TITIK PERUBAHAN

Oleh: Prahoro Yudo Purwono

 

Hujan masih terus turun. Suara gemericik air masih terdengar olehku. Aku masuk ke kamar. Kulempar pandangan ke luar lewat jendela kamar. Tetesan setiap air jatuh ke tanah. Membentuk sebuah kubangan kecil di sudut halaman rumahku. Suasana sepi dan hening. Di luar tak nampak ada siapapun.

“Baru pulang, nak?” bapak bertanya kepadaku saat beliau melihatku berdiri termenung di balik jendela kamar. Saat itu memang pintu kamarku lupa ditutup.

“Ah, iya pak! Aku baru pulang. Kebetulan hari ini aku sudah menyelesaikan deadline pekerjaanku. Jadi aku bisa pulang lebih awal.” Jawabku sambil memandang bapak.

Bapak, orang tua yang telah merawatku seorang diri, selama kurang lebih 25 tahun ini. Ibuku, ah iya. Beliau telah menemui Sang Pencipta sebagai syuhada saat melahirkanku. Jadi aku belum pernah merasakan nikmatnya dimanja oleh seorang ibu. Membuatku merasa menjadi anak yang kurang beruntung. Tapi aku bersyukur, masih ada bapak. Orang tua yang mau merawatku dan membesarkanku.

“Rania, bapak ingin bicara denganmu. Boleh?” tanya bapak sambil menatapku memohon.

Aku menatap bapak kembali. Melihat pandanganpenuh harap dari bapak, aku luluh. Aku mengangguk dan berdiri. Mengikuti bapak yang sedang berjalan ke ruang tamu. Meskipun jarak kamarku dengan ruang tamu tak terlalu jauh, namun bagi bapak terasa lama sekali. Usianya yang tak lagi muda membuat banyak penyakit yang mulai menyerang. Salah satu penyakit bapak ialah diabetes. Semenjak 3 bulan yang lalu, beliau mulai kesulitan berjalan karena diabetesnya kambuh. Itulah yang membuatku merasa kasihan. Sebagai anak satu-satunya, aku merasa berkewajiban untuk merawat bapak di masa tuanya. Aku tak ingin menjadi anak durhaka, seperti anak Nabi Nuh A.S yang ikut tenggelam bersama orang kafir.

“Bapak mau bicara, nak.” Ucap bapak saat melihatku duduk di depannya. Matanya mengisyaratkan sesuatu. Aku menjadi agak khawatir.

“Tadi siang, ada orang datang kemari. Dia teman bapak semasa SMA dulu,” Ucap bapak. Beliau nampak menarik napas panjang. Berusaha mengontrol napasnya yang tampak memburu. Nampaknya beliau akan mengatakan sesuatu yang penting, sehingga beliau menjadi gugup.

“Teman bapak punya seorang anak laki-laki. Namanya Raihan. Usianya 2 tahun di atas kamu.” Sambung bapak.

Aku mengerutkan dahi. “Lalu?”.

“Dia datang kemari untuk melamarmu, nak”.

Deg!!! Aku melongo. Raihan? Melamarku?

Aku tak pernah memikirkan kemungkinan itu. Raihan? Melamarku? Apakah dia tak waras? Aku memang pernah beberapa kali bertemu dengannya. Namun, tak pernah berpikir akan seperti ini.

“Tapi, pak…”.

“Bapak mohon kamu mempertimbangkannya. Menikah itu sunnah muakkad, artinya sunnah yang sangat dianjurkan. Lagipula menikah menyempurnakan agama dan hidup seseorang, Rania. Umur kamu juga sudah cukup matang. Bapak pikir, sudah waktunya putri bapak naik ke pelaminan.” Ujar bapak. Pasti dan tak ragu-ragu.

Aku terdiam, berusaha mencerna setiap kata-kata bapak. Raihan? Ah, tak mungkin.

