
Oleh: Kayla Ghifari Ahmad
24 Juni 2025 20.43 WIB
Pagi-pagi ia sudah ada di jalanan. Setiap hari. Kadang-kadang ia keluar dari rumah pukul 04.00. Di kesempatan yang lain, ia muncul di saat yang sama ketika fajar menyingsing. Seperti berlomba, mana yang lebih dulu bangun. Tentu saja fajar selalu jadi pemenang di setiap pagi. Fajar tidak pernah kesiangan. Ia punya durasi yang pas. Tanpa ada korupsi waktu sama sekali. Tapi membicarakan Lintang, bocah itu, jauh lebih menarik daripada fajar yang setia membentangkan karpet kuning bagi pagi.
Hari itu Lintang bangun pukul empat lewat lima menit. Ia tahu persis, tadi malam ada acara kenduri kecil-kecilan di halaman mushola kampung. Lintang yakin, ia bisa dapat uang lebih banyak hari ini. Dugaan bocah itu tidak pernah meleset. Belum ada siapa pun selain dirinya. Seketika senyum mengembang di wajah kecilnya.
Lintang membawa karung berwarna putih dan pengait terbuat dari besi dengan ujung dibengkokkan. Lintang berjalan perlahan. Menyambar semua yang ada di depannya, yang bisa ia jadikan uang. Tidak lama, karung itu sudah terisi sepenuhnya. Lintang berdecak senang. Sebentar lagi, karung itu penuh. Ia buru-buru mengikatnya. Lintang tergesa-gesa meninggalkan mushola.
Sesungguhnya Lintang enggan untuk pergi. Tapi dari kejauhan ia mendengar jejak langkah berat. Ia tahu siapa gerangan yang berjalan dalam gelap. Masih banyak plastik-plastik bekas yang berserakan. Tapi Lintang tidak mau ambil risiko. Berhadapan dengan Si Jangkung sama saja mencari masalah. Ia bisa kencing di celana lagi.
Gamang, Lintang teringat seminggu yang lalu. Si Jangkung menerkamnya dari belakang. Sangat tidak mungkin untuk mengambil langkah seribu dan lari terbirit-birit. Sudah dapat dipastikan bila Lintang nekat melakukannya, ia akan kalah. Lintang punya dua kaki yang tidak sempurna. Tungkai kanannya lebih pendek beberapa senti dari tungkai kiri. Melihat Lintang berjalan, seperti seorang kurcaci dengan kepala turun-naik.
Si Jangkung memegang kerah baju Lintang erat. Hal ini sebenarnya tidak perlu ia lakukan. Lintang tidak akan berpikir untuk lari. Ia ketakutan. Ini bukan pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan Si Jangkung. Tiba-tiba ia tidak bisa menahan kencing.
“Kau mau coba lari bocah berkaki sayut? Ha…ha…ha!’’
Lintang tersinggung sekali. Penuh kebencian ia menantang mata Si Jangkung dan berkata, “Tentu saja tidak.”
Semerta-merta Si Jangkung melepaskan pegangannya. Ia berjalan beberapa langkah dan mengambil karung berwarna putih Lintang yang sudah hampir terisi penuh. Ia tidak berkata apa-apa. Pun Lintang. Ia membiarkan Si Jangkung berlalu. Lintang berbalik, berjalan putus asa. Cuma pengait berujung bengkok saja yang ia bawa.
“Kurang ajar! Pasti si kaki sayut yang telah mengumpulkannya.” Celoteh Si Jangkung kecewa menyaksikan halaman mushola yang nyaris bersih. Dugaannya tidak salah, Lintang bangun lebih dulu. Ia semakin memusuhi Lintang. Gigi-giginya bergeretuk geram seperti harimau mengaum yang kecewa karena mangsanya lepas begitu saja.
Lintang masih bersembunyi. Ia mendengar semua cercaan Si Jangkung dari samping mushola. Sampai punggung Si Jangkung menghilang di ujung jalan, ia belum mau keluar. Lintang khawatir Si Jangkung berubah pikiran dan berbalik.
Bocah itu keluar dan menunggu plastik bekas yang tersisa. Si Jangkung seolah enggan mengumpulkan. Pantang bagiku memakan sisa, begitu akunya tempo hari. Hari masih gelap saat Lintang berjalan pulang. Ia mengambil jalur yang berbeda dengan Si Jangkung. Berharap semua baik-baik saja menjelang ke rumah.
Lintang selalu berkawan fajar. Bocah itu tidak bangun cepat pagi ini. Olo, abangnya yang rada-rada idiot ini demam. Mereka tinggal berdua di gubuk itu. Sejak tadi malam Lintang tidak bisa tidur. Olo mengerang pelan dengan napas berat turun-naik. Lintang bingung. Bagaimana caranya ia dapat membeli obat, sementara Olo tidak mungkin ditinggal. Sudah hampir satu jam ia mematung di sudut gubuk.
