Senandung Harpa di Panti Asa – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Oleh: Indah Fajrin Hidayati

12 Mei 2025 17.59 WIB

 

Di sudut kota Annecy, di mana cahaya mentari sore menari di atas atap-atap rumah tua, hiduplah seorang perempuan muda bernama Elara Laurent. Ia bukan orang biasa. Keanggunan terpancar dari geraknya, dan ketenangan dari suaranya. Namun yang paling mengesankan adalah permainan harpa yang selalu menghipnotis siapa pun yang mendengarnya seolah setiap senar yang dipetiknya bisa menyembuhkan luka hati yang paling dalam.

Elara telah memainkan harpa sejak kecil. Musik menjadi pelariannya saat ibunya meninggal, dan sejak saat itu, ia berjanji akan menggunakan musik bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk mengangkat orang lain yang juga tengah terluka. Itu sebabnya, di balik gemerlap panggung dan tepuk tangan yang ia terima, Elara selalu menyisihkan waktunya untuk berkunjung di sebuah panti asuhan kecil bernama Panti Asa.

Di sana, Elara tidak tampil sebagai artis, melainkan sebagai guru, kakak, dan sahabat. Ia membantu anak-anak mengetahui tentang nada, ritme, dan harmonibukan hanya sekadar dalam musik, namun dalam hidup.

Suatu sore, ketika Elara tiba di panti, ia melihat seorang pria muda tengah berlarian mengejar anak-anak kecil yang tertawa geli. Kaosnya kusut, sepatunya penuh lumpur, tapi senyum di wajahnya tulus.

“Maaf, kamu Elara ya?” tanyanya sambil terengah.

“Iya. Dan kamu?”

“Aiden. Aku bantu-bantu di sini, bagian… apa saja,” katanya sambil mengangkat bahu. “Selamat datang di kekacauan kecil kami.”

Elara tersenyum. Dalam hati, ia tahu, lelaki ini mungkin berantakan, tapi ada sesuatu yang hangat dari caranya memperlakukan anak-anak.

Hari-hari berikutnya, mereka mulai terbiasa bekerja bersama. Aiden suka membantu mengatur alat musik dan menemani anak-anak saat Elara bermain musik. Laki-laki itu tak tahu banyak soal musik, tapi antusiasme dan ketulusannya membuat Elara kagum.

Di balik semua tawa dan pelajaran, diam-diam, tumbuh ketertarikan. Elara yang biasa hidup dalam keteraturan menemukan kesegaran dalam spontanitas Aiden. Sementara Aiden merasa tertarik pada cara Elara menyentuh hidup orang lain lewat kelembutan dan kesabarannya.

Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama.

Pada suatu pagi, Kepala Panti, Mrs. Thompson memanggil mereka berdua ke ruangan kerjanya. Wajah tegang terlihat di raut wajah wanita berumur lima puluh lima tahun itu.

“Kita kekurangan dana. Donatur utama kita menghentikan bantuan. Kalau tidak ada solusi dalam waktu dua bulan, kita harus menutup Panti Asa.”

Bagaikan tersambar petir dunia Elara seakan runtuh seketika. Begitu pula Aiden. Mereka memandang anak-anak lewat jendela yang bermain di halaman. Tempat ini bukan hanya gedung tua dengan cat terkelupas ini adalah rumah, harapan, dan masa depan bagi puluhan anak yang ditinggalkan.

Keluar dari ruangan Mrs. Thompson, mereka bertatapan. “Kita tidak bisa diam saja,” ucap Elara tegas.

Elara dan Aiden mulai menyusun rencana sampai terlintas di ide Aiden mengadakan sebuah konser amal. Elara akan tampil, dan anak-anak akan ikut menyanyi. Mereka ingin memperlihatkan kepada masyarakat bahwa tempat ini layak diperjuangkan.

Tapi tak mudah. Di pertengahan rencana mereka kekurangan dana untuk promosi, dan banyak orang meremehkan acara ini. Brosur yang dibagikan tak banyak menarik perhatian dan bahkan ada yang dibuang. Beberapa sponsor menolak dengan alasan “tidak menguntungkan bisnis.”

Tekanan itu memicu ketegangan di antara Elara dan Aiden.

“Kita harus sewa tempat yang lebih besar!” desak Elara.

“Uang dari mana? Kita bahkan kesulitan mendapatkan sponsor!” jawab Aiden keras.

“Kalau kamu terus pikir negatif, kita ga akan berhasil!” balas Elara, kecewa.

Malam itu menjadi panas, Elara memisahkan diri menangis sendirian di ruang musik panti. Ia memandangi harpa tuanya, lalu memetik satu nada terdengar lirih. Tiba-tiba terdengar suara ketokan pintu.

“Aku minta maaf.” Suara dari balik pintu.

Elara menoleh. Ia tak bicara, namun menatap pria di hadapannya lembut.

“Aku cuma takut. Takut kita gagal. Takut anak-anak kehilangan rumah mereka,” ucap Aiden. “Tapi lebih takut kalau harus menghadapinya tanpa kamu.”

Elara tersenyum kecil. “Kita akan hadapi bersama.”

Gadis itu memeluk Aiden memberi dukungan untuk tidak menyerah.

Besoknya dengan bantuan guru-guru, sukarelawan, dan teman-teman Elara dari dunia musik, mereka menyulap halaman belakang panti menjadi panggung sederhana. Aiden membuat undangan digital dan membagikannya di media sosial. Video latihan anak-anak yang diunggah Elara viral dan tiba-tiba dukungan mulai datang.

-Hari konser tiba-

Lampu gantung menyala redup, harpa Elara berdiri anggun di tengah panggung, dan deretan kursi dipenuhi oleh masyarakat yang tersentuh oleh pentunjukan mereka.

Ketika Elara memainkan lagu pertama, langit malam terasa mendukung. Lalu anak-anak menyanyi dengan suara jernih, dan Aiden duduk di kursi penonton depan, menatap bangga.

Suara riuh tepuk tangan membahana. Donasi mulai mengalir.

Berkat konser itu, Panti Asa tidak jadi ditutup. Bahkan direnovasi. Dindingnya dicat ulang, perpustakaan kecil dibuka, dan kamar tidur mulai di bangun ulang.

Elara dan Aiden kini bukan sekadar sukarelawan. Mereka sudah menjadi keluarga inti bagi anak-anak. Mereka menemukan cinta bukan dalam pelukan romantis, tapi dalam kerja sama, pengorbanan, dan semangat yang tak pernah padam.

 

Namaku azrin, bukan nama asli si hanya nama panggung. Udah lama ga nulis cerita pendek mungkin… udah 4 atau 5 tahun pas lagi musim covid-19. Nulis ini berasa nostalgia ke musim wabah corona, di mana semua orang harus berdiam di rumah, sekolah pada online, jalan raya sepi dan dari situ yang awalnya aku suka baca buku cerita jadi buat cerita, semoga cerita ini cocok ya sama kamu. Salam Kenal Aku Azrin!

Instagram: @ndahzrn

 

Penulis: Indah Fajrin Hidayati

Penyunting: Kayla Ghifari Ahmad

Penyelaras Bahasa: Muhammad Raihan Ramadhan

Di Antara Data dan Luka – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Oleh: Nicholas Ferren Arya Wijaya

8 April 2025 12.19 WIB

 

Universitas Pradnyana Dharma, kampus unggulan di Indonesia, adalah tempat mimpi dan tekanan bertabrakan. Di balik gedung-gedung modern, papan pengumuman lomba, dan akun media sosial organisasi mahasiswa yang sibuk memamerkan pencapaian, ada cerita yang tak pernah diumbar—tentang ambisi, kegagalan, dan rasa kehilangan.

Nicholas Wijaya, mahasiswa tingkat akhir Teknik Komputer, adalah tipikal mahasiswa unggulan. Pialanya berderet di ruang himpunan, dan namanya sering muncul dalam jurnal ilmiah. Tapi di balik ketenangan wajahnya, ada luka lama yang terus diam: kakaknya, juga mantan mahasiswa kampus itu, bunuh diri dua tahun lalu karena gagal lulus tepat waktu dan kehilangan beasiswa. Sejak itu, Nicholas menjadikan kesuksesan sebagai pelindung dari rasa bersalah.