 

Flashback

            Seorang wanita menatap kosong ke arah rerumputan hijau. Rambut hitamnya panjang tergerai. Melambai-lambai ditiup angin. Ia duduk termenung di sebuah bangku taman yang kosong. Wajahnya yang putih dan cantik dibiarkan tersapu angin malam yang dingin. Kulitnya nampak pucat.

“Sudah lama menunggu?” tanya seorang pemuda, yang entah dari mana muncul tiba-tiba.

Wanita itu menoleh. Menatap pemuda itu dengan seksama. Kemeja biru kotak-kotak dengan celana jeans panjang membalut tubuhnya yang nampak proporsional. Wajahnya tirus dengan hidung mancung.

“Tidak, baru saja”.

Pemuda itu duduk di sebelah wanita itu. Pandangannya diarahkan ke lapangan hijau di depannya.

“Aku menunggu saat ini. Bertemu denganmu. Namun bukan dalam keadaan seperti ini, bertemu dengan raga saja. Tanpa jiwa suci seorang perempuan.”

“Maksudmu?”

“Kau cantik. Tapi itu dari luar. Kau juga jujur, rajin shalat, dan suka bersedekah. Itu bagus. Tapi tidakkah kau ingat?”.

“Ingat apa?” Tanya wanita itu.

“Masalah yang menimpamu adalah kesalahanmu. Kau diperlakukan seperti ini, kau mendapat banyak sekali masalah yang bahkan kau sendiri tak tahu penyebabnya. Apakah kau tidak sadar kalau Tuhan berusaha menyadarkanmu?  Dan lagi, kau juga belum melaksanakan perintah Tuhanmu, menutupkan kain pengenal di atas kepalamu hingga menutupi auratmu yang sedang dipermainkan angin, sekarang ini.”

Wanita itu tersentak.

Pemuda itu berdiri. Saat akan beranjak pergi, ia mengucapkan sebuah kalimat yang cukup manis, “Selamat malam, Rania”.

Flashback End

 

***

 

Di depan rumah mungil sederhana, nampak sebuah tenda biru yang dihiasi janur kuning melengkung. Jejeran mobil dan sepeda motor diparkir tak jauh dari tenda tersebut. Nampak deretan orang-orang yang rata-rata berkemeja batik dan bersanggul. Mereka tampak formal.

“Terima kasih,” kata seorang pemuda yang tengah menyambut jabatan tangan dari deretan orang-orang yang berbaris rapi, seperti antri sembako. Panjang dan meliuk-liuk. Deretan orang-orang itu memenuhi tenda biru itu.  Pemuda itu selalu mengulas senyum manis. Nampak tampan dan gagah dengan balutan jas hitam dan celana hitam panjang. Di sebelahnya berdiri wanita cantik bergaun batik coklat dan memakai hijab yang telah dibentuk sedemikian rupa agar sesuai dengan gaun pengantin itu.

“Terima kasih, kau telah menerimaku.” Bisik pengantin pria. Pengantin wanita tersenyum.

“Aku menerima karena kutunaikan janjiku untuk bertemu denganmu, dalam muslim, dalam ridho Allah. Sebagai seorang perempuan yang selalu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya”.

“Aku bangga mendengar jawabanmu.”

“Itu karena kamu. Waktu senja di taman waktu itu, akan membekas. Itulah titik awal perubahanku. Karena suamiku, Raihan Aditya Pratama” jawab pengantin wanita.

Senyum bahagia mengembang dari dua orang insan yang saling mengikat hubungan suci, penyempurna agama. Raihan Aditya Pratama dan Rania Alistya Suwandi.

 

Tamat

 

Kediri, 18 Oktober 2016

 

BIODATA PENULIS

Penulis bernama asli Prahoro Yudo Purwono. Lahir di Kediri, 18 tahun silam. Sekarang tengah aktif menjadi mahasiswa S1 Sastra Jerman di Universitas Negeri Surabaya. Kegemarannya membaca dan menulis membuatnya aktif sebagai penulis hingga saat ini. Penulis dapat dijumpai di akun instagram @pyp_raesland dan twitter @pyp_raesland.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *