Lewat Lima – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Oleh: Della Nur Khofiah

8 Maret 2025 22.07 WIB

 

Aku selalu percaya bahwa waktu adalah hal yang bisa kita kendalikan. Dalam rutinitas harian, jam adalah teman yang tidak pernah salah. Setiap pagi, aku bangun dengan suara alarm, mereset detik demi detik ke dalam jadwal yang telah tersusun rapi. Pekerjaan, makan, tidur—semua sudah direncanakan.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah bisa kukendalikan, sesuatu yang semakin sering terjadi belakangan ini. Sesuatu yang terasa aneh, tetapi tetap tidak bisa kuhindari.

Lewat lima.

Itu dimulai dengan angka-angka yang kuperhatikan secara kebetulan.

Pukul 07:05, saat aku membuka mata di pagi hari, dan dengan cepat menyelesaikan rutinitasku. 13:05, ketika aku menatap layar ponsel yang hampir selalu aku abaikan. 19:05, saat aku menatap jam di komputer kantor, tepat setelah menyelesaikan pekerjaan. Semua terjadi begitu saja seperti perasaan biasa yang datang tanpa aku sadari.

Tapi kemudian aku mulai menyadari bahwa ini bukanlah sebuah kebetulan.

Kali pertama aku melihatnya, aku masih bisa menganggapnya tidak lebih dari sekadar kebetulan. Namun, ketika setiap kali aku melihat angka itu di layar ponsel, di jam dinding, di monitor komputer, aku merasa ada yang tidak beres. Aku tidak mengerti mengapa, tapi perasaan itu tumbuh perlahan, menambah beban dalam pikiranku.

Aku mencoba untuk tidak peduli.

Lama-kelamaan, aku mulai merasa terjebak dalam lingkaran waktu itu, seperti tak ada jalan keluar. Aku melepas jam tanganku, mengganti pengaturan ponsel agar tidak menampilkan waktu. Aku bahkan mencoba untuk tidak melihat jam sama sekali.

Tapi entah mengapa, waktu itu tetap muncul. Bahkan, di saat yang paling tidak terduga.

Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa ini semua hanya kebetulan.

Namun, semakin hari, semakin banyak hal aneh yang terjadi. Waktu itu, angka 05—tidak hanya muncul di jam-jam biasa. Sekali lagi, saat aku berjalan keluar dari kantor, mataku tertarik pada jadwal keberangkatan bus digital: 11:05.

Aku sudah mulai gelisah. Aku tak tahu mengapa, tapi setiap kali aku melihat angka itu, ada perasaan yang menyelusup dalam diriku. Ada suatu yang kurasa tidak biasa. Ada ketidaknyamanan yang menggantung.

Malam hari, aku mendapat panggilan telepon misterius. Tidak ada suara di ujung lain, hanya desisan yang samar. Aku tidak tahu siapa yang menelepon, tetapi ada pesan yang terdengar jelas dalam desisan itu, seperti sebuah peringatan.

“Waktu kamu semakin dekat.”

Aku terdiam, merasa perasaan itu semakin kuat. Ada yang mengawasi, ada yang mengatur setiap langkahku, dan apakah itu semua berhubungan dengan angka 05? Apa yang terjadi? Apa yang harus kulakukan? Semakin aku mencari tahu, semakin aku merasa terperangkap dalam sebuah misteri yang tidak bisa aku hindari.

***

Saat aku bertemu Damar, aku merasa sedikit lega. Damar adalah teman lama yang sudah terbiasa dengan kegelisahanku. Aku sering meluapkan segala hal yang menggangguku padanya, terutama ketika aku merasa cemas atau khawatir tentang sesuatu yang tidak bisa kutangkap dengan logika.

Hari itu, aku sedang duduk di kedai kopi yang tidak jauh dari kantorku, menatap ponselku yang terus bergetar, lalu menatap jam di dinding. 19:05.

