekali menggelengkan kepalanya. Namun melihat tatapan sendu dari gadis itu, ia tak tega untuk menolaknya. Adimas menganggukkan kepalanya.

“Gak usah cengeng Rell. Lo kalau kayak gini makin mirip monyet yang dipinggir gereja itu,” ejek Adimas.

Ejekan Adimas dibalas dengan pukulan Meirella.

“Lo mirip dugong Upin-ipin!” Balas Meirella

“Gue mirip orang Korea favorit lo!” Kata Adimas dengan mimik wajahnya yang membuat Meirella muntah, karena lelaki itu sangat percaya diri.

“Siapa coba namanya?”

“Yoshinori,” Jawab Adimas dengan PDnya.

Meirella tertawa kencang, karena tingkat PD Adimas yang sudah di level tinggi, namun jawabannya salah.

“Dia itu dari Jepang, bego!”

“Kan kata lo dia ada darah koreanya juga,”

Meirella mematung, malu setengah mati karena ia tertawa sangat keras, mengejek Adimas yang salah. Benar juga…

“Gak tau deh! Ayo keliling komplek pakai sepeda, cuacanya bagus,” Ajak Meirella.

Adimas tertawa, lalu menganggukkan kepalanya untuk menyetujui ajakan Meirella untuk bersepeda.

Mereka memutari komplek dengan bersepeda, bersenda gurau sambil menikmati angin yang menyegarkan. Lalu mereka melihat pedagang kaki lima, menjual bakso yang tentu saja membuat kedua remaja itu tergiur. Mereka berhenti dan memakan bakso sambil menikmati cuaca yang bagus hari ini.

“Lo gak bercanda ya waktu bilang mau pergi?” Tanya Meirella untuk memastikan kembali.

Adimas menganggukkan kepalanya dan menatap Meirella sedikit lama, yang dibalas dengan tatapan bingung Meirella.

“Jalanin hari-hari lo seperti biasa ya Rell, meskipun gak ada gue nantinya,” tutur Adimas.

Sudut bibir Meirella tertarik kebawah, Adimas yang tahu itu hanya terkekeh pelan sambil mengelus singkat pundak gadis itu.

“Gue bakal tungguin lo pulang. Pulang ke gue,” ucap Meirella.

Seharian ini mereka menghabiskan waktu berdua, bersepeda, memakan bakso bersama, bermain sepak bola di lapangan yang meskipun Meirella jarang mendapatkan kesempatan untuk memasukkan bola itu ke gawang, lalu mereka menonton film bersama di ruang tamu, sambil bersenda gurau. Tanpa disadari, Papa Adimas memperhatikan mereka berdua, Pria paruh baya itu menatap sendu kedua remaja yang sedang tertawa bersama.

Hingga malam tiba, mereka berdua mulai lelah dan terlelap disofa, dengan TV yang masih menyala.

  • • •

[Bandara, 15 Mei 2018]

Dalam perjalanan menuju bandara hingga sampai tiba di bandara, Meirella tak berhenti menangis. Mata Adimas juga terlihat merah, namun Lelaki itu menahan tangisnya. Masalahnya, Papa Adimas juga ikut pergi dengan Adimas. Benar-benar hanya menyisakan rumah yang sempat mereka tinggali saja.

Adimas mengeluarkan secarik kertas yang telah dilipat rapi dari sakunya.

“Nih. Baca, tapi jangan disini, dirumah aja. Takutnya lo makin nangis, kan gue udah pergi, gak ada yang nenangin lo disini,” Ucap Adimas.

Meirella juga mengeluarkan surat yang covernya berbentuk hati dengan dua manusia lidi berdiri sejajar. Apakah itu menggambarkan Meirella dan Adimas? Mungkin iya.

“Hahaha, apaan nih? Jadi surat-suratan gini,” Adimas terkekeh.

Meirella tak berhenti menatap mata lelaki itu, karena ia ingin wajah lekaki itu tergambar diotaknya. Meirella berniat menunggu Adimas dan tak melupakan lelaki itu.

“Baca juga, nanti di pesawat ya. Jangan lupa kabarin gue kalau udah sampai tempat tujuan lo,”

Adimas hanya tersenyum tipis, lalu merengkuh tubuh gadis itu. Meirella juga membalas pelukan Adimas tak kalah erat. Tangis Meirella semakin pecah, disaat Adimas memeluk tubuhnya dan mengelus pucuk kepalanya.

Pengumuman dari bandara mengharuskan Adimas melepaskan pelukannya. Mereka harus benar-benar berpisah, meskipun dihati tak rela. Apakah selama ini Meirella membuat Adimas sakit hati, hingga lelaki itu meninggalkan Meirella dengan pamit yang tak terlalu baik? Apakah Adimas membenci Meirella?