Mendadak Lintang ingat emak.
“Kenapa Abah cepat pergi ya, Mak?”
Emak menggangguk. Ia dan Lintang terus berjalan menjelajahi gunung sampah. Sesekali berhenti dan memungut sesuatu yang bisa dijual ke penadah.
“Sejak kapan kaki Lintang seperti ini, Mak?”
Emak memandang Lintang. Menarik napas panjang-panjang. “Dulu kita punya tetangga yang jahat. Ia sering menertawakan kita. Bahkan Mak sering mendengar ia menggunjingkan Olo. Lalu tertawa terbahak-bahak. Apa yang lucu?”
Lintang mendengar cerita emak dengan seksama.
“Kau tahu?” lanjut Emak. “Abahmu marah bukan main. Hampir setiap malam ia memikirkan cara membalas. Ia berdoa supaya tetangga kita itu juga dapat anak seperti abangmu. Tapi Tuhan tidak pernah mengabulkan. Perempuan itu tidak kunjung mengandung. Abahmu tidak bisa menahan hati lagi saat perempuan itu terang-terangan menghina Olo. Mak cepat-cepat menahan Abah, ia berniat membunuh perempuan itu dengan tangannya sendiri.” Emak diam.
“Lalu?”
“Abah tidak pernah melakukannya. Dua bulan kemudian kita pindah. Waktu itu Emak hamil besar.”
“Mengandung Lintang, Mak?”
Mak mengangguk. Tapi Lintang belum mendapat jawaban apa-apa tentang kakinya yang panjang sebelah. Ia masih memandang Emak. Emak mengerti. Lalu melanjutkan ceritanya.
“Pagi-pagi, sebelum kita berangkat, Abah pergi ke kandang ayam perempuan itu”
“Dan mematahkan kaki ayamnya?”
Spontan Emak mengangguk. “Ya. Abah mematahkan kaki kanan ayamnya.”
Lintang manggut-manggut. Persis. Kaki kanan bocah itu lebih pendek dari kaki kiri. Keadaannya yang seperti inilah membuat ia takut bukan main pada Si Jangkung.
Tapi…
“Kau tahu kenapa kakimu panjang sebelah, Lintang?” tanya Abah suatu hari.
“Kata Emak karena Abah mematahkan kaki ayam tetangga kita yang selalu menertawakan Olo.”
“Kamu salah.”
Dahi Lintang berkerut. “Lalu?”
“Emak kau mencibir melihat anak tetangga kita yang baru. Ia persis seperti kau ini.”
Kali ini Lintang merasa keduanyalah yang menjadi penyebab. Dan sejak hari itu, ia tidak pernah bertanya kenapa ia punya dua kaki yang seperti itu. Ia tidak menyalahkan siapa-siapa.
“Ntang aku lapar.” Tiba-tiba Olo bangun. “Kau tak beli nasi?”
Lintang ragu-ragu untuk menjawab. Olo tidak pernah tau dari mana Lintang dapat uang untuk membelikan sebungkus nasi untuknya.
Lintang bangkit. “Kau lapar?”
Olo mengangguk. Lintang sedih melihat tubuh yang terbaring lemah di atas kardus-kardus bekas yang mereka gunakan untuk alas tidur.
“Tunggulah sekejap! Aku akan membelikannya untukmu.” Lintang berjalan meninggalkan Olo sendiri. Walau ia merasa was-was.
Lintang membawa karung berwarna putih dan pengait bengkok di ujung. Ia meninggalkan gubuk semakin jauh. Tapi, ia belum menemukan apa-apa, selain dua buah botol aqua bekas. Lintang putus asa. Ia menyesal. Seandainya ia keluar lebih cepat. Tentu tidak ada yang mendahuluinya.
“Kemana saja kau, Ntang?” Aku tidak melihatmu dari tadi.”
“Olo sakit, Do.”
“Sakit apa?”
“Tak tahulah. Aku tak punya uang untuk membeli nasi. Obat apalagi.”
Keduanya berwajah putus asa. Hari ini mereka bernasib sama. Semakin hari semakin banyak yang mengais makan di jalanan. Ah, seandainya saja masih ada Emak dan Abah, sesal Lintang. Tentu ia tidak harus ada di jalanan. Setiap hari, setiap pagi. Lintang tidak menyadari, ia menangis. Seingatnya ia sudah lama melupakan air mata. Lintang benci air mata. Air mata membawanya pada kesedihan.
Emak dan Abah pergi pada saat yang sama.