Kaela Anindya, dari Fakultas Psikologi, adalah aktivis organisasi yang vokal. Ia ketua BEM fakultas dan tengah menyusun program advokasi kesehatan mental. Di rumah, ia harus menghadapi tuntutan keluarga untuk segera bekerja dan membantu biaya adiknya yang masih sekolah. Ibunya seorang guru, ayahnya pensiunan.

Meski sama-sama cerdas, Nicholas dan Kaela punya sejarah: pernah adu argumen di forum terbuka mengenai sistem orientasi kampus yang dinilai penuh tekanan. Sejak itu, mereka tak pernah berbicara.

Hingga suatu hari, kampus diguncang kabar bahwa sistem informasi akademik diretas. Nilai ratusan mahasiswa berubah, termasuk milik anak pejabat yang langsung melapor ke rektorat. Tak hanya itu, salah satu dosen senior menerima ancaman lewat email terenkripsi, dan beredar video mahasiswa yang menangis karena tiba-tiba “drop out” akibat nilai hilang.

Kampus panik. Rektor membentuk tim investigasi rahasia untuk menelusuri kasus ini. Mereka menunjuk dua nama: Nicholas untuk kemampuan IT-nya, dan Kaela untuk pendekatan psikologis serta relasi organisasinya.

Kaela kaget, Nicholas sinis. “Kenapa aku harus kerja sama dengan aktivis?”

Kaela menjawab datar, “Karena ini bukan soal kamu. Ini soal semua orang yang bisa jadi korban berikutnya.”

Penyelidikan mereka menyingkap lapisan demi lapisan. Mereka menemukan log aktivitas sistem yang dimanipulasi dari dalam, kemungkinan kerja sama antara oknum dosen dan mahasiswa, serta pola stress berat di antara mahasiswa yang jadi target manipulasi nilai.

Salah satu temuan penting datang dari Kaela. Ia menemukan beberapa mahasiswa yang nilainya diubah secara negatif justru merupakan anggota organisasi yang pernah mengkritik kebijakan kampus. Sebuah pola tekanan psikologis sedang berlangsung: nilai sebagai alat kontrol.

Di saat bersamaan, Nicholas menemukan fakta bahwa beberapa skripsi mahasiswa hilang dari server. Ia juga menerima pesan anonim yang isinya, “Jangan terlalu dalam, atau kamu akan seperti kakakmu.”

Panik? Ya. Tapi ia tidak sendiri. Untuk pertama kalinya sejak tragedi kakaknya, Nicholas bercerita. Ia membuka diri kepada Kaela. Tentang rasa bersalah, tentang mimpi-mimpi yang mati sebelum sempat tumbuh.

Kaela mendengarkan. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu menjadi kuat sepanjang waktu.

Di tengah penyelidikan, konflik organisasi pun pecah. Beberapa pengurus BEM fakultas Kaela menuding ia terlalu sibuk mengurusi hal di luar kampus, dan mulai menyebarkan rumor bahwa Kaela “dekat dengan anak teknik” demi proyek pribadi. Tekanan dari rumah pun makin berat—ibunya mulai sakit-sakitan, dan adiknya tak bisa melanjutkan bimbel.

Nicholas mendapati dirinya ingin membantu, bukan dengan uang, tapi dengan kehadiran. Ia mulai mengantar Kaela pulang, kadang hanya diam di ruang tunggu rumah sakit sambil membaca kode program. Kaela mulai mengerti: cinta bukan datang dari rayuan, tapi dari kesediaan menemani.

Hari-hari terakhir investigasi, mereka menemukan bahwa pelaku bukan satu orang, melainkan sistem yang cacat. Beberapa dosen terlibat menukar nilai demi balas jasa, dan mahasiswa yang jadi kambing hitam adalah korban tekanan akademik. Salah satu dari mereka kini dirawat karena gangguan bipolar yang makin parah setelah merasa “ditinggalkan” oleh organisasi dan teman-temannya.

Rekomendasi tim investigasi mereka: pembenahan sistem, audit internal, serta pembentukan unit layanan kesehatan mental permanen di kampus. Sebagian ditolak, sebagian diterima. Tapi itu sudah cukup untuk membuka mata banyak orang.

Setelah semua selesai, Nicholas dan Kaela duduk di bangku taman kampus, memandangi papan pengumuman yang kini menampilkan poster bertuliskan: “Kesehatan Mental Bukan Sekadar Masalah Pribadi.”

“Kamu masih merasa bersalah?” tanya Kaela pelan.

Nicholas mengangguk. “Tapi sekarang, aku tahu caranya untuk tidak lari dari itu.”

Kaela tersenyum. “Mungkin kita tidak bisa menyelamatkan semua orang. Tapi kita bisa mulai dari satu… termasuk diri kita sendiri.”

 

Nicholas Ferren Arya Wijaya adalah mahasiswa aktif di Program Studi Teknik Informatika Universitas Negeri Surabaya. Ia memiliki ketertarikan pada dunia literasi, teknologi, dan psikologi, serta gemar menulis cerita fiksi bertema misteri, romansa, dan kehidupan mahasiswa. Menulis baginya adalah cara memahami dunia secara lebih dalam.

Instagram: @ferren_26

 

Penulis: Nicholas Ferren Arya Wijaya

Penyunting: Kayla Ghifari Ahmad

Penyelaras Bahasa: Muhammad Raihan Ramadhan

Mimpi di Balik Tembok Emas – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Oleh: Robby Andyka Pratama
7 April 2025 19.16 WIB

 

Namaku Anastasia Valencia Aurelia biasa dipanggil Anastasia. Sebuah nama yang sering dipuji karena keindahannya, tetapi bagiku nama itu adalah sebuah pengingat akan perjalanan panjang yang telah aku tempuh. Kini, aku berdiri di puncak pencapaian yang dulu hanya berani kubayangkan. Namun, di balik keberhasilanku saat ini ada kenangan pahit yang membentukku menjadi seperti sekarang.

Aku lahir di keluarga kaya. Banyak orang yang beranggapan hidupku pasti menyenangkan tanpa ada kekurangan. Namun, pada kenyataannya berbeda. Dulu, sewaktu di SMA, aku adalah bintang di sekolahku. Aku sering mendapatkan penghargaan dari berbagai kompetisi yang bergengsi. Namun, orang tuaku tidak memperdulikan hal itu.

Di suatu malam, setelah aku memikirkan segalanya dengan matang, aku memberanikan diri untuk berbicara mengenai keinginanku untuk berkuliah pada orang tuaku. “Mama, Papa aku ingin kuliah,” ucapku penuh harap. “Untuk apa kamu kuliah? Kamu lebih baik langsung bekerja setelah lulus SMA. Lanjutkan bisnis Mama, jual kosmetik,” kata Mama dengan nada yang marah seolah tidak memberikanku ruang untuk membantahnya.

Harapanku hancur berkeping-keping setelah mendengar jawaban dari Mamaku.  Tanpa sepatah kata lagi, aku berdiri dari sofa, melangkah menuju kamar dengan air mata yang mulai jatuh tanpa bisa kuhentikan.

Pintu kamar aku tutup, aku membenamkan wajahku ke bantal. Tangisanku tak bisa tertahan. Aku cuma ingin belajar, ingin menuntut ilmu, ingin menjadi seorang yang lebih dari sekedar pewaris bisnis keluarga. Apakah itu salah?

Dengan tangan gemetar, aku meraih ponsel dan menelpon teman baikku yang selalu bisa membuatku merasa lebih baik yaitu Bella. Aku menekan tombol panggil, tak lama kemudian Bella mengangkat telponku.

“Halo, Anastasia! Kok kamu nelpon malam-malam gini? Ada apa?” Suara Bella terdengar begitu hangat dan akrab. Aku menarik napas panjang, berusaha untuk mengontrol suaraku agar tidak terdengar terlalu lemah.  “Bel…” suaraku serak, nyaris tak terdengar “Hah? Kamu kenapa? Anastasia kamu nangis?” Nada suaranya berubah, penuh kekhawatiran. Aku terdiam beberapa saat, lalu menghembuskan napas.