Meirella berlari keluar dari bandara, orang tua Meirella menunggunya diluar, didalam mobil. Didalam mobil, Meirella yang hendak membaca surat dari Adimas, dibuat panik karena surat itu tak ada didalam sakunya.

“Berhenti dulu, ada yang ketinggalan,” pinta Meirella.

Ia sudah mencari suratnya tadi, namun nihil, suratnya benar-benar hilang. Tubuhnya lemas, karena hanya itu satu-satunya pemberian Adimas untuk terakhir kali. Ia menangis didalam mobil, meratapi kepergian Adimas dan juga surat yang hilang. Sampai sekarang pun, Meirella tak akan pernah tahu, apa isi surat dari Adimas.

Sementara isi surat Meirella yang ia berikan kepada Adimas :

Halo ini Meirella. Simpan suratnya ya, jangan sampai dibuang atau hilang. Meskipun bertahun-tahun nanti isi surat ini terdengar garing, namun tetap simpan.

Adimas, kita ketemu waktu kita sama-sama masih disekolah TK. Waktu itu mendiang mama lo main kerumah gue, karena gue baru pindahan deket rumah lo. Waktu itu lo memang udah jahil dari kecil ya, inget gak waktu itu lo dorong gue dikolam renang? Lo bukannya panik malah ketawa, dasar psikopat! Tapi setelah itu gue puas soalnya lo dimarahin sama mama lo.

Waktu kita SD kita semakin deket, lo jadi sering main sama gue, kita juga satu sekolah, bener-bener gak bosen ya. Tapi waktu lo kelas 6 SD, mama lo meninggal. Waktu itu lo nangis dan gak mau ngomong sama gue berhari-hari T__T (ini ceritanya emoji nangis ala korea) Gue juga sedih waktu lo sedih. Tapi gue selalu main kerumah lo biar lo gak kesepian. Dan gue seneng, seiring berjalannya waktu lo udah mulai ceria lagi, ya meskipun gue harus jadi korban kejahilan lo! Kesel gak sih jadi gue? Hahaha.

Tiba di SMA kelas sepuluh, waktu itu ada kakak kelas yang deketin gue, tapi lo marah-marah ke gue gara-gara gue mau aja dideketin sama kakak kelas playboy. Kita juga sering dikira pacaran, padahal mah waktu itu ogah banget pacaran sama lo! Lo juga gak? Tapi Dim, waktu kelas sebelas gue sadar kalo gue naksir sama lo. Sebenernya tuh gue bingung sama takut, kalau kita pacaran takut nanti putus malah jadi asing ya. Jadinya gue diem aja, terus juga lo kayak gak tertarik sama gue gak sih? Lo naksir juga gak?

Hari ini gue sedih banget lo mau pergi ninggalin gue. Lo mau kemana sih? Belum juga gue bilang kalau gue naksir sama lo, lo udah pergi duluan. Ini kenapa tiba-tiba lo pergi sih, Adim? Harusnya lo bilang aja ke gue, kalau ada sikap gue yang bikin lo muak… katanya mau satu kampus bareng!! Dasaaarrr penghianaaaattttt!!! Eh tapi ini gue serius mau nungguin lo balik, karena gue yakin 100% lo bakalan balik, yaa karena apa? Karena gue ngangenin lah!! Hehehe. Tangan gue pegal tau Dim, udah sampai ini aja dulu ya. Ini gue nulisnya nahan nangis biar kertasnya gak basah, stay safe & healthy disana!

Yang paling ngangenin (Meirella).

Meirella selalu menunggu kehadiran Adimas. Bahkan dua hari setelahnya, Meirella menghubungi Adimas via Chat, namun tak ada balasan sama sekali, begitu pula papa Adimas.

Bahkan bulan dan tahun silih berganti, Meirella masih menunggu kedatangan dan kabar Adimas. Mama dan papanya sangat sedih, karena Meirella selalu menangis saat hujan tiba.

Hingga ditahun ketiga, Meirella merasa semuanya sudah usai, Adimas benar-benar tak kembali, dan tak ingin menemui Meirella. Meirella tak menangis lagi saat hujan, namun, disaat tanggal yang sama dengan perpisahannya dengan Adimas di bandara, ia akan menangis dan mengingat semuanya. Kenangannya, senyumannya, dan juga suratnya yang tak akan pernah Meirella temukan lagi.

  • • •

Masa sekarang

Pantas saja Meirella menangis, hari ini tanggal 15 Mei, dimana tanggal itu ia harus berpisah dengan Adimas. Sementara besok, 16 Mei ialah hari ulang tahun Meirella. 5 tahun ia merasakan ulang tahun tanpa Adimas.