“Jaga Olo ya, Lintang. Sore Mak dan Abah kembali.”
Emak dan Abah ke kota membeli baju baru untuk Olo dan Lintang. Mereka punya sedikit tabungan. Dua hari lagi ada kenduri ulang tahun kampung. Emak dan Abah sudah lama berencana untuk membelikan mereka baju baru. Lintang tersenyum di depan pintu melepas Emak dan Abah. Olo juga. Senyum paling indah dalam hidup mereka. Juga untuk terakhir kali.
“Dadah Mak, Bah.” Olo melambai. Ia sangat bahagia. Sore ini Emak dan Abah akan membawa sepasang baju baru.
Lintang menanti di depan pintu bersama Olo. Harap-harap cemas. Menjelang sore mereka tidak kembali. Olo mulai menangis.
“Mana baju baru? Mana baju baru?” persis seperti anak-anak.
Lama sekali Lintang tidak memikirkan baju baru. Ia lebih mengkhawatirkan Emak dan Abah.
“Lintang….” Olo merengek.
“Diam Olo!” Tiba-tiba Lintang marah.
Kemudian Olo benar-benar berhenti mengeluarkan suara. Tapi air matanya tidak berhenti membasahi pipinya. Membuat Lintang muak dan pergi meninggalkan Olo sendiri. Ia tidak menoleh. Olo berteriak-teriak memanggil. Tidak lama, ia kembali. Kasihan remaja tujuh belas tahun itu tidak mengerti apa-apa. Yang ia tahu sebentar lagi ia akan dapat baju baru.
Ketika tirai malam mulai terkembang Emak dan Abah belum juga datang. Lintang dan Olo masih menunggu di depan pintu. Sementara air Olo masih saja mengalir. Sesekali ia menatap Lintang lama. Seperti menunggu Lintang menjelaskan sesuatu. Ia cuma menusukkan pandangannya ke ilalang yang bergoyang ditiup angin. Lintang merasakan hawa dingin.
Tidak lama sesudah azan ashar, Lintang dan Olo serentak melihat ada bayangan yang semakin dekat.
“Hore….Mak dan Abah pulang.” Olo melompat-lompat kegirangan.
Tapi tidak. Bukan Emak ataupun Abah yang datang.
“Ada apa Mang?”
Olo berhenti menari. Ikut memandang Mang Udin.
“Bus yang ditumpangi Emak dan Abah kau masuk jurang, Ntang.”
Sesaat Lintang diam saja. “Ada baju baru, Ntang?” Dengan wajah sungguh-sungguh Olo bertanya.
“Diam!” Lintang mendekati Olo. Ia merasa bersalah. “Tak pernah ada baju baru, Lo.”
Lintang meraung sejadi-jadinya seraya memeluk Olo.
Edo memukul bahu Lintang. “Olo kau tinggalkan sendiri?”
“Aku harus cari uang untuk beli nasi.” Lintang meninggalkan Edo begitu saja. Pikirannya tak menentu. Tapi ia terus berjalan.
Lintang berlari-lari menembus angin. Olo pasti sudah sangat lapar. Ia membuka pintu cepat-cepat.
“Olo, lihatlah apa yang kubawa!”
Olo masih terbaring. Lintang mendekatinya. Menggoyang-goyangkan badan Olo yang jauh lebih besar darinya.
“Ayo kita makan, Lo!”
Tiba-tiba suara muncul dari balik pintu. Si Jangkung? “Olo sudah pergi.”
“Apa maksudmu? Kau apakan abangku?”
“Aku…Aku berniat mengganggunya. Karena kau selalu lebih dulu dariku. Aku ingin balas dendam. Tapi saat aku datang Olo sudah tidak bernyawa lagi.”
“Bohong! Kau telah membunuhnya!” Lintang menyerang membabi-buta.
“Bukan. Bukan aku.”
Si Jangkung berlari meninggalkan gubuk itu. Lintang menoleh. Tapi tidak mengejarnya.
“Kenapa kau tidak menungguku? Aku membawa nasi untukmu, Lo!”
Lintang membeku di sudut gubuk. Malam telah larut. Nasi di tangannya benar-benar telah membeku.
Kayla Ghifari Ahmad. Lahir di Surabaya. Gemar menulis artikel dan cerpen. Menempuh studi di Universitas Negeri Surabaya. Kini menetap di Kota Surabaya. Bisa berjumpa di nomor 0812-1902-1137. Atau juga dapat disapa melalui Instagram @kg_0zz.
Kontak: 0812-1902-1137
Instagram: @kg_0zz.
Penulis: Kayla Ghifari Ahmad
Penyunting: Muhammad Raihan Ramadhan
Penyelaras Bahasa: Muhammad Raihan Ramadhan