“Aku… aku baru saja bilang ke Mama Papa kalau aku ingin kuliah.” “Oke terus?” Aku menelan ludah, berusaha untuk menahan air mataku yang masih ingin jatuh. “Mereka nggak setuju, Bel… Mereka maunya aku langsung bekerja dan membantu bisnis mamaku.”

Bella terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Dengar ya, Nas. Aku tahu kamu itu temanku yang paling luar biasa. Kamu bukan cuma pintar, tetapi juga berhati mulia.” “Kamu pernah bilang ke aku, kalau seseorang benar-benar menginginkan sesuatu, dia harus berjuang untuk mewujudkan itu, kan? Jangan biarkan siapapun bahkan orang tuamu sendiri menghentikan impianmu, kamu harus tetap berjuang untuk mewujudkan impianmu, Nas.”

Aku terdiam, lalu mengusap air mata yang masih tersisa di pipiku. “Kamu benar, Bel… Aku nggak boleh nyerah,” kataku, kali ini dengan suara lebih mantap. “Gitu dong! Itu baru temanku, Anastasia! Aku tau kamu bukan tipe orang yang gampang menyerah. Ingat aku selalu di sini buatmu.” Ujar Bella. Senyum kecil akhirnya terbentuk di bibirku. “Makasih, Bel. Aku beruntung punya sahabat kayak kamu.”

Keesokan paginya, aku pergi ke sekolah dengan semangat yang baru. Saat berjalan menuju ke kelas, seorang guru menghampiriku dengan senyum ramah. “Anastasia, tunggu sebentar ya,” panggilnya. Aku berhenti dan menoleh. “Iya, Bu. Ada apa?”

Beliau mengeluarkan selembar kertas dari mapnya dan menyerahkannya kepadaku. “Ini ada informasi tentang olimpiade yang akan diadakan bulan depan. Kami para guru yakin kamu kandidat yang cocok untuk mewakili sekolah.” Aku melihat lembar informasi di tanganku. Olimpiade ini tidak hanya menawarkan hadiah uang tunai dan piala, tetapi ada sesuatu yang jauh lebih berharga yaitu sebuah golden ticket untuk masuk ke salah satu universitas terbaik di Asia Tenggara.

Hatiku berdebar. Tanpa pikir panjang, aku mengganguk penuh semangat. “Saya bersedia, Bu! Saya akan berusaha sebaik mungkin!” Guru itu tersenyum. “Bagus! Kami percaya bahwa kamu bisa. Tapi ingat persaingannya tidak akan mudah. Kamu harus belajar lebih keras.” Aku mengganguk mantap.

Malamnya, aku mulai belajar untuk persiapan olimpiade. Tiba-tiba, pintu kamarku terbuka dengan keras. BRAK! Aku tersentak kaget. Papa dan mama berdiri di ambang pintu dengan ekspresi marah. “Apa-apaan ini, Anastasia?” suara Papa terdengar tajam. Aku menelan ludah, mencoba tetap tenang. “Aku sedang belajar, Pa.” “Kami dengar dari gurumu kalau kamu ikut olimpiade?” ujar Papa dengan nada marah. Aku mengganguk, meski suara mereka membuat hatiku bergetar. “Iya, Pa. Aku ingin menang, karena kalau aku juara, aku bisa dapat golden ticket masuk universitas…”

Belum selesai aku menjelaskan, tiba-tiba Papa mengambil bukuku dan SREEEK! Malam yang tenang itu berubah menjadi mimpi buruk bagiku. Aku masih terpaku di tempatku, menatap lembaran-lembaran kertas yang berserakan di lantai, hancur dirobek begitu saja oleh Papa.

“Kamu itu terlahir dari keluarga orang kaya, jadi kamu tidak perlu bersusah payah untuk kuliah. Kamu hanya cukup meneruskan bisnis kosmetik yang sudah Mama kembangkan bertahun-tahun,” ujar Mama dengan nada datar, seolah impianku tidak berarti apa-apa.” Aku menatap Mama dengan mata berkaca-kaca. “Tapi, Ma aku ingin kuliah.”

Papa mendengus sebelum menimpali, “Papa dan Mama tidak ingin kamu bekerja keras untuk berkuliah. Kamu hanya cukup bersantai saja setelah lulus SMA dan melanjutkan bisnis Mamamu.” Aku mengepalkan tangan di atas meja, jemariku bergetar hebat. “Aku tahu kalau aku terlahir di keluarga kaya, tapi apakah itu berarti aku harus mengorbankan mimpiku sendiri?” Suaraku lirih, namun penuh luka. Aku mengangkat wajah, menatap mereka dengan mata yang kini dipenuhi oleh air mata.

Tangisku belum juga mereda, Papa menatapku tajam. Dengan suara dingin, ia berkata, “Memang apa impianmu? Biar Papa bantu untuk mewujudkannya. Papa punya banyak kenalan dan Papa bisa menyuruh mereka untuk menerimamu. Kamu bisa mewujudkan impianmu dengan mudah.”

Dalam tatapan penuh air mata, aku menatap Papa. Ada jeda beberapa detik sebelum aku menggeleng. “Aku tidak ingin menggunakan cara seperti itu, Pa,” suaraku bergetar, tetapi penuh ketegasan. “Itu tidak baik, Pa. Lebih baik aku berusaha sekuat tenaga meskipun hasilnya gagal, daripada aku tidak pernah berusaha sama sekali.”

Papa terdiam sejenak, matanya menajam. Wajahnya yang semula datar berubah merah karena amarah yang tak terhankan. “Dasar anak tidak tahu terima kasih!” suaranya menggelegar, membuat jantungku berdebar kencang. “Papa sudah memberikanmu jalan yang mudah, tapi kamu masih memilih jalanmu sendiri! Kalau begitu, mulai sekarang semua fasilitas yang kami berikan mulai dari kosmetik, hp, hingga fasilitas sopir pribadi akan kami sita!” Papa melanjutkan dengan nada yang semakin tajam. “Kamu bisa mendapatkan segala fasilitas itu lagi kalau kamu memilih untuk bekerja setelah lulus SMA,” tambahnya, suaranya lebih dingin dari sebelumnya.

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Papa berbalik dan keluar dari kamar, diikuti oleh Mama yang hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pintu kamar tertutup dengan keras, meninggalkan suasana keheningan yang menyakitkan

Aku duduk di tempat tidur, air mataku mengalir deras tanpa bisa kuhentikan. Aku menggegam ujung selimut, menutup wajahku yang basah oleh tangis. Rasa lelah perlahan menguasai tubuhku. Tanpa kusadari, dalam isakan tangis yang belum reda, mataku semakin berat hingga akhirnya aku tertidur lelap.

Keesokan paginya, aku terbangun dengan kelopak mataku yang masih sembab akibat tangisan semalam. Dengan enggan, aku bangkit dari tempat tidur, mencoba mengumpulkan tenaga untuk bersiap ke sekolah.

Saat aku hendak menyiapkan buku-buku pelajaran, pandanganku tertuju pada buku materi olimpiadeku yang robek dan tak berbentuk. Aku menggigit bibir bawahku, mencoba menahan air mata yang kembali menggenang. Namun, meskipun terasa begitu sulit, aku harus tetap berangkat ke sekolah.

Saat tiba di sekolah, aku berjalan lesu menuju kelas. Namun, langkahku terhenti ketika seorang guru menghampiriku. “Anastasia, bagaimana progres belajarmu untuk olimpiade?” tanya beliau dengan senyum penuh harap. Aku menundukkan kepala, menggenggam erat tali tas di pundakku. “Buku yang sering saya gunakan untuk belajar sudah disobek oleh Papa tadi malam.”