Damar datang, wajahnya tampak lelah setelah seharian bekerja. Tanpa basa-basi, dia duduk di seberangku dan memesan kopi hitam. Biasanya, Damar akan langsung mengajukan pertanyaan tentang keadaan, tapi kali ini, aku yang lebih dulu membuka percakapan.

“Apa menurutmu ini aneh?” tanyaku, sambil menunjuk layar ponselku yang menunjukkan angka 19:05.

Damar menatapku sejenak, lalu mengangkat alis, seperti biasa. “Kau hanya terlalu banyak berpikir,” katanya sambil menyesap kopinya tanpa menatapku.

“Tapi ini terjadi berulang kali,” jawabku, menahan napas. “Setiap kali aku melihat angka itu, 05. Rasanya seperti ada yang mengamatiku, mengendalikan waktu.”

Dia tersenyum tipis, seperti selalu. “Jangan-jangan, ini pertanda jodoh.”

Aku mendengus pelan, tidak tahu apakah harus tertawa atau merasakan kelegaan. Keinginan untuk percaya pada kebetulan itu perlahan memudar. “Aku tidak tahu mana yang lebih buruk,” kataku, “kalau ini kebetulan, atau kalau memang ada sesuatu yang sedang terjadi.”

Damar menoleh, melihatku dengan penuh perhatian. “Coba berpikir tenang,” katanya. “Mungkin kamu sedang overthinking, atau mungkin… ya, ini bisa jadi pertanda. Atau bisa juga karena kamu terlalu memfokuskan perhatian pada angka itu.”

Aku terdiam. Aku ingin percaya bahwa semua ini hanya kebetulan. Namun, setiap kali aku mencoba mengabaikannya, waktu itu tetap datang kembali.

***

Pernahkah kau merasa seolah-olah segala sesuatu yang terjadi di sekitarmu telah diatur, tetapi dengan cara yang tak bisa kau mengerti? Rasanya seperti ada yang mengawasi, ada yang menggerakkan jarum jam itu tanpa kau bisa menghentikannya.

Pada suatu malam, aku terbangun dengan perasaan tak menentu. Aku mencoba untuk tidur lagi, tetapi entah mengapa mataku terbuka tepat pada saat 03:05.

Mimpi itu datang, seolah-olah dia menunggui.

Aku berada di sebuah lorong panjang, dengan lampu-lampu gantung yang hanya menerangi sebagian kecil dari ruangan yang tak berujung. Ada langkah kaki, tapi bukan dari arahku. Aku menoleh, dan lorong itu tetap kosong. Suasana mencekam semakin terasa, seolah-olah ada sesuatu yang mengikuti.

Di ujung lorong, ada sebuah jam besar yang berdetak perlahan, dan aku merasa ada sesuatu yang memanggilku untuk mendekat. Aku tak bisa menahan langkahku, meskipun tubuhku menolak.

Jarum jam itu bergerak lambat, detik demi detik, dan kemudian berhenti di angka 04:59.

Kudengar detikan jam itu. Lebih keras, semakin nyata.

Lalu, tepat saat jarum itu bergerak ke angka 05:00, aku mendengar suara ketukan di belakangku.

Aku terbangun dengan napas terengah, mataku melirik jam di meja.

03:05.

***

Semakin aku mencoba untuk mengabaikan hal ini, semakin aku merasa terperangkap. Ketenangan yang dulu kurasakan, kini terasa rapuh. Setiap detik seakan memburuku, mengejarku tanpa ampun.

Aku memutuskan untuk mencari tahu lebih jauh tentang angka itu. Berbagai pencarian di internet tidak membantuku. Aku tidak menemukan apa pun yang menjelaskan apa yang sedang terjadi. Tapi entah mengapa, aku merasa seolah-olah ini bukan sekadar angka biasa. Ini adalah pesan yang lebih besar—pesan yang datang dari luar kemampuan manusia untuk mengerti.

Aku berusaha tidur malam itu dengan lampu menyala. Namun, pukul 23:05, suara ketukan itu datang lagi. Tidak keras, tetapi cukup jelas untuk membuatku terjaga. Aku menahan napas, berusaha mendengar lebih jelas.