Ia harus yakin dan bangkit, untuk menghapus semua tentang Adimas, harus semua. Jika ia masih menyimpan kenangan tentang Adimas, semuanya tak akan selesai, dan akan membuat Meirella selalu terpuruk bertahun-tahun lamanya.

Jika orang bilang Meirella harus berusaha mencari informasi tentang kepergian Adimas, ia sudah berusaha menghubungi keluarga Adimas. Tidak ada yang tahu soal kepergiannya dan papanya. Nomor mereka sama-sama tidak aktif, sehingga tak ada yang dapat dihubungi lagi.

Namun tak selesai sampai disini, hingga seseorang mengirimkan sebuah surat dan sebuah box sedikit besar. Meirella mengira bahwa itu adalah Adimas yang akan kembali. Terdapat secarik kertas berisi surat, dan Meirella membacanya.

[Isi Surat]

(15 Mei 2023)

Halo Meirella, ini saya Andika, papa Adimas sahabatmu. Maaf saya baru memberi kabar sekarang, setelah lima tahun kalian berpisah. Saya masih tidak sanggup untuk menulis surat ini dan memberikannya kepada anda Meirella. Disurat ini saya akan menjelaskan sesingkat-singkatnya dan sejelas-jelasnya kenapa, anak saya Adimas, harus meninggalkan kamu dan Indonesia.

Adimas pergi ke luar negeri karena saya yang sakit dan akan menjalankan operasi jantung. Waktu itu, saya memilih untuk merahasiakan saja penyakit saya kepada anak saya. Namun, surat dari dokter jatuh ditangan Adimas. Adimas marah kepada saya, namun anak itu juga menangis dan memeluk saya. Ia memutuskan untuk saya dibawa keluar negeri dan berobat agar mendapatkan penanganan yang lebih baik. Adimas tidak ingin papanya harus pergi menyusul mamanya. Awalnya, saya kira hanya untuk berobat biasa, namun saat Adimas mengatakan bahwa jantungnya adalah jantung papanya, saya sadar bahwa anak itu akan mendonorkan jantungnya untuk saya.

 Saya sempat menentang, bahwa seharusnya tidak perlu, karena saya sudah tua dan pantas mati, sementara Adimas, ia masih harus melanjutkan hidupnya. Transplantasi jantung berjalan lancar, dan saat itu juga hati saya hancur, bahwa Adimas benar-benar melakukannya. Kini, sudah saatnya saya memberikan barang-barang pemberian Meirella untuk Adimas, kembali kepada Meirella lagi. Karena saya tidak pantas menyimpannya. Disini sudah tidak ada lagi Adimas.

17 Mei ialah hari mengenang kepergian Adimas. Saya harap setelah kabar ini sampai, Meirella benar-benar mengikhlaskan Adimas dengan segenap hati, dan saya mohon untuk menjaga barang-barang itu. Adimas sempat memberi salam juga, bahwa dia juga mencintai Meirella. Terima kasih sudah menemani anak saya (Adimas) semasa hidupnya.

Saya, meminta maaf sebesar-besarnya.

Meirella benar-benar mendapatkan jawabannya sekarang. Ia terkapar lemas dilantai, menangis sejadi-jadinya dengan memeluk box berisikan barang-barang kenangan bersama Adimas. Dadanya sesak, napas Meirella seakan-akan tercekat. Hingga Meirella berada diperasaan denial, haruskah ia melupakan Adimas atau ia harus ikut menyusul Adimas.

Mama Meirella merengkuh tubuh gadis itu, sang mama juga ikut menangis. Setelah kepergian sahabatnya itu, anak semata wayang sahabatnya harus ikut menemani mamanya di surga.

Awalnya Meirella marah, mengapa Adimas harus mengorbankan dirinya untuk papanya yang sudah tua, namun jika Meirella berada diposisi sang lelaki itu, ia akan melakukan hal yang sama.

Kini, Meirella harus benar-benar melepaskan Adimas. Karena sang tuan memang benar-benar tak akan kembali, namun Meirella yakin bahwa lelaki itu saat ini berada di sisinya, melihatnya membuka surat tersebut, dan membayangkan senyuman lelaki itu saat sedang memandangnya.

Terima kasih dan selamat tinggal, Adimas.

The end.

 

Nama saya Aisyah Nadya Olivia, lahir pada 16 Mei 2006 di kota Sidoarjo. Saya sekarang sedang menempuh pendidikan di UNESA dengan jurusan Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Hobi saya membaca dan menulis, terlebih lagi membaca novel sejarah dan politik.

Kontak: 0831-9398-8630

Instagram: @olievsya

 

Penulis: Aisyah Nadya Olivia

Penyunting: Muhammad Raihan Ramadhan

Penyelaras Bahasa: Muhammad Raihan Ramadhan