Guruku terdiam sejenak. Matanya melihat terkejut, tetapi kemudian ia menarik napas panjang dan menatapku dengan penuh keyakinan. “Anastasia, jangan biarkan kejadian ini menghancurkan semangatmu. Kamu anak yang pintar dan punya tekad yang kuat. Buku itu hanya alat, tetapi kemampuan ada dalam dirimu. Kamu pasti bisa memenangkan olimpiade ini dan bisa mendapatkan golden ticket.” Aku menatap guruku dengan mata berkaca-kaca. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan mengganguk. “Terima kasih, Pak. Aku akan berusaha,” kataku dengan suara yang masih bergetar. Aku menarik napas panjang dan perlahan melangkah masuk ke dalam kelas.

Aku duduk di bangkuku, menatap kosong ke papan tulis di depan kelas. Suara guru yang menjelaskan materi seakan hanya menjadi dengungan samar di telingaku. Tanganku menggegam bolpoin, tetapi tidak ada satu pun catatan yang kutulis di buku. Di kejauhan, Bella memperhatikanku. Meskipun kami tidak duduk sebangku, ia bisa melihat bahwa aku sedang sedih.

Saat jam istirahat tiba, Bella langsung menghampiriku. “Yuk, ke kantin!” ajaknya dnegan senyum cerah, berusaha menghiburku. Aku menghela napas, lalu mengganguk pelan. Kami berjalan bersama menuju ke kantin, tetapi sebelum sampai, aku tidak bisa menahan diri untuk menceritakan kejadian tadi malam tentang bagaimana buku olimpiadeku dirobek, melarangku menggunakan fasilitas mereka, dan tentang betapa hancurnya perasaanku saat ini. Bella mendengarkan dengan seksama, wajahnya menunjukkan ekspresi prihatin. Namun, sebelum Bella bisa berkata lebih banyak, seorang guru tiba-tiba memanggilku. “Anastasia bisa kesini sebentar. Aku menoleh dan melihat guru yang menawariku untuk mengikuti olimpiade berdiri tidak jauh dari kami. Dengan sedikit penasaran, aku melangkah mendekat. “Ya, Bu ada apa?” tanyaku sopan.

Guru itu tersenyum sebelum akhirnya berkata, “Saya dan para guru lainnya sudah berdiskusi. Kami ingin membantumu. Kami menawarkanmu kesempatan untuk mengikuti kelas bimbingan olimpiade di salah satu bimbel terbaik dekat sekolah. Kelas ini gratis, semua biaya akan ditanggung oleh sekolah.” Aku terkejut. “Benarkah, Bu?” Guru itu mengganguk. “Kami tahu betapa kamu ingin memenangkan olimpiade ini dan kami percaya kamu bisa. Jadi bagaimana? Apakah kamu bersedia?” Tanpa pikir panjang, aku langsung mengganguk dengan penuh semangat. “Tentu saja, Bu! Terima kasih banyak!”

Guru itu mengganguk puas. “Bagus. Kami percaya padamu, Anastasia.” Aku menggegam tangan Bella dengan erat dan menuju ke kantin dengan perasaan yang bahagia.

Waktu berlalu begitu cepat, hari ini adalah hari yang kutunggu-tunggu karena hari ini merupakan hari dimulainya olimpiade. Para guru dan kepala sekolah sudah bersiap mengantarkanku ke lokasi. Aku masuk dalam mobil bersama mereka, hatiku berdebar antara gugup dan antusias.

Begitu tiba di lokasi olimpiade, para guru tersenyum penuh dukungan. Kepala sekolah menepuk pundakku. “Kami percaya padamu, Anastasia. Tidak perlu takut, lakukan yang terbaik.” Aku mengganguk, menelan rasa gugup yang mulai menjalar di dadaku. “Terima kasih, Bapak, Ibu. Saya akan berusaha semaksimal mungkin.”

Lima menit lagi babak penyisihan akan dimulai. Aku menarik napas dalam-dalam dan menuju ke ruangan olimpiade. Tak lama, panitia berdiri di depan dan berbicara melalui mikrofon. “Selamat datang di babak penyisihan. Waktu pengerjaan di babak ini adalah 1 jam. Harap kerjakan dengan jujur dan sebaik mungkin. Hasil penyisihan akan diumumkan 2 jam setelah babak penyisihan selesai. 5 peserta dengan nilai tertinggi akan langsung masuk ke babak final, sedangkan untuk peserta yang lain hanya dipilih 50 peserta yang berhak lanjut ke babak semifinal. Selamat mengerjakan!”

Saat waktu pengerjaan dimulai, aku menarik napas dalam-dalam dan mulai membaca soal dengan teliti. Waktu terus berjalan. Aku mengisi lembar jawaban dengan hati-hati dan memastikan tidak ada yang terlewat. Hingga akhirnya, waktu pengerjaan berakhir. “Waktu habis! Silahkan letakkan alat tulis anda dan berhenti menulis,” suara panitia terdengar melalui  mikrofon.

Aku tidak tahu apakah aku berhasil mendapat nilai tertinggi, tetapi setidaknya aku telah melakukan yang terbaik. Kini aku hanya bisa menunggu hasilnya yang akan diumumkan pukul 10.00.

Setelah keluar dari ruang ujian, aku kembali ke tempat para guru menunggu. “Bagaimana, Anastasia? Apakah soalnya sulit?” salah satu guru bertanya dengan nada penasaran. Aku tersenyum, masih dengan napas yang belum sepenuhnya stabil. “Alhamdulilah, aku berhasil menjawab semua soal dengan lancar,” jawabku dengan penuh syukur.

Tibalah waktu pengumuman babak penyisihan. Suasana di aula tempat olimpiade mendadak hening. Aku bisa merasakan jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. “Lima peserta dengan nilai tertinggi yang langsung melaju ke babak final adalah…” suara panitia menggema di seluruh ruangan. “Dan peserta dengan nilai tertinggi… Anastasia Valencia Aurelia!”

Aku terpaku di tempat. Aku mendapat nilai tertinggi? Sejenak aku merasa tak percaya, tetapi begitu melihat ekspresi bahagia para guru dan kepala sekolah yang langsung berdiri dan bertepuk tangan, aku sadar bahwa ini bukan mimpi. ”Alhamdulilah!” bisikku pelan, mataku mulai berkaca-kaca karena bahagia

Setelah semua pengumuman telah disampaikan panitia, panitia memberikan informasi tambahan. “Bagi 5 peserta yang langsung masuk ke babak final, kalian diperbolehkan meninggalkan tempat olimpiade untuk beristirahat dan diharapkan kembali sebelum pukul 15.00 untuk babak final.” Mendengar itu, kepala sekolah dan para guru berinisiatif mengajakku keluar untuk merayakan keberhasilanku. “Ayo, Anastasia! Kita makan bersama! Ini pencapaian luar biasa yang harus dirayakan!” ajak salah satu guru dengan antusias. Aku mengganguk dengan penuh semangat.

Setelah puas makan siang bersama dan berbincang, kami pun kembali ke tempat olimpiade. Begitu tiba, kami langsung melihat daftar nama peserta dari semi final yang berhasil lolos ke babak final. Kini menyisakan 10 peserta di babak final dan hanya akan ada 1 pemenang yang berhak mendapat golden ticket. Aku mengepalkan tanganku. “Aku sudah sejauh ini, aku tidak boleh menyerah!”

Pukul 14.45, panitia mengumumkan bahwa babak final akan segera dimulai dan para peserta final diharapkan berkumpul di belakang panggung untuk mendengarkan mekanisme final. Para guru memberikan semangat padaku. “Semangat, Anastasia! Kami selalu mendukungmu!” seru mereka penuh antusias. Aku mengganguk mantap, lalu segera menuju ke belakang panggung.

Panitia mulai menjelaskan kepada para peserta. “Final terdiri dari 2 babak yaitu babak jawab cepat dan studi kasus. Pada babak pertama, kalian akan menjawab 30 soal dengan menekan tombol secara cepat. Kemudian 6 peserta dengan poin terendah tidak bisa melanjutkan ke babak kedua.”

Setelah menjelaskan mekanisme untuk babak pertama, panitia mempersilahkan peserta untuk menuju ke panggung. Aku melangkah dengan penuh keyakinan, berdiri di tempat yang telah ditentukan, dengan tombol untuk menjawab di depanku. Babak pertama dimulai. Soal-soal dibacakan dengan cepat dan aku berusaha tetap fokus menakan tombol dengan cepat setiap kali merasa yakin dengan jawabanku. “Soal terakhir!” seru panitia. Aku menarik napas panjang, lalu menjawab dengan keyakinan penuh.