Ketukan itu berhenti, dan aku mendengar getaran ponselku. Sebuah pesan dari nomor yang tidak ku kenal:

“Kau melihat jam lagi, bukan?”

Aku hanya menatap pesan itu. Tidak ada yang bisa kukatakan.

Aku menoleh ke arah jam di dinding. 23:05.

Waktu itu semakin terasa lebih dekat, lebih kuat, seperti sesuatu yang sedang mengikatku dengan ketat. Aku tahu seharusnya aku tidak membuka pintu, tetapi rasanya, ada yang menuntutku untuk melakukannya. Keingintahuan itu lebih kuat dari segalanya.

Aku membuka pintu dengan tangan gemetar.

Dan apa yang kulihat di depan mataku membuat tubuhku kaku—di lantai, ada sebuah jam saku.

Jarumnya berhenti di angka 05.

Aku terdiam, tak bisa bergerak. Lampu apartemenku padam.

Ponselku bergetar lagi. Pesan baru dari nomor yang sama.

“Waktunya habis.”

***

Keesokan harinya, Damar mengetuk pintu apartemenku, tapi tidak ada jawaban.

Ia menelepon, mengirim pesan, bahkan meminta bantuan satpam untuk membuka pintu. Namun, ketika mereka masuk, tidak ada jejak keberadaan diriku. Ponselku tergeletak di depan pintu, layar menyala. Sedangkan semua barangku yang lain tetap ada di tempatnya.

Pak satpam mengernyit. “Di mana temanmu?”

Damar tidak menjawab. Tenggorokannya terasa kering. Ada sesuatu yang janggal, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Kemudian, tiba-tiba, Pak satpam menepuk bahunya. “Nak, saya rasa saya harus pergi. Ada tugas lain. Temanmu mungkin sedang keluar dan lupa membawa ponsel. Kalau terjadi apa-apa, lapor saja ya, Nak.”

Damar menoleh, tetapi dalam sekejap, Pak satpam sudah melangkah pergi dengan tergesa. Langkahnya semakin cepat, hampir seperti berlari. Pintu apartemen tertutup pelan di belakangnya, menyisakan Damar sendirian dalam keheningan yang dingin.

Damar merasakan keringat dingin merayap di tengkuknya.

Ponselnya bergetar, sebuah pesan baru dari nomor yang tak dikenal.

“Kau melihat jam lagi, bukan?”

Ia tidak berani menatap layar, tetapi matanya, tak sengaja, melirik ke arah jam di dinding.

19:03.

Lalu, ketukan terdengar dari pintu depan.

Pelan.

Teratur.

Damar menelan ludah. Jari-jarinya gemetar. Tanpa sadar, matanya melirik lagi ke arah jam di dinding.

19:05.

Ketukan itu terdengar lagi, semakin keras.

Damar mundur selangkah, lalu dua langkah. Napasnya tersengal saat suara gedoran semakin beringas, seolah-olah sesuatu di balik pintu ingin menerobos masuk dengan paksa.

Ketukan itu terus menggema, mengguncang dinding-dinding apartemen.

Lalu, di sela kepanikan, Damar mendengar sesuatu.

“Buka pintunya! Apa kau ada di dalam? Ini aku!”

Suaranya sendiri.

 

Della Nur Khofiah, mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2023 di Universitas Negeri Surabaya, selalu menemukan cerita dari pengalaman, mimpi, atau bahkan pemikiran yang tiba-tiba muncul. Menyukai genre romance, namun suka menulis genre thriller psikologis. Lahir dan dibesarkan di Jombang, terus belajar dan mencari cara terbaik untuk menuangkan ide-ide dalam tulisan.

Instagram: @everyyd_

 

Penulis: Della Nur Khofiah

Penyunting: Kayla Ghifari Ahmad

Penyelaras Bahasa: Muhammad Raihan Ramadhan