Sejenak suasana terasa hening sebelum layar besar menampilkan hasil akhir. Ketika hasil perlombaan muncul di layar besar, mataku terpaku. Aku berhasil meraih posisi kedua dan berhak melaju ke babak selanjutnya. Para guru bersorak, memanggil namaku dengan penuh semangat. Aku tersenyum lega, tetapi perjuangan belum selesai.

Panitia mulai membacakan peraturan babak kedua secara singkat. “Di babak ini, akan ada 10 soal studi kasus. Setiap peserta akan diberikan kesempatan menjawab secara bergantian. Jawaban akan dinilai berdasarkan ketepatan dan kedalaman analisis. Skor tertinggi di akhir babak ini akan menjadi pemenang olimpiade ini.”

Babak kedua dimulai. Satu per satu soal dibacakan. Aku fokus, mencoba menyusun argumen yang tepat untuk setiap studi kasus yang diberikan. Kini hanya tersisa 1 soal terakhir. Aku melirik papan skor dan aku berada di posisi ke 2 dengan total poin yang didapat sama dengan peserta lain yang berada di posisi ke 1. Panitia membacakan soal terakhir dan mempersilahkanku menjawab lebih dulu. Aku menarik napas panjang, lalu mengungkapkan jawabanku dengan jelas dan sebaik mungkin.

Setelah semua peserta menjawab, suasana hening sejenak. Juri berdiskusi, lalu mengangkat papan skor. Peserta di peringkat 1, 3, dan 4 memperoleh 50 poin. Aku mendapatkan 100 poin. Aku terpaku sejenak, lalu tersadar aku menang! Dengan total 850 poin, aku resmi menjadi juara olimpiade.

Sorakan menggema di ruangan. Para guru dan kepala sekolah bertepuk tangan dengan penuh kebanggaan. Aku tidak bisa menahan haru, air mata mengalir deras saat aku bersujud syukur. Panitia bersiap memberikan hadiah. Aku maju dengan langkah gemetar, menerima hadiah sejumlah uang, piala, dan yang paling penting golden ticket ke salah satu universitas terbaik di Asia Tenggara. Setelah pengumuman pemenang selesai, aku turun dari panggung dan disambut oleh para guru yang telah mendukungku selama ini. Mereka memelukku dengan bangga dan tanpa bisa kutahan, air mataku kembali mengalir. Namun kali ini bukan karena kesedihan, melainkan kebahagiaan. Setelah momen penuh haru itu, kami bersiap untuk pulang. Aku duduk di dalam mobil bersama para guru, memandangi piala dan golden ticket di pangkuanku.

Waktu berlalu begitu cepat. Semua persiapan untuk berkuliah di luar negeri telah selesai diurus oleh panitia, dan kini tibalah hari kelulusanku. Senyum terukir di wajah para guru yang telah mendukungku selama ini. Aku tahu, mereka lebih sekadar guru mereka adalah keluargaku.

Malam harinya, di hari kelulusanku, saat kedua orang tuaku terlelap, aku diam-diam mulai menyiapkan barang-barang yang akan kubawa. Aku telah mengambil keputusan untuk pergi tanpa berpamitan. Aku tidak ingin pertengkaran atau hal lain yang menghalangiku meraih masa depan.

Setelah memastikan semuanya siap, aku perlahan keluar melalui pintu belakang. Di sana, mobil guruku sudah menunggu. Para guru memberikan senyuman hangat, memberi isyarat agar aku segera masuk. Sesampainya di bandara, para guru memberikan pesan terakhir. Salah satu dari mereka berkata, “jangan pernah takut untuk melangkah, Anastasia. Dunia ini luas dan kamu memiliki tempat di dalamnya. Gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.” Aku mengganguk penuh haru, menahan air mata yang hampir jatuh. Aku memeluk mereka satu per satu sebelum akhirnya melangkah masuk ke pesawat.

Semasa kuliah, hidupku benar-benar berubah. Aku mulai memahami arti pentingnya pendidikan dan bagaimana ilmu mengubah nasib seseorang. Kini aku telah menuangkan seluruh kisah perjalananku dalam buku ini. Buku yang berjudul “Mimpi di Balik Tembok Emas”.

 

Kenalin aku Roby Andyka Pratama biasa dipanggil Roby. Meskipun aku bisa dibilang penulis pemula, tetapi aku ingin membuat cerita yang tidak hanya bagus untuk dibaca tetapi mengandung makna yang berguna bagi para pembaca cerpen. Oleh karena itu, aku siap belajar untuk menjadi penulis cerpen yang lebih baik.

Instagram: @roby.a19_

 

Penulis: Roby Andyka Pratama

Penyunting: Kayla Ghifari Ahmad

Penyelaras Bahasa: Muhammad Raihan Ramadhan

Lewat Lima – Cerita Pendek – Pena Kreatif UKIMERS

Oleh: Della Nur Khofiah

8 Maret 2025 22.07 WIB

 

Aku selalu percaya bahwa waktu adalah hal yang bisa kita kendalikan. Dalam rutinitas harian, jam adalah teman yang tidak pernah salah. Setiap pagi, aku bangun dengan suara alarm, mereset detik demi detik ke dalam jadwal yang telah tersusun rapi. Pekerjaan, makan, tidur—semua sudah direncanakan.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah bisa kukendalikan, sesuatu yang semakin sering terjadi belakangan ini. Sesuatu yang terasa aneh, tetapi tetap tidak bisa kuhindari.

Lewat lima.

Itu dimulai dengan angka-angka yang kuperhatikan secara kebetulan.

Pukul 07:05, saat aku membuka mata di pagi hari, dan dengan cepat menyelesaikan rutinitasku. 13:05, ketika aku menatap layar ponsel yang hampir selalu aku abaikan. 19:05, saat aku menatap jam di komputer kantor, tepat setelah menyelesaikan pekerjaan. Semua terjadi begitu saja seperti perasaan biasa yang datang tanpa aku sadari.

Tapi kemudian aku mulai menyadari bahwa ini bukanlah sebuah kebetulan.

Kali pertama aku melihatnya, aku masih bisa menganggapnya tidak lebih dari sekadar kebetulan. Namun, ketika setiap kali aku melihat angka itu di layar ponsel, di jam dinding, di monitor komputer, aku merasa ada yang tidak beres. Aku tidak mengerti mengapa, tapi perasaan itu tumbuh perlahan, menambah beban dalam pikiranku.

Aku mencoba untuk tidak peduli.

Lama-kelamaan, aku mulai merasa terjebak dalam lingkaran waktu itu, seperti tak ada jalan keluar. Aku melepas jam tanganku, mengganti pengaturan ponsel agar tidak menampilkan waktu. Aku bahkan mencoba untuk tidak melihat jam sama sekali.

Tapi entah mengapa, waktu itu tetap muncul. Bahkan, di saat yang paling tidak terduga.

Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa ini semua hanya kebetulan.

Namun, semakin hari, semakin banyak hal aneh yang terjadi. Waktu itu, angka 05—tidak hanya muncul di jam-jam biasa. Sekali lagi, saat aku berjalan keluar dari kantor, mataku tertarik pada jadwal keberangkatan bus digital: 11:05.

Aku sudah mulai gelisah. Aku tak tahu mengapa, tapi setiap kali aku melihat angka itu, ada perasaan yang menyelusup dalam diriku. Ada suatu yang kurasa tidak biasa. Ada ketidaknyamanan yang menggantung.

Malam hari, aku mendapat panggilan telepon misterius. Tidak ada suara di ujung lain, hanya desisan yang samar. Aku tidak tahu siapa yang menelepon, tetapi ada pesan yang terdengar jelas dalam desisan itu, seperti sebuah peringatan.

“Waktu kamu semakin dekat.”

Aku terdiam, merasa perasaan itu semakin kuat. Ada yang mengawasi, ada yang mengatur setiap langkahku, dan apakah itu semua berhubungan dengan angka 05? Apa yang terjadi? Apa yang harus kulakukan? Semakin aku mencari tahu, semakin aku merasa terperangkap dalam sebuah misteri yang tidak bisa aku hindari.

***

Saat aku bertemu Damar, aku merasa sedikit lega. Damar adalah teman lama yang sudah terbiasa dengan kegelisahanku. Aku sering meluapkan segala hal yang menggangguku padanya, terutama ketika aku merasa cemas atau khawatir tentang sesuatu yang tidak bisa kutangkap dengan logika.

Hari itu, aku sedang duduk di kedai kopi yang tidak jauh dari kantorku, menatap ponselku yang terus bergetar, lalu menatap jam di dinding. 19:05.

Damar datang, wajahnya tampak lelah setelah seharian bekerja. Tanpa basa-basi, dia duduk di seberangku dan memesan kopi hitam. Biasanya, Damar akan langsung mengajukan pertanyaan tentang keadaan, tapi kali ini, aku yang lebih dulu membuka percakapan.

“Apa menurutmu ini aneh?” tanyaku, sambil menunjuk layar ponselku yang menunjukkan angka 19:05.

Damar menatapku sejenak, lalu mengangkat alis, seperti biasa. “Kau hanya terlalu banyak berpikir,” katanya sambil menyesap kopinya tanpa menatapku.

“Tapi ini terjadi berulang kali,” jawabku, menahan napas. “Setiap kali aku melihat angka itu, 05. Rasanya seperti ada yang mengamatiku, mengendalikan waktu.”

Dia tersenyum tipis, seperti selalu. “Jangan-jangan, ini pertanda jodoh.”

Aku mendengus pelan, tidak tahu apakah harus tertawa atau merasakan kelegaan. Keinginan untuk percaya pada kebetulan itu perlahan memudar. “Aku tidak tahu mana yang lebih buruk,” kataku, “kalau ini kebetulan, atau kalau memang ada sesuatu yang sedang terjadi.”

Damar menoleh, melihatku dengan penuh perhatian. “Coba berpikir tenang,” katanya. “Mungkin kamu sedang overthinking, atau mungkin… ya, ini bisa jadi pertanda. Atau bisa juga karena kamu terlalu memfokuskan perhatian pada angka itu.”

Aku terdiam. Aku ingin percaya bahwa semua ini hanya kebetulan. Namun, setiap kali aku mencoba mengabaikannya, waktu itu tetap datang kembali.

***

Pernahkah kau merasa seolah-olah segala sesuatu yang terjadi di sekitarmu telah diatur, tetapi dengan cara yang tak bisa kau mengerti? Rasanya seperti ada yang mengawasi, ada yang menggerakkan jarum jam itu tanpa kau bisa menghentikannya.

Pada suatu malam, aku terbangun dengan perasaan tak menentu. Aku mencoba untuk tidur lagi, tetapi entah mengapa mataku terbuka tepat pada saat 03:05.

Mimpi itu datang, seolah-olah dia menunggui.

Aku berada di sebuah lorong panjang, dengan lampu-lampu gantung yang hanya menerangi sebagian kecil dari ruangan yang tak berujung. Ada langkah kaki, tapi bukan dari arahku. Aku menoleh, dan lorong itu tetap kosong. Suasana mencekam semakin terasa, seolah-olah ada sesuatu yang mengikuti.

Di ujung lorong, ada sebuah jam besar yang berdetak perlahan, dan aku merasa ada sesuatu yang memanggilku untuk mendekat. Aku tak bisa menahan langkahku, meskipun tubuhku menolak.

Jarum jam itu bergerak lambat, detik demi detik, dan kemudian berhenti di angka 04:59.

Kudengar detikan jam itu. Lebih keras, semakin nyata.

Lalu, tepat saat jarum itu bergerak ke angka 05:00, aku mendengar suara ketukan di belakangku.

Aku terbangun dengan napas terengah, mataku melirik jam di meja.

03:05.

***

Semakin aku mencoba untuk mengabaikan hal ini, semakin aku merasa terperangkap. Ketenangan yang dulu kurasakan, kini terasa rapuh. Setiap detik seakan memburuku, mengejarku tanpa ampun.

Aku memutuskan untuk mencari tahu lebih jauh tentang angka itu. Berbagai pencarian di internet tidak membantuku. Aku tidak menemukan apa pun yang menjelaskan apa yang sedang terjadi. Tapi entah mengapa, aku merasa seolah-olah ini bukan sekadar angka biasa. Ini adalah pesan yang lebih besar—pesan yang datang dari luar kemampuan manusia untuk mengerti.

Aku berusaha tidur malam itu dengan lampu menyala. Namun, pukul 23:05, suara ketukan itu datang lagi. Tidak keras, tetapi cukup jelas untuk membuatku terjaga. Aku menahan napas, berusaha mendengar lebih jelas.

Ketukan itu berhenti, dan aku mendengar getaran ponselku. Sebuah pesan dari nomor yang tidak ku kenal:

“Kau melihat jam lagi, bukan?”

Aku hanya menatap pesan itu. Tidak ada yang bisa kukatakan.

Aku menoleh ke arah jam di dinding. 23:05.

Waktu itu semakin terasa lebih dekat, lebih kuat, seperti sesuatu yang sedang mengikatku dengan ketat. Aku tahu seharusnya aku tidak membuka pintu, tetapi rasanya, ada yang menuntutku untuk melakukannya. Keingintahuan itu lebih kuat dari segalanya.

Aku membuka pintu dengan tangan gemetar.

Dan apa yang kulihat di depan mataku membuat tubuhku kaku—di lantai, ada sebuah jam saku.

Jarumnya berhenti di angka 05.

Aku terdiam, tak bisa bergerak. Lampu apartemenku padam.

Ponselku bergetar lagi. Pesan baru dari nomor yang sama.

“Waktunya habis.”

***

Keesokan harinya, Damar mengetuk pintu apartemenku, tapi tidak ada jawaban.

Ia menelepon, mengirim pesan, bahkan meminta bantuan satpam untuk membuka pintu. Namun, ketika mereka masuk, tidak ada jejak keberadaan diriku. Ponselku tergeletak di depan pintu, layar menyala. Sedangkan semua barangku yang lain tetap ada di tempatnya.

Pak satpam mengernyit. “Di mana temanmu?”

Damar tidak menjawab. Tenggorokannya terasa kering. Ada sesuatu yang janggal, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Kemudian, tiba-tiba, Pak satpam menepuk bahunya. “Nak, saya rasa saya harus pergi. Ada tugas lain. Temanmu mungkin sedang keluar dan lupa membawa ponsel. Kalau terjadi apa-apa, lapor saja ya, Nak.”

Damar menoleh, tetapi dalam sekejap, Pak satpam sudah melangkah pergi dengan tergesa. Langkahnya semakin cepat, hampir seperti berlari. Pintu apartemen tertutup pelan di belakangnya, menyisakan Damar sendirian dalam keheningan yang dingin.

Damar merasakan keringat dingin merayap di tengkuknya.

Ponselnya bergetar, sebuah pesan baru dari nomor yang tak dikenal.

“Kau melihat jam lagi, bukan?”

Ia tidak berani menatap layar, tetapi matanya, tak sengaja, melirik ke arah jam di dinding.

19:03.

Lalu, ketukan terdengar dari pintu depan.

Pelan.

Teratur.

Damar menelan ludah. Jari-jarinya gemetar. Tanpa sadar, matanya melirik lagi ke arah jam di dinding.

19:05.

Ketukan itu terdengar lagi, semakin keras.

Damar mundur selangkah, lalu dua langkah. Napasnya tersengal saat suara gedoran semakin beringas, seolah-olah sesuatu di balik pintu ingin menerobos masuk dengan paksa.

Ketukan itu terus menggema, mengguncang dinding-dinding apartemen.

Lalu, di sela kepanikan, Damar mendengar sesuatu.

“Buka pintunya! Apa kau ada di dalam? Ini aku!”

Suaranya sendiri.

 

Della Nur Khofiah, mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2023 di Universitas Negeri Surabaya, selalu menemukan cerita dari pengalaman, mimpi, atau bahkan pemikiran yang tiba-tiba muncul. Menyukai genre romance, namun suka menulis genre thriller psikologis. Lahir dan dibesarkan di Jombang, terus belajar dan mencari cara terbaik untuk menuangkan ide-ide dalam tulisan.

Instagram: @everyyd_

 

Penulis: Della Nur Khofiah

Penyunting: Kayla Ghifari Ahmad

Penyelaras Bahasa: Muhammad Raihan Ramadhan

UKIM UNESA GELAR PEMANTAPAN ORGANISASI 2025: MEMPERKUAT KEPEMIMPINAN VISIONER DAN SOLIDITAS ORGANISASI BERKELANJUTAN

Unit Kegiatan Ilmiah Mahasiswa (UKIM) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kembali menorehkan langkah strategis dalam pengembangan organisasi melalui suksesnya penyelenggaraan Pemantapan Organisasi (PO) UKIM Unesa tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Sabtu-Minggu, 26-27 April 2025, di MWC NU Sukodono, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar, berkat kerja sama yang solid antar panitia.

Pemantapan Organisasi (PO) 2025 merupakan program kerja tahunan yang digagas oleh Departemen Pengembangan Organisasi (DPO) UKIM Unesa. Tahun ini, kegiatan mengusung tema “Mewujudkan Jiwa Kepemimpinan Pengurus UKIM Unesa yang Visioner dan Unggul guna Membangun Organisasi yang Berkelanjutan”. Kegiatan ini dirancang sebagai proses pengaderan tingkat menengah untuk membekali para pengurus dengan wawasan, keterampilan, dan karakter kepemimpinan yang kuat, sehingga mampu menyukseskan program kerja organisasi. Seluruh Pengurus aktif, Demisioner, Alumni, dan Pembina UKIM Unesa turut hadir dalam acara ini.

Pemantapan Organisasi 2025 bertujuan agar seluruh pengurus memahami secara menyeluruh susunan kepengurusan, sistem administrasi, manajemen organisasi, serta prinsip keberlanjutan yang menjadi fondasi pelaksanaan program kerja ke depan. Selain itu, kegiatan ini juga menanamkan semangat berpikir kritis, kepemimpinan visioner, serta membangun budaya kekeluargaan antar anggota UKIM untuk menciptakan lingkungan organisasi yang profesional, solid, dan berkelanjutan.

Materi utama dalam kegiatan ini disampaikan langsung oleh para Demisioner dan Alumni UKIM Unesa yang berpengalaman. Mereka membahas berbagai aspek penting dalam pengelolaan organisasi, dimulai dari Analisis Kondisi dan Gagasan Awal (Anakoling Gaswal) yang menjadi fondasi dalam merancang arah gerak organisasi. Selanjutnya, pengurus mendapatkan pembekalan mengenai materi  Leadership yang menjadi bagian penting untuk membentuk karakter pengurus yang mampu berpikir jauh ke depan dan adaptif terhadap perubahan. Dilanjutkan dengan materi Manajemen dan Budaya Organisasi, yang bertujuan membangun tata kelola yang profesional sekaligus memperkuat nilai-nilai kekeluargaan. Tak kalah penting, sesi Administrasi Kesekretariatan dan Administrasi Keuangan disampaikan untuk memastikan seluruh pengurus memahami sistem administrasi yang efektif dan transparan sebagai pilar kelancaran program kerja organisasi. Setiap sesi materi ini diikuti dengan diskusi interaktif serta tanya jawab yang mendalam, guna memastikan pemahaman dan kesiapan pengurus dalam mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dalam kepengurusan UKIM Unesa.

Sebagai tolok ukur keberhasilan, tercatat sebanyak 64 pengurus mengikuti sesi materi, dan 71 pengurus berhasil menyusun dokumen Proposal, LPJ, serta SPJ melalui tugas praktik. Selain itu, kegiatan ini juga berhasil menciptakan suasana kekeluargaan yang erat di antara pengurus, sehingga mereka dapat saling mengenal lebih dekat dan membangun hubungan yang solid. Dengan terpenuhinya seluruh indikator yang telah ditetapkan, Pemantapan Organisasi 2025 dinyatakan sukses dalam meningkatkan kapasitas dan profesionalitas para pengurus UKIM Unesa.

Mengusung asas kekeluargaan sebagai pondasi, Pemantapan Organisasi 2025 juga diwarnai dengan berbagai kegiatan seperti tukar kado, sharing bersama Demisioner dan Alumni, serta games kekompakan. Kegiatan-kegiatan ini semakin mempererat hubungan antar Pengurus, Demisioner, dan Alumni, sehingga membangun jaringan kekeluargaan yang kuat sebagai pilar organisasi berkelanjutan.

Pada penghujung acara, seluruh pengurus mengikuti sesi tukar kado yang menjadi tradisi baru dalam kegiatan ini. Suasana berlangsung hangat, di mana para pengurus berdiri membentuk lingkaran sambil menyanyikan lagu bersama dan mengelilingi kado yang akan ditukar. Raut wajah bahagia dan antusias terlihat jelas dari para pengurus yang mengelilingi kado sambil tertawa, menciptakan kenangan manis yang memperkuat rasa kekeluargaan di UKIM Unesa.

Sebagai bentuk evaluasi, di akhir kegiatan seluruh pengurus aktif mengisi kuesioner untuk menghimpun umpan balik, kritik, dan saran guna peningkatan kualitas pelaksanaan Pemantapan Organisasi di masa mendatang. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa kegiatan ini berdampak signifikan dalam meningkatkan rasa kekeluargaan, mengasah kepemimpinan visioner, serta menambah kapasitas profesionalitas para pengurus UKIM.

Kegiatan ini tidak hanya memberi bekal teknis, tetapi juga meninggalkan kesan yang membekas. “Yang paling menarik menurut saya adalah pematerinya. Mereka alumni UKIM dan hebat-hebat, bikin saya termotivasi untuk ikut jejak mereka,” ujar salah seorang pengurus (DHM).

Nilai kekeluargaan yang tumbuh selama kegiatan pun turut dirasakan oleh pengurus lain. Muhammad Naufal Taris Subarkah dari DPO menyampaikan, “Saling membersamai dan saling peduli satu sama lain dalam satu organisasi ini ibarat payung yang selalu melindungi dari rintikan hujan.”

Kedua pandangan tersebut menegaskan keberhasilan kegiatan ini sebagai wadah penguatan kapasitas dan ikatan emosional antar pengurus, membentuk fondasi organisasi yang kokoh dan berkelanjutan.

Berlandaskan profesionalitas dan semangat kekeluargaan, Pemantapan Organisasi 2025 menjadi langkah maju menyiapkan pengurus yang berkualitas dan unggul dalam menjalankan program kerja. Kegiatan ini juga memperkuat fondasi UKIM Unesa sebagai organisasi yang adaptif, inovatif, dan berkelanjutan. Soliditas yang terbangun tidak hanya menciptakan suasana kekeluargaan, tetapi juga memperkokoh organisasi dalam menghadapi berbagai tantangan selama masa kepengurusan. Acara dibuka dan ditutup dengan doa bersama sebagai bentuk komitmen dan harapan bersama. Dengan suksesnya pelaksanaan program ini, para pengurus baru diharapkan dapat merealisasikan agenda besar UKIM Unesa secara optimal di masa depan.

Surabaya, 4 Mei 2025

 

Penulis: Ailsa Ahnaf Laila Anindya

Penyunting: Muhammad Raihan Ramadhan

Gambar: Dokumentasi PO UKIM 2025

UKIM UNESA GELAR SOSIALISASI P2MW 2025: DORONG MAHASISWA KEMBANGKAN USAHA BERKELANJUTAN

Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) merupakan program yang bertujuan untuk membina mahasiswa dalam mengembangkan usaha. Program ini memberikan bantuan dana pengembangan serta pendampingan dan pelatihan usaha bagi mahasiswa terpilih di kampus-kampus yang berpartisipasi. Bidang usaha yang difasilitasi dalam program ini mencakup enam kategori, yaitu makanan dan minuman, budidaya, industri kreatif, seni dan budaya, jasa, pariwisata dan perdagangan, manufaktur dan teknologi terapan, serta bisnis digital.

Sebagai bentuk dukungan terhadap program ini, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengadakan sosialisasi P2MW untuk memberikan pemahaman lebih lanjut kepada mahasiswa mengenai alur dan ketentuan program. Kegiatan sosialisasi tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 1 Maret 2025, dengan menghadirkan dua pemateri yang ahli di bidang wirausaha. Pemateri pertama, Bu Sri Kusuma Dewi, S.Si., M.Si., merupakan salah satu tim Penanggung Jawab (PIC) PMW Unesa yang membahas mengenai alur P2MW serta sistematika penyusunan proposal yang baik dan benar. Sementara itu, pemateri kedua, Mbak Surya Andini, yang merupakan peraih juara tiga KMI Award 2023 kategori bisnis digital, berbagi pengalaman dan wawasan melalui sesi talkshow interaktif.

Sosialisasi P2MW tahun ini mengusung tema “Fostering Entrepreneurial Spirit for ESG Excellence: Sustainability Innovation and Supporting Indonesia’s Golden Vision 2045.” Tema ini bertujuan untuk membentuk jiwa kewirausahaan yang tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan sosial. Dengan tema ini, diharapkan para wirausahawan muda dapat berperan aktif dalam menciptakan perekonomian yang lebih hijau, adil, dan berkelanjutan, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 yang mengusung konsep negara makmur, berdaulat, unggul, dan maju.

Antusiasme mahasiswa Unesa dalam mengikuti kegiatan sosialisasi ini sangat tinggi. Tercatat sebanyak 383 peserta dari berbagai program studi mendaftarkan diri untuk berpartisipasi. Selama acara berlangsung, peserta menunjukkan energi positif dengan aktif mengajukan pertanyaan serta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai. Dalam sesi talkshow yang dibawakan oleh Mbak Surya Andini, panitia telah mengumpulkan pertanyaan dari peserta melalui fitur Instagram Story sebelum acara berlangsung. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dijawab langsung oleh Mbak Surya dalam sesi diskusi yang interaktif dan inspiratif.

Selain sosialisasi, panitia juga menyediakan wadah bagi mahasiswa yang belum memiliki tim untuk membentuk kelompok guna mengikuti P2MW. Tidak hanya itu, pasca sosialisasi, panitia juga mengadakan mentoring kilat yang dilaksanakan pada 7-9 Maret 2025. Mentoring ini terdiri dari tiga tahap, yaitu brainstorming ide pada hari pertama, sesi berbagi terkait sistematika proposal sesuai bidang usaha pada hari kedua, serta konsultasi langsung dengan tim konsultan berdasarkan bidang masing-masing pada hari ketiga. Mentoring ini bertujuan untuk membantu mahasiswa dalam menggali ide, memahami sistematika penulisan proposal, serta mendapatkan bimbingan langsung dari para ahli di bidangnya.

Melalui sosialisasi ini, diharapkan mahasiswa dapat memiliki pemahaman yang lebih jelas mengenai P2MW, termasuk dalam hal penyusunan proposal yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam menemukan ide usaha yang inovatif dan berkelanjutan serta mempermudah mereka dalam mendapatkan pendanaan usaha melalui program ini. Dengan adanya dukungan dari UKM Unesa dan pihak terkait, diharapkan semakin banyak mahasiswa yang tertarik dan mampu mengembangkan usaha mereka melalui P2MW, sehingga dapat menciptakan generasi wirausahawan muda yang tangguh, kreatif, dan berkontribusi bagi perekonomian nasional.

 

Penulis: Arina Manasikana

Penyunting: Muhammad Raihan Ramadhan

Gambar: Dokumentasi Sosialisasi P2MW 2025

WUJUDKAN VISI MISI DAN PENINGKATAN PROFESIONALITAS PENGURUS: UKIM UNESA SELENGGARAKAN RAPAT KERJA PERIODE 2025 BERBASIS ASAS KEKELUARGAAN

 

Unit Kegiatan Ilmiah Mahasiswa (UKIM) Universitas Negeri Surabaya telah mencetak satu langkah maju pada periode kepengurusan yang baru dengan menyelesaikan program kerja pertama dari Badan Pengurus Harian (BPH) Organisasi, yaitu Rapat Kerja UKIM Unesa ke-XXVII tahun 2025 yang berbasis asas kekeluargaan. Tuntas pada Sabtu, 15 Februari 2025 di Auditorium lantai 4 gedung UKM Center, Kampus UNESA Ketintang. Kegiatan ini berhasil terlaksana dengan baik sebagai buah hasil kerjasama antar panitia yang bertugas.

Rapat Kerja UKIM 2025 merupakan salah satu program kerja tahunan UKM Unit Kegiatan Ilmiah Mahasiswa (UKIM) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang bertujuan mengesahkan dan menyepakati secara bersama-sama susunan program kerja dan agenda Organisasi selama satu tahun periode baru berjalan. Kegiatan ini dihadiri oleh segenap Staf Kepengurusan Baru, Demisioner, Alumni, serta Pembina dan Perwakilan Dewan Keilmuan UKIM Unesa.

Pelaksanaan Rapat Kerja ini bertujuan agar Staf Kepengurusan Baru mengetahui susunan program kerja dan agenda masing-masing Departemen. Selain itu, kegiatan yang dilakukan setahun sekali ini juga memiliki tujuan untuk menanamkan pemahaman mendalam dan menumbuhkan kebiasaan berpikir kritis terhadap suatu proses alur yang ada. Para Staf Kepengurusan Baru dibimbing dan dilatih untuk memiliki pemahaman yang kuat hingga mendasar terhadap segala sesuatunya.

Inti utama dilaksanakannya program kerja ini adalah untuk mempresentasikan program kerja dan agenda dari setiap Departemen, perevisian, saran perbaikan dari Demisioner serta Alumni, dan masukan hingga nasihat dari Pembina UKIM atau yang mewakili terhadap sistematika kepengurusan periode baru. Alur presentasi dalam kegiatan diawali oleh Departemen Penalaran dan Riset (DPR), lalu Badan Pengurus Harian (BPH), berikutnya Departemen Pengembangan Organisasi (DPO), disusul Departemen Hubungan Masyarakat (DHM), dan yang terakhir yaitu Departemen Pemberdayaan Ekonomi (DPE). Setiap presentasi berakhir, diteruskan dengan sesi tanya jawab program kerja dan agenda per-Departemen sebelum masuk presentasi berikutnya. Tak hanya itu, para Demisioner dan Alumni akan mengupas secara detail setiap poin dan indikator dari program kerja dan agenda yang dipresentasikan.

Berlandaskan asas kekeluargaan dan senantiasa mengedepankan profesionalitas tiap anggotanya, UKIM Unesa menggelar Rapat Kerja tahun 2025 dengan mengangkat tema “Penguatan Profesionalitas dan Kualitas Pengurus dalam Merealisasikan Visi, Misi, Aspirasi, dan Inovasi melalui Asas Kekeluargaan untuk Menghasilkan Efektivitas Program Kerja serta Agenda Keempat Roh UKIM” dalam rangka membangun hubungan kekeluargaan yang harmonis dan menjalin ikatan antar individu secara intens sebagai Partner atau Mitra dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab terhadap Organisasi.

Acara tahunan ini dibuka dan diakhiri dengan doa bersama tentunya, dengan susunan acara yang sistematis serta alur pelaksanaan yang terencana dan terealisasi secara runtut. Dengan ketuntasan program kerja pertama pada periode baru ini, diharapkan para Staf Kepengurusan Baru mampu belajar dan berlatih serta mempersiapkan diri dengan maksimal untuk realisasi program kerja serta agenda keempat roh dalam UKIM Unesa di masa mendatang.

 

Penulis: Aulia Nidaus Syafaqoh

Penyunting: Muhammad Raihan Ramadhan

Gambar: Dokumentasi Raker UKIM 2025